Kemewahan Internet di Pelosok Negri

Sejak pindah mukim di pelosok Sulawesi Barat, di tengah kebun sawit dan tepi pantai, internet jadi temanku untuk menjelajah dan update informasi. Keluarga kecil kami memutuskan untuk belum membeli tv, secara, sebelum menikah dan pindah, aku sendiri jarang menonton acara tv selain channel tv berbayar. Di sini internet bisa diakses dengan menggunakan provider telepon. Maka sebagai bekal, suamiku membeli modem dan antena penguat sinyal yang dipasang di dalam ruangan. Antena ini sangat membantu, mengingat jaringan begitu terbatas dan lokasi di pelosok.

tower BTS di tengah kebun sawit, penopang komunikasi masyarakat transmigan di daerah Bulumario

Aku cukup kaget berhadapan dengan kondisi di sini. Suatu lokasi yang menunjukkan keberagaman Indonesia raya, mulai dari kebiasaan, adab, etnis, agama, hingga cara berfikir. Listrik pemerintah yang belum masuk desa membuat masyarakat mesti bergabung untuk berlangganan genset yang menyala di sore hingga pagi hari. Jam 7 pagi, genset mati dan demikian pula aliran listrik. Dalam kondisi demikian, keberadaan tv di malam hari benar-benar menjadi penghibur. Masalahnya, prime time tv diisi sinetron dengan ceritanya yang ‘susah dimengerti’. Terpikir bagaimana gagap masyarakat yang sehari-hari berurusan dengan ikan, kebun sawit, kebun coklat, kopra, atau kebun jeruk, tiba-tiba menonton dan menikmati dunia di seberang sana lewat kotak televisi.

Dengan memperhatikan kondisi tersebut, mungkin di kawasan ini, aku dan suami termasuk yang paling sering bersentuhan dengan internet. Dengan stabilnya sinyal (kecuali saat benar-benar no network coverage), aku yang masih beradaptasi dengan sistem sosial masyarakat sekaligus bergabung dengan lingkungan yang sungguh baru, membutuhkan bantuan internet untuk survive. Internet seperti menghadirkan dunia lain selain urusan ibu-ibu untuk belanja dan masak-masak, atau arisan dan kegiatan sosial. Lewat internet ini, aku bisa menemukan resep cheese stick, meskipun gagal dalam prakteknya. Aku pun terbelalak saat menyaksikan betapa banyaknya situs resep. Dengan online, aku jadi tahu sejarah munculnya provinsi Sulawesi Barat. Lewat online pula, aku mengikuti perkembangan Merapi dan menemukan lembaga yang bisa dipercaya untuk menyalurkan bantuan. Internet pun memungkinkanku berkomunikasi dengan teman-teman di Jogja, di Korea, dan segala penjuru dunia, hingga rasanya duniaku tidak sesempit di kebun. Lewat layanan internet pula, aku bisa membaca koran ibu kota yang dulu biasa kulahap setiap hari, karena tidak ada koran yang masuk ke tempat ini. Mungkin juga biaya kirimnya jauh lebih besar daripada harga koran ybs, plus segmen pembacanya tidak ada.

Mengingat keberadaan tv yang menghadirkan dunia lain seperti yang kutuliskan di atas, keberadaan internet, jika tidak dibekali dengan pemahaman fungsi dan kebutuhan, bisa jadi begitu memabukkan. Betapa tidak, keberadaan telepon seluler yang ramai menjadi genggaman setiap orang di sini, mampu merubah pola komunikasi masyarakat. Tak tanggung-tanggung, telepon seluler yang digunakan merupakan keluaran terbaru, meskipun masih sebatas difungsikan untuk games, sms dan telpon saja. Baru-baru ini, keberadaan facebook via telepon seluler membuat orang-orang rajin upload status, dan mereka pun kerapkali menggunakan bahasa alay yang susah dibaca.

Apabila internet menjadi produk massal yang menjangkau daerah transmigran di sini, kupikir mesti ada persiapan atau paling tidak internet education untuk anak-anak sekolah (SD-SMP, jarang ada anak SMA di sini), juga orang tua. Saat memasukkan kata kunci untuk search, sangat mungkin keluar tawaran untuk membuka artikel/gambar porno yang memang difungsikan untuk pamer (bukan pendidikan). Sungguh berbahaya jika anak-anak sekolah –yang rasa ingin tahunya besar- memilih membuka laman tersebut daripada mencari artikel tentang ‘matematika’, misalnya. Internet masuk kebun, tentu akan merubah sistem sosial dalam masyarakat, termasuk pola pikir generasi muda, dan ini lambat tapi pasti, akan terjadi.

Terkait dengan pendidikan, kondisi pendidikan di sini masih tertinggal dibanding di kota kabupaten. Para orang tua biasanya mengirimkan anaknya untuk SMP/SMA di kota kabupaten, atau bahkan ibu kota lintas propinsi. Ada SD inpres yang menjadi rujukan sekolah, namun (tidak ingin mendiskreditkan sesuatu), aku takjub menemukan bahwa anak kelas 4 SD masih kelelahan membaca buku cerita bergambar yang kubawa. Di kota, buku seperti itu untuk konsumsi anak kelas 2 SD! Pun saat sang anak membaca keras buku itu, kudengar suaranya terbata dan terkadang salah membaca. Saat kuajak menulis, tak jarang ada salah kata. Ya, anak-anak lebih suka melihat gambar dan bertanya ‘Ini apa?’ daripada membaca dan bereksplorasi sendiri.

Terbatasnya sumber informasi (buku) sebagai salah satu sumber pendidikan di daerah pelosok ini, sesungguhnya membuka peluang yang besar untuk internet, mengingat internet bisa menghadirkan segala informasi dengan warna-warni dan komplet, dari dokumen rahasia Wikileaks, game online, modul pelajaran gratis, hingga harga sawit di pasaran dunia. Terlebih lagi, daerah ini merupakan lokasi transmigrasi dari Jawa, NTT, Bali, Toraja, Mandar, Bugis, yang hidup bersama. Jika saja jaringan internet bisa masuk dan bisa diakses masyarakat dengan bertanggungjawab, maka kekhawatiran ketertinggalan untuk pendidikan anak-anak bisa diminimalisir. Kami pun berhak mendapat teknologi informasi, seperti halnya orang-orang di kota.Internet sungguh bisa jadi jendela untuk melihat dunia luar, selain kesibukan mencari ikan gabus dan belut di parit. Internet bisa jadi jendela untuk menemukan bahwa Indonesia begitu luas dan ada banyak kemungkinan untuk mengembangkan diri, selain fakta bahwa kopra dan kelapa sawit menjadi masa depan penghidupan.
Untuk itu, kurasa aku perlu menuliskan beberapa poin yang menunjukkan bagaimana internet dapat menjadi rujukan informasi yang sehat bagi masyarakat di daerah pelosok seperti tempatku berada kini :

– Anak-anak perlu dikenalkan dengan komputer dan menjadi familiar dengannya, selain untuk fungsi game. Setelahnya, internet, yang dioperasionalisasikan dengan komputer menjadi satu pintu masuk ‘pengetahuan’.

– Anak-anak, remaja, dan orang tua perlu dikenalkan apa itu internet sesungguhnya, apa fungsinya, dan apa bahayanya. Demikian pula, bagaimana cara menggali informasi melalui internet, bagaimana cara menyimpan dokumen dan menggunakannya dengan bijak. Dengan mengetahui resiko dan benefit, dan saling check and recheck, fungsi negatif internet bisa diminimalisir.

Internet menunjukkan masalah cara pandang. Bagaimana kita memandang dan memfungsikan internet, apakah sebagai sumber informasi, teman yang membuka segala kemungkinan lewat perkembangan di dunia lain, atau untuk update status facebook dan beri koment di tweeter. Lewat pilihan cara pandang yang tepat, internet bisa membuat kita unggul di depan dalam hal informasi dan teknologi,di manapun kita berada, di tengah kota maupun di pelosok negri.

– Maksimalisasi teknologi. Banyak layanan internet yang belum difungsikan, atau justru difungsikan untuk hal buruk. Yah, ini seperti Alfred Nobel yang menemukan dinamit sebagai perkembangan pengetahuan dan teknologi, namun pada perkembangannya sang temuan justru digunakan untuk menghancurkan negara lain yang dianggap musuh. Demikian pula internet. Bisa jadi alat merusak moral, namun bisa menjadi alat untuk mengentaskan diri dari ketertinggalan. Mengetahui berbagai layanan internet akan membuat kita unggul

Untuk itu, mari kita gunakan internet untuk membuka cakrawala. Sebagai barang mewah di sini, internet mesti dimaksimalisasikan secara positif. Aku sendiri jadi terpacu untuk menuliskan temuan-temuan serta pertanyaanku seputar Bhinneka Tunggal Ika di sini untuk kemudian menjaganya di laman internet. Rasanya, banyak orang yang perlu tahu bagaimana Indonesia raya di luar Jawa, bagaimana terbatasnya infratruktur di luar Jawa, serta bagaimana beda cara pandang orang (yang berada di ) luar Jawa dan orang (yang berada di) Jawa. Jika buku, tv, majalah, jurnal, koran tidak sampai memberikan informasi seputar kehidupan di pelosok negri, dengan banjir yang selalu muncul saat hujan deras turun, penyedap rasa yang menghiasi setiap dapur, atau sapi-sapi yang berkeliaran di jalan, maka aku akan memulainya dengan memberi informasi tentang hidup di sini, lewat blogku ini…

15 thoughts on “Kemewahan Internet di Pelosok Negri

  1. Berandal Lokajaya says:

    indonesiah bukan hanya jawa wakakakakaka…..,betul itu….,mari mari menjelajahi nusantara…., meski cuman dengan jaringan GPRSnya provider selular yang brani beriklan dah punya BTS yang menjangkau seluruh kecamatan di indonesia…….., meski sinyalnya timbul tenggelam menembus pegunungan yang berkelak kelok seperti punggung ular, menghantarkan informasi tak terbatas melalui atmosfer di sekitar kita, gunakan modemmu tuk menyerap semua informasi itu, sama seperti paru-paru mengisap oksigen dari udara…,tingkatkan kapasitas paru2mu, naikkan bandwidthmu,halah…

    • wah wah… kata pak berandal lokajaya, alamatnya terlalu mencit, bisa jadi gak sampai deh hadiahnya gara-gara di sini nggak ada kantor post (ampun deh… indonesiaku…)

  2. maju terus sarudu sya juqa asalnya dri sano lo bqaimana psar bmbaloka skarng trhir sya k sna thn 1999.kka sya msi di sna tpi sya kurang lbih 10thn sda ga perna ksna wlaupun sya sda 8 thn di balikpapan tpi sya ttp inqat kmpng klahiran sya apa karebata sarudu.maju trus sulawesi barat.

    • halo bang aswi.. salam kenal … maklum, modem rusak.. jadi jaringan internet terputus. musti ke jawa dulu beli modem dan melanjutkan ngeblog….. thanks ya

  3. halo mba heni aku irsan mba aku masi di balikpapan aku mau nanya mba perna ga ke kapoho mba kapan2 kesana tolong mba mampir di tempat kaka aku mba di sana namanya kaka aku hapia dan ida nama anaknya eli alias ligo. di kapohu desa baras simpang sipur.kasi tau salam dari adiknya di balikpapan kalau bisa mintakan juqa no hpnya.

  4. wah wah, kangen kampung halaman ya? tulis surat aja dulu pak.. (lewat palu dulu ya, baru disambung ke baras)… kalau ke palu atau salukaili memang lewat baras, tapi tampaknya kami belum kenal lebih jauh dengan lika-liku baras dan penduduknya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s