Bus transjakarta

Ini alat transportasi dalam kota yang menjadi teman setia perjalanan. Ya, sejak dari Gambir subuh-subuh, saya bergegas menuju halte busway di pintu keluar stasiun. Harga tiket sebelum jam 7 pagi sebesar 2.000 perak sementara setelahnya 3.500. Anda tidak perlu membayar lagi jika turun di halte transit dan melanjutkan perjalanan ke jurusan selanjutnya. Masih pagi, suara mbak-mbak di mesin busway yang mewartakan ‘Pemberhentian selanjutnya, halte harmoni… next stop, halte harmoni..’ terdengar indah di telinga. Mas-mas penjaga pintu busway pun mengingatkan penumpang untuk  halte yang akan dilewati. Penumpang segera berdiri di dekat pintu bersiap turun.. awal perjumpaan yang menyenangkan untuk transjakarta, meski saya harus transit di halte harmoni, dukuh atas, dan turun di halte arah ragunan. Total 3 bus saya tumpangi untuk perjalanan pagi-pagi.

Memasuki hari dan jam kerja, halte-halte busway menjadi penuh oleh penumpang yang bergegas ke tempat kerja. Kukira, bus penuh di jam berangkat dan pulang saja, ternyata, di jam-jam tanggung macam jam 10 pagi pun bus transjakarta ini tetap disesaki penumpang.

Salah satu hal yang menarik untuk busway ini adalah adanya lorong-lorong panjang yang mesti dilewati calon penumpang, fungsinya seperti jembatan penyeberangan yang mengharuskan anda betah berjalan kaki. Hari pertama bertualang busway sendirian dan dilanjut keliling survey bersama teman baik saya, Vicki, kaki kami terasa pegal-pegal. Memang hidup di ibukota mengharuskan kita untuk survive, jalan kaki, menunggu bus transjakarta, kopaja, atau metro mini dan berjalan bergegas dari satu halte busway ke halte lain yang lumayan panjangnya.

Sore hari, sepulang beraktivitas, jam menunjuk ke angka 6 ketika saya mencapai halte bundaran senayan. Rekan saya sudah menunggu lama di halte agar kami dapat pulang bersama-sama. Begitulah, antrian sepertinya tidak berlaku lagi karena orang-orang bergerombol mendesak untuk dapat masuk ke bus transjakarta. Jadilah badan terdorong dan tergencet. Saat penumpang sedikit, pintu kaca di halte tunggu busway akan tertutup sehingga pengamanan lebih sempurna. Sementara saat penumpang bejibun, orang-orang akan berlomba menjadi yang terdepan menunggu busway dengan harapan dapat segera masuk ke bus. Pintu kaca yang bergeser otomatis pun tidak berfungsi. Dan hasilnya, kami berdiri menengok-nengok mencari ujung muka bus tercinta.  Perhatian ! Jangan berdiri mematung di depan pintu halte ! Segera masuk ke bus atau menyingkir dari pintu halte sehingga anda tidak mengganggu arus penumpang!

Sampailah kami di halte transit..hmm… antrian di halte transit sungguh panjang. Ternyata jembatan penghubung halte busway bukan hanya sebagai penghubung antar sisi jalan, tapi juga sebagai tempat antri calon penumpang. Kami berdiri satu-satu menunggu antrian. Ada memang satu-dua orang yang nyelonong memotong antrian, untung petugas transjakarta dengan sabarnya mengingatkan dan mengarahkan calon penumpang. ‘Mbak-mbak sudirman’ yang bermake up lengkap dan penampilan rapi pun tampak menjinjing tas kecil di tangan, itulah sepatu! Mbak-mbak sudirman ini memilih bersandal saat menyusuri halte busway yang tinggi, panjang, dan lamaa.. tampaknya ini pilihan tepat untuk berjalan kaki.. Maka bersabarlah untuk mengantri di halte busway. Anda bisa manfaatkan waktu antri dengan mendengar musik (banyak yang melakukannya), sms an, atau bercanda dengan teman. Enjoy your trip !

Adanya peta jalur transjakarta di dinding bus akan membuat kita tahu halte mana saja yang akan kita lalui. Ini juga akan membantu manakala ‘mbak-mbak’ tidak bersuara di busway dan tulisan nama halte yang muncul otomatis di sisi atas sebelah sopir tidak muncul juga. Atau, kala mas-mas petugas di busway diam saja dan tidak mengingatkan penumpang, halte apa lagi yang akan dilewati.. Kalau sudah begini, gawat banget. Saya yang masih bingung dan tentu belum hafal dengan rupa halte kuningan atau halte depkes, jadi khawatir salah turun. Sementara, jarak pandang mata tidak memungkinkan untuk melihat tulisan nama halte di depan. Wah gawat ! ternyata tidak semua bus menyediakan fasilitas penunjang untuk penggunanya. Hm… mungkin dipikirnya semua penumpang busway adalah pelanggan setia yang sudah sangat hafal dengan rupa-rupa bangunan di Jakarta dan rupa-rupa halte busway… Ehm, kalau menurut saya sih, segala halte busway bentuk dan rupanya sama saja…  Jadi jalan keluarnya, ya tanya orang yang duduk di sebelah anda, ‘Halte bundaran senayan, masih berapa pemberhentian lagi, ya Mbak?’ jangan lupa katakan terima kasih atas informasi yang anda dapatkan…

peta jalur busway - KRL

Peta Busway, perhatikan jalurnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s