Konservasi [untuk] Peradaban Air

Aang, the last airbender mendapat bisikan dari Spirit, ‘Tunjukkan kekuatan air, Show the power of water’ untuk melindungi bumi dari ketamakan manusia Kerajaan Api.

Dan menggelegaklah air samudra yang mengelilingi Nothern Water Tribe, membawa aroma kekalahan pada pasukan kerajaan api. Kekuatan air yang dipelajari dan dikendalikan Aang bukan untuk memusnahkan, namun untuk menjaga keharmonisan bumi bersama elemen udara, tanah, dan api. Film ‘Avatar The Last Airbender’ ini menunjukkan betapa kekuatan berbekal ketamakan akan membahayakan semesta. Air, udara, tanah, dan api dikendalikan untuk kemaslahatan peradaban.

Peradaban Air

Apakah manusia mampu membawa keharmonisan kehidupan dengan alam? Apakah manusia dengan segala kedigdayaan dan keterbatasannya mampu membawa maslahat di muka bumi ? Satu pendapat antropologis menyatakan bahwa berburu hewan berfungsi sebagai alat penjaga kestabilan daya dukung sosial karena sumber makanan yang terbatas. Mungkin saja ke depan bukan hanya makanan yang terbatas dan diperebutkan, namun juga air. Perang air untuk berebut sumber air bersih.  Hal ini pernah terjadi di pegunungan Andes. Musim kering yang melanda Andes di Amerika Selatan sekitar tahun 1100 selama seabad lebih memicu perang suku Inca di seluruh dataran tinggi Peru demi memperebutkan air.

Air membuka peradaban besar dan sungai menjadi urat nadinya. Peradaban India, Cina, Mesir, dan Mesopotamia, misalnya bertumbuh dan berkembang di tepi sungai. Mesopotamia, artinya tanah di antara sungai-sungai, yakni antara sungai Eufrat dan Tigris. Bangsa Babilonia dengan Rajanya Nebukadnezer II, yang menguasai Mesopotamia sekitar 605-561 SM, digambarkan memiliki taman gantung yang indah yang masih misteri. Taman ini kemungkinan terletak di samping sungai Eufrat.

Penemuan di Lembah Indus india, tempat Mohenjodaro berada, sekitar 2600-1900 SM menunjukkan bahwa penduduknya ahli ledeng, rumah-rumah memiliki panggung bata untuk mandi bahkan ada kamar mandinya. Air yang digunakan dialirkan melalui talang ke jalanan lalu masuk ke selokan berpinggiran bata. Peradaban Mesir berada di sekitar Sungai Nil dan penduduknya sangat menghormati sungai  tersebut. Sementara itu, menelisik petilasan heritage di Jawa, kita bisa menjumpai kompleks Taman sari (Water castle) yang dibangun Sri Sultan Hamengkubuwono I pada akhir XVII M. Tamansari merupakan kompleks kolam pemandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus dengan sebuah kolam yang besar yang digunakan Raja Mataram.

Hingga kini, orang Hindu India menghargai dan mensucikan air dengan ritual di sungai Gangga. Di Bali, setelah upacara Tawur Agung, umat Hindu berebut air suci atau tirta untuk menyucikan rumah dengan memercikan tirta ke seluruh area rumah sebelum Nyepi. Umat Buddha melakukan penyemayaman air berkah di Candi Mendut Jawa Tengah, untuk mengawali perayaan Tri Suci Waisak 2555. Dalam agama Katolik, air suci  digunakan untuk pembaptisan atau untuk pemberkatan orang, tempat atau benda. Sendang Sono merupakan tempat yang disucikan umat Katolik karena penampakan Bunda Maria.  Kaum muslim melakukan wudhu dengan air yang suci dan mensucikan untuk mensucikan diri sebelum beribadat. Semua agama menghoramati dan menghargai air. Maka melakukan konservasi air sama dengan melakukan konservasi budaya. Melakukan konservasi air sama luhurnya dengan memuliakan agama.

Wanted : Air Bersih

Pentingnya air untuk kehidupan membuat Green map, jaringan  yang memetakan daerah ‘hijau’ di dunia, membuat ikonisasi tanah & air. Dalam kategori ikon ini, green map memetakan pesisir/taman sungai, Fitur Air, Lahan Basah, serta sumber Air Minum. Adapun sumber air minum yang dimaksudkan adalah sumber-sumber air minum, penampungan dan elemen utama dari sistem perairan, termasuk tempat pemurnian air dan informasi konservasi. Saat proses survey pemetaan misalnya, relawan menemukan tempat-tempat yang menjadi sumber air. Peta Hijau Jakarta bahkan secara khusus memetakan Situ-Situ, sebelum terjadinya tragedi Situgintung yang memakan korban. Ikon ini muncul sebagai hasil pemetaan green map untuk mengetahui potensi dan kerusakan lingkungan (Hasil pemetaan yang dilakukan green map berupa cetak atau online dapat dilihat di www.greenmap.or.id.)

Tujuh puluh persen luasnya permukaan bumi yang berupa lautan (air) apakah cukup menampung dan menyediakan sumber air bagi manusia yang hidup di daratan ? Ternyata tidak semudah itu untuk mendapatkan air bersih. Kondisi air bersih di perkotaan, daerah gambut, kapur atau daerah pinggir pantai menunjukkan betapa air bersih mahal harganya. Daerah yang berlimpah air (tidak bersih) atau daerah yang susah air, sama-sama membutuhkan pasokan air bersih.

Di daerah Karangnongko Klaten Jawa Tengah yang rimbun oleh pepohonan namun sulit air, tiap rumah tangga butuh membeli air untuk konsumsi penduduk dan ternak. Di daerah Rongkop Gunung Kidul DIY yang panas, tiap keluarga membangun penampungan air hujan (PAH) yang dialirkan ke bak kamar mandi. Untuk minum, air perlu diendapkan semalam pada tempayan atau tong atau ember untuk mendapatkan tampilan air yang jernih. Tak kurang, tangki-tangki air diundang saat telaga mengering dan air tak lagi didapat. Di Mamuju Utara, Sulawesi Barat, pasokan air untuk konsumsi didapatkan dengan membeli air galon. Merk lokal seharga Rp 6.000,- sementara merk nasional sehaga Rp 32.000,-  Dalam seminggu bisa 1-2 galon habis untuk minum dan memasak. Bayangkan berapa rupiah yang dikeluarkan untuk kebutuhan air.

Mengolah air yang melimpah di lautan dan sungai-sungai di Indonesia bukan pekerjaan yang mudah. Kita membutuhkan teknologi untuk mengolah air menjadi air yang bersih. Guru SD kita telah menjelaskan betapa  air termasuk kategori sumber daya alam yang terbaharui, air cepat habis dan bisa terus diproduksi. Namun bagaimana kiranya, apabila sang sumber sudah kehabisan airnya karena tersedot kebutuhan manusia sementara sumber-sumber air baru telah sulit ditemukan.  Bagaimana bila manusia gagal menjaga siklus air dan justru memutus mata rantai siklus air ?

Krisis air bersih seperti di film Rango, menjadi cerminan betapa air sangat kritis. Film kartun ini mengangkat keterlibatan aparat/ pemilik kuasa sekaligus pemilik modal yang merugikan masyarakat tempatan. Air menjadi langka karena disedot untuk membangun kota masa depan dengan investasi dan keuntungan yang besar sementara masyarakat sekitar hampir mati kehausan. Karenanya menjadi pertanyaan apakah privatisasi air mampu membawa maslahat untuk masyarakat sekitar ? Sejujurnya, agak sulit menengarai masalah ini karena mendefinisikan keuntungan, kerugian, dan masyarakat adalah berbeda satu dengan lainnya, dari sudut pandang bisnis, pemberdayaan masyarakat, ataupun pemerintah. Meneropong berbagai sudut pandang untuk menyelesaikan masalah ini pun tidak selesai sekali dua kali. Hampir sama dalam menengarai kegiatan eksplorasi dan pariwisata, pihak-pihak di sekitar site sumber daya mendapat keuntungan dengan bekerja, namun apakah tetesan tricle down tersebut sepadan dengan biaya masa depan anak-cucu ?

Konservasi Air

Konservasi air adalah jawaban untuk kelangkaan air bersih. Putusnya mata rantai siklus air akan membuat air menjadi barang langka yang berlanjut pada perang air, seperti yang telah terjadi pada bangsa Inca. Untuk itulah, konservasi air merupakan kebutuhan bagi keberlanjutan makhluk hidup.  Konservasi, dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam (hayati) dengan pemanfaatannya secara bijaksana dan menjamin kesinambungan persediaan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keragamannya. Menjaga tetap berjalannya siklus air merupakan tindakan yang harus kita lakukan. Terganggunya siklus air akibat ulah manusia akan membuat kita kehilangan sumber air bersih.

– Siklus Air

Memulai kesadaran akan pentingnya konservasi air diawali dari keluarga, berlanjut ke sekolah, komunitas, atau kelompok yang lebih luas. Pengetahuan tentang siklus air ini dapat diajarkan orang tua, pendidik, atau guru di sekolah agar anak memiliki pandangan dan pengetahuan tentang perjalanan air menjadi air bersih kembali.

Siklus Air

zoom in ekosistem

Dari siklus air ini, tampak beberapa ekosistem yang terkait dengan keberlanjutan siklus air. Saat satu mata rantai diputuskan, maka akan mengganggu ekosistem lainnya. Untuk aktivitas edukasi, anak-anak bisa diajak untuk membuat projek siklus air dan ekosistem yang terkait dengannya. Projek ini bisa dilakukan di sekolah atau tempat belajar tak terikat, misalnya sanggar atau Taman Pendidikan Al Quran, atau sekolah minggu. Sekali kita menangkap maksud dari edukasi ini, maka media dan metode apapun dapat dilakukan.

– Biopori

Langkah konkret yang bisa dilakukan di level keluarga adalah dengan membuat resapan air yang banyak di halaman rumah. Langkah ini disebut dengan biopori. Tanah dibor sehingga menghasilkan lubang berdiameter 20-30 cm dengan kedalaman 1 meter, yang berfungsi sebagai resapan air sekaligus bisa diisi sampah organik. Lubang biopori ini bisa dibuat dalam jumlah banyak di halaman rumah kita. Semakin banyak lubang, maka tempat resapan air makin banyak. Lubang-lubang ini berfungsi sebagai tempat sampah sisa makanan basah sekaligus menampung dan menyerap air hujan. Salah satu SD swasta di Jakarta bahkan membuat biopori di halaman sekolah. Upaya sederhana ini bermanfaat untuk menanamkan gaya hidup bersih dan sehat.

biopori di sekolah

lubang biopori

– Mencintai Alam dengan Menanam

Hal lain yang mudah dilakukan adalah memanfaatkan halaman rumah untuk ditanami pohon dan tanaman. Pohon buah-buahan, macam mangga, rambutan, atau nangka sangat bermanfaat sebagai perindang, penahan air, juga buahnya yang disukai siapa saja. Penting pula dimiliki pohon sirsak, delima, kepel, atau pohon kelapa yang berguna untuk kesehatan. Melestarikan pohon juga sekaligus melakukan konservasi budaya, misalnya pada pohon yang memiliki makna/perlambang khusus, seperti beringin, gayam, atau sawo kecik. Tidak ada salahnya menanami halaman dengan pepohonan yang bermanfaat karena baik untuk konservasi lingkungan. Tak kalah penting untuk ditanam adalah membuat apotek hidup yang berisi tanaman obat, macam rimpang temu (temulawak, kunyit, jahe, dll), kumis kucing, mahkota dewa, daun sirih, dan lainnya.

Dari halaman rumah sendiri, konservasi berada, dipertahankan, dijaga, atau musnah. Mengapa? Karena pola hidup kitalah yang membuat konservasi hilang atau tumbuh subur.  Apabila halaman rumah kita tidak cukup untuk menanam, kita bisa upayakan bersama dalam apotek hidup komunitas yang dirawat, dijaga, dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan komunitas. Untuk mempercantik rumah dalam lahan terbatas pun, kita bisa melakukan cara tanam vertikultur. Vertikultur atau menanam dengan pola vertikal menjadi jalan tengah untuk menghasilkan hiasan dan supply sayuran sehat keluarga.

Anak-anak sejak dini diajak untuk mendekat dengan alam melalui aktivitas menanam sayuran, melatih dan membiasakan menyiram tanaman, ataupun menghitung jumlah daun yang ada di satu pohon. Alam member banyak sumber pendidikan. Tinggal kita manusia yang menggunakannya untuk edukasi sejak dini.

ayo bertanam untuk dekat dengan alam

berapa jumlah daun yang tumbuh ?

Gaya Kaya dan Miskin Air

Tahu, kenal, dekat, dan cinta merupakan tahap untuk bergaul dengan alam. Penggunaan air, pada akhirnya menjadi kunci bagaimana gaya hidup manusia mempengaruhi keberlanjutan ekosistem. Di tempat yang airnya melimpah, manusia terbiasa menggunakan air sesukanya. Keran air wastafel tetap menyala meski kita sedang menyikat gigi. Bak mandi dibiarkan melubar meski sudah penuh. Sementara itum orang yang tinggal di lokasi sulit air akan sangat menghargai air. Padasan, dengan lubang air kecil untuk berwudhu membuat aktivitas berwudhu menjadi sederhana dan ringkas. Gunakan seefektif dan efisien mungkin. Mencuci gelas dan piring dilakukan dengan cermat dan sederhana dalam baskom-baskom kecil dengan cara bergantian. Belum tahu mengenai perpindahan virus atau bakteri yang memungkinkan terjadi karena dalam pencucian ini air tidak mengalir. Ini seperti cara kerja penjual bakso keliling yang membawa ember kecil untuk mencuci mangkok dan sendok.

Jadi, ini kesempatan yang tepat untuk mengatur diri dan menghargai alam semesta. Air adalah urat nadi kehidupan. Gaya kita dalam mempersepsi dan menggunakan air akan menentukan apakah air  akan mengaliri kehidupan atau berhenti karena terengah mengikuti pola hidup manusia. Kini saatnya menghargai air, saatnya mengubah gaya hidup menjadi lebih dekat dengan alam.***

Pustaka

National Geographic Indonesia, April 2011

Selidik National Geographic, Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau India Kuno

Selidik National Geographic, Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau Irak Kuno

Selidik National Geographic, Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau Mesir Kuno

www.greenmap.or.id

www.biopori.com

foto : dok pribadi

 

One thought on “Konservasi [untuk] Peradaban Air

  1. Iwak Bandeng says:

    hmmm…kapan ya, ada teknologi yang lebih murah tuk menyuling air laut menjadi air tawar layak konsumsi, kan negara kepulauan ini dikelilingi lautan lepas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s