Dunia Cyber Indonesia Raya

Ketiklah di mesin pencari : ‘kebiasaan minum teh – Inggris, Sumeria Efrat-Tigris, dan Gobekli Teppe – revolusi neolitikum.’ Tiga detik saja, duduk di depan layar 11 inchi notebook, mata mengerjap sesekali, maka kita akan menemukan peradaban. Sembari menikmati seduhan earl grey tea dan sebungkus gula rendah kalori, lautan informasi hasil teknologi terhampar di depan mata dan menunggu untuk diproses.

Lain waktu, tawarkan pada petani kopra, nelayan, atau pedagang sayur keliling, untuk bermain komputer. Jari-jari kukuh yang ditempa matahari dan kerja keras itu meraba tuts dengan kaku, kadang salah pencet tombol delete dan menghapus file penting. Mereka gugup dan gagap karena  tidak terbiasa. Mungkin akan lain ceritanya jika para pekerja keras itu dikenalkan dengan komputer sembari berlayar menunggu ikan di laut dan menggabungkan petunjuk lintang wuku, atau sembari menunggu anak-anak mencabuti kangkung di sungai.

Meski sama di Indonesia, dengan situasi dan kondisi berbeda, berbeda pula menanggapi teknologi. Yang satu mengakrabi gadget baru sebagai life style, sementara satunya malu-malu, takut atau bahkan tak berfikir tentang itu, menampilkan cyber sebagai dunia yang ambigu. Dunia cyber merupakan sebuah tools untuk membantu manusia dan pendidikan merupakan salah satu ranah kehidupan yang memanfaatkannya. Lalu bagaimana jika buah pengetahuan yang membangkitkan keingintahuan ini  berjalan bersama dengan sesuatu yang tidak terpikirkan bagi sebagian lainnya? Bagaimana cyber education masuk dalam peri kehidupan sehari-hari, dalam konteks masyarakat yang dipisahkan jurang dan lembah, selat dan sungai, factory outlet dan warung padang, untuk kemudian mengatakan “Aha!” dan mencerna keberadaan dunia maya dan mencecapnya sebagai sarana pendidikan?

Teman, momen kemajuan teknologi dan peradaban itu seperti
kala Machu Pichu dibangun, saat Viking membelah laut, atau Walt Disney mencipta Mary Poppins. Inilah kala terjadinya lompatan-lompatan pengetahuan yang mengairahkan dan menggemparkan dunia! Dan saat ini, kita, dengan peran dan keahlian masing-masing, dalam lokus urban, rural, pedalaman, atau pantai juga tengah berproses membangun peradaban. Jika saudara kita tak familiar, asing, dan malu-malu bergumul dengan komputer dan dunia maya, maka tanggungjawab kita bersama untuk mengajarkannya.

Mari jadikan Indonesia raya, dari Aceh-Papua, Rotendao-Sangihe melek pendidikan dengan memanfaatkan teknologi informasi, dengan cara dan kemampuan kita masing-masing. Welcome to the era of cyber education !

2 thoughts on “Dunia Cyber Indonesia Raya

  1. Penggemar nomor satu hani raihana says:

    nggak perlu notebook 11 inch bu, cukup dengan mobilephone masa kini, asal masih ada sinyal dah bisa on line kok, lha buktinya anak anak pelosok ini sering update status via handphone ,tinggal dorong mereka mau nggak mbuka hal laen yang lebih bermartabat, eh bermanfaat ehehehe

  2. Jadi inget jaman “radio umum” Mbak Hani! Di Sragen, ada jalan besar yang dipinggirnya ada tower dimana nangkring di atasnya sebuah radio. Kalo lewat ada suara orang siaran! Hehe, dulu katanya itu radio dipasang karena harga radio untuk dibeli tiap2 keluarga terlalu mahal! Gak tahu gimana kalau untuk internet😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s