Kami Warga Negara Indonesia Juga

Kalau menyimak berita di tv, kasak kusuk DPR dan peradilan yang entah mana yang benar, seolah kita dikonstruksi bahwa masalah Indonesia hanya Jawa, atau Jakarta. Coba perhatikan iklan-iklan di tv, atau dengarkan radio Jakarta yang buka cabang di daerah, rasanya untuk gaul dan keren itu gaya bahasa ala Jakarta. Atau lihatlah prime time di tv nasional, seolah pemirsa diseragamkan sebagai pecinta sinetron. Ampun deh, kalau takberlangganan tv berbayar! Takpegang hp dan tak punya facebook ? Hmm…jadi orang aneh deh.. Ya, tampaknya kita memang harus menjadi apa yang dikatakan kebenaran arus utama/mainstream. Kalau kita tidak sesuai arus permainan itu, kita akan tersingkir. Itu tadi sedikit contoh tentang keberagaman yang lekat dengan hidup kita sehari-hari.

Ada banyak contoh, (sebagian sudah kutulis berserak di postingan sebelumnya) betapa sudut pandang kita dibentuk untuk mengikuti arus utama. Arah hidup kita pun demikian, tengoklah Jakarta yang masih jadi  rujukan utama pencari kerja, dan perusahaan multinasional pun bersarang di sana.

Aku kini berada di bagian Indonesia tengah, 1 jam lebih cepat daripada Indonesia barat. Di sini tidak ada listrik, PLN belum ada. Sumber listrik diusahakan lewat genset yang menyala sore hari (saat magrib). Itulah saat di mana keluarga bisa menikmati siaran TV dan membiarkan lampu-lampu menerangi sisi gelap rumah. Kalau kau berjalan, akan tendengar suara genset yang dipasang di depan rumah. Biasanya, genset digunakan dengan sistem komunal, tiap keluarga yang ikut membayar kurang-lebih 275.000 rupiah per bulan dan menikmati listrik jam 6 sore hingga 6 pagi di tiap hari. Asumsinya, siang hari ada sinar matahari dan itu saat bekerja di kebun, di pasar, atau di laut.

Untuk menonton TV, kau mesti punya parabola. Jadi, jangan bilang orang kaya dilihat dari rumahnya ya, karena di sini rumah-rumah cukup sederhana berparabola, mereka pun juragan kelapa sawit dan kakao. Tidak ada lampu penerangan jalan. Berkendara kala malam cukup berbahaya karena tiba-tiba kau akan bertemu sapi, anjing, orang yang berjalan, atau pengendara motor yang dengan pedenya tidak menyalakan lampu. Mengenakan helm saat berkendara juga terkesan aneh, mungkin karena tidak ada polisi dan lampu lalu lintas. Mungkin kalau mereka pernah terbentur kepalanya kala terpelanting dari motor, baru menyadari betapa pentingnya helm.

musti masang parabola untuk menonton TV

Tapi aku menemukan plang tulisan yang membuatku geli. “Orang taat bayar pajak. Pajak untuk pembangunan… “, seperti layaknya tulisan peringatan yang dipasang di kota-kota besar. Aku tersenyum karena sejauh ini kulihat pembangunan di sini sangat minim. Jalan yang bagus adalah Trans Sulawesi, sementara jalan poros yang jadi penghubung dalam wilayah berlubang dan kerap kali putus kala hujan lebat turun. Jangan ditanya lorong-lorong (gang) rumah, jalan tanah yang becek tiap kali hujan datang dan berdebu saat mentari terik. Sekolah pun bisa libur tiba-tiba. Apakah orang-orang yang hidup beranak pinak di sini merasakan sentuhan tangan pemerintah, selain urusan sensus penduduk ?

 

orang bijak taat pajak

 

Kulihat sejauh ini, orang-oranglah yang bekerja keras untuk menghidupi diri. Jadi aku kurang paham fungsi pajak yang disetor masyarakat untuk membiayai pembangunan. Akupun tidak tahu, adakah pajak bumi dan bangunan dan pajak penghasilan yang disetor para petani sawit itu ? Kalaupun mereka membayarkannya, seberapa banyakkah yang kembali ke daerah dalam wujud pembangunan dan non pembangunan untuk mereka dan masyarakat sini?

Melewati jalan-jalan tanah dan melintasi rumah-rumah panggung yang berjarak satu dengan lainnya dengan kondisi yang menyedihkan (kalau menggunakan standar rumah sehat pemerintah), membuatku kembali bertanya, apakah pemerintah pusat tahu bahwa ada daerah terpelosok yang gelap semalaman? Apakah para production house pernah memikirkan dampak dari tayangan sinetronnya yang ‘ampun deh, gak masuk akal’ ke daerah-daerah pelosok yang haus hiburan ? Apakah keberagaman status sosial ekonomi masyarakat ini disadari keberadaannya, kemudian akan disamakan dengan penduduk kota, atau dihapuskan ? Apakah masyarakat dibiarkan tanpa listrik sementara mereka dihimbau untuk membayar pajak ?

Tapi biar  begitu, orang-orang berbicara Bahasa Indonesia (tentu juga dengan bahasa ibunya-Bugis, Bone, Jawa, Bali), menyanyikan lagu Indonesia Raya dan memasang bendera Merah Putih saat tujuhbelasan, menggunakan mata uang rupiah, dan ikut pemilihan umum. Jadi ini masih Indonesia juga lah. Ya, dalam tataran kewajiban warga negara, mereka merasa sebagai bagian dari Indonesia. Namun apakah kewajiban itu sudah terimbalbalikkan dalam hak pendidikan dasar berkualitas, pemenuhan kesejahteraan, dan fasilitas kesehatan yang memadai? Aku belum tahu. Yang pasti, kami mesti merujuk ke Palu (4 jam perjalanan dengan mobil) jika ada yang sakit parah. Inilah Indonesia. Dan aku kagum pada pemuda Indonesia yang berani mengikrar Sumpah Pemuda 1928. Bisa-bisanya, jarak ribuan mil, taktahu kondisi seperti apa, mengaku bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa Indonesia. Luar biasa. Bagaimana teriakan Soekarno-Hata menggelorakan orang-orang di pelosok untuk mengaku sebagai Indonesia? Atau jangan-jangan mereka tidak tahu identitasnya,  tidak tahu apa-apa, dan ikut saja untuk merdeka? Kalau saat ini kondisinya demikian minim, lalu bagaimana saat Belanda masih menjajah nusantara ya ? Ah, ini benar-benar Indonesia Raya.

Maka kemudian timbul pertanyaanku, yang kupikir sangat logik, apakah mereka, di Jawa, di Jakarta pernah memikirkan eksistensi kami yang ada di daerah? Di manakah posisi orang-orang ini dalam pembangunan; sebagai objek, pelaksana perintah pusat, atau sekedar pengirim hasil bumi ke pusat ? Ini juga persoalan keberagaman.

Di pasar, aku bertemu penjual beras dan telur ayam yang berjualan di atas truk. Ada juga pedagang sayur yang menjawab pertanyaanku dengan bahasa Jawa. Ternyata dia transmigran dari Banyuwangi. Awalnya aku sering protes pada suamiku, mengapa dia berbahasa Jawa di Sulawesi? Ternyata kutemukan bahwa banyak orang Jawa di sini yang saling bercakap dengan bahasa Jawa. Aku taktahu bagaimana perasaan orang Mandar, Bugis, atau Bone mendengar orang-orang bercakap Jawa di tanah Celebes.

Karena hanya ada 2 hari pasar di kawasan ini, maka beberapa pedagang berjualan keliling dari pasar satu ke pasar lain sesuai hari pasarnya. Dari yang kujumpai, sang  penjual sayur, penjual plastik, alat dapur, beras, dan kosmetik, konsisten berkeliling dari pasar ke pasar menyambangi penduduk yang membutuhkan barang mereka. Jangan ditanya harga barang dari Jawa ya. Aku yang dulu membandingkan harga dari supermarket ke supemarket, sekarang pasrah saja membeli barang di pasar. Tidak ada pilihan lain, sementara ongkos transportasi jelas mahal.

 

beli beras dan telor langsung dari truknya

 

 

pasar,hanya buka hari selasa dan jum'at

 

Jadi, kalau bicara tentang keberagaman, wah kurang apa daerah ini. Kalau Jogja sering mengklaim sebagai Indonesia mini yang dipenuhi pelajar se Indonesia raya, menurutku ada satu kekurangan Jogja. Keberagaman Jogja terpusat pada level pelajar/mahasiswa. Identitas itu cukup menegaskan tingkat pendidikan orang-orang yang memacu hidup di kota pelajar. Maka, kalau muncul problem  atau konflik, pasti terselamatkan oleh atmosfer pendidikan, kekuatan kultur dominan Jawa,  keberadaan kraton, juga situasi yang melatih dan mengkondisikan orang untuk bersikap terbuka (diskusi, pameran, dialog, dll). Di sini? Di tempatku berada saat ini ? Hmm.. di sinilah tantangan keberagamaman Indonesia raya sesungguhnya.

Dalam iklim akademik, aku belajar terma konflik, perdamaian, multikulturalisme, dan demokrasi. Indah rasanya membuka buku teks, membuat paper, berdiskusi, dan melakukan aksi yang terkait kajian tersebut. Sungguh sistematis, membuat kerangka pikir untuk kemudian melanjutkan dengan ‘apa yang bisa kita lakukan’, meski bacaan dan pengalaman minim. Tapi ada kekuatan roh komunitas dan organisasi yang memungkinkan segala hal (yang mungkin awam bilang nggak penting, mengada-ada, atau bahkan tidak perlu) dilakukan. Kami belajar tentang pencegahan konflik, transformasi konflik, lalu pemberdayaan dan community development (sungguh seksi terma-terma ini) sebagai jalan keluar untuk konflik. Di kampus, kajian konflik kerap kali terpusat pada konflik agama dan etnis, tapi selama aku di sini, tampaknya bukan itu yang jadi pokok masalahnya.

Di sini, di bumi Indonesia yang bahkan tak tertera di peta, yang tak ada referensi tentang tempat ini kecuali kau datang langsung menjumpai, keberagaman itu bukan lagi masalah agama dan etnis. Ya, pada 2 hal itu memang ada perbedaan dan itu pasti. Tapi, keberagaman tertera pada masalah kebiasaan, cara pandang, pola pikir, kedewasaan, kemampuan menerima diri dan menghargai orang lain, dan yang pasti keterbukaan atas keberbedaan. Susah lo, menerima cara bicara orang dengan logat tinggi. Rasanya kita terepresi tiap hari. Susah juga menghadapi orang yang selalu bergosip dan bermuka masam tentang apapun kebijakan yang diputuskan bersama. Tak mudah juga menerima sistem atasan-bawahan (meski bukan kau yang bekerja dalam perusahan) beserta efek yang timbul atasnya. Belum lagi perbedaan pemikiran yang diredam dan disatukan atas nama kemaslahatan. Ah, keliaran dan kreativitasmu bisa tumpul duluan.

Aku merasakan perbedaan das Sein dan das Sollen atas toleransi, dan ini membuatku gelisah. Lalu kubuka buku Konflik keluaran British Council, buku Living Values for Children, dan kisah segar Toto Chan. Di sana aku berkaca, apa sih kebenaran itu ? Sejauh mana kita dapat mentolerir perbedaan ? Sampai di level mana toleransi berjalan ? Apakah mutual understanding itu ada? Bagaimana berdamai dengan keberagaman dan bagaimana merayakannya ?

Makan coto makasar, gado-gado, atau pizza, menurutku belum bisa dikatakan merayakan keberagaman. Menikmati dendang Waljinah, hentakan musik Balawan, atau tepukan rebana, itu juga kulit luar keberagaman seperti halnya display Taman Mini Indonesia Indah. Merayakan keberagaman berarti kamu dengan fair dan penuh kesadaran mau dan mampu menerima orang-orang dengan berbagai cara berfikir, berbagai level keterbukaan, berbagai status sosial ekonomi, untuk tertawa bersama dan tidak saling berprovokasi. Kondisi ini harus 2 arah, bukan hanya kamu tapi juga partner, musuh, dan lawan bicaramu, mesti mampu merasakan atmosfer kesetaraan itu untuk kemudian saling menghormati dan rela menertawai diri sendiri beserta segenap identitas yang melekat. Tanpa pretensi dan tanpa tekanan, apalagi ancaman. Mudah dituliskan dan dirumuskan ya. Tapi sulit bukan main diimplementasikan. Kan memang dunia ini diciptakan dengan sekat dan kelas sosial ya. Ada yang jadi bos, tukang sapu, kabag keuangan, juga penyiar tv. Ada orang yang mampu menciptakan peluang di antara keterbelakangan.  Ada yang terhempas dan takluk.  Ada yang pikirannya terbuka, tapi taksedikit yang tertutup dan menganggap kebenarannyalah yang paling benar.

Jadi, Indonesia itu memang sangat besar, ratusan etnis, jutaan orang, ratusan cara berfikir, ratusan kebodohan dan kesalahpahaman, ratusan kecerdasan dan spirit berjuang, ratusan dialek bahasa dan jenis kebiasaan, ribuan resep masakan dari Aceh sampai Papua, belum lagi sumbangan pada diaspora Indonesia di seluruh dunia. Negeri ini bukan hanya Jawa dan Jakarta, dan problemnya bukan hanya politik, korupsi dan skandal, tapi negri ini memiliki warga negara yang terstratifikasi oleh region, pendidikan, status sosial, dan ekonomi. Keberagaman Indonesia sungguh komplet, maka tentu butuh banyak formula untuk mensikapi dan mengelola keberagaman.

Kalau kau melawat ke Eropa, kendaraan akan memberimu kesempatan untuk menyeberang jalan. Otomatis mereka akan berhenti. Kau akan jadi orang aneh jika menyeberang bukan di zebra cross atau asal membuang sampah. Kaku ? rigid ? ya. Ada sistem yang mengatur untuk keteraturan yang ditaati bersama. Tapi dasar konstruksi otakku terlanjur Indonesia, muncul pikiranku bahwa mereka seperti robot  yang kaku dan tidak fleksibel, kurang fruitfull. Sementara Indonesiaku sungguh berwarna warni dengan orang-orang yang  ke kanan-kiri di sana-sini, suka tunduk tapi suka juga  terobos peraturan, sementara sistem belum terbangun dengan bagus. Sungguh ini tantangan  untuk keberagaman, kita mesti cari cara penanganannya sendiri. Belum tentu formula Eropa atau Amerika cocok untuk Indonesia, dan kuyakin, pasti ada kekuatan lokal yang bisa menjadi penggerak untuk memberikan penghormatan satu sama lainnya.

Manusia itu co existance adanya identitas aku karena ada identitas kamu, yang saling kita akui. Namun itu masih kurang, kita masih perlu pro existance untuk saling bersinergi. Apa yang kauanggap benar belum tentu itu benar, demikian pula kebenaranku belum tentu jadi kebenaranmu. Tapi mari, kita hormati dan hargai kebenaran-kebenaran ini karena kita tidak berhak menjustifikasi, mengasingkan, bahkan membunuh kebenaran-kebenaran pinggiran. Kata pemikir posmodern, ada petite narration (narasi-kebenaran kecil) di luar grand narative (narasi besar) yang jadi kebenaran umum/mainstream.

Inginnya aku bisa berkorespondensi dengan Gandhi, Galtung, Tito, dan Mpu Tantular. Mereka, dengan pikiran jernih (mungkin sedikit emosional juga), mau memikirkan dan merumuskan keberagaman dengan memperhatikan konteks masanya. Apa kata mereka tentang resolusi konflik ?  Apakah terma melting pot dan salad bowl bisa diimplementasikan untuk menyatukan Indonesia ? Apakah  keJawaan, kekristenan, atau keperempuanan kita dihargai utuh atau dengan dasar stratifikasi kelas sosial ekonomi? Apakah kau eksis karena status sosial ekonomimu, atau kau eksis sebagai manusia yang utuh, yang punya multipel identitas?

Aku juga ingin berbincang dengan Bourdieu, dengan pikirannya yang njlimet tentang field/medan perjuangan, ingin kutanya bagaimana cara menghidupi hidup dengan materi sembari menghidupi otak untuk berpikir liar, membaca sistem dan struktur di sekitar. Lalu akan kutanyakan padanya, bagaimana keliaran pemikiran posmodernis ini dapat diimplementasikan di masyarakat, di negeri Indonesiaku ini.

Oh ya, satu lagi, dan kupikir ini menarik. Di tempatku berpijak kini ada acara ‘kapurungan’. Kapurung adalah sayur sehat ala Sulawesi, berisi segala sayuran (jantung pisang, kangkung, pakis, terung, kacang panjang, dll) dipadu ikan laut dan kacang yang ditumbuk, disantap dengan kuah panas, dan sagu yang digulung. Pada kesempatan kapurungan itu kami masak bersama, mencecap pedas sambal terasi dan segarnya jeruk nipis, mengunyah sayuran dan meresap kuah ikan dan sayur, sembari memperbincangkan segala hal, dari yang serius hingga yang menggelisahkan. Mungkin ini semacam cara lokal untuk manajemen konflik dan merayakan keberagaman yang tidak melibatkan pemerintah dan aparat tentu saja. Tapi entah kenapa, para bapak-bapak, jarang ada yang mau makan kapurung. Apakah ini berarti konflik lebih mudah terjadi dan diselesaikan oleh para perempuan karena ada kebutuhan bersama yang harus dihidupi? ah, entahlah…

 

kapurung

 

Melting pot (bahwa persatuan ditandai dengan meleburnya identitas rupa-rupa dalam 1 identitas utama -dalam konteks ini Amerika dan bungkus American Dream)

Salad bowl  (bahwa masing-masing identitas eksis- ada selada, tomat, wortel, kacang polong, yang disatukan oleh dressing)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s