Nagara : Sungai Segalanya (Part 5)

Kebudayaan sungai ternyata memang memiliki akar sejarah panjang yang menarik. Penuh intrik, kekuasaan, pertukaran, dan penyebaran agama. Meski mungkin tidak setenar kerajaan Majapahit dan Demak, namun kerajaan Banjar tua Batang Banyu ini istimewa dan khas dengan kebudayaan sungainya yang eksis hingga kini.

Hiruk Pikuk Nagara

Negara, atau Nagara, masa kini adalah tempat pemukiman padat sepanjang jalan, dengan sungai sebagai halamannya. Jalan aspal sempit membuat mobil yang berpapasan harus merepet, sementara motor tak mau kalah mencuri celah. Motor-motor parkir di kanan dan kiri jalan. Kadang navigator pun turun untuk merubah posisi sendal yang bertumpuk  di tepi aspal kala ada hajatan.

Orang-orang duduk berbincang di pinggir jalan yang memang adalah halaman rumah mereka merangkap jalan darat satu-satunya menuju ke utara. Jika ada jembatan yang dibongkar, dipastikan akses jalan sangat terbatas, khusus roda 2. Inilah lokasi ujian kesabaran bagi pengendara roda empat. No way out !

Negara punya sentra industri logam perkakas rumah tangga dan mandau. Wajan, parang, pemanggang, tempat piring, dll, semua dibuat dalam skala industri rumah tangga dan dipasarkan ke luar kota.

Bagi yang berpencarian petani, penduduk Negara berubah profesi menyesuaikan musim. Kala hujan, tua muda, laki perempuan sibuk memancing ikan dengan pancing, hancau (alat mencari ikan segi 4) dan sasuduk. Umpan pancing biasanya kodok. Cukup duduk manis di depan rumah, di titian kayu, dan pian bisa dapat ikan. Oh senangnya..

20171224_103208-1

Musim penghujan : lahan pertanian  tergenang, kesempatan mencari ikan

Sang sungai juga menghasilkan aneka ikan tawar melimpah : haruan/gabus, baung, nila, mas, patin, papuyu, lais, dll. Ikan hidup ini selain dijual di Negara, Kandangan, juga dibawa ke Banjarmasin. Pick up berisi tong ikan dengan jaring di atasnya rutin mengirim ikan ke kota. Yang ini tak mengenal musim kemarau atau penghujan. Ikan air tawar selalu melimpah.

Tentu saja, harga ikan hidup lebih mahal daripada ikan yang sudah mati. Di pasar, penjual ikan biasa menaruh ikan di bedengan aluminium atau ember ceper. Kadang dengan oksigen agar ikan bertahan hidup. Memang beda kok, kesegaran ikan yang masih hidup. Saya sudah buktikan.

Beberapa home industri mengolah hasil panen menjadi kerupuk, baik krupuk aneka ikan maupun krupuk tomat, nanas, cabe dan waluh. Ikan sepat, sepat siak, & haruan dijemur rapi menjadi ikan asin di pinggir jalan. Iwak sapat karing yang tersusun bagai keset dan bintang ini seolah takada habisnya dipanen. Sapat karing pun menjadi oleh-oleh khas Nagara.

20180627_123655

Ikan-ikan air tawar di pasar Nagara. Tinggal pilih : ikan hidup, mati, asin, atau pakasam

Kala kemarau dan air sungai surut, penduduk bertani dengan rajin. Semangka, labu, cabe, tomat, terong, paria, dan hasil tani lain melimpah dan dikirim ke kota. Nanas Negara pun sangat manis dan menyegarkan (membuat saya jadi doyan nanas). Petani menanam padi yang gabahnya dijemur di pinggir jalan. Begitulah, petani Negara berkejaran dengan musim agar tanaman tak terendam hujan dan sungai yang meluap.

Cerita Semangka
Menuju kemarau, petani Negara (daerah Muning) sibuk menyiapkan benih semangka. Biasanya sekali tanam adalah 5.000an pokok/tanaman semangka. Benih disiapkan dan dikepal di tanah basah sebelum ditanam di lahan. Setelah lahan siap, musim kemarau datang dan air surut, ditanamlah bibit semangka di lahan. Uniknya, untuk mencapai lahan, petani mengunakan cis/perahu demi menyeberang sungai.

Demi menjaga kualitas buah, 1 pokok tanaman dijaga agar berbuah 1 atau 2 saja. Kita bisa lihat, semangka Negara ganal-ganal (besar) ! Untuk pemupukan ada 5 macam (oplosan NPK) yang diletakkan di 3 sudut di sekitar tanaman. Ini sekaligus menepis isu semangka suntik. Yang betul adalah pupuknya yang tambah, disuntik ke tanah. Pupuk ini bisa mempercepat pertumbuhan dan masa tanam, sehingga panen cukup dalam waktu 2 bulan.

Saat panen raya, kadang semangka tidak ditimbang, tapi dihargai per butir. Harga semangka kadang jatuh 1.500/kg, sementara saat biasa bisa mencapai 5.000/kg. Untuk pemasaran dilakukan sendiri-sendiri, ada yang langsung pembeli, dan banyak mobil pick up serta truk yang memasarkan semangka ke kota besar. Tak ketinggalan paman sayur yang membawa semangka di motor dan menjualkan eceran. Berat banget lho itu! Yang ajaib, teman-teman biasa membubuhkan garam atau royco saat makan semangka. Supaya tidak sakit perut, katanya.

IMG-20180807-WA0006

Petani mengangkut hasil panen semangka dari lahan

Nagara sungguh merupakan kawasan yang kaya hasil bumi. Sekali lagi, nenek moyang kita memang ahli memilih lokasi kerajaan. Manfaatnya dirasakan hingga kini.

Tinggal di Negara

Rumah panggung kayu dibangun rapat bersisian. Dalam satu rumah, polanya extended family. Artinya satu rumah ditinggali keluarga inti ayah ibu plus anak, mantu, cucu, juga kakek atau nenek. Hangat ya. Berbeda  dengan rumah panggung Sulawesi yang bagian bawahnya untuk menaruh hasil bumi, rumah panggung di Negara memang berada di atas sungai/air.

Perahu cis bersandar di halaman rumah bersiap mengantar penghuninya melalui jalur transportasi sungai. Itulah mengapa beberapa jembatan dibangun sangat tinggi, ya karena di bawahnya digunakan untuk lalu lintas sungai.

Udara akan terasa lembab kala pagi. Malam harinya, nyamuk-nyamuk beterbangan mencari darah yang bisa dihisap. Jangan tanya kenapa obat nyamuk laku keras di sini. Jendela pun segera ditutup sore hari agar malam terbebas dari serangan nyamuk.

Kamar mandi terpisah dari rumah. Beberapa bentuknya seperti bilik kotak, langsung di atas air sungai. Sore hari, ibu-ibu berjalan memakai/membawa kain batik lilit pekalongan dan timba. Begitulah hidup di sungai. Begitulah hidup di Nagara. Unik ya. Wilayah yang punya sejarah panjang dengan kebudayaan sungai yang hidup dan menghidupi.

***
(Bersambung)

Advertisements

Negara Daha : Dari Kerajaan Hindu ke Islam (Part 4)

Berpindahnya pusat kerajaan Negara Dipa di Amuntai menuju Daha membawa harapan kemajuan kerajaan. Demikian pula perubahan pucuk pimpinan Raja yang acapkali menjadi polemik perebutan kekuasaan kakak-adik dalam keluarga raja.

Adalah Pangeran Samudra kecil, cucu Raden Sukarama, cucu mahkota kerajaan Negara Daha, yang diungsikan agar tidak dibunuh pamannya yang menjadi raja Daha. Samudera berlayar naik jukung lewat pelabuhan Marabahan ke Kuin. Bahkan jika kini saya menyusuri sungai yang dilalui Raden Samudra malam-malam, kemungkinan besar saya bakal ketakutan mengingat effort besar yang dilakukan dan kondisinya !

20180601_165554

Menyeberang Barito menuju Marabahan

Kuin menjadi tempat migran Melayu dari Kerajaan Malaka yang melarikan diri akibat serangan Postugis. Di Kuin, Raden Samudra tinggal hingga dewasa dan diangkat jadi Raja Bandarmasih. (Fyi, sungai Kuin adalah lokasi syuting pasar apung Rcti oke jaman dulu).

Karena masih lemah melawan Raja Negara Daha (sang paman), Patih meminta bantuan ke kerajaan Demak. Demak bersedia memberi bantuan dengan syarat bisa  menyiarkan agama Islam ke Bandarmasih.  Bantuan Demak pun berhasil mengalahkan Negara Daha, dan setelahnya, Pangeran Samudra masuk Islam. Beliau menjadi Sultan Suriansyah dengan berposisi di Bandarmasih. Inilah awal mula kerajaan islam Banjarmasin.

Negara Hindu Daha, sebagai kerajaan lama,  ternyata tidak ada yang tahu letak dan tapak  kerajaannya. Di Daha tidak ada petilasan kerajaan yang bisa dijumpai. Konon kekuatan magis kasat mata Negara Daha berada di sungai, di seputar Masjid Besar Ibrahim, di dekat pasar.

20180627_134138

Dermaga Nagara

Jika kita ingat pola kerajaan Islam, selalu ada segitiga kerajaan/alun-alun, masjid/kauman, dan pasar. Pasar Nagara buka tiap hari dan ramai, bahkan macet dengan kendaraan roda 2. Pasar ini lokasinya tidak jauh dari Masjid Ibrahim. Maka mungkin benar jika pusat kerajaan Daha berada tak jauh dari masjid dan pasar, dan di manakah dia ? Lihatlah ke bawah, ke Sungai Nagara !

20180627_115853

Salah satu pemandangan Sungai Negara kini

20180627_131340

Interior Masjid Ibrahim Nagara

Tak jauh dari masjid, ada beberapa makam Habib ulama keturunan Arab yang makamnya sering dikunjungi. Para peziarah biasa datang berombongan naik elf/L300, biasanya mengenakan pakaian putih. Para Habib inilah penyeru agama islam yang berperan penting di daerah, segala penjuru Banua, dan merubah pemeluk Hindu Daha menjadi Islam setelah Pangeran Samudra masuk islam.

***

(Bersambung)

Negara Dipa : Kerajaan Borneo Bernuansa Majapahit (part 3)

Dari Candi Laras ke Candi Agung

Adalah Empu Jatmika, tokoh yang mengawali perjalanan bersejarah Negara Dipa. Empu Jatmika berasal dari Keling, Majapahit, dan berlayar masuk ke Kalimantan melalui sungai Barito. Awalnya Empu Jatmika membangun Candi Laras, di hilir sungai Bahan, daerah Margasari, Tapin. (Oot : Kami tinggal di Candi Laras Utara!) Dari sinilah Empu Jatmika mengawali berdirinya Negara Dipa, sebuah entitas politik yang menguasai daerah aliran sungai seputarnya.

Ayah dari Empu Jatmika atau kakek dari Lambung Mangkurat adalah saudagar (bukan bangsawan) yang di masa itu sudah menjalin kerja sama dengan kerajaan China. Empu Jatmika bahkan memesan patung porselen dirinya hasil karya pengrajin China.

Dari Candi Laras, pusat kerajaan kemudian berpindah ke Amuntai. Sang anak, Lembu (Lambung) Mangkurat, sepeninggal Empu Jatmika, menjadi patih penggiring kemajuan kerajaan Negara Dipa. Karena Empu Jatmika dan Lambung Mangkurat bukan keturunan Raja, maka Negara Dipa membutuhkan raja yang sungguhnya. Menurut hikayat, Negara Dipa dipimpin oleh Putri Junjung Buih, putri yang muncul dari buih sungai, yang kedatangannya disongsong oleh penari-penari.

20170702_113615

Pertapaan Pangeran Suryanata

Sang Putri kemudian menikah dengan Pangeran Surya Nata, putra dari Prabu Wijaya (Majapahit) yang lahir dari hasil pertapaan. Keduanya pemimpin ini cukup mistis, karena lahir bukan dari ayah + ibu. Mereka berkuasa pada 1438-1460 M. Setelah era Putri Junjung Buih, raja dari kerajaan Negara Dipa merupakan adalah keturunan dari Putri Junjung Buih-Pangeran Surya Nata dan Lambung Mangkurat-Dayang Diparaja.

Besarnya peran Patih Lambung Mangkurat di kerajaan Banjar Tua membuatnya tersemat sebagai nama kampus unggulan di Banjar. Ini sama seperti Patih Gajah Mada yang jadi kampus di Jogja. Dua Patih ini pun berhubungan seiring relasi Negara Dipa-Majapahit. Apakah ini menunjukkan krusialnya posisi dan peran sang patih di kerajaan, melebihi rajanya? Maybe yes. Patih yang kuat mampu memimpin ekspansi wilayah kekuasaan suatu kerajaan. Jika kita mau lebih banyak membaca, ada banyak cerita dan hikayat berbahasa Banjar yang mengisahkan kehebatan Patih Lembu Mangkurat.

Melongok Jejak Sejarah dan Kebudayaan Sang Hulu

Dari kisah sejarah kerajaan sungai di Kalimantan Selatan ini, ada banyak hal yang bisa kita bisa pelajari. Bahwa ternyata dalam membangun dan mempertahankan kerajaan dan kebudayaan, memerlukan dukungan interaksi antar etnis-antar bangsa. Interaksi ini berwujud ekonomi, perkawinan antar etnis, dan pertukaran kebudayaan. Selain itu juga terjadi pertempuran dan ekspansi kekuasaan. Sepertinya ini menjadi hukum alam, terjadi di belahan dunia manapun dan dalam kondisi bagaimana pun.

Dari sisi ekonomi, khususnya perdagangan berbasis sungai, ada jejaknya hingga kini : perdagangan. Urang Banjar dikenal sebagai pedagang. Penduduk sekitar Hulu sungai, utamanya Amuntai-Alabio terkenal sebagai pedagang ulung. Merekalah yang merantau ke mana-mana sebagai urang Banjar. Hasil penelitian terbaru menyebutkan bahwa penduduk Madagaskar kini adalah percampuran suku Banjar yang melaut dengan penduduk asli Madagaskar.

Adapun sang ibu kota : Amuntai menunjukkan kreativitas penduduknya melalui kerajinan anyaman. Produk Amuntai adalah lampit (tatami khas banjar), tas purun, anyaman rotan, topi, dll berbahan dasar rotan. Bukan hanya lokal, namun lampit ini sudah ekspor.

20180701_144726

Lampit (tatami) dan kerajinan rotan Amuntai. 

Sementara itu, Alabio terkenal dengan peternakan itik alabio dengan telur asin yang punya kuning telur super mantab.

Amuntai juga dikenal sebagai daerah yang maju pembangunannya, dilihat dari jalanan aspal yang mengelilingi sungai dan tertata rapi. Adapula pusat ekonomi Plaza Amuntai dan pasar tradisional yang selalui ramai. Kalau berkesempatan berkunjung, jangan lupa nyicip olahan itik tanpa tulang dan burung belibis khas Amuntai ya..

20170702_125608

Tengah : belibis dan bebek tanpa tulang khas Amuntai

Sebuah petilasan peninggalan bersejarah yang bisa ditemui kini adalah Candi Agung yang bisa kita lihat di Amuntai. Hasil penelitian kadar karbon menunjukkan bahwa Candi ini berangka tahun 242 SM. Jika setua itu, maka peninggalan siapakah sang candi ?

20170702_114115

Situs Candi Agung Amuntai

Mendengar kata candi, bayangan kita mengarah pada batu dan relief candi Prambanan dan Borobudur. Namun yang ini beda, batu bata ! Ya, wujud Candi Agung ditandai dengan fondasi batu bata yang ditumpuk. Bahan batu bata ini mengingatkan pada elemen pembangun Candi Majapahit dan Mataram Kotagede.

Majapahit di seputar tahun 1300 menundukkan Kerajaan Tanjungpuri dan Nan Sarunai. Majapahit juga asal dari Empu Jatmika sang pendiri Kerajaan Negara Dipa. Majapahit juga asal dari Pangeran Suryanata (anak Prabu Wijaya) yang beristri Putri Junjung Buih. Namun jika benar Candi Agung berangka tahun 242 SM, maka situs ini merupakan hasil karya kerajaan Nan Sarunai, jauh sebelum masa Majapahit.

Kalau ada pertanyaan : Di manakah kerajaan Negara Dipa bisa dilihat saat ini ? Jawabannya ada di sekitar situs Candi Agung Amuntai. Pecahan tembikar, mangkok porselen, batu bata, menjadi saksi bisu kebesaran kerajaan.

Seperti halnya sejarah kerajaan lainnya, intrik perebutan kekuasaan membuat pudar kekuatan kerajaan. Dianggap tidak bertuah lagi, pusat kerajaan Negara Dipa berpindah dari hulu sungai di Amuntai, ke hilir sungai Bahan yakni Sungai Negara di Daha. Maka berubahlah nama kerajaan Negara Dipa menjadi Negara Daha..

***

(bersambung)

Sang Kerajaan Lama : Nan Sarunai dan Tanjungpuri

Nan Sarunai

Kerajaan Nan Sarunai merupakan persatuan etnis Dayak yang tinggal di penjuru Kalimantan. Seperti kita tahu, Dayak memiliki berbagai sub suku. Sub suku ini kemudian bersatu menjadi komunitas adat Dayak Ma’ayan yang disebut negara suku Nan Sarunai.

Nan Sarunai sebagai negara suku atau kerajaan tradisional ini menjadi peradaban awal, di angka 242 SM. Di tahun 500 M, Nan Sarunai menjadi ‘negara’  berdampingan dengan Kerajaan Tanjungpuri. Pada abad 12, Nan Sarunai dianggap sudah tidak lagi menganut konsep pemerintahan “tradisional” dan dipimpin raja. Pusat kerajaan diyakini berada di Amuntai.

Pudarnya Nan Sarunai ditandai dengan serangan Majapahit pada 1358 yang dikenal dalam peristiwa “Usak Jawa” atau “Penyerangan oleh Kerajaan Jawa.”  Atas perintah Hayam Wuruk, pasukan Majapahit pimpinan Laksamana Nala  menyerang Nan Sarunai hingga takluk. Penyerangan ini dilakukan dengan strategi, bahkan Laksamana Nala pun menyamar untuk masuk ke kerajaan. Setelah beberapa kali datang, barulah Majapahit menyerang hingga gugurlah Raden Anyan dan Ratu Dara Gangsa Tulen, sang Raja dan Ratu kerajaan Nan Sarunai. Salah satu peninggalannya adalah daerah Tambakwasi, atau kuburan besi, tempat perabuan prajurit yang gugur di daerah sungai Tabalong.

Tanjungpuri

Konon, masa kerajaan yang sesungguhnya dimulai dengan berdirinya Kerajaan Tanjungpuri di daerah Tanjung (Tabalong).  Kerajaan Tanjungpuri berangka tahun 500 M ini berdampingan dengan kerajaan Nan Sarunai. Beberapa referensi menyatakan jika Tanjungpuri merupakan kerajaan Melayu yang didirikan pendatang Melayu dari Sriwijaya. Sriwijaya sendiri masuk mengusai Tanjungpura (Kalbar) di abad 700 M.

Kerajaan Tanjungpuri ini kaya dan memiliki bandar perdagangan antar negara yang ramai yang terletak di hulu sungai Bahan (Amuntai). Konon istana kerajaannya berlapis emas. Perdagangan yang pesat di sungai Tabalong pun memungkinkan kerajaan ini berhubungan dengan dunia luar dan berkembang dengan maju. Dalam perkembangannya, Amuntai dan Tanjung kini berada di 2 kabupaten yang berbeda.

Seperti halnya Nan Sarunai, ekspansi Sumpah Palapa Gajah Mada untuk menyatukan nusantara, turut berperan dalam kemunduran kerajaan Tanjungpuri ini. Di tahun 1360 M, Majapahit melakukan ekspansi. Tanjung bertahan dari serangan Majapahit dengan bantuan Nan Sarunai. Namun pada akhirnya, Tanjungpuri mengalami banyak kerusakan setelah serangan kali ke 2 Majapahit. Pada 1391, Tanjung dan Nan Serunai pun berada di bawah kekuasaan Majapahit.

Tanjung Masa kini
Lokasi Tanjungpuri di dekat Pegunungan Meratus dan hulu sungai merupakan tempat yang strategis. Bahkan ternyata daerah ini kaya sumber daya alam : batubara dan minyak bumi. Ya, Tanjung masa kini menjelma menjadi kota industri yang maju berkat tambang batubara, minyak bumi, dan perkebunan sawit. Nenek moyang kita memang hebat memilih lokasi ya.

20180630_173947

Tugu Obor Mabuun, landmark kota Tanjung

Penduduk Tanjung yang beragam suku   sudah dimulai nenek moyang saat Melayu Sriwijaya berinteraksi dan berkawin silang dengan Dayak yang menghasilkan suku Banjar. Selain itu, majunya perdagangan membuat interaksi penduduk asli dan pedagang etnis dan bangsa lain terjalin dengan baik. Multi etnis dan terbukanya daerah ini berlangsung hingga kini dan menjadikan Tanjung menjadi daerah maju dan terbuka. Hal ini juga bisa dirasakan pada kuliner di Tanjung. Apabila masakan Banjar relatif manis, kami menjumpai rasa kuliner Tanjung yang asin dan pedas.

20180701_120820

Diagonal kiri atas – kanan bawah : paliat udang dan ikan. Lezaatt..

Harus coba : Paliat. Kuliner ini seperti gulai, namun rasanya asam asin segar. Tidak manis. Asam dan segarnya dari jeruk, gurih asin dari kuah santan yang meramu ikan/udang. Kalau asam padeh Sumatra berwarna merah dan rasanya pedas, kalau paliat warnanya kuning dari kunyit. Kalau gulai ikan sumatra ada rasa pedas dan asin, paliat tanpa pedas namun asam gurih. Teman makannya adalah kulit cempedak/nangka yang digoreng asin. Sebuah kebahagiaan bisa menyantap hidangan ini. Sungguh.

(bersambung)

Ekspedisi Sungai, Menyusur Jejak  Kerajaan Banjar Tua

Ini kebudayaan yang berbeda ! kebudayaan sungai ! Inilah tempatan di mana sungai menjadi center aktivitas & orientasi hidup. Mandi, mencuci, berinteraksi, berdagang, transportasi, tempat tinggal dan tentu saja sumber air. Rumah-rumah panggung di pinggir sungai, jembatan tinggi di beberapa titik, serta jalan setapak berbahan kayu di gang sempit. Inilah… Kalimantan Selatan..

Banjarmasin atau kota seribu sungai, dialiri sungai Barito, Martapura dan anak-anak sungai lainnya di penjuru Borneo. Rumah-rumah berdiri di atas lahan gambut dan atau sungai dengan penyokong kayu galang. Kayu yang diameternya sekitar 10-20 cm ini ditancapkan ke air dan kokoh menopang bangunan. Hebatnya, kayu galang yang langsing ini jadi penopang rumah kayu ulin yang berat dan rumah batu (rumah dengan tembok batu bata).

20170702_092752

Rumah dan segala aktivitas manusia di atas sungai

Saya jadi bertanya-tanya, dari mana ya kebudayaan sungai ini berawal ?
Ternyata, berproses mencari tahu asal awal kebudayaan sungai ini membawa saya menyusur sejarah panjang migrasi, suku, kerajaan, & relasi dagang bumi Banua. Ayuhaa !

south_kalimantan_high

Pada Mulanya
Menurut sejarah, suku Banjar bernenek moyang Dayak Ma’anyan + Melayu. Oya ? Ya, ini dimulai dari migrasi para pengelana yang melalui Kalimantan.

Migrasi pertama ras Austronesia di Borneo terjadi sekitar 8000 SM meninggalkan jejak di Gua Babi, Tabalong. Di goa Meratus ini ditemukan peralatan batu sederhana, pecahan tembikar, siput, & kerang. Homo sapiens pengelana ini selanjutnya bermigrasi ke Papua dan Melanesia.

Migrasi kedua yang melewati Kalimantan adalah bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) dari Formosa (Taiwan) yang terjadi pada 2500 SM yang meninggalkan budaya ngayau suku Dayak. Ngayau adalah memenggal kepala orang. Seperti kita tahu, salah satu penerus Proto Melayu adalah Dayak di Kalimantan dan Toraja di Sulawesi (lihat penelusuran kami di Sulawesi).

Suku Dayak inilah nenek moyang urang  Banua yang tinggal di segala penjuru Kalimantan. Awalnya Dayak tinggal di pesisir, namun dengan datangnya para pendatang, mereka pun bergeser ke perbukitan. Persatuan entitas Dayak yang beragam ini menjadi cikal bakal kerajaan Nan Serunai.

Pertemuan dan persilangan kembali terjadi di abad 4 (ada yang menyebutkan abad 5) dengan Melayu Sumatra berupa perdagangan, dilanjutkan di abad 11 menjelang keruntuhan kerajaan Sriwijaya. Para migran Melayu Sriwijaya ini hidup bersama di daerah Tanjung dan menjadi awal mula kerajaan Tanjungpuri di Tabalong. Di Tanjung, Dayak dan Melayu tinggal di bersisian dan melakukan perkawinan yang menjadi leluhur suku Banjar.

Awalnya Suku Dayak punya budaya melaut, namun karena  terdesak pendatang, mereka memilih tinggal di perbukitan Meratus. Budaya bahari Dayak pun menghilang, sebaliknya Banjar berkembang dengan budaya bahari. Mereka piawai di sungai dan laut.

Sementara itu, mitologi Dayak Kaharingan menyatakan bahwa Dayak dan Banjar diawali oleh kakak beradik Sandayuhan dan Bambang Basiwara. Sandayuhan yang perkasa menurunkan suku Bukit & Bambang Basiwara yang cerdas yang menurunkan suku Banjar. Apapun itu, Torang samua basudara le ! Dayak dan Banjar bersaudara..

Kota Berbasis (Hulu-Hilir) Sungai
Tanjung, Amuntai, Negara, dan Banjarmasin,  keempatnya merupakan daerah bersejarah yang berlokasi di seputar sungai. Mereka punya peran kokoh pada kebudayaan sungai yang eksis hingga kini. Hulu sungai merupakan lokasi kerajaan, baik Tanjungpuri, Negara Dipa (Amuntai), Negara Daha (Negara), hingga Banjarmasin.

20170702_102122

Persimpangan jalan di daerah Alabio

Dilihat dari lokasi sungai, Urang Banjar terbagi menjadi 3 : pahuluan, batang banyu, dan kuala/hilir. Urang Hulu/Banjar Pahuluan tinggal berdampingan dengan Dayak Meratus dan Dayak Ma’anyan yang berkeyakinan Kaharingan. Kedua adalah Banjar Batang Banyu (Banjar Klasik), yang tinggal seputar Negara Daha. Ketiga adalah Urang Banjar Kuala/Hilir yang tinggal di hilir sungai (Banjarmasin) yang diislamkan Demak.

Pentingnya hulu sungai juga menjadi identitas daerah. Kini, hulu sungai ini menjadi kabupaten : Hulu Sungai Utara (HSU) beribukota Amuntai, Hulu Sungai Tengah (HST) beribukota Barabai dan Hulu Sungai Selatan (HSS) beribukota Kandangan.
..

(bersambung)

Si Cengkeh yang Manis

Namanya cengkeh.
Tanaman yang butuh hawa dingin. Umur pohonnya sekitar 30 tahun. Sekarang panennya 2-3 tahun sekali. Saking banyaknya berbuah dan saking tingginya, satu pohon perlu waktu dipanen sampai 3 hari.. Ya panen rumahan ya.

20180722_105102

Berbekal karung, pemanen naik pohon tinggi tinggi sampai ujung-ujung. Kalau di Palopo, Sulsel, ngliatnya ngeri karena si pohon tumbuh di tepi jurang. Kalau yang di Jawa ini, pemanennya cukup naik tangga dan berjuang di atas sampai ketutupan dahan dan daun.

20180722_104936

Si cengkeh yang sudah dipanen lalu dipetikin, di’grading’, mana yang terlalu muda, terlalu tua, kematangan pas, juga dipisah batang dan daunnya. Lalu dijemur sampai kering, butuh waktu sekitar 4 hari.

20180722_065425

Ternyata aroma cengkeh segar itu manis..ingat..bukan rasa, tapi aromanya..manis.

Batang dan daun cengkeh jadi salah satu komponen di minuman wedang uwuh. Sementara kembang cengkeh jadi rempah-rempah yang menghangatkan dan memberi aroma pada makanan, minuman, termasuk rokok.

2018-07-22 19.04.20

Tanaman ini banyak jasanya. Mereka adalah pendukung untuk nyekolahin 3 orang sampai lulus kuliah..ah…

Manisnya aromamu semanis perjalanan usiamu. Terus berbuah, menengadah ke langit, dan memberi percik kebahagiaan bagi pemilik, pemanen, pengepul, dan industri..

Lebaran Sekeping Biskuit

Lebaran ini ada banyak stok makanan kemasan. Ada yang beli, ada yang dikasih. Mulai dari biskuit, kukis, coklat, permen, kripik kentang, hingga soda, air jeruk, kopi, dan susu. Tempat baru, budaya baru. Ternyata di sini untuk yang piket dapat sekerdus makanan minuman kemasan, sesuai berapa hari ybs piket. Waw… Saya jadi mengurungkan niat bikin camilan telur gabus.. hehe..

20180622_075752-1

Panganan lebaraan 😆

Ya, kan ceritanya lagi latihan food combining, jadi saya kurangin makanan terkemas dan diganti buah, kacang ijo, atau granola (haha..akhirnya saya pesan granola juga dengan ongkir lumayan). Kata suami, si granola ini macam makanan burung, biji-bijian. duh. si bapak.

Lidah Si Gurih Manis
Kebiasaan saya adalah membaca ingredients di kemasan. Saya bukan ahli farmasi dan kimia, tapi ada beberapa bahan yang saya ingat : aspartam dan sakarin si pemanis buatan, mononatrium dan monosodium gulatamat, benzoat pengawet, pewarna, serta feniletilanin. Syukurlah tidak semua makanan di meja mengandung bahan-bahan itu. Amaan…

Dimakan nggak ya..mmm…camilan yang kebanyakan jarang saya makan. Tapi rasa ingin tahu membuat saya iseng nyoba. Iklannya berseliweran di tv. Anak-anak balita, TK, dan SD pun biasa bawa bekal makanan ini.

Beberapa suap… enak loh. Lalu..stop stop. Berhenti. Lidah lu, kali Han, yang aneh. Buktinya, orang lain makan, baik-baik aja kok. Namanya juga lidah itu urusan kebiasaan. Apa yang biasa disantap, itu yang disukai..

Balada Camilan Sehat
Nah loh.. Kalau camilan sehat pian itu  kayakapa? Setahu saya, buah dan biji-bijian, makanan yang less pengolahan adalah makanan paling sehat. Jagung, kacang, ubi rebus, yang murah meriah itu lebih sehat dibanding kripik jagung, kripik singkong, kacang atom pedaz. Masalahnya, makanan sehat segar ini gak tahan lama dan kurang kreativitas atau agak membosankan.

Lalu bagaimana petani dan pedagang bisa untung jika tidak ada pengolahan pangan pasca panen? Penjualan makanan olahan dengan teknologi akan lebih tinggi nilainya dibanding menjual bahan segar. Contoh gampangnya : tempe sekotak lebih murah daripada tempe mendoan sepotong. Kripik pisang dan cake pisang lebih awet dan lebih berdaya jual dibanding  pisang rebus. Apalagi kalau jadi pisang bolen bandung dan strudel. Nah pertanyaannya, bisakah pengolahan makanan tersebut menggunakan bahan sehat alami dan rasa manis yang proper ?

Sebetulnya bisa. Saat membeli granola di kemasannya, tertulis : gula tebu, palm sugar, sirup singkong, madu -> ini contoh pemanis alami dibanding sakarin, aspartam dan konco-konconya. Sea salt dan himalayan salt sebagai perasa asin. Enak juga kok, tanpa bantuan msg si monosodium glutamat dan kaldu bubuk. Karena bahan bakunya udah enak, pengolahan tepat, mau digimanain juga enak.

Cuma masalahnya bahan alami ini untuk itung biaya produksi jadi lebih mahal dan perlu proses yang lebih lama. Makanya snack sehat yang saya impor dari jawa harganya jauh lebih mahal plus kemasannya kecil pula. Nyoba bikin kripik talas n kripuk singkong sendiri, belum berhasil formulanya (ngaku)..

Mungkin inilah industri. Industri makanan  menghasilkan barang konsumsi yang cepat, enak, massal, awet, bisa dipasarkan ke mana-mana. Jika perlu dikemas kecil-kecil agar cepat penjualannya. Penetrasi pasar pun bagus karena kemasan praktis dan harga terjangkau, rasanya juga maniss dan gurihh, cocok dengan lidah orang Indonesia kebanyakan. Praktis. Hanya 2 ribu dapat 3 keping biskuit yang dikemas. Kalau baking kue? Wah pake repot, tenaga dan waktu, cucian, alat, dll.

Urusan perasa makanan ? Ah, kan sudah ada BPPom, PIRT, MUI. Kalau sudah melalui lembaga tersebut, insyaallah aman. Selain itu, produsen menuliskan ingredients di kemasan sehingga telah memberikan informasi nilai gizi dari makanan tersebut. Kalau tetap kaubeli dan kaumakan, berarti kamu sudah memilih dan sudah tahu konsekuensinya. Hehe.. itu yang mencantumkan lho.

2018-06-21 17.04.49

Membaca label kemasan makanan

Meski dilematis dengan pengawet makanan, saya turut memanfaatkan bahan instan juga. Misalnya santan, kaldu sehat, teh kemasan, dan tentu saja susu. Soalnya saya gak seperkasa ibu-ibu yang jago belah kelapa sendiri. Kalau marut kelapa, masih bisa lah, tapi kalau belah dan congkel mencongkel, ampun saya..hehe..Ini skill ibu-ibu sulawesi yang punya banyak kelapa di halaman rumah. Bikin bobor bayam semangkok bisa butuh waktu 2 jam..wkwkwk….

Saya juga pake kaldu sehat, ada produk bikinan lembaga yang saya kenal, menyokong petani dan kegiatan sosial, serta rasanya oke. Jadi sang kaldu bubuk nangkring di dapur deh, meski belum nemu di supermarket besar di kota propinsi. Mungkin inilah kendala home made : distribusi. Ya, distribusi Indonesia raya butuh biaya dan sistem agar terserap pasar.

20180622_062455-1

Teh kemasan ? Ini membantu banget saat banyak tamu. Saat open house lebaran, tenaganya udah cape bikin coto makassar n rica-rica, plus nongkrongin ketupat 2 jam ampe tengah malam. Kebayang kalau hari H musti bikin teh satu satu untuk tiap tamu yang datang. Weh, ibu mertua ini yang hebat tangkas nyiapin begini di jawa sana. Saya mah angkat tangan. Gantinya, teh kemasan, air minum kemasan, yang ringkas dan cepat..hehe..dan menyisakan sampah..

Dua Dosa Industri
Ada 2, kalau menurut saya, dosa industri, yang belum termaafkan. Dosa itu yang pertama adalah merubah pola konsumsi rumahan (masak dan produksi sendiri) dengan konsumsi membeli atau budaya jajan.

Di sepanjang jalan Negara HSS, daerah seputar kami tinggal, ada banyak pedagang makanan dan laris manis. Suatu saat perjalanan ke pasar, saya iseng menghitung jumlah penjual makanan di sepanjang jalan : sore hari : penjual makanan ada 44 gerobak, sementara siang hari saat sedang panas-panasnya, ada 30 gerobak. Gerobak ini jual es warna warni, pentol (paling banyak), aneka gorengan, mencok (rujak), wadai kue, jagung bakar, dll. Sayangnya laptop saya yg penuh dokumentasi foto lagi error diserang semut..duh…foto seadanya deh.

Anak kecil, bapak ibu, tua muda jajan pentol (bakso) dengan cocolan saos merahh. Saya pernah coba pentol yang dibilang enak itu, rasa kaldu bubuknya terasa bangett.  Uhuy.. Liat warna saosnya bikin nyengir..rhodamin rhodamin…

Di jalan itu juga, jumlah warung dan toko yang jual makanan dan minuman di sepanjang jalan : 160 warung. Warung dengan display rentengan minuman dan snack kemasan ini  selalu ada pembelinya… jajan asik dah. Padahal kalau mau dipikir, bikin sendiri di rumah juga bisa. Tapi ya itu, pakai waktu dan tenaga.

Dosa industri selanjutnya adalah penghasil sampah kemasan terbesar tanpa mengajarkan bagaimana penanganan sampah pasca konsumsi. Lihatlah bagaimana biskuit dikemas 3 biji, snack snack angin dikemas kecil seharga seribuan.

Shampo, sabun cuci, pewangi pakaian, kecap, saos, merica dan bumbu instan dikemas sachet untuk sekali penggunaan. Alasannya sih lebih murah dan lebih irit. Tak jarang ini jadi kembalian kala pedagang nggak ada uang receh. Tapi murah dan irit ini sesungguhnya ada biaya sosialnya yakni sampah kemasan yang terus bertambah.

Saat kemarau, air menyusut dan tampaklah onggokan sampah di bawah rumah-rumah kayu. Isinya bungkus sabun, kemasan snack dan minuman gelas, yang nggak rontok dan terurai selama sekian waktu. Hari demi hari, bungkus snack tambah banyak, yang jajan tambah banyak, namun budaya nggak dirubah. Saat penghujan, sampah-sampah akan meluap di halaman yang penuh air, berkumpul dengan air sungai yang sehari-hari digunakan untuk Mck. Sedih ya, industri kita tidak mengajarkan konsumen bagaimana pengelolaan sampah hasil produk industri.

Prediksi saya, Negeri seribu sungai ini lama-lama akan dipenuhi sampah plastik. Dan selama pola konsumsi, pola jajan, pola buang sampah di halaman (which is sungai) dilakukan, maka rantai itu akan terus bersambung. Diare dan ginjal yang merupakan penyakit yang bersumber dari makanan, minuman, dan kebersihan, akan terus menjangkiti masyarakat seputar sungai. #Tears.

Kalau Kamu Gimana?
Perubahan dimulai dari lingkungan terdekat. Kebetulan bukan air di kanan kiri rumah, tapi tanah. Kami pakai teknologi pilah sampah dan bakar sampah di tong. Ya resikonya pencemaran udara dan teman-teman. Kemasan teh, air minum, dan kertas nasi terbakar dengan bahan bakar minyak jelantah dapur. Jadi aroma pembakarannya gimana gitu. Haha… Belum ada teknologi daur ulang sampah plastiknya. Padahal ini penting banget untuk masa depan. Ayo berkreasi !

Ada pula ayam tetangga yang berkeliaran minta jatah, sekaligus menyelamatkan kami dari sisa-sisa makanan yang terbuang. Ayam ini juga membantu ngeker-eker tong sampah plastik dan organik. Lumayan, bantu ngaduk-aduk sampah dan nggak buang hajat di teras depan lagi.hihi..

Kisah Sekeping Biskuit
Ahh… ternyata sekeping biskuit ini punya cerita panjang, bagaimana dia hadir dan tersaji di meja tamu. Kalau bisa cerita, dia sudah melalui proses produksi dan distribusi yang berliku. Menunggu saatnya dikonsumsi alias dimakan rame-rame.
Makanan ini menandakan berjalannya pola kerja industrial yang mendukung mata rantai tersajinya makanan ini di sini.

Ya. Kalau makanan terjual sampai di sini, berarti pabrikannya punya sistem distribusi yang keren. Camilan ini terserap pasar  karena rasa, harga, dan terjangkau. Pabrik di Jawa, produknya sampai Hulu Sungai Selatan Borneo. Laris manis di warung Pak Kaum di tengah in the middle of nowhere, yang transportnya sambung menyambung, penuh perjuangan.

Itulah industri. Penyokong perekonomian dengan penyerapan tenaga kerja. Banyak tangan dan mesin yang membuatnya. Banyak cerita di baliknya.
Yuk ah.. makan granola dan susu uht dulu yuk..😋
***