Unsafety Riding, Kota, Desa Tetap Sama

Jogja macet. Motor merajai lalu lintas dengan pergerakannya yang masif, ngebut, dan menerobos celah-celah sempit. Saat lampu lalu lintas menyala merah, tampak bagaimana liak-liuk motor menerobos celah untuk mendapat ruang depan demi menjadi yang pertama melaju terdepan. Harapannya apalagi kalau bukan segera sampai di tujuan dan keluar dari aroma tak sedap lalu lintas yang panas dan tidak nyaman. Kendaraan-kendaraan pun saling meringsek maju karena tidak mau dikalahkan. Klakson-klakson bersahutan saat lampu hijau menyala tapi kendaraan tak kunjung  bergerak maju. Tak jarang umpatan-umpatan terlontar demi mengekspresikan kekesalan atas perilaku pengguna jalan lainnya. Kecelakaan lalu lintas pun kerap terjadi, dengan sebagian besar korban adalah usia produktif (SMA-mahasiswa).

Ternyata, suka atau tidak suka, apapun tingkatan pendidikannya, mau SMP, SMA, mahasiswa, cara mengendara motor para pemukim di Jogja bisa dikatakan berbahaya dan kurang santun. Kucari asal muasal perilaku ini, ternyata ketidaktahuan tas konsep ‘jalan’ dan ‘pemilik jalan’ adalah jawabnya. Di sisi lain, ada edukasi yang keliru dari orang tua pada anaknya tentang kendaraan bermotor. Bahwa naik motor dan mobil merupakan ‘kenaikan kelas’ bagi anak yang sudah bisa mengendarai sepeda, tanpa bekal bagaimana asal muasal konsep kendaraan tersebut.

Fragmen kedua. Di jalan trans Sulawesi, Pasangkayu-Sempo, Mamuju Utara, jalan panjang yang tanpa traffic light. Tidak ada lampu lalu lintas, karena memang jalan lurus berkelok yang dilalui. Kondisi ini memicu kendaraan untuk melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil menggeber kecepatan, anak-anak yang baru bisa menjejakkan kaki di atas motor pun (usia SD) dengan bangga hati mengendarai motor, tanpa helm, apalagi menyalakan lampu sein. Mereka berlatih naik motor dan tampak bangga. Sementara aku dan beberapa orang tua yang sepikiran, memandang ngeri. Satu-satunya langkah yang menghentikan laju kendaraan adalah sapi, kambing, anjing, bebek dan teman-teman unggas yang sering nylonong di jalan, tanpa aba-aba dan tanpa peringatan. (Jika saja pengendara bertabrakan dengan sapi, maka akan didenda Rp 10.000.000,- per sapi. Sudah bonyok, rugi pula. )Kisah lain, seorang bapak memboncengkan anaknya di depan tanpa helm pengaman. Atau, sang anak diapit ibu-bapaknya dengan berdiri di atas motor tanpa helm pengaman. Sang anak tampak bahagia, sementara orang tua seolah lupa, bahwa ancaman kecelakaan dapat datang kapan saja. Kuterka-terka penyebab unsafety riding di trans Sulawesi ini, dan jawabnya kurang lebih sama dengan di kota Jogja.

 

waspada, hewan melintas

Dua kondisi, dua situasi, dua sistem budaya yang berbeda. Kota-desa, dengan kompleksitas masalahnya. Yang kota diburu waktu oleh mobilitas untuk sesegera mungkin menuju tempat aktivitas, sementara satunya dibiarkan bergerak sesuai keinginannya, ternyata menghasilkan cara berkendara yang hampir sama. Tahu-tahu, ada motor, main gas, dan rem. Asal tidak menabrak, itu saja. Sementara edukasi tentang konsep apa itu kendaraan, apa itu jalan, bagaimana seharusnya kita berperilaku di jalan saat naik kendaraan, tidak ada. Padahal mestinya hal tersebut menjadi perhatian bersama untuk membangun kesadaran atas hidup bersama saat berlalu lintas dan minimalisir kecelakaan lalu lintas.

Lalu bagaimana treatment untuk dua pola kondisi tersebut ? Saya melakukan riset kecil-kecilan tentang ini (lihat buku ‘Negara di Persimpangan Jalan Kampusku, IMPULSE-Kanisius, 2007). Di kota Jogja, saya ikuti seminar safety riding, saat itu difasilitas Dinas Perhubungan yang menghadirkan akademisi, polisi, dan Dinhub sebagai pembicara. Pesertanya siswa SMA didampingi guru pembina.  Harapannya, siswa SMA mengetahui secara kognisi, apa dan bagaimana berkendara yang aman, sekaligus mengetahui resiko yang timbul jika berkendara dengan seenaknya. Kali lain, saya yang tergabung dalam Greenmap Jogja (www.greenmap.or.id) yang menggarap projek Peta Hijau Sahabat Sepeda (kini projek tersebut berkembang menjadi Peta Hijau Keliling Kota).

Peta Hijau ini dibuat dengan melakukan survey langsung, melibatkan relawan dan klub sepeda di Jogja untuk memetakan segenap informasi tentang zona aman dan nyaman berkendara di Jogja, serta zona berbahayanya yang bermanfaat bagi pengguna jalan, termasuk di sana para pesepeda-yang kerap kali terkalahkan oleh kendaraan bermotor. Dari perbincangan dalam proses pembuatan Peta Hijau Sahabat Sepeda, muncul kekhawatiran perkembangan kota yang semakin semrawut dengan pengguna jalannya yang semakin egosentris. Hal tersebut seolah mengingatkan bahwasanya perkembangan kota seiring dengan perkembangan jalan, kendaraan bermotor, dan juga perilaku masyarakatnya. Untuk itu diperlukan penataan sistemik atas lalu lintas jalan. Bukan jalan yang diperlebar untuk menampung sekian banyak kendaraan pribadi, namun bagaimana ‘memaksa’ orang untuk menggunakan kendaraan umum untuk jarak jauh, atau berjalan kaki/bersepeda untuk menempuh jarak dan waktu yang tidak jauh. Membiasakan untuk disiplin dan tidak terburu-buru juga menjadi salah satu cara agar kita dapat santun di jalan raya.

Adapun di desa (di tempat saya bermukim kini), belum lama ini saya nimbrung di training safety riding yang diselenggarakan perusahaan tempat suami bekerja bersama salah satu produsen kendaraan bermotor. Kami pun touring 5 jam PP menuju training center tersebut sembari melakukan kampanye safety riding di jalanan, melewati kebun sawit, Pasar Bambaloka, Pasar Tikke, Pantai Salukaili, hingga Mertajaya- kampung Bali di Sulawesi. Pengalaman yang cukup menyenangkan dengan pemandangan indah. Di training center, peserta berlatih mengendarai motor dengan zig zag, memencet rem dengan kendaraan berkecepatan tinggi, meniti papan titian, serta melewati jalan berlubang. Sebelumnya, peserta diberi pengetahuan tentang angka-angka kecelakaan, rambu-rambu dan penjelasan tentang kelengkapan berkendara yang perlu dikenakan, yakni helm SNI, jaket, sarung tangan, celana panjang, hingga sepatu. Kesimpulannya, safety riding membutuhkan bekal pengetahuan atas cara-cara berlalu lintas dan ketrampilan untuk berkendara.

butuh ketrampilan melalui jalan macam ini

Touring dan kampanye safety riding melewati Kampung Bali di Sulawesi

 

Salah satu ujicoba dalam training safety riding

Lalu apa analisis dari dua kondisi di atas? Edukasi tentang safety riding ini memang sangat perlu dilakukan, baik di kota maupun di desa. Kondisi wilayahnya berbeda, namun manusia sebagai pelakunya berperilaku yang hampir sama. Saya perhatikan, yang kerap kali mis dari pembahasan tentang kampanye berkendara aman di jalan adalah tidak pernahnya peserta dijelaskan tentang konsep apa itu jalan, bagaimana jalan itu muncul, apa itu kendaraan, apa yang mesti kita lakukan sebagai pengguna jalan raya, dan bagaimana menjaga supaya jangan sampai terjadi perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain di jalan yang berujung pada kecelakaan lalu lintas.

Sebagai kilas balik, nun dahulu kala, jalan raya di jawa dibangun Daendels untuk menghubungkan Anyer-Panarukan demi mempermudah akses perdagangan dan melindungi dari serangan Portugis. Kerja rodi dilakukan demi memenuhi ambisi Gubernur Jendral Belanda itu,  bahkan belum lama ini sebuah koran nasional memerlukan napak tilas jalan Daendels ini. Kala itu, pribumi hanya berjalan kaki, sementara jalan raya ‘dimiliki’ kendaraan bermotor yang dikuasai orang Belanda (ingat, pembagian kelas penduduk masa itu, dimana pribumi berada di kelas 3, dibawah Belanda dan Cina-Arab). Ada rasa superior ketika memiliki kuasa di atas kendaraan bermotor, ada rasa ‘menguasai’ jalan raya dengan berperilaku sebagai raja jalanan. Maka kaum inlander pun hanya bisa melihat bagaimana mata biru dan keluarga ningrat menguasai jalan dengan kendaraan. Dan ketika dunia berubah, ketika pribumi mampu memiliki kendaraan bermotor, ketika pembagian kelas ala Belanda sudah tak ada lagi, kita diserahi barang berwujud ‘jalan raya dan kendaraan’ tanpa mengusik mengapa 2 hal tersebut ada dan bagaimana sejarahnya.

Perkembangan kota di Indonesia (seperti jamaknya di Asia) berjalan secara organik. Karena itu pula, penataan kota (beserta jalannya) mesti berjalan lebih cepat untuk mengatur manusia yang tinggal di dalamnya. Tanpa perencanaan pembangunan kota yang jelas, maka kota akan berkembang sesuai mekanisme pasar, dimana kesemrawutan jalan muncul sebagai efek dominonya, karena kita sungguh minim pengetahuan tentang konsep berjalan raya dan berkendara.

Sejatinya, jalan bukan dimiliki kendaraan bermotor. Jalan dimiliki bersama oleh pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara kendaraan bermotor. Kadang, pedagang kaki lima pun masuk sebagai pemilik jalan. Karena bertumpuk dan beragamnya kelompok kepentingan di jalan ini, maka semestinya kita sadar bahwa ‘jalan’ ini bukan milik kita. Bahwa apa yang kita lakukan di jalan raya memiliki efek pada kelompok lainnya, dan perilaku berkendara ini menunjukkan bagaimana tingkat kematangan diri. Pengendara mobil yang hobi membuang bungkus permen lewat jendela, atau pengendara motor yang asal saja membuang ludah di jalan dan mencari celah di lampu merah, bisa jadi lebih ‘bawah’ daripada pejalan kaki yang berjalan pelan di sisi kiri jalan. Ngebut di jalan juga bukan pertanda kalau kita lebih hebat daripada pengendara lain.

Maka sebagai tambahan untuk safety riding ini, tampaknya penanaman konsep atas jalan, bagaimana berkendara yang benar di jalan harus ditanamkan oleh keluarga. Kerap kali, orang tua memberi contoh buruk untuk anaknya dengan mengendara zig zag, menerobos lampu merah, tak sabar antri dengan menyalakan klakson keras-keras, ataupun tidak mengenakan helm. Seperti layaknya larangan merokok untuk anak namun sang ayah selalu menghabiskan 3 bungkus rokok tiap harinya, edukasi tentang safety riding harus dilakukan di level yang terkecil, yakni keluarga, berupa contoh teladan. Masa anak-anak merupakan masa emas dimana anak menyerap dan mengkopi segala hal yang dia lihat, dia alami, dan dia lakukan. Maka inilah tanggungjawab orang tua yang utama, termasuk di dalamnya tidak membolehkan anak mengendarai motor sebelum usia didapatkannya SIM. Kematangan emosi dan perhitungan menjadi elemen penting yang mesti di sini. Peranan peer group-teman sebaya juga harus diperhitungkan mengingat anak-anak akan membandingkan satu dengan lainnya.

 

Orang tua memegang kunci edukasi berkendara yang baik

Kampanye safety riding perlu dilakukan dengan komprehensif. Kalau memungkinkan, perbanyak buku saku tentang safety riding untuk anak usia sekolah, dengan ilustrasi komik. Atau lebih jauh lagi, para komikus, cerpenis, dan novelis perlu memasukkan unsur safety riding pada tulisan dan cerita yang dibuatnya. Bahasa yang tidak menggurui, bahasa yang tidak menunjukkan perintah dan ancaman, menjadi unsur yang penting diperhatikan pada pangsa usia anak-anak hingga remaja. Selain itu juga perlu kampanye safety riding dengan bahasa yang fun melalui media yang digandrungi anak muda, yakni melalui radio, komunitas hobi dan gaya hidup, serta tweeter, facebook, dan blog-seperti yang dilakukan ‘dblogger ini’.

Jadi sebagai penutup kawan-kawan, ada satu hal yang perlu terus diingat…. ‘Ini jalan (milik) bersama, bukan jalan (milik) simbah kita ya’…. Apa yag kita lakukan di jalan, akan berdampak pada pengguna jalan lainnya…

***

6 thoughts on “Unsafety Riding, Kota, Desa Tetap Sama

  1. Postingan anda menarik dan inspiratif. Terima kasih partisipasinya mengkampanyekan Safety Riding and Driving.
    Selamat postingan anda masuk 30 nominasi unggulan lomba ‘Blogger for Safety Riding’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s