Mengheningkan cipta

Ini bukan tentang mengheningkan cipta saat upacara bendera. Ini tentang beruntunnya perjalanan hidup dan perubahan ritme yang membuat penyesuaian-penyesuaian. Sesaat berjalan, berlari, berjalan pelan kembali, atau memikirkan konsep-konsep besar, memilahnya menjadi tahapan-tahapan kecil untuk dijalankan, kemudian tiba-tiba menjalankan hal-hal praktis, terlibat konflik yang ‘ya ampun’, gitu juga dipikirin, tapi sungguh eksis. Kemudian, ditarik kembali untuk mengkonsep dan mengkritisi hal-hal besar kembali. Serasa kepala, tangan, dan kaki ditarik-tarik, melar, kalau memang ini karet, beradaptasi, melakukan penyesuaian diri, merasakan kenyamanan di dalamnya, dan kemudian ditarik lagi ke dunia nyata. Welcome to the world !

Mungkin rentetan hidup manusia memang berjalan bagai siklus ya. Dan manusia inginnnya selalu berada di atas, aman-nyaman-tentram damai, dan berkonflik sedikit demi sedikit. Bahasan yang dikonflikkan pun beragam, mulai dari siapa jatah piket belanja, memasak, memasukkan nasi di kardus, hingga membagikan makanan. Atau mengapa seragam tidak dipakai saat kegiatan. Atau bagaimana kabar piring dan sendok pinjaman yang hilang. Sementara di bagian dunia yang lain membahas bagaimana memaksimalkan kompetensi calon pemimpin di kotak-kotak elemen leadership yang diukur dan dicari, kalau mungkin bahkan dimunculkan melalui beragam habituasi. Bagaimana mengajarkan kompetensi mengajar, survival, ice breaking, hingga menata sesi kelas. Yang satu konsep, yang satu teknis, tapi bisa juga disambungkan asal otak dan hati cukup besar kapasitasnya..

Aku ingat, saat mahasiswa adalah saat yang menyenangkan, karena kau bisa berkonsep melangit, merancang dan mengimajinasi sesuatu, berkhayal membuat dan melakukan ini-itu bahkan sampai limit kebingungan mencari dukungan dana. Sedikit demi sedikit menemukan realitas dunia kerja yang ‘wow’, di luar idealita kita. Lalu bekerja, menikah, punya anak, dan mengurus anak. Hm… orang yang tidak sesuai dengan siklus itu akan menjadi aneh karena tidak sesuai dengan apa yang sewajarnya. Padahal, tahukah kau, wahai tuan, bagaimana perjuangan di seberang sana? Bagaimana pikiran dan tindakan yang bergulat untuk menghasilkan sesuatu yang diyakini sebagai kemajuan dan kemerdekaan ?

Maka ini, satu tapak perjalanan yang bernafaskan haluan idealisme dan keyakinan bahwa pendidikan berkualitas adalah hak semua orang dan bahwa buku dan pena menjadi lebih berharga dibanding semangkok bakso. Aku ingin mengembalikan ilmu dan pengalaman yang kudapat semasa hidupku pada anak-anak yang ingin belajar. Aku menghidupkan memori otakku untuk merancang, meramu, mencoba, mempraktekkan, mencatat, untuk kemudian mengevaluasi apa-apa yang dapat dikembangkan dalam memajukan pendidikan. Belum sempurna, memang, namun melangkah maju, walau setapak demi setapak, akan lebih penting dibanding memikirkan dan mengkonsep hal besar namun belum melakukan apa-apa. Bismillahirrahmanirrahim…. semoga niat tulus ini diterima….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s