MORINGA   – Dunia Tak Selebar Daun Kelor –

Pernah dengar produk bodyshop yang judulnya Moringa ?

Sesungguhnya Moringa adalah kelor. Orang jawa jarang makan kelor karena bisa menghilangkan ajimat. Kelor katanya juga untuk memandikan mayat. Orang jawa di Sulawesi kalau makan kelor akan lupa pulang ke Jawa, katanya sih..

Namun Sulawesi lain lagi ceritanya. Sebelum para kader posyandu mengkampanyekan untuk menanam kelor di halaman rumah, kelor sudah jadi makanan sehari-hari. Setidaknya di seputar jalan trans Mamuju-Palu, pohon kelor tumbuh subur di halaman rumah.

Pohon kelor biasa ditebang batangnya dan akan muncul daun-daun baru

Kadang saya ikut panen pun di halaman sekolah dan di halaman tetangga.Teman saya orang Kaili, Mandar, Toraja, Bugis, Bali, NTT sering masak kelor, dan mereka kaget saat tahu saya mau makan kelor. #orang jawa kebanyakan mitos#.

Selain dimasak santan (uta kelor), kelor juga dimasak bening (sayur bening). Sayur santan ditambahkan pisang mentah, ada juga versi kacang hijau. Sementara sayur bening bisa ditambahkan jagung, labu kuning, wortel, atau tomat. Seperti sayur bayam, sayur kelor ini harus habis sekali masak, alias tidak bisa dipanaskan.

Uta kelor menemani ikan bakar di Donggala

Teman-teman biasa menambahkan sereh untuk mengurangi rasa langu kelor, namun ternyata antara kelor dan sereh ini punya sifat yang berlawanan. Sereh panas, sementara kelor dingin. Jika bertemu dalam belanga akan melemahkan khasiat masing-masing.

Setelah dipanen, sebaiknya kelor segera dimasak karena daunnya akan rontok dan rasanya berubah jika masuk kulkas. Daun kelor bulat lonjong kecil-kecil. Teksturnya lebih lembut dari daun katuk.

Buah kelor yang panjang-panjang dikikir kulitnya dan dimasak sayur asam. Sempat bingung, apanya yang dimakan ya? Ternyata buahnya disesep-sesep saja. Paduan kuah asam membuatnya terasa segar. Namun jangan kebanyakan makan kelor karena (kalau saya) bisa bikin sakit kepala.

Aneka rupa khasiat kelor. Semua bagian tanamannya bermanfaat ! (Sumber Majalah Trubus Agustus 2011)

Karena dunia tak selebar daun kelor. Dan Sulawesi jadi dunia kecil, Indonesia mini tempat aneka suku Indonesia hidup bersama. Bukan hanya untuk studi, namun survive, berkomunitas dan berkarya. Di sini kami hidup bersama, saling mengenal budaya yang berbeda, mencicipi makanan khas masing-masing. Menangis, tertawa, berbeda pendapat, bekerja dan berusaha bersama-sama.

Sayur kelor ini menurut saya paling pas disantap dengan ikan bakar. Ikan bakarnya versi Donggala, yang bumbunya pedas, asin, tanpa kecap. Itu surga dunia. Surga yang kini menjadi duka.

Doa kami selalu untuk teman-teman di Sulawesi Tengah. Sebuah tempat yang memberi ruang aneka etnis, agama, dan budaya, untuk merayakan keberagaman. Mari bantu saudara kita dengan kemampuan terbaik yang bisa kita berikan..

Advertisements

Tenun Donggala

Donggala punya kekayaan indah : tenun ! Namanya tenun sutra Donggala atau Buya Sabe. Ini adalah Buah karya ibu-ibu Donggala yang bekerja menggunakan alat tenun bukan mesin/atbm di rumah-rumah kayu mereka. Motif khasnya kembang, anda bisa lihat coraknya lebih jelas di bandara Mutiara Sis Aljufri, Palu.

Kami menjumpai rumah penenun di tepi jalan trans Sulawesi, di Donggala. Rumah penenun seperti layaknya rumah di sekitarnya, berupa rumah kayu. Alat tenun dari kayu tersusun bersama benang dan kain-kain yang masih diproses penenunan. Waktu pengerjaannya tidak tentu, karena dikerjakan ibu-ibu di sela pekerjaan rumahnya.

Peralatan menenun ATBM di Donggala

Di beberapa spot jalan, ada warung/kios penjual tenun Donggala, namun dalam jumlah terbatas. Selain di sini, anda bisa menjumpai tenun Donggala di Palu. Saya beruntung sempat memiliki sarung tenun Donggala dan batiknya. Menurut penjualnya, batik ini motif Donggala, yang berwarna biru dan bermotif ikan laut.

Melihat parahnya gempa dan lokasi para penenun di daerah Donggala, …. saya tidak bisa berkata-kata. 😓

Mari berdoa semoga para penenun Donggala dan sanak keluarganya selamat, peralatan tenunnya tidak rusak parah, dan di kemudian hari, teman-teman bisa berkarya membuat tenun Donggala yang indah-indah lagi. Amin…

Donggala Signature Spot

Kontur bukit dan pesisir pantai membuat pola pemukiman Donggala menyesuaikan tempatan. Rumah pemukiman berada di pinggir jalan, di dekat pantai atau di bukit. Pinggir jalan Donggala selalu khas dengan pepohonan yang kembangnya mirip sakura. Pohon ini berjejer rapi di tepi pagar. Daunnya hijau runcing, kembangnya pink. Ternyata nama asli kembang ini adalah Oleander. Saat saya hendak stek tanaman ini, seorang teman bilang kalau ini tanaman beracun. Setelah saya googling, ternyata iya !

Pagar-pagar rumah di Donggala berasal dari bambu/kayu bercat putih. Biasanya di beberapa kelompok PKK akan dipasang tulisan “10 Program Pokok PKK.” Awalnya saya tersenyum, namun ternyata pemberdayaan di daerah memang bisa diawali dari PKK beserta 4 Pokja nya. Dan itu sesuatu yang penting, dan butuh perjuangan.

Anak-anak dengan ceria naik gerobak sapi

Cuaca terik, pasir dan aroma laut sangat terasa. Di jalanan Donggala, tak jarang kita akan bertemu sekawanan lembu dan kambing yang berjalan santai. Sebagai sesama pengguna jalan, manusia lah yang mengalah. Seorang teman pernah ditabrak sapi dan mobilnya lumayan penyok, perlu masuk bengkel.

Sesama pengguna jalan harus memberi ruang

Adanya jalan aspal baru hasil menggerus bukit, membuat pengguna jalan jurusan Mamuju-Palu tidak lagi melalui jalan sempit berkelok di atas bukit. Meski demikian, di jalan baru Donggala ini, ada tanjakan yang agak curam hingga beberapa kali bis tak kuat menanjak dan penumpang musti turun.

Biar begitu, menurut kami, Donggala punya 2 tempat yang perlu didatangi. Yang pertama warung Ikan Bakar Terminal Indah. Seperti jamaknya rumah Sulawesi, bangunannya berupa rumah panggung dari kayu, dan ia berdiri di tepi laut, di atas air laut ! Kalau kita jalan, lantainya terasa bergoyang. Namanya juga rumah kayu ya.

Menu spesial : Ikan bakar, sayur kelor santan (sabtu/minggu), dan sambal dabu-dabu plus kemanginya. Ada juga pepes udang dengan kelapa yang rasanya uenakk banget. Meskipun penampilannya biasa saja, namun rasanya. Oh.. Rasa manis dari kesegaran ikan dan udang membuat hidangan ini enak banget, ditambah aroma minyak kelapanya.

Kelezatan ikan bakar Terminal Indah

Tempat kedua adalah warung Kaledo (Kaki Lembu Donggala) di daerah Loli, Donggala, tak jauh juga dari laut. Kaledo berujud sup tulang-daging sapi dengan kuah bening rasa asin asam dan pedas. Bumbunya hanya asam jawa mentah, cabe rawit hijau tumbuk, dan bawang goreng. Udah.. tanpa sayuran.

Biasanya Kaledo dimakan bersama singkong rebus, namun bisa request nasi putih. Di dapur ada tungku kayu untuk merebus tulang sapi. Mungkin ini rahasianya. Kaledo Loli ini kuahnya terasa bersih, tidak terasa after taste lemak. Wujud warung pun biasa, rumah sederhana, dengan meja kursi tak banyak, namun hanya buka beberapa jam karena cepat habis.

Atas : versi asli kaledo pake tulang. Bawah : versi tanpa tulang

Pertanyaannya :

Setelah gempa dan tsunami ini, bagaimana kabar 2 pesona kuliner ini ? Kalau lihat bentuk bangunan dan posisinya di dekat laut, tampaknya amat sangat mengkhawatirkan. Terlebih di google map, titik gempa tsunami Palu dipasang di seputar Loli, Donggala.😓

Semoga kekayaan kuliner Sulawesi ini selamat, atau paling tidak, bisa terselamatkan di kemudian hari. Semoga para chef, para nelayan ikan, pemilik sapi, dan segenap keluarganya, serta semua saudara-saudara di Donggala dilindungi Tuhan YME dan dikuatkan hidupnya. Adapun yang menghadap Yang Kuasa diampuni segala kesalahannya dan mendapat tempat terbaik di sisi Nya…Amin..

* Sungguh, kami sempat punya angan-angan suatu saat pergi ke Donggala demi makan ikan bakar dan kaledo ini. 😐

***

P4LU – D017664L4

Adalah suatu perjuangan untuk sampai ke Palu. Tak jarang saya minum antimo, entah 1 atau setengah butir demi bertahan melalui jalan berkelok-kelok. Jalur trans sulawesi dari Mamuju Utara – Palu memang di seberang laut. Kanan bukit, kiri laut. Pak sopir sudah hafal tandanya kalau saya buka plastik, muntah..

Sampai di Donggala selalu membuat saya bisa tersenyum, sudah dekat Palu ! 😊Pantainya indah, nggak habis puasnya memandang. Perahu nelayan berjejer di atas birunya air laut. Kalau malam, yang tampak adalah kerlip lampu di antara kegelapan. Donggala, di sini ada warung makan Terminal Indah yang membuat sejenak melupakan perut melilit. Viewnya langsung ke laut. Ikan bakar, pepes udang, dan kelor santan nya selalu menggoda. Ada juga warung Kaledo Loli yang konon lebih nyus daripada warung kaledo di kota.

Deretan pertokoan Donggala dengan bangunan tua jadi saksi betapa tempat ini pernah jadi pelabuhan besar di Indonesia. Di pinggir jalan ada pohon sakura pink dan lapak penjual buah musiman, kadang mangga atau srikaya. Donggala juga terkenal dengan pusat kerajinan tenun ATBMnya. Sebagai pecinta tenun, tentu saya juga punya..

28 September 2018 jam 18 wita, gempa magnitudo 7,7 kedalaman 10 km mengguncang Sulawesi Tengah. Pusatnya ada di Donggala.

Donggala mana yang jadi pusat gempa ? Kalau dari peta, tampaknya di Donggala utara, dekat pelabuhan Pantoloan, bukan Donggala dekat pengrajin tenun itu. Atau kalau dari arah selatan, Donggalanya setelah kota Palu. Memang jalur ini jalur persimpangan yang penting. Jalan trans Sulawesi Palu-Donggala ini pasti dilalui jika anda menuju ke utara : Toli Toli, Gorontalo, Manado ataupun ke timur : Parigi Moutong, Poso, Ampana, Morowali. Cmiiw.

Informasi demikian terbatas sehingga saya tak tahu bagaimana sebenarnya. Donggala mana yang rusak. Jalan mana yang putus. Karena ibu kota Sulawesi Tengah ini posisinya di pok tengah sisi barat Sulawesi, sementara itu sang propinsi punya wilayah yang jauh ke ujung utara dan ujung timur.

Bentang alamnya luar biasa. Perbukitan indah, pantai pasir putih, two thumbs up. Saya selalu berangan-angan ada kereta api yang menghubungkan Palu sampai ke ujung-ujung sulawesi. Supaya nggak perlu antimo 2 butir menahan kocaknya jalan…

Kabarnya, saat ini, XL yang lancar beroperasi. Masalahnya, teman-teman rata-rata pakainya telkomsel. Bukan iklan, tapi memang jaringan telkomsel yang tersebar di pelosok dan paling kuat.

Saat tsunami menerjang Pantai Talise, pantai di sekitar Teluk Palu, warung-warung tepi pantai itu tampak rapuh. Di tepi Talise memang banyak warung menjual pisang pepe, ketan bakar, saraba, dan jadi tempat kongkow orang-orang. Bahkan PGM, mall baru dan mall besar di sana juga kena. Seorang teman punya gerai pakaian di mall itu.. Ada lagi teman yang rumahnya tak jauh dari PGM. Dan, teman yang tinggal di Palu, umumnya suaminya ada di site. Mereka ini wonder women mengurus anaknya sekolah di kota. Duh, apa kabar saudaraku ?

Jembatan kuning, jembatan baru, landmark kota Palu itu juga rubuh. Jembatan kokoh dan keren itu rubuh karena gempa ! Menurut para geolog, sesar Palu Koro yang bergeser ini melalui sungai Lariang, sungai yang kami temui hulunya di Lembah Napu, Poso, dekat rumah seorang teman. #waspada.. Kita memang tinggal di daerah rawan bencana ya. Resiko tsunami tepi pantai, sesar Palu Koro, hingga longsor.

Fyi, Palu sudah banyak berbenah dibanding kala pertama kami datang, 2010 lalu. Saat gerhana matahari 2016, turis dan peneliti berdatangan. Fasilitas kota jauh meningkat pesat. Hotel, tempat makan, pusat perdagangan, ada di mana-mana.

Kini, Mal Tatura Ramayana, Jl Emy Saelan rusak. Jalan Emy Saelan ini adalah kawasan perekonomian yang padat dan segalanya ada. Penginapan, warung makan, fotokopi, apotek, penjual buah, oleh-oleh, segala ada deh. Kalau tidak ada kendaraan, masih bisa lah jalan kaki, atau naik pete-pete. Di dekat mall, ada pasar tradisional tempat saya menemani teman untuk belanja ayam dan bebek. Langsung dipotong on the spot.

Sementara itu, Hotel Roa-Roa, hotel baru di dekat RS Bala Keselamatan (BK), kabarnya juga rusak. Kalau tidak salah ini sekitar Jl Woodward, masih belok ke gang kalau dari Emy Saelan. Ini juga nggak jauh dari Mal Tatura. Saya pernah jalan kaki dari BK ke Tatura cari makanan buka puasa dan sahur saat suami opname dulu. Jl Woodward ini daerah padat, ada beberapa gereja di sekitar sini.

Memang boleh dikata, Palu ini komplet. Kristen katolik islam sama kuatnya. Arab, Manado, Toraja, Bugis, Bone, Jawa, Bali, you mention it, tinggal bersama. Pemilik warung akan mengingatkan kalau di warung ini dijual makanan yang dilarang untuk muslim. Ini saya sangat hargai.

Doa terbaik untuk teman-teman di Sulawesi Tengah. Semoga selalu kuat dan bencana segera berakhir. Semoga bahu membahu membuat bencana alam ini cepat tertangani. Tuhan bersama ta.

*tears, 29 September 2018.

Sungai : Soal Bahasa dan Cita Rasa (part 6)

“Inggih…inggih.”

“Iya kalo’..”

“Makasihlah.”

“Kadak Bu ai.”

“Uma aii..:

Dengan pengucapan I, bukan E, adalah kata sopan yang sering terlontar dari percakapan urang Banjar. Cara bicara pun cepat berlagu. Percakapan jadi makin seru.

Bahasa Nan Mirip

Bahasa adalah wujud kebudayaan yang paling terasa. Melalui bahasa, manusia berkomunikasi satu sama lain. Bahasa orang Nagara, Kandangan, Amuntai, Banjar, pasti berlainan. Bisa dari bahasanya maupun logatnya. Meskipun bagi saya, ya sama saja Banjarnya.

Saat pertama mendengar, saya terkaget-kaget, karena beberapa bahasa Banjar tidak jauh-jauh dari bahasa Jawa.

Sebutlah :

urang – orang,

pian – pean – sampeyan,

habang – abang – merah,

hirang – ireng – hitam,

iwak – iwak – ikan,

uyah – uyah – garam,

inggih – enggeh – iya,

dan lain-lain.

Apalagi di tempat tinggal kami yang penduduknya beragam. Tak jarang bahasanya jadi campuran : bahasa Indonesia Banjar namun medok Jawa yang gak bisa hilang. Lokasi yang ramai, pertemuan – interaksi antar bangsa akan menghasilkan percampuran bahasa.

Saya pun iseng membaca buku cerita berbahasa Banjar yang dibelikan suami di pasar. Sedikit-sedikit, saya bisa paham, karena beberapa istilah masih terkait (sok-sokan lee.) Sekali lagi, saya merasakan bahwa torang samua basudara !

Bagaimana tidak, Majapahit & Demak punya rekam jejak dan peran penting membangun kerajaan Negara Dipa di Amuntai, Negara Daha di Negara, hingga kerajaan Banjar di hilir. Wajar jika ada kesamaan bahasa di dua pulau ini. Berbeda dengan logat Jawa (Tengah) yang pelan, logat Banjar terdengar terayun dengan cepat. Pembicaraan terdengar serius, padahal memperbincangkan kenaikan harga iwak.

Saya belajar (logat) bahasa Banjar ini lewat kader-kader posyandu yang urang Nagara, juga Paman sayur. Seringnya sih senyum-senyum saat mendengar mereka bercakap dan berusaha menangkap maksudnya. Lucunya, beberapa penjual sayur di pasar kada fasih berbahasa Indonesia hingga kadang terjadi miskomunikasi. Maunya beli berapa, dapatnya berapa.. Hihihi..Bujur banaar..

Yang unik, saat transaksi jual beli, terucap akad jual beli. Penjual biasanya berkata : “Terjual seadanya,” atau cukup “Terjual”.

Saya senyum aja dan mengulang kata-katanya. Lha ternyata itu keliru ! Mustinya pembeli bilang : “Nukar”, yang artinya : beli.

Akad jual beli ini unik dan sungguh literal mempraktekkan Akad jual beli dalam ajaran Islam. Bahkan di supermarket kota besar yang terkomputerisasi, operator kasir berkata “Terjual”, saat memberikan nota dan memberi uang kembalian. Budaya ini baru saya temui di Kalimantan Selatan.

Saudara Rasa Antar Pulau

Selain bahasa, soal citarasa juga menjadi perhatian saya. Ya. Karena ini berefek langsung pada selera makan. Makanan Banjar cenderung berasa manis, bahkan lebih manis dari masakan Jawa. Mungkin, sejauh penelusuran saya, ini tak jauh dari sejarah rasa dimana rasa manis merupakan rasa kesukaan Raja Jawa.

Asumsinya, kecenderungan rasa manis ini dipengaruhi leluhur kerajaan Banjar (Empu Jatmika – Lambung Mangkurat – Pangeran Suryanata) berasal dari Majapahit which is Jawa, dan juga bala bantuan Pangeran Samudera dari Demak yang juga Jawa. Yah meskipun rasa-rasa masakan Jawa Timuran dan Pantura itu setahu saya, tidak terlalu manis, cenderung ke asin pedas sedikit manis. Namun ada warisan kuliner yang juga bersaudara meski antar pulau.

Pecel dan rawonnya Jawa Timur cenderung asin. Eh, tapi ada yang hampir sama lho = Petis ikan ! Petis muncul sebagai bumbu masakan Jawa Timur dan di cocolan gorengan, atau rujak cingur. Nah, di Banua, ternyata petis juga jadi cocolan gorengan, ehm..tapi petisnya berasa manis dan encer karena sudah diracik dengan bumbu lainnya.

Soto Kudus dan soto Banjar. Nah kedua soto ini ada sedikit kemiripan rasa namun berbeda aroma & penyajian. Soto Kudus berasa jintan-kemiri, sementara soto Banjar beraroma kapulaga-cengkeh-kayumanis. Kedua soto ini punya kemiripan pada kuah bening, rasa agak manis, dan menggunakan ayam kampung. Meskipun ada juga varian soto banjar yang pakai susu, tapi kuah bening Soto Banjar lebih sering disajikan di warung.

Sop Banjar Bang Amat.. disebut ‘sop’ karena pakai nasi. Disebut ‘soto’ Banjar jika pakai ketupat.

Soto kudus. Khas dengan mangkok kecil.

Ada lagi yang agak dekat. Mangut kepala ikan manyung – mangut iwak pe Pantura yang bersantan pedas dengan ikan gabus santan di Ketupat kandangan.. Beda! Iya, berbeza. Tapi ada senggolan kemiripannya.

Di 3 masakan tadi, sang ikan dipanggang atau diasap. Aroma ikan asap yang kemudian dimasak santan ini selalu memberikan rasa yang khas. Apalagi ada kencur yang membuat rasa berbeza (ada juga yang tanpa kencur sih). Untuk warna, finishing dan topping memang lain. Tapi aroma ikan asap santan plus kencur ini menurut saya jadi benang merah hidangan mangut kepala manyung, mangut ikan pari, dan ikan gabus di ketupat kandangan.

Mangut kepala manyung. Pedas gurih beraroma khas ikan asap.

Katupat Kandangan dengan potongan iwak haruan panggang.

Gimana, percaya kan kalau makanan jadi pertemuan kebudayaan ? Variasi pengolahan makanan menandakan kekayaan alam tempatan dan strategi mempertahankan diri.

Ada lagi nih..Tapi yang ini lebih mengingatkan pada bumi Celebes. Mungkin ini karena urang Banjar dan urang Bugis sama-sama punya jiwa pelaut sehingga ke mana mereka pergi, sembari membawa dan bertukar.

Haruan Masak habang (ikan gabus masak merah) jadi makanan khas borneo. Haruan ini, meski warnanya merah, namun rasanya manis karena tambahan gula plus kayumanis. Ini juga menjawab pertanyaan saya : Mengapa petani menanam cabe kalau urang Banjar tidak suka pedas? Ternyata cabe dikeringkan berujud utuh dan rajangan. Cabe ini lebih berfungsi untuk diambil warna merahnya saja karena rasa masakannya tetap manis.

Nah, untuk haruan masak habang, biasanya dimakan bersama nasi kuning, dan konon jadi sarapan khas Banjar. Saya pun makin terbengong-bengong.. Kenapa? Karena nasi kuning ini juga jadi sarapan khas di Sulawesi. Bedanya, nasi kuning Sulawesi pakai lauk ikan cakalang/tuna yang disuwir pedas, pake cabe segar dan tomat.

Jadi, ini sama-sama sarapan nasi kuning, sama-sama ikan (air tawar vs air laut), sama-sama merah, tapi beda rasa (manis plus aroma kayu manis vs asin pedas). Sungguh ini varian rasa yang menyesuaikan tempatan. Luar biasa !

Yang terakhir, ada aneka wadai (kue) khas Banjar. Saat ramadhan, aneka wadai melimpah dijual di pinggir jalan memudahkan orang yang akan berbuka puasa. Wadai manis yang hits adalah Bingka kentang dan Sari India. Saya sudah coba dan rasanya memang muaniss. Somehow, ini mengingatkan saya pada kue-kue bugis. Telur, gula, dan manisnya membuat bibir berseri-seri..

Perihal Rempah dan Pengawetan

Pada masakan Banjar, pian akan mendapati aroma rempah kayumanis, kapulaga, bunga lawang dan entah apa namanya yang mengingatkan saya pada aroma masakan Timur Tengah. Di pasar tradisioal, banyak lapak yang menjual aneka rempah ini mulai dari kemasan plastik kecil hingga besar.

Di Kalimantan Selatan ini rempah-rempah lebih gampang dicari. Mungkin cita rasa rempah itu dipengaruhi para pedagang dan penyeru islam dari Arab yang tinggal dan bermukim. (Masih ingat, banyaknya Habib di penjuru daerah Banjar yang sangat dihormati?). Selain itu, teman-teman Dayak Meratus mengumpulkan kulit kayu manis dari hutan. Kulit kayu tersebut dijemur lalu diikat untuk kemudian dibawa ke kota untuk dijual. Jadi, asumsi saya, dengan adanya pohon kayu manis di pegunungan Meratus ini, pantas jika aroma kayu manis sering muncul pada aneka masakan Banjar.

Atas : Menjemur kayu manis di Meratus. Bawah : Kayu manis kering diikat rapi

Adapun pengaruh Dayak bisa dilihat pada metode pengawetan makanan, yakni fermentasi ikan yang dinamakan dengan pakasam. Ikan papuyu dan sepat siak lah yang biasa diawetkan dengan bumbu garam dan beras sangrai yang disimpan dalam wadah kedap udara. Ikan fermentasi ini memiliki aroma dan rasa yang sangat kuat dan khas. Iwak pakasam biasanya diolah lagi dengan digoreng dan ditumis dengan bumbu. Saya pernah membawanya dengan wadah rubbermaid dan perlu plastic wrap untuk mencegah aroma keluar.

Penutup

Dari kebudayaan sungai ini kita bisa belajar bahwasanya suatu kebudayaan tidak bisa berdiri sendiri. Kebudayaan berproses dinamis, berakulturasi dengan kebudayaan lain sehingga menghasilkan kebudayaan turunan yang tampak kini.

Hebatnya, meski sudah ribuan tahun, kebudayaan sungai bumi Banua ini masih hidup dan dihidupi. Mungkin ini yang namanya kearifan lokal. Namun, kearifan lokal pasti bertemu dengan budaya baru dan bisa menghasilkan gegar budaya (lihat kecemasan saya soal sampah di postingan Lebaran sekeping biskuit). Perlu strategi untuk berdampingan dengan kemajuan zaman dan pesatnya arus informasi dan tingginya tingkat konsumsi.

However..This is amazing !

Di sini rasanya seperti menyusun puzzle kebudayaan dan menarik benang merah antara satu dan lainnya. Bisa jadi puzzlenya masih sesudut, belum keseluruhan jadi, dan kesimpulannya belum bulat. Namun setidaknya, ini membuat saya makin ingin tahu dan makin menghargai kebudayaan sungai. Suatu kebudayaan yang lain daripada yang lain, yang memiliki sejarah panjang perkembangan seiring kerajaan bumi Banua..

***

Nagara : Sungai Segalanya (Part 5)

Kebudayaan sungai ternyata memang memiliki akar sejarah panjang yang menarik. Penuh intrik, kekuasaan, pertukaran, dan penyebaran agama. Meski mungkin tidak setenar kerajaan Majapahit dan Demak, namun kerajaan Banjar tua Batang Banyu ini istimewa dan khas dengan kebudayaan sungainya yang eksis hingga kini.

Hiruk Pikuk Nagara

Negara, atau Nagara, masa kini adalah tempat pemukiman padat sepanjang jalan, dengan sungai sebagai halamannya. Jalan aspal sempit membuat mobil yang berpapasan harus merepet, sementara motor tak mau kalah mencuri celah. Motor-motor parkir di kanan dan kiri jalan. Kadang navigator pun turun untuk merubah posisi sendal yang bertumpuk  di tepi aspal kala ada hajatan.

Orang-orang duduk berbincang di pinggir jalan yang memang adalah halaman rumah mereka merangkap jalan darat satu-satunya menuju ke utara. Jika ada jembatan yang dibongkar, dipastikan akses jalan sangat terbatas, khusus roda 2. Inilah lokasi ujian kesabaran bagi pengendara roda empat. No way out !

Negara punya sentra industri logam perkakas rumah tangga dan mandau. Wajan, parang, pemanggang, tempat piring, dll, semua dibuat dalam skala industri rumah tangga dan dipasarkan ke luar kota.

Bagi yang berpencarian petani, penduduk Negara berubah profesi menyesuaikan musim. Kala hujan, tua muda, laki perempuan sibuk memancing ikan dengan pancing, hancau (alat mencari ikan segi 4) dan sasuduk. Umpan pancing biasanya kodok. Cukup duduk manis di depan rumah, di titian kayu, dan pian bisa dapat ikan. Oh senangnya..

20171224_103208-1

Musim penghujan : lahan pertanian  tergenang, kesempatan mencari ikan

Sang sungai juga menghasilkan aneka ikan tawar melimpah : haruan/gabus, baung, nila, mas, patin, papuyu, lais, dll. Ikan hidup ini selain dijual di Negara, Kandangan, juga dibawa ke Banjarmasin. Pick up berisi tong ikan dengan jaring di atasnya rutin mengirim ikan ke kota. Yang ini tak mengenal musim kemarau atau penghujan. Ikan air tawar selalu melimpah.

Tentu saja, harga ikan hidup lebih mahal daripada ikan yang sudah mati. Di pasar, penjual ikan biasa menaruh ikan di bedengan aluminium atau ember ceper. Kadang dengan oksigen agar ikan bertahan hidup. Memang beda kok, kesegaran ikan yang masih hidup. Saya sudah buktikan.

Beberapa home industri mengolah hasil panen menjadi kerupuk, baik krupuk aneka ikan maupun krupuk tomat, nanas, cabe dan waluh. Ikan sepat, sepat siak, & haruan dijemur rapi menjadi ikan asin di pinggir jalan. Iwak sapat karing yang tersusun bagai keset dan bintang ini seolah takada habisnya dipanen. Sapat karing pun menjadi oleh-oleh khas Nagara.

20180627_123655

Ikan-ikan air tawar di pasar Nagara. Tinggal pilih : ikan hidup, mati, asin, atau pakasam

Kala kemarau dan air sungai surut, penduduk bertani dengan rajin. Semangka, labu, cabe, tomat, terong, paria, dan hasil tani lain melimpah dan dikirim ke kota. Nanas Negara pun sangat manis dan menyegarkan (membuat saya jadi doyan nanas). Petani menanam padi yang gabahnya dijemur di pinggir jalan. Begitulah, petani Negara berkejaran dengan musim agar tanaman tak terendam hujan dan sungai yang meluap.

Cerita Semangka
Menuju kemarau, petani Negara (daerah Muning) sibuk menyiapkan benih semangka. Biasanya sekali tanam adalah 5.000an pokok/tanaman semangka. Benih disiapkan dan dikepal di tanah basah sebelum ditanam di lahan. Setelah lahan siap, musim kemarau datang dan air surut, ditanamlah bibit semangka di lahan. Uniknya, untuk mencapai lahan, petani mengunakan cis/perahu demi menyeberang sungai.

Demi menjaga kualitas buah, 1 pokok tanaman dijaga agar berbuah 1 atau 2 saja. Kita bisa lihat, semangka Negara ganal-ganal (besar) ! Untuk pemupukan ada 5 macam (oplosan NPK) yang diletakkan di 3 sudut di sekitar tanaman. Ini sekaligus menepis isu semangka suntik. Yang betul adalah pupuknya yang tambah, disuntik ke tanah. Pupuk ini bisa mempercepat pertumbuhan dan masa tanam, sehingga panen cukup dalam waktu 2 bulan.

Saat panen raya, kadang semangka tidak ditimbang, tapi dihargai per butir. Harga semangka kadang jatuh 1.500/kg, sementara saat biasa bisa mencapai 5.000/kg. Untuk pemasaran dilakukan sendiri-sendiri, ada yang langsung pembeli, dan banyak mobil pick up serta truk yang memasarkan semangka ke kota besar. Tak ketinggalan paman sayur yang membawa semangka di motor dan menjualkan eceran. Berat banget lho itu! Yang ajaib, teman-teman biasa membubuhkan garam atau royco saat makan semangka. Supaya tidak sakit perut, katanya.

IMG-20180807-WA0006

Petani mengangkut hasil panen semangka dari lahan

Nagara sungguh merupakan kawasan yang kaya hasil bumi. Sekali lagi, nenek moyang kita memang ahli memilih lokasi kerajaan. Manfaatnya dirasakan hingga kini.

Tinggal di Negara

Rumah panggung kayu dibangun rapat bersisian. Dalam satu rumah, polanya extended family. Artinya satu rumah ditinggali keluarga inti ayah ibu plus anak, mantu, cucu, juga kakek atau nenek. Hangat ya. Berbeda  dengan rumah panggung Sulawesi yang bagian bawahnya untuk menaruh hasil bumi, rumah panggung di Negara memang berada di atas sungai/air.

Perahu cis bersandar di halaman rumah bersiap mengantar penghuninya melalui jalur transportasi sungai. Itulah mengapa beberapa jembatan dibangun sangat tinggi, ya karena di bawahnya digunakan untuk lalu lintas sungai.

Udara akan terasa lembab kala pagi. Malam harinya, nyamuk-nyamuk beterbangan mencari darah yang bisa dihisap. Jangan tanya kenapa obat nyamuk laku keras di sini. Jendela pun segera ditutup sore hari agar malam terbebas dari serangan nyamuk.

Kamar mandi terpisah dari rumah. Beberapa bentuknya seperti bilik kotak, langsung di atas air sungai. Sore hari, ibu-ibu berjalan memakai/membawa kain batik lilit pekalongan dan timba. Begitulah hidup di sungai. Begitulah hidup di Nagara. Unik ya. Wilayah yang punya sejarah panjang dengan kebudayaan sungai yang hidup dan menghidupi.

***
(Bersambung)

Negara Daha : Dari Kerajaan Hindu ke Islam (Part 4)

Berpindahnya pusat kerajaan Negara Dipa di Amuntai menuju Daha membawa harapan kemajuan kerajaan. Demikian pula perubahan pucuk pimpinan Raja yang acapkali menjadi polemik perebutan kekuasaan kakak-adik dalam keluarga raja.

Adalah Pangeran Samudra kecil, cucu Raden Sukarama, cucu mahkota kerajaan Negara Daha, yang diungsikan agar tidak dibunuh pamannya yang menjadi raja Daha. Samudera berlayar naik jukung lewat pelabuhan Marabahan ke Kuin. Bahkan jika kini saya menyusuri sungai yang dilalui Raden Samudra malam-malam, kemungkinan besar saya bakal ketakutan mengingat effort besar yang dilakukan dan kondisinya !

20180601_165554

Menyeberang Barito menuju Marabahan

Kuin menjadi tempat migran Melayu dari Kerajaan Malaka yang melarikan diri akibat serangan Postugis. Di Kuin, Raden Samudra tinggal hingga dewasa dan diangkat jadi Raja Bandarmasih. (Fyi, sungai Kuin adalah lokasi syuting pasar apung Rcti oke jaman dulu).

Karena masih lemah melawan Raja Negara Daha (sang paman), Patih meminta bantuan ke kerajaan Demak. Demak bersedia memberi bantuan dengan syarat bisa  menyiarkan agama Islam ke Bandarmasih.  Bantuan Demak pun berhasil mengalahkan Negara Daha, dan setelahnya, Pangeran Samudra masuk Islam. Beliau menjadi Sultan Suriansyah dengan berposisi di Bandarmasih. Inilah awal mula kerajaan islam Banjarmasin.

Negara Hindu Daha, sebagai kerajaan lama,  ternyata tidak ada yang tahu letak dan tapak  kerajaannya. Di Daha tidak ada petilasan kerajaan yang bisa dijumpai. Konon kekuatan magis kasat mata Negara Daha berada di sungai, di seputar Masjid Besar Ibrahim, di dekat pasar.

20180627_134138

Dermaga Nagara

Jika kita ingat pola kerajaan Islam, selalu ada segitiga kerajaan/alun-alun, masjid/kauman, dan pasar. Pasar Nagara buka tiap hari dan ramai, bahkan macet dengan kendaraan roda 2. Pasar ini lokasinya tidak jauh dari Masjid Ibrahim. Maka mungkin benar jika pusat kerajaan Daha berada tak jauh dari masjid dan pasar, dan di manakah dia ? Lihatlah ke bawah, ke Sungai Nagara !

20180627_115853

Salah satu pemandangan Sungai Negara kini

20180627_131340

Interior Masjid Ibrahim Nagara

Tak jauh dari masjid, ada beberapa makam Habib ulama keturunan Arab yang makamnya sering dikunjungi. Para peziarah biasa datang berombongan naik elf/L300, biasanya mengenakan pakaian putih. Para Habib inilah penyeru agama islam yang berperan penting di daerah, segala penjuru Banua, dan merubah pemeluk Hindu Daha menjadi Islam setelah Pangeran Samudra masuk islam.

***

(Bersambung)