Berbagi Jaringan Komunikasi Untuk Kaum Diasporik di Tanah Sabrang

Sekompi pasukan di Qatar diserang robot luar angkasa. Jaringan komunikasi rusak total, sementara prajurit harus menghubungi pusat komando di Pentagon untuk meminta bantuan. Walhasil, dengan meminjam ponsel milik rakyat jelata, sang prajurit bisa berkomunikasi dengan pusat komando di Amerika sana. Dalam hitungan detik, keputusan diambil dan Pentagon segera mengirim pasukan penyelamat. Ini cuplikan film Transformers (Paramount & Dreamworks, 2007). Kalau disetting dengan kisah Indonesia, sepertinya sang prajurit mesti naik bukit untuk mendapat sinyal, bahkan mungkin jaringan seluler kalah oleh merpati pos.

Sketsa lain, di pelosok Satuan Pemukiman (SP) 3, di kawasan pemukiman transmigran Kecamatan Sarudu, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat, Indonesia, ditemukan sumur minyak yang potensial untuk dieksplorasi. Karena temuan ini, operator minyak bumi dari Eropa memutuskan berekspansi di wilayah yang bahkan belum tersentuh listrik negara. Maka kaum diasporik Jawa, NTT, Lombok, Bali, dan native Sulawesi pun terbelalak menyaksikan tempat hidupnya memiliki kandungan minyak bumi yang melimpah.

Melipat Ruang dan Waktu melalui Ponsel

Bagaimana kekuatan informasi dan teknologi mendukung percepatan tugas manusia dalam menentukan keputusan dan berperan dalam pembangunan ? Bagaimana komunikasi antar manusia antar benua bisa terhubung dan meyakinkan investor swasta luar negeri untuk melakukan eksplorasi di kawasan yang bahkan ‘terlupakan’ oleh pusat ?

Kini adalah masa dimana manusia mengerjakan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan untuk mencapai hasil yang lebih cepat dan tepat. Sembari melawan robot luar angkasa, prajurit bisa menelepon pusat komando untuk meminta bantuan. Sembari cek lapangan melihat sumur minyak, supervisor bisa browsing alat berat untuk eksplorasi tambang, dan berhubungan dengan kolega di Italia. Inilah masa dimana sang pemenang adalah orang yang bisa melipat waktu dan ruang untuk mendapatkan dobel keuntungan. Operator seluler memegang peranan penting dalam melipat waktu dan ruang tersebut, mengingat keluasan akses dan daya jangkaunya yang melebihi layanan telpon kabel di manapun dan kapan pun.

Seluler dan Jaringannya: Alat Modern Segala Etnis

Berada di kawasan yang jauh dari kota, di pelosok Sulawesi Barat, seperti layaknya meneropong pedalaman nusantara. Sepertinya ini bukan Indonesia. Meski menggunakan rupiah, berbahasa Indonesia, dan anak-anak bersekolah di SD Inpres, rasanya Jawa begitu jauh. Jawa selalu membuat cemburu pulau-pulau lain mengingat pembangunan nusantara masih jauh dari kata merata sementara rakyat bekerja serasa tanpa bantuan negara. Di daerah yang baru saja mengalami pemekaran kabupaten ini, belum ada jaringan telepon kabel. Listrik pemerintah pun belum masuk. Masyarakat secara swadaya berlangganan genset dengan sistem komunal. Tiap keluarga membayar kurang-lebih 275.000 rupiah per bulan dan menikmati listrik jam 6 sore hingga 6 pagi di tiap hari. Genset menyala malam hari untuk menerangi gulita malam dan memberi hiburan lewat tv.

Praktis, di sini, komunikasi jarak dekat dan jarak jauh ditopang oleh jaringan GSM seluler. Sebagai jalan keluar atas minimnya fasilitas publik, telepon seluler menjadi ‘alat modern’ yang dimiliki segala etnis dari berbagai ranah pekerjaan. Mulai merk Cina hingga merk Finlandia, semua ada di sini. Dari ponsel yang perusahaannya sudah gulung tikar hingga perusahaan yang rajin membuat inovasi produk, ada di sini. Masyarakat pun melek mode telepon seluler terbaru. Mungkin ponsel menjadi sarana pemuas kebutuhan setelah tv, apalagi  televisi (yang hanya dinikmati malam hari) dengan gencarnya menayangkan iklan-iklan ponsel dan operator seluler. Dan ternyata, dari sekian bentuk dan merek ponsel di kantong masyarakat, hanya ada satu operator seluler sebagai penghubung.

Di kawasan ini, hidup bersama transmigran asal Jawa Timur, NTT, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah, yang berjuang hidup dengan perkebunan dan perdagangan. Mereka adalah pendatang yang sudah sekian generasi meninggalkan kampung halamannya untuk mencari penghidupan di tanah sabrang. Mbak Yayuk, pernah bertransmigrasi ke Lampung di perkebunan karet, namun karena kurang berprospek, keluarganya pindah ke Sulawesi Barat dan berkebun sawit dan kakao. Mas Yono- suami Mbak Yayuk, asli Kulon Progo,  bermigrasi ke Banyuwangi, Jawa Timur, dan akhirnya transmigrasi ke Sulawesi Barat. Anak mereka berbicara Bahasa Indonesia dengan logat lokal. Ada juga Pak Wagiman, dari Banyuwangi yang bertransmigrasi sejak 1991 di perkebunan sawit. Tujuh anaknya ikut pula transmigrasi. Mereka tidak pernah datang ke Jawa untuk menengok keluarga. Dan tak terhitung lagi diaspora campuran Bone-Jawa-Bugis-Mandar-NTT-Bali yang beranak pinak, bertali temali dalam jalinan keluarga sebagai sesama perantau.

Keberagaman asal muasal dan budaya masyarakat trans ini tentu menjadi peluang yang bagus bagi perusahaan telekomunikasi. Ada pasar yang pasti, yakni dari transmigran yang sejak awal ada di sini untuk berusaha hidup dan bekerja. Mereka adalah kelompok-kelompok yang terpisah oleh kampung halaman dan hidup komunal maupun menyebar dalam lokus budaya tertentu. Mereka  memiliki keluarga di Jawa, NTT, Bali, Toraja, Bone atau Palu, dan mempertahankan budayanya sembari berasimilasi dengan budaya lokal. Jaringan telepon seluler tentu membantu kantong-kantong budaya ini dalam berakulturasi. Jaringan telepon seluler pun berfungsi penting dalam menjaga hubungan para transmigran dengan keluarga di tanah asal.

Penghubung Keluarga di Mana Saja

Pak Bambang, yang bertemu jodohnya di perkebunan sawit 15 tahun yang lalu, asli dari Kaliurang, Jogja, keluarganya mengungsi saat Merapi mengeluarkan wedhus gembel November 2010 lalu. Tanpa ada jaringan telekomunikasi seluler, mustahil dia dapat mengkontak keluarganya di Jawa dan memastikan mereka mengungsi ke tempat yang aman. Ada pula Pak Lukas, yang mengirim anaknya untuk kuliah di Jogja. Meski belum pernah menginjakkan Jawa, Pak Lukas yang asli Toraja ini mempercayakan anaknya untuk kuliah di kota pelajar dengan mandiri. Ongkos perjalanan ke Jawa mahal dan melelahkan, jalan darat ke bandara terdekat 5 jam, lalu dilanjut dengan pesawat terbang yang transit di 2 bandar udara. Maka melalui jaringan telepon seluler saja, tanpa menengok ke Jawa, ia memastikan anaknya kuliah dan bergaul baik-baik.

Saat hari besar Idul Fitri, Natal, dan Galungan, misalnya, telekomunikasi via ponsel menjadi jalan penghubung antar keluarga dari dan ke Bali, Jawa, dan NTT. Berapa rupiahpun akan dikeluarkan untuk dapat berhubungan dengan keluarga di tempat asal. Bila sedikit cerdik, lewat  menghubungkan ponsel dengan laptop, bisa membuat kita temu muka dengan keluarga dan kolega dengan yahoo messenger atau skype. Layanan SMS, telepon, maupun sambungan internet akan dapat membuat daerah ini tak lagi terasa sebagai pelosok Indonesia, namun seperti di kota saja.

Isi Pulsa Sembari Beli Minyak Tanah

Daerah pedalaman dan perbatasan juga memiliki potensi yang besar, mengingat sektor perdagangan maju pesat. Selain komoditas hasil laut, kopra, jeruk, sawit, dan minyak bumi, ada komoditas barang pasar yang tiap hari dikonsumsi, misalnya saja minuman kaleng, kecap, terasi, mie instan, pembalut wanita, hingga permen, yang diproduksi pabrikan di Jawa baik oleh MNC maupun perusahaan lokal. Pasar tradisional yang selalu ramai pada 2 hari dalam seminggu. Kios-kios kelontong yang harus menyalakan pelita saat matahari terbenam pun, banyak bertebaran di ruas jalan. Seperti layaknya penjual pulsa di tepi jalan di kota-kota, spanduk bertuliskan operator GSM direntangkan dan masyarakat secara berkala membeli pulsa untuk ponselnya. Isi pulsa menjadi komoditas baru yang terus dibutuhkan masyarakat, mengingat meningkatnya kebutuhan untuk berkomunikasi. “Sepuluh tahun yang lalu, tidak terbayang akan menenteng handphone,” tukas Pak Martinus, yang bekerja di pabrik kelapa sawit.

Maka kini, selain belanja sayur mayur, ikan, dan minyak tanah, masyarakat juga membeli pulsa sebagai bagian dari kebutuhan pokok. Medan yang berbukit, perjalanan panjang antar kota antar propinsi, membuat keberadaan jaringan telekomunikasi demikian dibutuhkan. Pasti ada banyak daerah di Indonesia yang kondisinya seperti di sini. Perang provider yang tampak di TV sering kali menampakkan seolah hanya Jawa dan kota besar di Indonesia sebagai pasar yang bagus untuk jaringan seluler. Langit-langit Jawa sudah penuh dengan stasiun transmisi yang bahkan dipasang di kawasan pemukiman penduduk. Di sini, tersedia bukit-bukit yang strategis untuk tempat memasang transmisi, dan masyarakat menanti jaringan untuk membuatnya tetap terhubung dengan luar daerah.

Menanti Stasiun Transmisi di Lereng Bukit

Masyarakat, petani sawit, jeruk, dan kakao, adalah warga negara Indonesia juga. Ber-KTP Indonesia dan turut serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sebagai warga negara Indonesia, masyarakat juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses komunikasi yang baik, seperti halnya saudara-saudara di Jawa. Ini semestinya menjadi tanggungjawab pemerintah. Namun apabila pemerintah belum dapat memberikan akses yang baik, maka elemen swasta dapat berperan untuk melayani masyarakat. Hampir setiap keluarga memiliki ponsel, jika bukan orang tua, maka anak mudanya di usia sekolah. Apalagi kebanyakan orang tua mengirim anaknya sekolah SMP-SMA di ibukota propinsi tetangga, demi mendapat pendidikan yang lebih berkualitas. Maka tentunya panggilan telekomunikasi akan makin banyak setiap harinya.

“Mak, kimiaku dapat 8!” teriak Mega dari Makassar kepada Mamaknya di Mamuju Utara. Sang Mamak yang asli Sunda pun terharu dan berkaca-kaca mendengar anaknya yang jauh-jauh disekolahkan dapat bertahan di SMA kota. Itulah kebahagiaan orang tua mendengar kabar bahagia dari sang anak, hingga ponsel blackberry pun ada di saku rok abu-abu.

“Kalau pecahan, penyebutnya disamakan dulu…Iya..iya… yang bawah…” teriak Mamak Romi pada anaknya yang kelas 2 SMP di Makasar. Satu hari satu malam perjalanan khusus ke sana. Maka hampir setiap malam perempuan Bali ini memerlukan menelepon anaknya yang dititipkan pada kakaknya di kota besar itu untuk memastikan Romi dapat mengerjakan pekerjaan rumah.

Bayangkan, jika satu keluarga memiliki 2 ponsel, untuk 50 KK, ada 100 ponsel, yang artinya 100 line komunikasi melalui operator GSM yang sama. Jika tiap bulan menghabiskan 50.000  untuk isi ulang, kita tinggal mengalikan untuk sekian KK dan keuntungan mengalir pada operator seluler, sekaligus memberi penghidupan pada penjual pulsa di kios. Kalau saja ada pemain baru yang masuk, tentu akan membuat persaingan makin baik, dan masyarakat pun akan diuntungkan karena terlayani. Orang tua tenang mendengar kabar anaknya, dan demikian pula sebaliknya, melipat ruang dan waktu di segala penjuru nusantara, sungguh indah bukan ?

***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s