5 Dzulhijjah 1436H

Dzulhijjah adalah bulan baik. Bulan yang disukai Allah. Banyak amalan sunnah di bulan ini. Bulan saat umat islam melaksanakan ibadah haji nan suci. Bulan saat Ibrahim diuji mengorbankan Ismail hingga menjadi petunjuk ibadah kurban. Idul adha, hari besar umat islam sedunia ada di bulan Dzulhijjah.

Bulan dzulhijjah ini, ternyata menjadi bulan saat Allah memanggil bapak. Beliau, di usia 73 tahun, masih survey sapi ke imogiri bersama panitia kurban. Beliau masih sehat, masih menyapu halaman dan membakar sampah, yang menjadi kesibukannya hari-hari. Stok kopi, energen, oat meal, baru saja dicukupi.

Pengantar koran, masih bercakap-cakap bersama bapak seperti hari biasa. Ia pun melongo saat tahu bapak meninggal. Penjual gas langganan yang ngetem di tetangga sebelah bertanya, ‘Mbak, Bapak?’ yang hanya bisa kujawab dengan menunjuk karangan bunga turut berduka cita. Teller BSM pun ingat, belum lama bapak ke bank. So fast?

Ya, that’s so fast. Jumat dini hari, Mas  Aat posting ke grup jika Bapak kena stroke dan dibawa ke RS Hardjolukito.  Saat olahraga jumat pagi di pabrik, terlintas di benak untuk sholat Idul Adha di jogja. Is that true?

Jumat itu menjadi hari yang sibuk. Dalam bengongku, Bu Silmi membelanjakan nutrisi posyandu piketku. Stoker izin tak masuk, walhasil urusan bebersih dikerjakan dengan air mata sporadis. Tugas membuat standar kelulusan English 456 dilembur. Tugas sekolah disiapkan untuk 2 minggu. Segera pulang..segera pulang.. Kerjakan tanggungjawabmu..

Dari grup wa, Mas Fiki Banjarmasin sudah mendarat di Jogja. Mbak Nina n fam Jakarta flight malam. Sementara Mbak Lely sedang ibadah ke tanah suci.

Aih…Sinyal kebun kembang kempis. Traveloka gagal confirm meski dicoba berkali-kali.  Kutelpon Mas Fiki, katanya tidak ada pembuluh darah yang pecah, dengan kondisi ini, pasien tidak separah om Shidiq, namun recovery akan lebih lama.

Sabtu, pagi, segera bergerak. Masak untuk mengisi stok lauk di freezer. Ambil print tugas, lalu ke sekolah. Ah, Pak kepala sekolah berpesan untuk membeli buku. Nice conversation.. Baiklah.. Siang memastikan ketersediaan bahan-bahan nutrisi posyandu di rumah Bu Dana. Kupeluk ia, yang sedang menumis bumbu and I said thank you.

Baiklah, jam 14.30 Wita, kami berangkat motoran. Tiket masih belum di tangan. Berhenti di BRI Pasangkayu, offline. Hp kuset berhenti data traffic agar hemat batere. Mendekati Donggala, hp suami bergetar berkali-kali. Namun takdiangkat karena kami masih perjalanan. Di Loli, kami rehat sekaligus makan.18.00 WITA. Kutengok hp, banyak miscall. Kubuka grup wa…Innalillahi..dan menunjukkannya pada suami..

Panggilan masuk lagi…Bu Prita di sana, memastikan kami mendapat kabar. Hp pun diserahkan pada Ibunda Azizah , beliau dengan tenangnya menasehatiku agar jadi anak shalehah, dst dst…dan berderailah air mata.. Suami memegang tanganku. Dia pun mengabari Pak Unari dan minta izin. Pak dan Bu Unari pun menawarkan bantuan, tebengan mobil Pak Dana yang kebetulan di belakang kami, pengurusan tiket, penginapan, dll.

Plan pun berubah. Untunglah suami tidak panik. Kami berdua harus ke jawa, malam ini juga. Jam 19.45 kami masih dapat tiket pesawat terakhir di bandara. Motor dititip ke LO, koper dibawakan Pak Dana. Ke Surabaya kami berangkat, menginap, dan melanjutkan perjalanan esok paginya. Subhanallah, Allah memudahkan perjalanan kami.

He passed away. So fast? Let’s see what happens in other place. Saturday, September 19th, He was in good condition, he could communicate with others. Beliau bertanya, ‘Jam berapa?’ dan minta wudhu. Lalu dibantu tayamum, sementara sholat asar dibimbing Mas Aat. It could be at 15.30. Setelahnya kondisi drop. Mbak Nina datang ke rumah sakit disambut zikir yang menggema di sekeliling bapak. Adik-adik bapak besuk, tetangga dekat juga hadir. Selepas Mbak Nina datang, cium tangan dan mohon maaf, sakaratul maut itu lepas..Bapak meninggal..tahlil pun semakin keras bergema di ruangan. 16.30 WIB.

Tante Hikmah bilang, bapak husnul khatimah. ‘Contohlah bapakmu yang tepat waktu sholatnya, yang dalam sakit pun meminta untuk sholat tepat waktu..’ Sakaratul mautnya sungguh cepat.

Wajahnya bersih..

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…

Mungkin ini yang dibilang Om Pur. Menurutnya,  ‘Bapak tidak kuat untuk sakit terlalu lama.’ Sakit yang sejenak dan langsung memanggilnya kembali ke rahmatullah adalah keinginan beliau.

Subhanallah.

Terimakasih untuk segenap keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, yang telah takziah dan memberikan dukungan.

Terimakasih untuk Masjid Al Falaah, rumah kedua Bapak, dan segenap takmir, yang menjadi tempat dan menyiapkan pemberangkatan jenazah, serta yasin dan tahlil bakda isya. Terimakasih kepada PHBI yang berinisiatif sholat gaib sesaat sebelum Sholat Idul Adha di halaman Amplaz. Terimakasih untuk semua. Jazakumullah khairan katsiran.

Bapak, terimakasih telah menjadi teladan bagi kami.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fuanhu.

Dzulhijjah 1436 H.

survivor

Infertility…apaan sih?
Different ability….ya gitu deh…
Widow..siapa ?

Nah teman, kadang secara tidak sadar kita membicarakan sesuatu yang kita anggap wajar tapi bisa menyakitkan orang lain. Kalau ada teman difabel, tuna daksa atau tuna netra, kita bilang dia cacat. Kalau ada yang kena cancer, kita bilang dia sakit. Kalau ada yang belum punya anak, kita bilang mandul. Kalau ada anak yang diajari gak paham-paham juga, dibilang bodoh. Kalau ada yang berpisah dengan suami, dibilang janda. Bicaranya dengan nada merendahkan pula, peyoratif.. Tahukah anda kalau label itu menyakitkan?

Bagi banyak orang, sehat, anak, kecerdasan, keluarga harmonis, itu muncul secara alamiah, lumrah, begitu saja. Namun ada orang-orang istimewa yang dihadiahi Allah dengan misteri kehidupan sehingga untuk dapat masuk ke kategori ‘normal’ atau mungkin lebih enaknya ‘standar’, perlu effort khusus untuk diraih, diusahakan, dan ditelateni.

Orang Indonesia suka sekali berbicara, mulai dari menceritakan masalah dan kemegahan dirinya, hingga kelakuan orang lain yang tidak sesuai. Dan orang-orang dalam paragraf di atas sering kali masuk list pembicaraan, dirasani.
Coba jawab dulu pertanyaan ini jika anda sedang membicarakan orang :
– Memang lu tahu apa masalahnya?
– Memang dia mau lu tahu masalah dia?
– Memang dari membicarakan dia bisa muncul solusi?
– Memang membicarakan orang bikin hati jadi tentram?
– Memang lu sendiri kuat kalau dapat cobaan seperti dia?
– Memang lu mau dibicarain kayak dia?
– Ehm…sape elu sih?

So, saya mau bagi sedikit tentang ini. Disease, cancer, difabel, infertility, divorce, bisa terjadi pada siapa pun. Jangan sakiti orang lain yang sedang dirundung sedih dengan mengata-ngatai mereka kalau tidak ada tujuan, ujung baiknya. Tahukah anda, kalau mereka adalah survivor, yang berjuang untuk sehat, untuk punya anak, untuk hidup.

Jangan lihat mereka sebagai pihak yang tidak punya ini itu seperti halnya anda yang komplet. Lihatlah mereka sebagai insan manusia yang utuh, yang berprestasi, yang bermanfaat bagi lingkungannya. Siapa tahu, keberadaan mereka lebih bermanfaat daripada orang-orang kebanyakan yang tidak mendapat cobaan Tuhan. Who knows?

sketch-1411460464261

Orang-orang pilihan ini tidak butuh untuk dikasihani. Beberapa advice mungkin boleh, tapi jangan yang menyudutkan, apalagi meremehkan. Anda tidak tahu apa yang dia rasakan, kan? Mereka pasti punya banyak pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Kalau anda berniat baik memberi saran, pastikan anda menguasai informasi tersebut. Atau anda bisa sampaikan pada pihak lain yang lebih dekat pada yang bersangkutan, apalagi jika gaya anda cenderung sok tahu dan sok benar, apalagi tidak punya hubungan dekat dengan sang survivor.

Kata Nabi SAW, sebaik-baik orang adalah yang orang lain tentram saat di dekatnya. Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi lingkungannya. Yuk, jadi orang yang begitu yuk…

🙂

Gordon Ramsay

Saya sedang suka sama Gordon Ramsay. Itu tuh, British chef yang jadi juri master chef US. Eksentrik, galak super pedes, kasar, cerdas tapi peduli.

Dulu gak sengaja nonton acaranya Hell kitchen, gak tahan liat pressure di dapur yang gila-gilaan plus omelan Gordon yang kasar (baru tahu isi dapur restoran tuh kayak gitu). Lalu gak sengaja menemukan acaranya di tv lagi, yang ini ngajari masak narapidana di Inggris sana. Terbayang bahayanya itu, narapidana pegang pisau. Kalau dipake buat kabur, gimana? Kalau bunuh-bunuhan gimana?

Ada lagi celoteh, ucapan kasar, makian, antar napi, dengan sang chef, sipir penjara, sampai ka lapas. Memang bener-bener parental guidance untuk acara beginian itu penting. Nah, yang membuatku tetap menonton acara itu (lupa nama acaranya) adalah step demi step Gordon mengajari kerja sama sesama napi dalam memasak, kerja sama dengan manajemen penjara, dan juga menghadirkan orang-orang yang punya peran dalam dunia kuliner. In the end, Gordon bikin party di salah satu ruang penjara dan tamu-tamu disuguhi hidangan para napi. Keren !

Ada juga seri Gordon buka catering dari penjara, dengan waktu sempit untuk persiapan memasak. Dan makanan yang dibuat musti habis laku terjual karena makanan itu short time. Awesome!

download

Nah yang terakhir acaranya Gordon di tv yang sempat kutonton adalah Hotel Hell. Gordon dateng membenahi manajemen hotel yang hampir bangkrut karena mismanagement. Problem utamanya adalah lack of leadership, pemimpin yang seenaknya, karyawan gak digaji sehingga tidak ada passion kerja, efeknya adalah buruknya pelayanan pada konsumen, mulai dari resepsionis, kamar, sampai restoran. Sementara itu, resources ada di depan mata, mulai dari fresh water fish, kota pelajar, nice view, historical hotel, etc.

Di salah satu episode, Gordon memperbaiki relasi dalam keluarga, antara kakak-adik-ibu-bapak yang nggak klop hingga akhirnya keluarga itu bersatu lagi dan running hotel dengan lebih tertata, sebagai satu kesatuan tim.

Waw…andai Gordon ada di Indonesia, bisa stres dia, dengan banyaknya mismanagement. Wah kata-kata kasar akan bermuntahan dari mulutnya.

So , apa pelajarannya?
Pertama, niat kuat dan mental baja..pasti.. Lu beneran mau ngajarin narapidana buka catering dari penjara? Lu beneran mau cari jodoh? Lu beneran mau ikut master chef? Lu beneran mau hamil? Niat kudu kuat, banyak tekanan, orang bilang ini itu, mencibir pedas, situasi n kondisi yang tidak diinginkan, keluar dari comfort zone, yang pasti…uji ketahanan mental n fisik…

Siap mendengar kata-kata pedas Gordon Ramsay? Bagaimana menghadapi dan menimpali kata-kata orang sok tahu? Eh, tapi dia berhak untuk marah sama kita atau tidak? Nah…itu juga…Hm…nangis-nangis doang trus tinggal pergi..haha..boleh sih tersudut, terpuruk sebentar, tapi bangkit lagi ya.

Mari buat pembuktian terbalik, bahwa makian Gordon itu salah, mari buktikan kalau kita punya cara survive yang baik pula. Kali aja Gordon atau orang yang nggak suka sama kita itu nggak tahu ada kebenaran versi lain, counter hegemony..hihi….bahasa seksi kuliahan. Wake up and stand up, baby!

Kedua, punya banyak rencana, plan A-C jika rencana tidak sesuai harapan. Kita set expectation bla bla and prepare anything tapi ternyata kondisi dan situasi meleset…nah lo…mau bilang apa? Ready for worse case scenario ya. Pinginnya sih tujuan tercapai, tapi mungkin ada faktor x yang menghalangi ya. Siap, tetap kuat bangkit. Singsingkan lengan baru, ayo gumregah nyambut gawe..

Ketiga, ilmu. Bertindak, nggak asal bertindak, tapi ada ilmunya. Kreatif itu bagus, tapi kudu punya fondasi ilmu supaya hasilnya baik. Banyak cara mencari ilmu, dari yang mandiri sampai belajar ke ahlinya. Pertanyaannya, mau untuk belajar atau sudah merasa cukup. ‘Ah, segini juga cukup, gini aja cukup, nggak perlu neko-neko.’ hasrat dan passion untuk terus belajar di manapun, kapanpun, dan pada siapapun musti ada dalam benak kita. Ini nih yang sering jadi kendala untuk menyeru kemajuan (duilee). Apalagi berhadapan dengan masyarakat yang merasa cukup nyaman dengan kondisi saatu ini.

Wah, dijamin disuruh ngepak pisau dan naruh apron sama Mr.Ramsay tuh.

Napak Tilas Nabi Ibrahim

Tahukah kamu, Nabi Ibrahim?
Well, you gotta know this.
Nabi Ibrahim adalah nabi yang cool sedunia akherat. Bayangpun, semasa hidupnya ada banyak cobaan dan tantangan dari umatnya yang ngeyel ndableg, ujian dari Allah yang misterius dan tak masuk akal, hingga mukjizat Allah yang luar biasa.

Ibrahim bin Azar bin Tahur bin Saruj.bon Rau’ bin Falij bin Aabir bin Shalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh lahir di A’ram, Babilonia (daerah Irak). Beliau sering mempertanyakan sesuatu, misalnya tentang Tuhan dan berhala. Perdebatannya dengan Raja Namrud, dimulai saat Ibrahim menghancurkan berhala-berhala Babilonia, dan menyisakam satu berhala besar sebagai kambing hitam pelaku pengrusakan. Walhasil, Ibrahim dibakar hidup-hidup namun atas izin Allah, api menjadi dingin dan Ibrahim selamat.

Namrud tidak serta merta mengakui Tuhan ibrahim. Sebagai raja, egonya terlalu besar dan merasa dirinya adalah penguasa dunia sekaligus Tuhan. Maka Ibrahim pun meninggalkan Babilonia dan melakukan perjalanan. Sampailah Ibrahim di Haran, tempat antara sungai dajlah dan furat, daerah Palestina. Penduduknya adalah penyembah bintang. Di sini Ibrahim bertanya tentang bintang yang timbul tenggelam kala malam, bulan yang berubah-ubah, dan matahari yang menggantikan bintang kala pagi menjelang. Tuhanku lebih dari itu. Sayang, penduduk Haran tidak mengakui Tuhan Ibrahim.

Paceklik, kemarau tiba. Ibrahim dan Sarah, istrinya bermigrasi ke Mesir, yang subur oleh sungai Nil. Di Mesir, Firaun jatuh hati pada Sarah, namun atas perkenan Allah, Firaun mengembalikan Sarah pada Ibrahim plus memberi hadiah dayang bernama Hajar.

Ibrahim bersama Luth, kemenakannya bertani, beternak, dan berniaga. Keberhasilan usaha mereka membuat rakyat mesir iri, hingga akhirnya Luth pindah ke Sadum di Yordania, sementara Ibrahim kembali ke Palestina. Dalam periode ini, Sarah memberi izin pada Ibrahim untuk menikahi Hajar.

Hajar mengandung, dan melahirkan Ismail. Ujian Allah selanjutnya adalah membawa Hajar dan Ismail yang masih bayi ke daerah padang pasir bernama Mekah. Ibrahim membuatkan tenda, dan kemudian meninggalkan istri dan bayinya di sana tanpa siapa-siapa yang menemani.

Hajar dengan naluri keibuannya, melindungi Ismail, mencari air di padang pasir dengan berlari-lari kecil antara bukit Sofa dan Marwah. Tujuh kali Hajar melakukannya hingga terpeciklah air di kaki Ismail. Zam zam, berkumpullah air-air, hingga menjadi mata air, sumber kehidupan.

Dalam pada itu, Ibrahim kedatangan malaikat yang mengabarkan kehamilan Sarah yang kelak melahirkan Ishak. ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Rabbi habbli minas sholihin.’ Kun fayakun, jika Allah berkehendak, jadilah, maka jadilah ia. Dari Ishak, lahirlah nabi-nabi Allah, Yakub, Yusuf, Ayub, Syuaib, Musa, Harun, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakaria, Yahya, dan Isa. Subhanallah, penantian berbuah kenikmatan yang luar biasa.

Ibrahim pula yang mendapat perintah untuk khitan, di usia 90 tahun, dan mengkhitan Ismail. Perintah Allah yang dilaksanakan anak keturunan Ismail – Muhammad, hingga umat Islam kini.
Ibrahim, bapak para nabi, kembali mendapat ujian Allah, kali ini dengan perintah kurban. Ibrahim yang tinggal di Palestina (ada juga yang menyebutkan Siria) pergi ke Mekah menemui Ismail . Bisa dibayangkan bagaimana peningnya Nabi Ibrahim atas perintah Allah kali ini. Ismail, anak yang tinggal jauh sejak bayi, musti dikorbankan. Namun Ismail menyetujuinya, legalah ayah-anak ini dan bersiaplah mereka.

Iblis datang, menggoda Ibrahim, juga Ismail. Ibrahim mengambil kerikil dan melempari iblis ke jumrah aqobah, jumrah wustha, dan jumrah ula, masing-masing 7 kali. Dan ternyata Allah mengganti ismail dengan domba sebagai hewan kurban. Subhanallah.. Satu lagi ujian, lulus.

Menurut salah satu sumber, Nabi Adam yang diturunkan dari surga, menginjakkan kaki di India. Beliau diperintahkan Allah pergi ke Mekah dan beribadah di ka’bah. Ka’bah inilah yang dibangun ulang Ibrahim dan Ismail sebagai rumah Allah, muara ibadah jamaah haji. Adapun padang arafah, tempat wukuf, berdiam diri jamaah haji nan putih putih sederhana, merupakan tempat pertemuan Nabi Adam dan hawa setelah diturunkan dari surga. Sementara Mina adalah tempat Nabi Adam memohon ampun atas dosa-dosanya di surga.

Kali ini, Ibrahim dan Ismail mendapat perintah untuk membangun kembali sang ka’bah. Berdua mereka bekerja sama. Ibrahim pun membutuhkan batu pijakan agar bangunan ka’bah cukup tinggi. Batu inilah yang disebut maqam ibrahim, pijakan kaki ibrahim yang berbekas pada batu.

Jadi, ibadah haji merupakan satu napak tilas cucu-cucu Ibrahim, menyambangi tempat-tempat bersejarah yang berperan dalam pertumbuhan agama Allah hingga saat ini. A land of far far away, terbayang masa lalu saat nabi mulia bersusah payah berusaha menjalankan perintah Allah, dalam kondisi yang sedemikian. Padang pasir, panas, dan keras.

images

Mengapa Nabi-nabi itu ditugaskan berdakwah di jazirah arabia, di mekah, di mesir, di palestina, di siria, di irak? Negeri yang kini terus bergolak, peninggalan-peninggalan yang hancur oleh perang, perebutan kekuasaan, atau bahkan negara islam dengan alat kekerasan?

Mengapa kini penduduknya tidak merasa aman atas negerinya, padahal nabi-nabi nan mulia telah meletakkan fondasi ketuhanan di sana? Mengapa dan mengapa? (Masih belum menemukan jawabnya..) Mari doakan semoga Liga Arab bisa kompak bersatu menghalau kekuatan-kekuatan yang ingin memecah belah umat islam. Yang rezekinya lega, kirim donasi untuk saudara-saudara di Palestina.

So, apakah kita, yang dengan kondisi modern saat ini, super galau saat musibah datang menjelang? Menyerah saat kenyataan tak sesuai harapan? Tengoklah pada Nabi Ibrahim, Nabi Allah yang mulia yang kritis, sabar, dan ikhlas. Lulus semua ujian Allah. Semoga kita dapat menteladani beliau, dengan konteks masa kini. InsyaAllah..Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar… Rindui kami pada panggilanMu ya Allah..Labbaik allahumma labbaik…

haji (1)

Mohon maaf jika ada kesalahan kisah atau tempat, referensi dari buku-buku tentang kisah Nabi dan Rasul.

Nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Subhanallah..

Ada banyak cara Allah membelai makhluknya. Yang namanya penyakit, ada saja macamnya, dari yang umum didengar sampai yang baru-baru saja diketahui, dari anak muda sampai usia senja, ada. Teknik pengobatan pun berkembang, dokter-dokter makin canggih mendiagnosa penyakit dan melakukan riset. Kontrol atas perawatan pun melalui prosedur yang ketat. Tiap masalah kesehatan akan berusaha diobati dengan berbagai macam cara, mulai dari herbal, akupuntur, bekam, obat, surgery, dan lain-lain.

 

Pertanyaan yang sering muncul di benak kita selaku penderita atau kerabat penderita adalah, why me? Mengapa saya? Mengapa keluarga saya? Kesalahan apa yang pernah saya/kami lakukan sehingga harus menanggung kesakitan ini, dikala orang lain, yang (tampaknya) lebih berperilaku buruk dari kita, justru tidak dirundung duka?

 

Apa jawabnya?

Mulailah kita menggugat. Kita bertanya-tanya, kita mengeluhkan kesakitan ini. Agak klise memang, dikala jawabnya adalah Tuhan sedang menguji makhluknya, atau Tuhan ingin tahu sekuat apa makhluknya berusaha. Padahal biaya hidup makin tinggi, pekerjaan makin banyak, tetangga omong tanpa otak dan nurani, anak buah dan bos bertindak yang semaunya, dan tagihan muncul makin panjang. Oh…

 

Dan nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Di tengah segala kegalauan sakit, financial, keluarga, cicilan, dan macam-macam, muncul satu pola Tuhan (maaf kalau lancang mereka-reka). Jawabnya adalah : C’est la vie! Inilah hidup! Hidup selalu penuh ujian. Hidup selalu menawarkan tantangan dan harapan, juga tangisan dan ratapan. Tinggal bagaimana saja kita menata diri, membangun konsepsi keluarga bersama suami, menentukan jalan ke depan yang akan diambil. Mempersepsi tindakan dan omongan orang dengan negatif, atau membuat pembuktian dengan bertindak positif.

 

Qui transtulit, sustinet..Siapa yang menanam, akan memanen. Perbuatan, perkataan, yang buruk, akan mendapat balasan dari Allah, lewat jalan yang tidak kita duga. Balasan langsung, sekarang, atau tahun ke depan. Melalui diri sendiri, kesehatan, finansial, atau hambatan. Selalu ada jalannya. Maka hati-hati berkata dan bertindak yang menyakitkan orang. Balasan itu bisa kembali pada kita dengan jalan yang tidak kita ketahui, dalam waktu tak terbatas.

 

Yah, kita sebagai manusia hendaknya terus memiliki harapan dan usaha, tidak pasrah dan menjagake bantuan orang lain. Paling tidak, suami – istri adalah satu tim yang saling mendukung, melindungi, mengingatkan, menjaga, dan menjadi pakaian bagi pasangannya.

 

Yang pasti, ihtiar usaha yang dilakukan tetap melandaskan pada kemurahan Allah semata, menerima dengan ikhlas proses yang harus dijalani dan berdoa penuh harap. Jangan lupa, banyak berbagi, karena dengan berbagi, hati menjadi bahagia.

 

Problem suami-istri, kesehatan, finansial, dan semua yang terjadi di dunia ini muaranya pada keikhlasan, ihtiar, doa, dan bermanfaat bagi sesama.  Nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

 

Marilah kita menjadi manusia yang keberadaannya membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar kita. Tetap berusaha, ihtiar, dan berdoa. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati merestui usaha kita.. Ingat, jangan terlena terfokus pada yang tidak kita miliki dan kemilau rumput tetangga, tapi fokuslah pada niat baik untuk memperbaiki diri menjadi manusia yang bermanfaat. Amiin…

(sedang sok bijak) Irhamna ya Allah..

Konser yang indah

Malam tadi bertiga kami menikmati konser 50th Djaduk. Seniman musik Indonesia rasa jogja.. Konsernya di Taman Budaya Yogya, suatu ruang berkesenian nan publik nan hidup. Begitu masuk gerbang TBY, aroma yang lama tak terjamah itu demikian terasa.

Aroma jogja, aroma menonton acara seni malam-malam, aroma rakyat, yang khas dengan budayanya sendiri. Aroma rasa Jogja! Lain dengan aroma kampus utara yang sibuk dengan laptop, cafe, dan mobil. Atau aroma Sardjito yang gloomy. Apalagi aroma kebun nun jauh di sana yang tertinggal beberapa abad. Ini aroma seni yang Jogja banget, yang merakyat banget, yang dulu sering jadi tempat nongkrong. Aroma dimana kolektivitas kelompok bertemu dengan gilasan kebutuhan ekonomi yang menghasilkan respon kebuntuan, kreativitas, kultur kelompok, dan ruh cinta pada kesederhanaan. Namun yang pasti, ada kesungguhan, konsistensi, dan skill kala mood dan tenggat waktu berpadu.

Dalam konser musik Gending Djaduk ini, Djaduk yang tampil dengan baju merah dan kain tenun ini menampilkan sekian aransemen. Dibuka dengan Piknik ke Cibulan yang bersambung dengan Jawa Dwipa,Bethari,Pesisir,lalu Angop-mereka menggunakan alat apa gitu yang memunculkan suara orang menguap. Dilanjutkan dengan Swarnadwipa, Barong -yang bali banget,Molukken (kole-kole) rasa Maluku dengan suara emas vokalis Jasmine yang mengingatkan pada suara Glen fredly,dan ditutup dengan Ritma
Khatulistiwa. Di tengah-tengah, Djaduk mengundang mantan keyboardist Kua Etnika yang lagi ulang tahun untuk join tampil di atas pentas. Karya-karya 50tahun Djaduk ini so so Indonesia, rasa Indonesia banget,dengan alat-alat musik ajaib yang menghasilkan suara yang ajaib pula. So genuine and so wonderful.

DSC_0078

Djaduk bilang kalau dia tidak bisa menggambar. Dia bilang kalau caranya berekspresi menyampaikan gagasan adalah melalui musik, karena itu jalan yang dia kuasai. Biar dia diejek Yuswantoro adi karena tidak bisa menggambar, ya biarlah.. Tapi fokus, tekun, panjang akal. Karena ketekunan dan kegilaan itu akan berbuah. Menunggu berbuah tentu tidak sebentar.

Pohon cabe beberapa bulan sudah panen, pohon tomat apalagi, saking cepatnya kita tertinggal memindah ke tanah. Kalau pohon manggis, atau pohon cengkeh, euu lamo nian babuah. Tapi buahnya luar biasa bermanfaat besar, lebih mahal pula.. Nah, bagaimana perjuangan untuk konsisten, setia pada proses, berusaha agar one step ahead itu terus melaju.

Proses itu berjalan, nggak langsung dapat harta karun, tapi harta karun itu adalah perubahan dalam diri kita untuk menghargai diri sendiri, mengenal Tuhan, dan menyukai keikhlasan. Dan eksistensinya dihargai dengan apresiasi masyarakat, penonton, penikmat karya yang nonton konser. Yah kalau di jogja, tiketnya paling mahal seharga 200 ribu sementara di jakarta 500 ribu, atau melalui penjualan CD terbatas yang bertarung dengan YouTube. Namun yang lebih utama, potitioning mereka dalam berkesenian diakui khalayak.

DSC_0011

So, marilah kita review kembali, apa yang kita anggap penting dan prioritas dalam hidup kita. Pilihan karir apa yang kita jatuhkan dan bagaimana kita rajin mengutak-atik, merawat, melatih, memproduksi karya dengan telaten. Terlebih bagi pekerja independen yang ditantang diri sendiri untuk menaklukkan waktu, mood, dan kemalasan. Bukan oleh tatanan dan target yang diberikan perusahaan, tapi oleh diri sendiri yang punys itikad baik untuk berkembang.

Apresiasi untuk Djaduk dan Kua etnika, serta seniman-seniman yang nakal dan konsisten setia dalam proses. Terima kasih untuk mengingatkan pada proses itu. Proses yang kadang dilupakan untuk mencapai kepuasan sesaat, yang cepat, dianggap benar dan wajar oleh khalayak..Dan berhasil menjadi salah satu jawara yang hebat.

Sttt…Gaya orang-orang yang datang ke konser TBY ini masih sama dengan sepuluh tahun lalu. Rasa jogja banget. (Ya ada tambahan dikit lah dengan gadget mereka yang makin canggih).

jangan putus asa

Wa laa taiaasu mirrauhillah….
Ud u ni astajib lakum
Fa bi ayyi ala i rabbi kuma tukadzziban?
Fa inna ma al usri yusra, inna ma al usri yusra

Pertanyaan dan pernyataan untuk meneguhkan dan mengingatkan kita, manusia agar tak lekas putus asa dalam hidup..secara pernyataan, mudah saja,tapi saat menjalani, masih banyak tahapan yang ditempuh.

Rasa galau muncul saat pengharapan kita tak kunjung terkabul..apakah sudah cukup doamu? Apakah sudah banyak sedekahmu? Apakah sudah maksimal usahamu? Apakah keberadaanmu membawa manfaat? Apakah kesedihan dan kemuraman muncul dari auramu?

Manusia berharap, berencana, namun Tuhan yang menentukan. Kata Tuhan, kenikmatan itu diwujudkan dalam bentuk yang menurutNya lebih tepat untukmu saat ini..nikmat sehat, bahagia, kecukupan, dan lainnya, yang kau bahkan tidak tahu kapan itu diangkat…

Tapi, apakah apologi itu merupakan perlindungan bagimu sendiri, untuk menentramkan diri? sebagai alibi bahwa kau tidak cukup berusaha dan berupaya mewujudkan harapan dan impianmu?

Subhanallah..kesabaran dan keikhlasan itu terus diuji, dan diuji..karena Tuhan menguji manusia dengan ujian yang dia mampu menghadapinya…bagaikan ada rel-rel imajiner yang berseliweran tempat manusia berjalan menuju satu tempat, yang tak kan tahu kapan rudal terlontar, atau batu lempar, atau kerusakan rel, atau mesin yang rusak..jalur itu akan dilalui manusia, menuju Tuhan kembali..bukankah dunia ini sejatinya perjalanan manusia menuju Tuhannya?

Berusahalah melakukan dan membagi kebaikan pada orang-orang di sekitarmu..berbaik sangkalah pada Tuhan…perbanyaklah ibadah, doa dengan takut dan penuh harap, agar Tuhan tahu bagaimana kau mengharap..Dan berusahalah semaksimal mungkin secara teknis agar kereta itu terus meluncur di atas rel dengan laju..ikhlas dan bersabarlah agar semuanya dilalui dengan bahagia….sebagai proses yang meneguhkan ikatan antar hamba, sebagai kekuatan yang mengikat manusia dengan Tuhannya..

Subhanallah…