Jejak 3G dan Etnografi (part 5)

Masih ingat misi 3G = Gold, Glory, Gospel, Belanda ? Pelajaran SMP ini. Nah 3G ini ada kaitannya dengan bahasan kita. Gold = emas, misinya untuk menemukan kekayaan rempah-rempah, perkebunan teh, kopi, dll. Glory = kejayaan, misinya untuk mendapatkan daerah jajahan. Gospel = gereja, misinya untuk menyebarkan agama kristiani.

Stigma Asia (timur jauh) yang eksotis, kaya hasil bumi, dan lokasi yang menantang, membuat bangsa Eropa berebut kuasa mencari jalur dan mengeksplorasi nusantara. Gold dan glory sudah terbukti lewat penjajahan dan perdagangan rempah-rempah, 350 tahun. Kalau Gospel ? Nah ini yang menarik.

Tahukah anda, catatan tentang Poso dimulai oleh Albertus Christiaan Kruyt dan Nicolaus Adriani, 1896. Kruyt adalah misionaris Zending yang mempelajari masyarakat dengan metode etnografi. Adriani, utusan dari Nederlands Bijbelgenootschap atau Lembaga Alkitab Belanda, adalah ahli bahasa yang mempelajari bahasa lokal Toraja-Poso.

Kolaborasi Kruyt dan Adriani menghasilkan buku ‘De Bare’e sprekende Toradja van Midden Celebes” (The Bare’e Speaking Toraja from Central Sulawesi), 3 jilid. Waw banget ya! Pilihan untuk menginjil di dataran tinggi penganut animisme dinamisme ini menurut Adriani beralasan untuk menghindari konflik dengan Kerajaan islam Luwu, Sigi dan Tojo yang saat itu ‘mengusai’ Poso.

Adapula Antonie Aris Van de Loosdrecht, misionaris Zending yang membuka sekolah pertama di Toraja, 1913. (Nggak kebetulan banyak orang Toraja yang bernama Aris 😀). Nah bersama Adriani, Van de Loosdrecht membuat buku “Late Soera’ Dinii Melada’ Mbasa Soera’”, sebuah buku bacaan sekolah berbahasa Toraja. Keren ya.

Selain itu ada HC Raven, etnograf Amerika yang melakukan ekspedisi Sulawesi melacak megalitik Behoa, Bada dan Napu pada 1917. Dia memotret artefak megalitik dan menuliskannya dalam buku “The Stone Images and Vats of Central Celebes”. Raven mencatat bahwa temuan kalamba di Pokekea ini mirip “plaine des Jarres/plain of jars” di lembah Tran Ninh, Laos, Indo-China. Dia juga mencatat bahwa ciri fisik dan kebiasaan orang Laos mirip dengan Toraja dan Dayak. (Ingat kan, Toraja dan Dayak adalah penerus Proto Melayu/Melayu Tua). So it is connected…nyambung ! 👏

images (2)

Plain of jars, Laos. Sumber : Nomadasaurus.com

 

Adalagi Walter Kaudern, etnograf Swedia yang menulis penelitiannya berjudul “Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes, 1917-1920 – Megalithic Finds in Central Celebes,” vol 5. Buku yang terbit 1938 ini memuat 15 peta dan 77 sketsa megalitik Napu dan memadukan penelitian Kruyt dan Raven sebelumnya. Komplet.

Lalu ada James Woodward 1918 yang diutus Bala Keselamatan/BK(Salvation Army). Fyi BK saat ini memiliki rumah sakit yang cukup besar di Palu, namanya RS Woodward (BK).

So, dari para penyebar misi 3G sekaligus penelitian etnografi di awal 1900, kristiani menyebar di Sulawesi. Mereka turut berperan meletakkan dasar pendidikan dan tatanan sosial masyarakat hingga kini. Dan dari budaya meneliti dan menulis yang mereka lakukan, kita jadi tahu catatan mula sejarah kita, termasuk peninggalan megalitik lembah Napu.

2017-03-31 07.35.57

Kiri : sketsa Kaudern tentang aneka rupa kalamba 1918. Kanan : kalamba 2017

Tiba-tiba saya melihat benang merah sejarah kita. Ya, ternyata budaya meneliti, eksplorasi, budaya menulis itu sudah diawali oleh etnograf bule di nusantara lewat penetrasi misi 3G jauh di masa kita masih berperang suku dan perang melawan Belanda. Terjawablah penasaran saya mengapa beberapa kali ketemu bule backpacker di tanjakan Tentena, 3 tahun yll. Mereka sudah melakukannya sejak tahun 1900. Jadi kita (saya) ngapain aja… foto-foto doang ? Ah, kenapa saya tidak banyak belajar arkeologi sih.. 😓

2017-03-31 07.32.15

Atas dan kiri bawah : catatan Kaudern di Pokekea 1918. Kanan bawah : Pokekea kini plus pelancong 2017.

The adventure is the journey itself

Matahari makin ke barat. Tanda kami harus pulang. Belum puas memang untuk menelusuri lembah megalitik ini, tapi medan menantang tak lucu jika dilalui saat hari gelap. Jadi malu sama Adriani, Kruyt, Raven, dan Kaudern. Mereka menjelajah dari Eropa dan Amerika naik kapal melintasi Atlantik dan samudra Hindia, dengan apapun misi kedatangannya, lalu mencatat tata kehidupan di Sulawesi Tengah termasuk penemuan megalitik, dan jadi referensi hingga kini, sementara saya cuma mampir semenit. Ngakunya touring pula.. uh..

Bayangpun kondisi sulawesi seabad lalu saat para etnograf itu masuk ke Poso dan Toraja. Sampai kini pun masih banyak hutan rimba. Kepercayaan Animisme dan dinamisme kuat, dan ada ancaman perang suku. Suvival dan in the middle of nowhere deh mereka. Lalu bagaimana 3000 tahun yll, saat para Austronesia yang perkasa menaklukkan Suĺawesi dan membuat karya megalitiknya sebelum melanjutkan migrasi. Waw. It  happen right here, in front of us…

Saya menoleh pada Putra, anak blasteran Napu-Jawa Timur yang lincah berlarian di antara kalamba. Di generasinya mendatang, apakah dia mengetahui sejarah leluhurnya ? Akankah dia dan generasinya nanti tetap mencintai peninggalan bersejarah di tanah kelahirannya ?

Saya berharap semoga sedikit catatan tentang Lore ini membuat kita menghargai sejarah negri ini ya. Semoga juga muncul arkeolog dan etnografer Lore, para pecinta dan ‘pelestari’ kebudayaan…amiin..

Ya, keasyikan perjalanan itu bukan hanya pada apa yang kita temui di tempat tujuan, tapi pada perjalanan dan pada misteri yang ada di baliknya. “The adventure is the journey itself.”

IMG-20170310-WA0028

Next adventure ?

(Bersambung)

Referensi :
– Kaudern, Walter. 1938. Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes 1917–20,
vol. 5: Megalithic finds in Central Celebes. Göteborg: Elanders Boktryckeri Aktiebolag.
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbgorontalo/
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tradisi_megalitik
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Eksplorasi_Sulawesi_Tengah
– ahmadsamantho.wordpress.com/2013/01/04/budaya-megalitikum-di-indonesia
http://dhoni-ds.blogspot.co.id/2011/12/hasil-kebudayaan-megalitikum-dan-budaya.
http://lokaltuban.blogspot.co.id/p/pengertian-megalitikum-dan-persebaran
http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/03/asal-usul-nenek-moyang-bangsa-indonesia.
http://catatanposo.blogspot.co.id/2007/12/seratus-arca-megalith-poso-dicuri
http://rizkyattyullah.blogdetik.com/2013/12/07/situs-megalitikum-terluas-
– kompas Maret 2016. Situs megalitik lembah lore rentan pencurian

* Sketsa gambar dan foto-foto lama diambil dari  Walter Kaudern, Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes, 1917-1920 – Megalithic Finds in Central Celebes,” vol 5.

Advertisements

Arkeolog Pembuka Rahasia (part 4)

Arkeolog Pembuka Rahasia
Biasanya rupa arca terkait rupa sekitarnya. Arca Budha di Borobudur berbeda dengan arca Budha di Thailand, Kamboja atau Korea. Nah, apakah rupa pahatan di Napu ini menjadi tanda rupa leluhur pada masanya, atau ini personifikasi leluhur pada roh animisme dinamisme ?

Mari kita sedikit belajar arkeologi dan etnografi. ☺

Indonesia punya peninggalan megalitik yang tersebar di nusantara, di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan dan tentu saja Sulawesi. Megalitik artinya batu besar. Hasil dari budaya megalitik adalah batu-batu besar, misalnya menhir, arca batu, sarkofagus, dolmen. Jadi bukan manusianya yang besar, tapi peninggalannya yang besar. Oke ? 👌

Kebudayaan megalitik ini bukan terjadi pada satu masa. Menurut Von Heine Geldern, kebudayaan megalith Indonesia terbagi dalam dua masa, yakni Megalitikum tua/ Neolithikum dan Megalitikum Muda. Masa Megalitikum tua berlangsung sekitar 2500-1500 SM oleh bangsa Proto Melayu/Melayu Tua. Hasil budaya neolitikum adalah kapak persegi (di arah barat) dan kapak lonjong di arah timur.

Megalitikum Muda berlangsung pada 1000-100 SM oleh bangsa Deutro Melayu/Melayu Muda. Mereka membawa kebudayaan Dongson atau zaman perunggu. Nah, para pelaku sejarah nusantara ini berasal dari ras Melanosoid dan Malayan Mongoloid. Cmiiw

IMG_20170128_170832

Size does matter. Contoh malayan mongoloid masa kini.

Beberapa referensi menyebutkan umur megalith Lembah Napu ini di angka 2000, 3000 atau 4000 tahun. Angka ini tentunya perlu kita lacak dengan temuan lain. Penelitian terkini menemukan tulang belulang manusia di sekitar/di dalam kalamba, teridentifikasi sebagai ras mongoloid, usia 1500-3000 tahun (rentang waktunya masih belum jelas ya).

Jadi, siapakah leluhur kita ?
Yuk kita hubungkan temuan bersejarah ini dengan teori ☺.
Von Heine Geldern menyebutkan teori bahwa leluhur nusantara berasal dari Yunan, Cina Selatan atau Austronesia. Rumpun bangsa Austronesia ini bermigrasi dalam 2 gelombang. Diperkirakan penyebabnya adalah wabah atau perang suku. Mereka berkelana di laut menggunakan perahu bercadik. Masih ingat : kalamba artinya perahu arwah !

Penelitian menunjukkan bahwa megalitik Napu pun dipengaruhi 2 gelombang migrasi Austronesia. Gelombang pertama atau pada masa Proto Melayu tersebut melalui jalur timur, dari Filipina, Sulawesi, ke Pasifik hingga Madagaskar. Mereka membawa kebudayaan kapak lonjong.

Gelombang migrasi pertama ini kemudian disusul migrasi kedua Austronesia (Deutero Melayu) pada masa megalitik muda yang ditandai dengan adanya pahatan (hasil budaya Dongson). Albertus Christiaan Kruyt dan Nicolaus Adriani, misionaris dan etnograf yang tiba di Poso pada 1895 mencatat sebelum masuknya Belanda ke Poso (1908),  masyarakat Poso melakukan penguburan mayat menggunakan batu. Artinya budaya megalitik itu masih berlangsung seabad lalu. Apakah ini indikasi usia megalitik Napu tidak seumur megalitik tua?😕

Simpul Austronesia
Penerus budaya Proto Melayu/Melayu Tua  adalah Dayak dan Toraja, sementara penerus budaya Deutero Melayu/Melayu  Muda adalah Jawa, Melayu, dan Bugis. Toraja dan Bugis sama-sama di Sulawesi kan.. Nah fyi, di Sulawesi ini  ada banyak sekali suku dan kerajaan namun tidak disatukan oleh satu identitas = Sulawesi. Mereka memiliki identitas suku sendiri-sendiri, yakni Toraja, Bugis, Mandar, Manado, Makassar, Kaili, Mori, Napu, Luwu, Palopo dll.

Tampaknya Sulawesi Tengah merupakan pusat kebudayaan Austronesia nusantara di masa itu mengingat ada 400 an (ada yg menyebut 300an) artefak. Mungkin para leluhur itu melabuhkan kapalnya lewat pesisir lalu bergerak ke Napu dan membuat mahakarya megalitik sebagai sarana penyembahan dan komunikasi pada roh animisme dinamisme. Peninggalan megalitik lainnya juga ditemukan di daerah Kulawi, Sigi.

2017-03-22 16.55.05

Arca yang tersebar di Lembah Napu, Lore, Poso, Sulteng

 
Tidak menafikan daerah lain, namun Napu (Poso), Toraja, Nias, Dayak, dan Sumba, memiliki peninggalan megalitik. Nias masih menjalankan upacara lompat batu. Toraja, sang penerus Proto Melayu di sulawesi memberi bukti hadirnya megalitik melalui menhir, sarkopagus, dolmen, hingga penguburan gua dan batu.

Mereka yang bergerak ke selatan meninggalkan jejak Gua Leang-Leang. Adapun para penjelajah yang bergerak ke barat meninggalkan lukisan tangan di bukit-gua karst Sangkulirang Mangkalihat Kalimantan Timur. Apakah ini terkait? Bisa jadi.

So teman-teman, mari kita lihat bentang alam lembah Napu ini (lihat postingan sebelumnya) : subur, dataran tinggi, bukit, hulu sungai, tak jauh dari laut. Ini ciri tempat hidup yang sempurna pilihan nenek moyang kita, bangsa Austronesia ras mongoloid. Inilah tempat persinggahan sebelum mereka menjelajah hingga Pasifik.  😃.

2017-03-22 18.04.39

Peninggalan megalitik toraja, penerus megalitik tua

(Bersambung)

* Foto patung diambil dari beberapa situs di internet
* foto kalamba dan megalitik Toraja adalah dokumen pribadi

KBBI – Kamus Besar Bahasa Indonesia

ar·ke·o·lo·gi : ilmu tt kehidupan dan kebudayaan zaman kuno berdasarkan benda peninggalannya, spt patung dan perkakas rumah tangga; ilmu purbakala

ar·ke·o·log : n ahli arkeologi

et·no·gra·fi : deskripsi tt kebudayaan suku-suku bangsa yg hidup; 2 ilmu tt pelukisan kebudayaan suku-suku bangsa yg hidup tersebar di muka bumi

et·no·graf /étnograf/ n ahli etnografi

Ma·se·hi : perhitungan waktu yg dimulai sejak lahirnya Yesus Kristus
SM : sebelum masehi. 1000 SM : 1000 tahun sebelum masehi/lahirnya Yesus

mig·ra·si : 1 perpindahan penduduk dr satu tempat (negara dsb) ke tempat (negara dsb) lain untuk menetap; 2 perpin-dahan dr satu tempat ke tempat lain bagi burung dsb krn pergantian musim

Artefak Tanpa Suara ( part 3)

Kami melanjutkan perjalanan. Jalan menuju cagar budaya yang kami tuju  melalui rumah penduduk, sawah, dan kebun. Tampak ayam-ayam berjalan santai di sawah. Seekor babi hutan hitam yang gemuk dirantai dan tengah menikmati makan sorenya, daun-daun nan lezat. 😋 Setelah parkir kendaraan, kami berjalan kaki sekitar 500 meter. Dan akhirnya tampak papan nama besar, Cagar budaya Pokekea. Kami melonjak girang.

Tiada pagar besi,  namun cagar budaya ini dipagari perbukitan anggun dan prairie. Tak ada tiket masuk. Sore itu pun kami tidak bertemu petugas/penjaga. Mungkin ini juga yang menyebabkan artefak di sini rentan pencurian. Siapa pun bisa bebas keluar masuk situs.

Lihatlah… batu-batu berbentuk tempayan raksasa atau disebut kalamba, berserak di tanah. Awesome! Gedhe banget. Kalamba-kalamba ini berdiri lepas dikelilingi prairie dan perbukitan. Cantik sekali….

IMG-20170310-WA0022

Hamparan kalamba di Pokekea

Penutup kalamba tergeletak di tanah, beberapa terbenam miring. Kalamba sendiri berdinding polos. Sementara tutupnya (tuatena) dihiasi ukiran menonjol, ada yang tampaknya berbentuk hewan, ada juga yang menyerupai bayi merangkak dengan posisi bervariasi.

2017-03-22 17.00.53

Relief di tutup kalamba

Kami mendekati kalamba yang masih utuh. Tempat ini menampung air hujan. Di bibir kalamba, ada ceruk seperti tempat sabun (atau tempat persembahan). Oiya, kalamba artinya perahu arwah, so kemungkinan artefak ini berhubungan dengan kematian, bukan tempat air ya. 😰

Beberapa kalamba terbelah. Lumut-lumut tinggal di dindingnya. Konon lumut ini harus dibersihkan dengan cairan khusus dan disikat pelan karena lumut yang dibiarkan akan merusak relief. Special treatment pokoknya.

2017-03-22 08.18.12

Mungkin dia lelah diterpa cuaca

Tak jauh dari Kalamba ada 2 patung batu duduk berdampingan. Cekungan tipis membentuk alis menyatu lurus ke bawah membentuk hidung di wajahnya. Dua noktah terbingkai alis dan hidung membentuk dua mata. Patung yang lebih besar, ditandai dengan garis tipis mulut di bawah hidung. Sang patung berasal dari batu yang lempeng kotak. Tangannya nyaris tak tampak. Di belakangnya ada patung serupa yang menyendiri namun batunya lebih hitam.

Tak jauh dari 3 patung ini ada kalamba yang menyerupai pot dengan ukiran wajah seirama rupa sepasang patung tadi. Somehow ukiran wajah ini mengingatkan saya pada rupa owl burung hantu.

2017-03-22 08.03.53

Patung-patung di Pokekea

Saya berharap menjumpai tengaran/papan petunjuk informasi atau selebaran, atau   pusat informasi sejarah yang menjelaskan tentang situs megalitik di sini, di Napu ini sehingga kami bisa memahami benda-benda apakah di hadapan kami ini. Sayang sekali belum ada. 😟 Mustinya memang saya browsing dulu supaya ada referensi sebelum ke sini. Akhirnya kami sibuk mengelilingi Pokekea dan takjub dengan apa yang ada di depan mata.

IMG-20170310-WA0038

The team

Hmm… Siapakah pemilik kisah historis megalitik ini? ……
(bersambung)

Pic : dokumen pribadi, menggunakan smartphone alakadarnya by Hani, Aris, Ophiq, Nel, and Ikwan

 

KBBI – Kamus Besar Bahasa Indonesia
ar·te·fak : 1 benda-benda, spt alat, perhiasan yg menunjukkan kecakapan kerja manusia (terutama pd zaman dahulu) yg ditemukan melalui penggalian arkeologi;
2 benda (barang-barang) hasil kecerdasan manusia, spt perkakas, senjata

ca·gar: daerah perlindungan untuk melestarikan tumbuh-tumbuhan, binatang, dsb; lindungan;
—  budaya : daerah yg kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya dilindungi oleh undang-undang dr bahaya kepunahan

re·li·ef : 1 pahatan yg menampilkan perbedaan bentuk dan gambar dr permukaan rata di sekitarnya; 2 gambar timbul (pd candi dsb)

Freezer raksasa dan misteri Tadulako (Part 2)

Hijaunya bukit, kuningnya prairie, silih berganti mengisi pupil mata.  Bibir pun mendesah, Subhanallah. Celebes ini begitu indah. Apa saja bentang alam ada, dari bukit sampai pantai, banyak dan cantik-cantik. Pokoknya, ayo ke Sulawesi Tengah ! Pemandangan ini mengingatkan pada gunung-gunung Taripa Tomata yang dilalui jalur Parigi Moutong- Poso – Tentena. Atau mungkin sebenarnya ini berangkaian ya? Haha..baru sadar saya, kan termasuk kabupaten Poso juga. 😅

Lembah Napu tampaknya sejak lama menjadi lahan gembala misionaris. Di kanan kiri mudah kami jumpai gereja. Penduduknya pun rajin ibadah. Pusat daerah ditandai dengan hadirnya kantor dan  fasilitas umum di tepi jalan. Kalau di Jawa, yang begini tidak tampak karena terlanjur padat. Cobalah ke sini, dan anda akan jumpai kantor desa, tempat ibadah, sekolah, lapangan olahraga, puskesmas, dan pasar berjejeran di pinggir jalan.

Akhirnya kami mendekati pemukiman. Deretan pagar bambu bercat merah putih  tampak berjajar rapi di pinggir jalan. Bunga bawang warna putih tumbuh di depan pagar, menambah kesan keteraturan. Jam 12 kami sampai di rumah keluarga local guide kami  di Lore Tengah.

Gemah Ripah Loh Jinawi
Kesan pertama, Waw…. ini daerah pertanian yang subur ! Ada pohon kakao berjejer,  sawah menghijau, sayur mayur, kunyit, pandan, labu, lombok, dkk. Di seberang rumah bahkan ada pohon kemiri berdiri besar. Di kampung ini tanaman pangan dan sayuran  tidak diberi pupuk kimia. Sehat ya !

Yang perlu diimpor adalah bawang putih. Itu pun karena kurang berhasil di tanam. Tete’ (kakek/nenek) juga pelihara unggas di belakang rumah. Ini adalah wujud ketahanan pangan dan pertanian subsisten. Rumah tangga dan desa mampu mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Satu yang tidak dipelihara namun ikut nimbrung : nyamuk. Ya, nyamuknya dahsyat. Pasang kelambu di sini. Gimana para teroris di hutan itu ya? Lho kok malah nanya…😅

Anjing menjadi penjaga kebun. Jika ada orang tak dikenal, si anjing akan menyalak. Ini penting sekali karena di belakang sana adalah bukit tempat Santoso cs bersembunyi. Kalau ada pakaian yang hilang dari jemuran, atau ayam yang hilang, ya kira-kiralah. Para gerilyawan di hutan itu juga butuh makan. Saat gencar operasi Tinombala, aparat banyak berjaga di sekitar sini.

Brrr…langsung terasa dinginnya air saat kami membasuh muka. Air yang segar, dingin, dan melimpah. Kami langsung tebak-tebakan, siapa yang berani mandi dengan udara sedingin ini nanti sore 😁. Di balik bukit sana adalah hulu sungai Lariang, sungai yang mengalir melalui Pasangkayu Sulawesi Barat (5 jam dari sini). Sungai Lariang di Pasangkayu terkenal karena dalam, lebar dan panjang serta ada buayanya.wedew.. Ternyata hulunya ada di sini. Hulu Lariang juga manjadi tempat hidup sogili, belut jumbo khas Poso. Ternyata sungai ini jadi habitat aneka makhluk hidup. Konservasi di hulunya penting sekali untuk menjaga kelestariannya.

Authentic Recipe
Segera saja, segelas kopi dan camilan kacang sangrai menghangatkan siang kami. Menurut tuan rumah, kopi ini disangrai dan ditumbuk sendiri. Sruputt. Saya bukan penikmat kopi, tapi bisa menghargai segarnya kopi di sini. Kehangatan menyebar ke tubuh sementara di luar, titik-titik air masih menetes dari langit.

Tete’ memanggil kami untuk makan siang. Menunya woku ikan mas. Ikannya sebesar lengan orang dewasa, katanya itu ukuran  lazim ikan mas di sini. Cukup tinggalkan kail di sungai Lariang dan tengok esok hari. Tidak ada yang akan ambil pancing yang ditaruh jika bukan miliknya. Sebuah kejujuran dan kearifan lokal, bukan ? Kalau beruntung, Tete’ akan membawa pulang ikan mas jumbo. Umpannya adalah ulat aren, cacing, atau usus ayam. Terbayang ikan mas piyik-piyik yang terjejer kuyu di pasar SP 1. Ini pasti beda !

Wah… kelembutan daging ikan mas berpadu dengan kesegaran kuah ikan yang tidak amis dan tidak asam sama sekali. 😋 Kali ini suami tidak berani makan kepala ikan, saking besarnya si kepala ikan mas. Tete’ juga menghidangkan sogili, si belut besar yang disambal. Sogili ini juga kaya protein.  Pantas orang-orang sehat dan kuat ya..

Woku artinya (ikan) dimasak kuah dengan aneka daun rempah. Authentic dish of celebes. Ada jahe, kunyit, daun jeruk, sereh, daun pandan, kemiri, selain bawang merah dan putih. Untuk menambah rasa, ada lombok dan kemangi juga. Kalau versi gorontalo ditambah daun mint, kata tetangga gorontalo saya. Bumbu-bumbu ini jadi semacam bumbu wajib bagi masakan di sini.

Sepertinya, rahasia memasak woku adalah kesegaran ikan dan tentu saja ‘tangan dingin’ sang koki. Ikan yang masuk freezer tak bisa selezat ini jika diwoku. Toh tidak butuh freezer ya,  karena air dan udaranya menyerupai freezer raksasa. Selain itu juga penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar menambah kelezatan masakan. Terima kasih hidangannya Tete.’ 😋

2017-03-16 14.03.24

Gemah ripah loh jinawi. Lemon lokal dan kemiri berkulit yang baru sekali saya lihat

Namanya aja touring
Lepas dhuhur dan makan siang, kami lanjutkan misi : menuju lembah megalitik. Mr. Ophiq sempat membantu tuan rumah menyembelih entog, calon menu selanjutnya! 😀

Oke let’s go! Cuaca mulai cerah. Jalanan berubah menjadi rusak, berkubang, dan becek sehabis hujan. Saya kebat kebit karena kiri jalan adalah jurang yang tertutup pepohonan, dan di kanan, jalan rusak atau berkubang. Adrenalin meningkat ! Untung Mr Ikwan di sebelah cukup tangkas mengemudi. Bermotor, suami dan partner touringnya sempat tersendat di jalan rusak. Untunglah tidak perlu ditarik pakai tali.

Terkadang jalan mengecil dan tak tampak kendaraan dari arah berlawanan. Sempit sekali. Lampu dan klakson jangan dilupa. Sekali dua kami berpapasan dengan mobil. Itu pun diisi bule. Hm..apa yang dilakukan bule itu di ujung dunia ini? Mungkinkah mereka peneliti, arkeolog, kolektor, misionaris, atau turis? Ah, kok pikirannya begini.

Sepupu Nel berkata kalau akan menyiapkan Porseni di desa sebelah. Lapangan tempat olah raga di desa Bariri itu baru saja kami lalui. Apa? anak sekolah, naik mobil terbuka, jalanan rusak, licin, becek hujan?.. waw…all risk.. tapi  mungkin saja warga lokal sudah terbiasa sehingga jalan rusak bukan lagi hambatan.

Misteri Megalitik Tadulako
4×4 wd memang tangguh melewati medan ini. Akhirnya kami sampai di mulut jalan situs. Agak kurang meyakinkan jalannya. Setelah memarkir kendaraan, kami berjalan kaki ke lokasi, melewati sawah dan ilalang. Cagar budaya Tadulako. Kami bersemangat, penasaran karena tadulako menjadi nama universitas negri di Palu. Di depan, rumah adat Lore menyambut kami. Singup. Sepi. Rumah panggung dari kayu ini atapnya runcing  segitiga yang diisi semacam daun kering di bawah atap dan ijuk sebagai atapnya.

2017-03-15 14.34.26

Kami berjalan lagi, agak naik, lumayan setengah km saja. Tada…… clingak clinguk. Kosong. Gone!  Disappear! Tadulako tidak ada !  Ziing… Pengunjung bingung…
Konon dulu di sini ada patung batu Tadulako, salah satu legenda menyebutkan kalau beliau adalah panglima perang yang dikutuk jadi batu. Mustinya ada 2 arca, kalamba, meja altar dan peninggalan megalitik lain di sana. Tapi kini yang tersisa hanya batu yang tampaknya berfungsi sebagai alas artefak. Oh….Ke manakah benda bersejarah itu, kami bertanya-tanya. Tanya pada siapa ?

Ternyata sejarah kelam mencatat pencurian arca-arca megalitik di Napu. Berdasar penelitian, ada 404 peninggalan megalitik namun jumlahnya bisa dipastikan berkurang. Mereka diselundupkan ke luar negeri lewat Bali. Beberapa yang tertangkap dikembalikan dan diletakkan ke Museum Palu.

Entah ada berapa yang tak tertangkap dan mungkin berada di ruang kolektor barang antik. Sebagai contoh saja, sang Tadulako, arca megalitik setinggi 2 meter dengan lebar 75cm ini tidak di tempatnya. Sementara arca satunya yang berposisi rebah, berdiameter 125cm. Terbayang beratnya kan. Bagaimana caranya ? Kami terus berdiskusi. Benak saya mengingat bahasan NatGeo tentang mata rantai penyelundupan gading afrika. Pilu. Kalau sudah begini, pasti ada banyak pihak terlibat, dari dalam, penadah, penjual, mungkin rumah lelang, kolektor, atau museum luar negeri, atau mungkin juga oknum aparat?

Nel cerita kalau dulu jaman dia kecil, orang sering temukan piring-piring batu di sekitar situs. Karena tidak tahu, ya diberikan saja sama bule-bule yang datang.😰 Wah, andai kita tahu, itu sumber untuk mencari tahu sejarah leluhur kita.

Kabarnya hilangnya megalitik Napu ini makin meningkat saat terjadi kerusuhan Poso..hmm…suspicious. Jangan-jangan kerusuhan yang mengerikan itu turut dikompori pencurian arca megalitik ?😕 wah ini analisis baru, selain masalah ekonomi, politis, dan agama. Selain itu, lembah ini menjadi arena perburuan teroris. Banyaknya orang datang ternyata juga membawa ancaman…..

(bersambung)

Perjalanan Menuju Masa Megalitik

Ayo ke Napu
(Part 1)

Last chance merambah indahnya bumi Celebes, pilihan kami jatuhkan ke lembah napu. Mengapa? Konon ada peninggalan megalitik yang menakjubkan di sini. So mari ki berpetualang…

Suami memilih touring bermotor dengan partnernya, Mr Ophiq, tetangga sebelah. Saya bersama orang asli Napu (baca: local guide) Nel sekeluarga naik roda empat. Waktu tempuh kurang lebih 3 jam dari Palu. Transportasi lebih cocok dengan kendaraan pribadi atau rental karena kendaraan umum terbatas. Jalur hari ini adalah Palu- Sigi Biromaru – Palolo -Dongi-Dongi terus sampai Napu. Don’t worry, jalannya hanya satu. Jalur Napu ini merupakan jalur alternatif ke Morowali saat jembatan Parigi putus. Orang-orang pada ngeri kalau lewat sini..apa iya sih?

Lore Lindu
Pritt…. Pemberhentian pertama, Danau Tambing. Tiket masuk 5.000 rupiah untuk pengunjung umum (dan 2.500 untuk pelajar atau rombongan) sudah di tangan. Anggrek tanah berbunga indah menyambut kedatangan kami yang sumringah. Hawa sejuk mulai terasa !

Danau Tambing merupakan danau jernih seluas 6 ha di kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Sekelilingnya dimanfaatkan jadi  camping ground. Tenda-tenda mungil bertebaran menandakan adanya perkemahan. Ada yang lagi keakraban dan outbond juga.

Mata kami tertumbuk pada Orchidarium. Anggrek ! 😍 Ada 45 spesies anggrek lho di taman nasional ini. Ada yang tumbuh di batang, cabang pohon, maupun di tanah. Paku-pakuan menjadi tempat hidup anggrek yang ditangkarkan di pot. Ada yang kembangnya hijau, ada putih mungil bergerombol , juga anggrek mini yang susah dipotret (saking mininya).  Sayang sang primadona anggrek hitam sulawesi belum mekar.

Edelweis si bunga putih pegunungan juga tumbuh mengiringi jalan setapak. Ini kan bunga gunung. Pantasan, kita kan di ketinggian 1700 dpl! Ada juga, pohon tinggi yang kulitnya berwarna warni dan berubah warna pada saat tertentu.

2017-03-15 14.21.50

Anggrek-anggrek eksotis Sulawesi

Taman Nasional Lore Lindu merupakan zona yang tepat untuk bird watching alias nongkrongin burung. Konon ada 263 jenis burung yang ada di sini, 30%nya endemik sulawesi. Namun yang namanya bird watching, kita membutuhkan waktu untuk menanti Bondol Rawa, Alo, ataupun Elang Sulawesi menampakkan diri dan mengeluarkan siulannya. Nabil, ponakan di Jakarta exited banget saat tahu kami ke Lore Lindu. Aduh maaf nak, burungnya nggak kelihatan. Tante mustinya kemping bawa teropong ke sini ya biar ketemu Alo.

2017-03-16 18.04.44

Sticker Taman Nasional Lore Lindu punya Nabil

 

Lukisan Ilahi
Perjalanan berlanjut. Jalanan aspal  berkelok, kadang lurus, membuat pengendara harus konsentrasi. Di kanan kiri pohon-pohon besar membentengi. Ada satu ruas jalan dimana pernah terjadi kecelakaan mobil tentara. So better watchout !

Jalan depan dipalang. Oow.. Ada pos penjagaan. Kendaraan yang lewat diperiksa. Mungkin ini karena Santoso cs bersembunyi di bukit-bukit Napu. Saya pun membuka kaca jendela. Pak penjaga memperhatikan tampang penumpang dan menanyakan tujuan. Aman. Semoga saja nanti kami tidak ketemu Santoso cs..itu saja doanya.

Sekejap, pemandangan berubah menjadi taman-taman kol dan sayur teratur di lembah bukit. Jika mbak sayur di Mamuju Utara bilang, “Ini wortel dari Palu..” mungkin dari Napu ini asalnya ya.  Waw. Panjang sekali distribusi sayuran. Ongkos kirim beras sekarung dari rumah Nel ke Palu saja 50.000. Wah, berapa ya keuntungan sang petani ? Keningku ikut berkerut.

Lanjut, pemandangan beralih ke deretan prairie. Well, menurut suami Nel, Mr Ikwan, konon di daerah Napu dulu ada rencana perkebunan teh atau Napu Hai (cmiiw). Lalu berubah menjadi perkebunan singkong untuk dibuat tapioka. Namun tampaknya proyek ini kurang berhasil dan kini padang singkong ditumbuhi prairie yang…. indah banget…😍 dan kesannya misterius gitu… Ingat film ‘Little house on the prairie’ kah? Nah kayak gitu itu pemandangannya…

(bersambung)

2017-03-16 14.34.18

The trip to Napu

Menurut Kelas 6…..

Kalau di catatan sebelumnya berisi survey kelas 5, kini kita akan bahas survey pelajaran di kelas 6 SD Inpres Sarudu 1, Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Masih sama pertanyaannya yakni mana yang paling sulit dan paling mudah. Mari kita bahas satu per satu.

Kelas 6 a dan 6 b

DIFFICULT
# Numbers
Kelas 6 ini kurang seideal kelas 5 dan 4  dalam belajar angka karena alasan klasik : mengejar target materi pelajaran dengan waktu terbatas. Maka untuk ratusan dan ribuan, kesempatan pendalaman materinya memang kurang. Noted

# World Cafe
Ini materi tematik yang menggabungkan banyak hal : menawarkan sesuatu dan memberi jawban, meminta dan memberikan barang, menyebutkan alat dan bahan memasak, membaca angka ratusan dan ribuan, mengungkapkan suka dan tidak suka.
Idealnya materi ini dipecah dalam 3 kali pertemuan namun karena menghitung hari, kami agak berlari-lari dalam 2 pertemuan.
Di tema ini, kelas bermain peran / role play berada di world cafe. Nah beragam aktivitas di sana dilakukan secara berkelompok. Masing-masing anak mendapat peran tersendiri yang dibutuhkan dalam kelompok atau dalam kelas besar. Ada yang jadi waiter, customer, cashier, dan chef.
# Tidak ada
Superb. Ada 6 anak dari 46 yang mengaku tidak ada yang sulit dalam pelajaran bahasa inggris. Alhamdulillah 😃

# Nonton film
Nonton film, metodenya sama dengan kelas 5. Kita menonton film berbahasa inggris dengan subtitle bahasa inggris/indonesia. Ada panduan pertanyaan yang harus dijawab dengan memahami isi film tsb.

# Kata tanya
5w. Dipelajari dengan mencatat dan membuat contoh. Klasikal. Evaluasi dengan menjawab pertanyaan dengan kata tanya 5W1H. Butuh latihan lebih.

# Membuat cerita
Materinya tentang menceritakan hari terindah dalam hidupku. Siswa membuat cerita berbahasa indonesia. Untuk kata-kata tertentu diganti dengan bahasa inggris. Tugas essay begini sangat menantang dan hal baru.

EASY
# Like/likes
# Pronoun
# Want/wants
# Can
Materi ini sering diulang dalam bentuk latihan. Syukurlah kalau soal-soal yang bertubi-tubi itu membuat siswa paham penggunaannya. 😊

# World cafe
Ada yang bilang sulit, ada juga yang mudah. Alhamdulillah..materi ini nyantol di kepala anak-anak dengan cara masing-masing baik sulit maupun mudah.

# Have/has
Have/has diulang pula dalam latihan soal.

# Numbers
Sda

# Semua
Mudah semua ? Empat anak mengaku kalau semua materi dalam pelajaran bahasa inggris itu mudah.

# Do not/does not
Do not/does not diulang pula dalam latihan soal.

ENGLISH IDEAL

Lalu bagaimanakah pelajaran bahasa inggris yang ideal versi anak-anak kelas 6?  Mari kita lihat.
# Latihan soal
Kelas 6 ini ternyata suka sekali dengan latihan soal. Mungkin karena pengulangan-pengulangan di lembar fotokopian itu memudahkan mereka memahami dan mengingat materi. Tanpa perlu menyalin soal, tinggal menjawab saja, beres kan. Di lembar soalnya pun ada gambar-gambar sisipan agar anak tidak stress melihat soal.

# Praktek
Banyak praktek dalam pelajaran kelas 6 ternyata juga jadi favorit. Jumlahnya sama banyak, baik latihan soal maupun praktek. Artinya 2 metode ini harus digunakan dalam pembelajaran. Dari pertanyaan sebelumnya, praktek role play ini berada no 2 paling sulit. Biarpun demikian, ternyata anak-anak menyukai metode ini. Berarti guru perlu menguatkan lagi pesan tersurat yang ingin dicapai melalui metode ini.

Praktek atau role play ini misalnya : jadi waiter yang melayani customer, jadi chef yang menjelaskan alat dan bahan serta cara memasak dalam bahasa inggris, juga jadi cashier yang menghitung bill tagihan, termasuk menerima uang pembayaran.

2017-03-15 06.21.21

Waiter mencatat pesanan customer berpedoman pada daftar menu

2017-03-15 06.19.35

Chef menjelaskan bahan-bahan untuk special dish

2017-03-15 17.19.10

Bayar dulu di cashier

# Ingin pintar
Dunno maksudnya kok kurang nyambung. Tapi kurang lebih mungkin pada dasarnya anak-anak punya keinginan untuk pintar berbahasa inggris. Modal keinginan ini poin bagus untuk memupuk rasa ingin belajar.

# Banyak mencatat
Banyak catatan untuk bahan belajar ya..

# Guru tidak galak
Nah ini dia, guru tidak galak..😈.

 

Demikian survey untuk evaluasi pelajaran bahasa inggris kelas 6. Survey ini dilakukan terbuka. Semoga bisa jadi catatan bagi siapa saja di bidang pendidikan. Yang pasti, anak-anak itu haus informasi dan inovasi. Belajar kreatif diperlukan agar pembelajaran jadi bagian sehari-hari.

***

Seperti Apa sih Pelajaran yang Kausuka?

Last But Not Least,
“Nak, pelajaran bahasa inggris yang bagaimanakah yang kausuka?”
Pertanyaan ini muncul untuk menjaring tanggapan siswa tentang metode pembelajaran yang disuka. So kita lanjutkan survey selanjutnya…masih di kelas 5 SD.

Jawab : “Banyak lagunya, praktek percakapan, nonton film, banyak diberi tugas, dan banyak pr. “😊

Oke..mari kita telaah lagi….

#Banyak lagu
Lagu sederhana berbahasa inggris ternyata disukai anak-anak. Mungkin tidak terasa kalau menyanyi = menghafal pelajaran ya. Tentu lagu ini harus diulang-ulang. Dan alhamdulillah kalau lagu ini nyantol di kepala anak-anak. Yang belum kesampaian adalah merekam semua lagu itu dengan suara anak-anak.😢. What a pity…
Misalnya ini lagu tersimpel dan selalu digunakan kelas 4,5, dan 6 :

I am aku, you are kamu, we are artinya kita 2x
He is, she is artinya dia. They are jadi mereka.2x

Lagunya dinyanyikan dengan nada Naik-Naik ke Puncak Gunung dan saat menyebut I atau She, kita sambil menunjuk orang pakai tangan.

#Praktek percakapan..ini sudah terbahas di catatan sebelumnya ya

#Nonton film
Film apa sih? Film animasi berbahasa inggris. Film ini ditoñton menggunakan  laptop dan speaker. Kebayang kan riuhnya itu. Speaker mini, laptop kecil, kelas besar, ada 24 siswa. Hahaha.. Tapi ada panduan pertanyaan tentang isi film. Jadi siswa musti cari tahu tentang film itu, bukan asal menonton. Eh, mereka suka lho.

Misalnya saja ada pertanyaan : Sebutkan jenis hewan yang ada di film Kungfu Panda ( bahasa inggris) !
Atau apa kelebihan Dragon Warriors ?
Nah pertanyaan panduan ini akan membantu siswa memahami isi cerita.

Salah seorang siswa bahkan melakukan effort lebih. Dia cari film tsb di internet dan ditonton ulang di rumah. Dicari betul percakapan-percakapannya. Tentu dia melakukannya dengan bantuan orang tua. Ini dilakukan siswa kelas 5 di SD pelosok lho, bukan di kota..  Saya sungguh  mengapresiasi usahanya. 😊

#Banyak Tugas #Banyak PR
Haha..suka ya dikasih tugas.. Saya agak strik untuk ini karena nilai tugas dan PR  dimasukkan ke daftar nilai dan diperhitungkan di nilai akhir raport. Nah walau ujiannya bagus tapi tugas dan PR  nya bolong, maka nilai akhir kurang bagus jadinya. Daftar nilai riil ini saya jembreng dan diserahkan ke wali kelas untuk bahan raport. Paling susah kalau itu anak nggak kerjakan tugas dan PR 😢. What should i do to you, nak…

So tentang pelajaran yang ideal itu saya harap bisa jadi alternatif referensi untuk  bapak dan ibu guru (ini versi siswa kelas 5 ).
Saya harap 2 tahun ini sedikitnya ada impact perubahan pola pikir bahwa belajar bahasa inggris itu bisa menyenangkan dan mudah. Modal bahwa anak menyenangi suatu pelajaran itu penting. Guru lah yang harus rajin bereksplorasi dan berkreasi. School is fun yau…. ☺

DSC_8782

 

***