Kue Tetu dan Kerupuk

Nyiur hijau di tepi pantai menggoda kerongkongan yang kering demi teriknya mentari. Demikian yang dirasa jika anda melakukan jalan darat di jalan poros Sulawesi. Jalan poros penghubung propinsi ini dihiasi deretan pohon kelapa dan pantai indah. Ada pula kampung nelayan dan petani kopra yang menggelar kelapa-kelapa untuk dikeringkan. Rumah-rumah kayu bentuk panggung berdampingan dengan rumah batu yang satu per satu mulai tumbuh.

Maka tertawanlah hati pada segarnya air kelapa muda. Apalagi kalau kelapa hijau, wah, pasti segar manis tanpa perlu tambahan gula merah atau sirup cocopandan. Jika di kota, mudah dijumpai penjual es kelapa muda (es klamud – orang jawa bilang), di sini justru sebaliknya. Mungkin karena kelapa menjulang tinggi dan repot untuk mengambil sebiji dua biji, lalu mesti dengan parang dibelah dan diambil air serta daging buahnya. Sementara, lebih mudah singgah di warung kelontong untuk membeli air kemasan, baik soda (botol atau kaleng), air mineral (botol atau gelas), dan teh (gelas, botol, atau kotak). Mudah, tidak repot, handy. Namun sungguh, air kelapa itu menggoda kerongkongan, apa daya hanya sebatas untuk dilihat.  Hal yang sama dialami oleh kudapan tradisional dan snack ‘kerupuk’ produksi industri.

“Jajan, Ma….”

Sebetulnya, kalau mau jujur, makanan tradisional rumahan terasa lebih enak dibanding makanan/snack kemasan produk industri. Di Sulawesi Barat tempatku bermukim kini, ada kue tetu (kue bentuk perahu dengan bungkus pandan), panada, jalangkotek (mirip kue pastel, dimakan dengan sambal), atau pisang pepek (pisang prematur yang dipipihkan, dibumbu bawang, dan digoreng 2 kali).  Sementara itu, terjadi serbuan makanan kemasan yang biasa dibilang ‘kerupuk’ karena makanannya yang ‘seringan kerupuk’ tapi menawarkan bungkus yang lebih menarik.

“Sebetulnya rasanya nggak enak loh, tapi kerupuk ‘merk salah satu acara anak di tv’ selalu laris,” tukas Mbak sayur yang setiap hari menjajakan sayur dan makanan kecil dengan motor 4 tak.

Begitu juga kata Tante Ela yang membuka warung di rumahnya, “Kalau saya jual kerupuk ‘merk salah satu acara anak di tv’, anakku bakal makan itu terus..Wah, bahaya..” tukasnya sembari tersenyum kecut.

Itulah, ternyata kemasan makanan ini bisa demikian kuat menancap di benak anak-anak. Entah rasanya bagaimana, tapi anak-anak bisa tergila-gila gara-gara kemasannya.  Kemenangan kapitalisme kan memang pada keahlian mengemas produk, ya? Kalau jeli, kita akan menemukan mono sodium glutamat tertera pada kemasannya. Belum lagi masalah expired date yang kadang luput dari kecermatan.

Aku melakukan survey ke warung kelontong di pasar dan menemukan varian snack-snack ini dan mereka-reka bahwa harga kemasan dan harga isi makanan di dalamnya lebih mahal harga kemasannya. Bayangpun, untuk kemasan 10 x 10 cm, isinya kurang lebih hanya 2-3 cm saja. Lebihnya adalah udara. Pabrikan makanan ini pun beragam, dari yang lokal Sulawesi, Sumatra, hingga sentra produksi di Jawa. Sering kali anak kecil masuk ke warung dan berkata, “Haji, beli jajan..” sembari menyodorkan lembaran seribu rupiah. (Ehm.. mayoritas pedagang kelontong di sini memang Haji..jadi kami memanggil mereka ‘Haji’.)

Sekilas kulihat bahwa jajan menjadi keseharian, baik snack kemasan maupun (untunglah masih ada) kue  tradisional. Satu contoh, anak SD kelas 4, misalnya, mendapat bekal Rp 3000,- untuk jajan, sementara untuk anak TK, orang tua memberi bekal Rp 1000,- sampai Rp 2000,-  uang itu bisa dipakai untuk beli gado-gado (kalau di Jawa lebih mirip lotek), nasi kuning atau nasi goreng, atau siomay goreng (semacam bakso dengan kanji yang digoreng dengan telur). Syukur kalau sekolah membuka ‘tabungan siswa’ sehingga anak-anak bisa menyisihkan uang jajan untuk ditabung di sekolah. Perputaran uang di seputar snack anak-anak ini termasuk besar loh, coba dikali 30 untuk 1 bulan, akan menghasilkan Rp 90.000,- (hari minggu pun tetap jajan karena ada penjual siomay goreng keliling). Mengingat di sini sekolah gratis sementara akses buku terbatas, bisa jadi pengeluaran terbesar dalam sebulannya adalah untuk uang jajan, daripada untuk membeli buku.

kue tetu

panada

hmm... kue tetu, panada, dan 'kerupuk'....

Lalu, bagaimana dengan pembuangan kemasan snack kerupuk itu ya ? Makanan kemasan yang merajalela ini menghasilkan sampah plastik yang tidak sedikit. Kuperhatikan, sampah-sampah itu seringkali dibuang begitu saja tanpa kesibukan mencari letak tempat sampah. Ini terjadi di tempat umum, di lapangan-saat ada pertandingan voli, di pasar, atau di pantai. Mungkin pola ini merupakan hasil dari kebiasaan pembuangan sampah seperti jaman orang tua kita di desa. Sampah-sampah (yang didominasi sampah organik- daun, sisa makanan, kulit buah/kacang, dll) cukup dibuang ke tungku pembakaran (di dapur) atau dimasukkan dalam lobang yang digali di tanah. Lalu sampah-sampah akan dibakar, atau bisa jadi terurai di tanah. Selesai ! Tapi, jaman dulu, konsumsi makanan kemasan kan masih belum sebanyak kini, jadi pantas saja metode pembuangan sampah dilakukan dengan cara demikian. Lha untuk sekarang, apakah masih relevan ?

Yuk kita lihat! Jika kita makan lemper, gogos, nagasari, mendut, atau barongko, sampah yang dihasilkan adalah daun pisang. Jika kita makan snack kemasan, sampah yang dihasilkan adalah plastik. Jika kita minum air kelapa, maka kita akan menghasilkan sampah saput dan batok, yang bisa dimanfaatkan untuk saput pencuci piring, atau arang untuk bakar ikan (jadi ingat Pramuka ya…) Jika minum air soda, maka kita akan menghasilkan sampah kaleng atau botol plastik. Umumnya tempat air minum ini hanya dibuang begitu saja karena pengolahan daur ulangnya membutuhkan teknologi yang lebih canggih yang tidak sembarang orang bisa dan tertarik melakukannya.

Sampahmu, Sampahku, Sampah Kita

Barang-barang dengan kemasan plastik datang seperti banjir, tak terbendung, sementara kita selaku konsumen (dan mungkin juga distributor) kurang mengetahui bagaimana mestinya cara memperlakukan sampah plastik tersebut. Ini seperti barang-barang industri menyerbu masyarakat negara ke tiga dan menawarkan roda perdagangan dan keuntungan, kemudian menyisakan dosa-dosa pembangunan (problem perburuhan, konsumsi, relasi manusia, kegagapan teknologi, adopsi gaya hidup kota, dll). Lalu tersisalah masalah sampah, yang muncul setiap hari, mengingat kita selalu dan selalu mengkonsumsi, dan setiap hari pula kita menghasilkan sampah.

Seperti kuceritakan di atas, jamak terlihat bungkus makanan dan minuman yang mendarat di tanah tanpa tuan. Aiii, sedihnya.. Padahal plastik dan kaleng tidak akan terurai di tanah. Jika dibakar, akan menghasilkan polusi udara. Kalau tanah dan pekarangan ini sudah dipenuhi plastik, bagaimana kondisi lingkungan untuk 5 tahun ke depan? Hmmm….. jangan-jangan, ini adalah tampilan gaya hidup orang Indonesia yang hanya memikirkan kepentingan sesaat dan melupakan efek jangka panjang ke depan, seperti dicontohkan para pemimpin kita ? Tapi bisa jadi lho, karena orang Indonesia (tidak bisa mengatakan semuanya, memang) cenderung memikirkan kesenangan untuknya saat ini juga dan melupakan orang lain. Tengok saja cara mengendara di jalan raya yang seolah hanya dirinya yang butuh sampai segera ke tempat tujuan, atau heboh saat antri mengambil makanan, atau saat pembagian beras. Ini bisa jadi berefek pada masalah konsumsi dan sampah, karena sudah merasuk pada alam bawah sadar dan dibiasakan.

Di pantai, aku tidak menemukan tempat sampah. Pengunjung pun mempercayakan urusan persampahan ini pada petugas pembersih sampah. “Toh ada yang membersihkan,” mungkin demikian di benak mereka. Maka bungkus kemasan itu pun teronggok demikian di tepi pantai menunggu uluran tangan untuk meraih dan meletakkannya di tempat pembuangan.

Problem sampah selalu muncul di mana-mana, baik di kota maupun di desa, skala industri maupun rumah tangga. Sampah rumah tangga ini memerlukan kerja sama kelompok masyarakat, dan kurasa, juga industri besar pembuat produk terkait. Usaha yang dilakukan 1 rumah hampir muspra saat tetangga lain tidak melakukannya. Misalnya saja keluarga kecil kami. Mengingat ada pohon nangka dan pohon jambu di halaman rumah, maka daun-daunnya hampir dipastikan selalu memenuhi tempat sampah. Kami sudah berusaha meletakkannya di satu sisi tempat sampah, namun apa yang terjadi, tetangga dan orang lewat menaruh sampah plastik dan mix garbage di tempat tersebut. Lalu petugas kebersihan tiap sabtu akan mengangkut semua sampah, mencampur segala jenis sampah di atas truk dan memindahkannya ke tempat pembuangan akhir. Wuaaa…. tinggal tunggu waktu saja, kapan gunungan sampah di tempat pembuangan akhir akan penuh dan mesti mencari lahan lain.

tempat sampah kita

'sampah yang terserak di pantai'

Global Warming vs / = Kapitalisme

Kapitalisme dan globalisasi itu harus dan pasti melalui berbagai sendi kehidupan. Bahkan di daerah pelosok tempatku bermukim pun, kapitalisme berhasil masuk dan menjadi salah satu penggerak roda perekonomian. Iya kan ? Tanpa itu, penjual tidak akan untung dan dapat memutar modal untuk kemudian menyekolahkan anaknya hingga ke kota besar. Melihat roda kehidupan ini, tampaknya apa yang terjadi di belahan dunia sana akan berdampak pada belahan dunia lainnya. Tarikan kuat penjualan makanan dan minuman kemasan didukung jaringan distribusi yang kuat membuat roda perekonomian berputar.

Membaca penjelasan tentang global warming seolah-olah kita dikutuk karena telah melakukan tindak kekerasan pada lingkungan dengan membuang sampah sekenanya, obral plastik dan hobi belanja hingga selalu dan selalu mengkonsumsi, sehingga muncul suatu situasi dimana kita hanya dan hanya mementingkan diri sendiri dan tidak memikirkan (atau memang dibuat untuk tidak tahu) pada efek jangka panjang yang mungkin terjadi. Misalnya saja, memilih susu bubuk sachet dibanding susu ukuran 500 gram, atau membeli sabun cuci kemasan kecil dibanding kemasan 900 gram. Barang-barang kemasan kecil tersebut melimpah di pasaran dengan harga yang lebih murah dibanding membeli barang kemasan besar, dan memiliki pangsa pasar tersendiri.

Pernahkah terpikir, kawan, bahwa godaan harga yang murah dan kemasan yang cantik itu sebetulnya cara pintar kapitalisme untuk mengajak kita mengkonsumsi. Ada saja celah membuat konsumen untuk menatap etalase toko, warung, atau gelaran dagangan di pasar. Pola pikir industrialis bahwa semakin banyak barang terjual maka semakin besar keuntungan seolah tidak dibarengi dengan pemikiran bahwa semakin banyak barang diproduksi dan dikonsumsi dalam kemasan kecil, maka semakin banyak juga ceceran sampah yang sampai saat ini belum tertangani oleh industri pembuatnya. Maka menurutku, industri punya tanggungjawab yang besar pada sampah-sampah yang muncul atas barang yang diproduksi dan dilepas ke pasaran. Selain mengurus daya serap produk di pasaran, industri juga turut bertanggungjawab pada pengelolaan purna jual barang (limbah yang muncul dari plastik dan barang eletronik). Maka kita, baik masyarakat, industri didukung pemerintah  perlu menyusun mekanisme agar botol/kaleng bekas bisa dikembalikan lagi pada industri pembuatnya untuk kemudian didaur ulang.

Pada sisi lain, isu global warming ini juga bergandeng tangan dengan pabrikan yang mengemas barangnya sedemikian rupa sehingga ramah lingkungan. Tengoklah kulkas, AC, setrika, hingga laptop yang katanya didesain untuk ramah lingkungan. Atau di kali lain, tempat belanja mengaku menyediakan plastik yang dapat terurai sehingga konsumen merasa salut dan memilih berbelanja di tempat tersebut. Dosa industri dan kapitalisme seolah dicuci melalui label ‘ramah lingkungan’, green, dan earth friendly. Menurutku sih sah-sah saja, sejauh memang sang perusahaan tidak melakukan pencemaran lingkungan dalam proses pra, produksi, dan pasca produksi. Dan kalau kita memang selektif dengan perusahaan pelaku pencemaran lingkungan, kita bisa menghindari menggunakan produknya meskipun sang perusahaan menjadi sponsor dalam event lingkungan hidup, misalnya. Ingatlah bahwa banyak kepala yang tersalurkan tenaganya dalam mendukung produksi tersebut dan tak kalah banyak juga kepala yang terkorbankan akibat limbah dan kerusakan lingkungan yang terjadi saat pra, proses, hingga pasca produksi.

Global Warming Dimulai dari Rumah

Global warming dimulai dari mana ya ? Keluarga kami pernah mencoba membuat kompos dengan menyatukan sampah organik di satu tempat, tapi gagal karena muncul belatung. Sepertinya memang perlu dibuat instalasi khusus, meski ada banyak penghadang, seperti anjing, kucing, dan ayam yang suka berkeliaran, anak-anak yang suka bermain dan penuh rasa ingin tahu, selain menemukan tempat rimbun yang terhalang sinar matahari, serta rasa tega untuk membolak-balik sampah-sampah itu tiap hari sembari menambahkan tanah di dalamnya.

Ada satu solusi lagi yang bisa dilakukan, yakni lewat biopori. Tanah dibor sehingga menghasilkan lubang berdiameter 20-30 cm dengan kedalaman 1 meter, yang berfungsi sebagai resapan air sekaligus bisa diisi sampah organik (lihat www.biopori.com). Lubang biopori ini bisa dibuat dalam jumlah banyak di halaman rumah kita. Semakin banyak lubang, maka tempat resapan air makin banyak, dan demikian juga sampah-sampah organik mendapat tempat untuk mengubah diri menjadi kompos. Terus terang keluarga kami belum melakukan ini karena masih terkendala pada alat dan hewan-hewan yang suka melintas di halaman.. hmmm.. tapi memang sudah ada dalam rencana projek keluarga.

Jadi, kupikir, semua dimulai dari rumah. Di tengah gempuran iklan makanan dan minuman kemasan serta teman-teman yang hobi jajan, ternyata ada juga anak yang memilih membawa bekal makan dari rumahnya. Itu yang dikatakan Rosi, kelas 3 SD. Menurut Mamanya, ia dilatih sejak masih kecil, sembari diberi pengertian bahwa makanan rumahan lebih sehat dan bersih, terjamin kualitasnya. “Kalau makanan yang dibeli di luar, kita tidak tahu airnya, pemanisnya, dan proses masaknya.” Jadi lebih baik membawa nasi goreng atau ‘tahu berontak’ dari rumah daripada membeli makanan di luar. Sounds great ya !

Dipaksa, digoda, dan terbiasa. Ini juga yang terjadi pada dunia konsumsi kita. Persepsi tentang cinta lingkungan dimulai dari rumah, dimulai dari bagaimana memerlukan tanaman untuk menghias dan menyegarkan rumah, dari bagaimana ibu memilih membeli pewangi cucian dalam kemasan sachet atau refil 500 mili, dari bagaimana ibu memilih kue-kue rumah tangga dibanding snack kemasan, juga tentang pembiasaan membuang sampah. Tentu, sang bapak pun mengambil peran yang besar untuk kerja sama membuat instalasi pembuangan sampah sendiri macam biopori atau pengolahan kompos. Nah, dari sana muncul semangat kompak untuk cinta lingkungan. Kampanye global warming tak harus jauh-jauh dan muluk-muluk, tapi dimulai dari rumah kita. Iya kan ? Dan efeknya bisa luar biasa lho, bukan hanya urusan sampah dan tanaman, tapi mengajak kita untuk mencintai makanan tradisional yang ramah lingkungan dan lezat. Asik kan….

Eh, satu lagi. Masih ingat permainan jaman kecil dulu ? Masak-masakan dengan tanaman yang ada di pekarangan seolah kita sedang memasak seperti ibu ? atau bermain mencari belut dan ikan di sungai atau parit ? Hm… itu permainan tradisional yang membentengi anak-anak untuk mencintai produk lokal. Gimana hubungannya ? Weits… dekat. Anak-anak kan suka mencontoh apa yang dilakukan orang terdekatnya. Kalau melihat ibunya memasak, maka dia ingin meniru dengan memasak. Kalau sang bapak suka memancing, anak bisa jadi suka dengan alam. Nah, bermain dengan alam akan mendekatkan kita untuk mencintai alam semesta. Memetik bunga sepatu yang cantik, mengambil daun sansiviera untuk jadi daging-dagingan, atau menambahkan bata merah yang digerus untuk jadi pewarna masakan.. Wah, permainan masa kecil yang indah. Kalau di desa tempatku bermukim, permainan itu masih ada, tapi aku tidak yakin dengan jenis permainan anak-anak di kota. Mungkin lebih sering dengan komputer, PS, atau tv ya… Nah, sembari bermain dengan alam, orang tua bisa membangun memori  cinta lingkungan. Jadi, global warming itu memang dimulai dari rumah kita. Tinggal bagaimana kita mengajak keluarga kita untuk memulai dan mencintai lingkungan dengan cara-cara yang kecil dan sederhana .. iya kan ?

asyiknya bermain masak-masakan

***