Mencari Kader Posyandu Teladan (II)

Tiga hari di penghujung 2011 saya diajak terlibat dalam penjurian revitalisasi posyandu. Ada tiga kategori lomba dalam program ini, yakni lomba balita sehat, kader posyandu teladan, dan posyandu teladan. Lomba ini melibatkan 13 posyandu di dua desa, Kecamatan Dapurang, Mamuju Utara, Sulawesi Barat.

Balita Sehat

Penjurian balita sehat yang saya ikuti ini berlangsung selama 3 hari. Hari pertama kami melakukan seleksi administrasi dan bertemu kader posyandu untuk menyampaikan hasil seleksi pada orang tua balita yang lolos. Hari kedua penjurian lomba balita sehat dilangsungkan di kantor desa. Balita dari 6 posyandu di kawasan Dapurang mendatangi lokasi lomba. Macam-macam gaya anak-anak ini menghadapi penjurian.

Balita-balita ini diperiksa kondisi giginya. Apakah gigi telah tumbuh sesuai usianya? Adakah plak, gingivitis, dan karies gigi ? Adakah sisa akar gigi (mahkota gigi tidak ada lagi)? Balita diminta untuk membuka mulut dan menunjukkan gigi geliginya pada juri.

Aa....ini gigiku

Pos selanjutnya adalah pos fisio. Pos ini lumayan rumit. Juri melakukan tes pada balita sesuai usia, mulai dari 6 bulan hingga 5 tahun. Ada kriteria-kriteria tertentu yang digunakan untuk mengetes kondisi balita terkait. Misalnya, balita usia 12 bulan, idealnya balita dapat berdiri sendiri tanpa bantuan, berjalan kaku dengan berpegangan, menumpuk minimal 3 balok, kooperatif memakai baju, dan mengucap 4 kata yang dapat dimengerti. Untuk balita 24 bulan, kriteria penilaiannya adalah mengerti bahasa sederhana/sehari-hari, membuka bungkusan, lancar berjalan dan berlari, duduk di kursi tanpa bantuan, menggambar lingkaran, dan mengerti 2 perintah sekaligus.

Ada yang menangis mendekap erat mamanya, ada yang menjawab setelah pertanyaan diajukan dalam bahasa Bugis, ada pula yang tidak mau beranjak dari meja penjurian karena asyik bermain bola dan balok warna-warna. Salah satu peraga adalah sepeda roda tiga. Anak-anak usia 3,1-4 tahun dites mengendarai sepeda. Ini merupakan alat tes favorit anak-anak. Tak jarang, juri musti meminta anak-anak untuk bergantian naik sepeda.

Satu anak menangis karena menolak turun dari sepeda, satu lagi tidak berani naik sepeda.  Ada pula tes memakai pakaian dan mengancingkan baju untuk balita usia 4,1-5 tahun. Salah seorang balita yang cerdas dan aktif menolak memakai baju karena itu bukan bajunya. Seorang balita berusaha sungguh-sungguh mengaitkan kancing baju. Keringatnya bercucuran. Kader posyandu di lokasi memberi semangat agar sang balita berhasil melalui tes. Dan hasilnya, dia berhasil ! Di pos ini, baik juri, kader posyandu, maupun orang tua anak sama-sama ekstra energi (dan tertawa) untuk membujuk balita merespon pertanyaan dan ajakan juri.

Ayuk cuci tangan pake sabun

ayo pake baju

Naik Rakit Menuju Raka Tanjung

Medan berat kami  lalui di hari ke tiga penjurian. Pagi hari, tim melakukan penjurian di kantor Desa Benggaulu yang melibatkan 4 posyandu. Hujan sejak pagi membuat cuaca murung namun tidak mengurangi antusiasme peserta dan kader posyandu. Tengah hari, penjurian posyandu selesai. Setelah break, tim melakukan penjurian dengan mengunjungi posyandu on the spot karena kondisi medan yang sulit dilalui. Tujuan kami adalah Posyandu Raka Tanjung. Kendaraan roda empat yang kami tumpangi musti berhenti. Kami turun dan menyeberang sungai menggunakan rakit motor/ketinting. Berbekal ember berisi bola plastik, gelang-gelang, dan lego merek lokal, tim ditemani Pak dan Bu Desa Bengaulu menyeberang sungai menyongsong Posyandu di Dusun Pammanua, Desa Benggaulu.

menyeberang sungai

Here we come ! Kami ditemani kader posyandu Mekar Sari (posyandu pusat Desa Bengaulu) yang bersemangat 45 untuk bertemu kader posyandu Raka Tanjung. Menurut penuturan Ibu Rahma, kader senior Mekarsari, jembatan gantung yang menghubungkan dusun Pammanua dan dusun sebelah  sekaligus penghubung dengan dunia luar, hanya berusia 6 bulan. Entah apa yang salah dengan konstruksi jembatan tersebut sehingga jembatan putus. Selanjutnya, penyeberangan dilayani dengan rakit dengan ongkos dua ribu rupiah per orang.

Sampai di Posyandu Raka Tanjung, Dusun Pammanua, Desa Bengaulu, tim rehat sejenak dan sholat.  Tuan rumah menghidangkan kapurung (sayuran sehat yang pernah saya posting resepnya di blog ini) yang segar dan pedas. Posyandu Raka Tanjung menempati rumah panggung. Bu bidan tinggal di sana.

Seorang anak, Sahuria, 2,8 tahun asik masuk ke ruang tes fisio anak dan bermain bola-bola. Kami pun langsung mengajaknya berkomunikasi dan ternyata nyambung. Setelah dites gigi, Sahuria kembali ke ruang fisio tanpa banyak suara. Kini ia membaca majalah Kuark yang saya bawa. Lagaknya seperti anak-anak yang sudah jago membaca. Luar biasa! Sayang sekali data imunisasi yang pernah diterimanya hilang. Kartu menuju sehat (KMS)nya hilang sementara bidan yang memberinya imunisasi telah pindah. Hm.. padahal imunisasi dan bulannya termasuk salah satu komponen penilaian yang vital dalam lomba balita sehat ini.

Ke Anggrek Putih

Perjalanan selanjutnya menuju Posyandu Anggrek Putih, Dusun Kanan Tuo. Medan yang dilalui lebih menantang. Pak Desa dan Bu Desa dengan mobil double cabin yang bannya super besar mengantar kami sampai ke tujuan. Tahap pertama, mobil musti menyeberangi sungai. Karenanya, satu mobil terpaksa ditinggal karena tidak akan mampu digunakan untuk menyeberang sungai. Walhasil, rombongan di mobil tersebut pindah ke ranger double cabin Pak Desa. Saya memilih duduk di belakang, di bak terbuka bersama kader lain dan Pak Dusun. Selain karena goncangannya cukup besar juga ingin menikmati perjalanan di alam terbuka.

Pak desa (Kepala Desa) di belakang kemudi menaklukkan medan. Hamparan kebun coklat dan jeruk tampak indah berderet. Kami bahkan melalui jembatan yang baru diperbaiki dan belum pernah dilewati mobil. Sebagai penumpang, yang bisa kami lakukan adalah doa dan berpegangan erat pada tiang penyangga mobil. Bukit terjal, jembatan kayu yang kurang meyakinkan, dan turunan curam di bukit membuat goncangan makin terasa. Buah rambutan tampak merah bergerombol di halaman  rumah yang berdiri  jarang-jarang. Akhirnya, sampailah kami pada tempat penyeberangan selanjutnya.

Dua mobil ranger diparkir di dekat sungai sementara penumpangnya beranjak berjalan kaki menuju rakit penyeberangan/picara. Tidak seperti rakit sebelumnya, rakit ini tidak didorong oleh motor. Laju rakit ditentukan oleh tali yang tertambat pada katrol yang dipasang pada tali tambang yang dipasang melintang dari satu pohon di ujung timur pada satu pohon di ujung barat. Kalau saja ikatan tali ini lepas, maka nasib penumpang rakit mengikuti arus yang deras.

menyeberang sungai

Seorang kader muda Mekarsari mengatakan, jarak perjalanan dari seberang sungai menuju posyandu adalah sekitar 50 meter saja. Rekan saya yang mengenakan kets pun dengan pedenya berjalan cakar (nyeker), demikian pula Bu Bidan dari Puskesmas. Ternyata lima puluh meter ini berubah menjadi beberapa kilo meter.

Bersama Pak Dusun, kami berjalan menuju posyandu. Ternyata Pos pelayanan terpadu yang kami tuju dibangun di lokasi baru, di antara kebun sayuran pendek. Hamparan kebun jagung tampak indah berderet. Terong ungu ranum yang menawan hati, labu yang duduk manis di tanah menunggu kuning, menyapa kami. Pohon enau sesekali menjulang di antara rumpun sayuran. Pukul 17.15 WITA, kami sampai di lokasi dan memulai penjurian.

Dicari : Kader Posyandu Teladan

Daerah yang jauh dari mana-mana ternyata memiliki balita yang tidak kalah semangat ikut lomba. Bahkan gigi mereka masih bagus. Mungkin tidak banyak jajanan yang dikonsumsi ya. Sementara tim juri lain melakukan penjurian kader teladan dan posyandu teladan, kami memberikan tes pada balita yang sudah menunggu sejak siang tadi. Menjelang malam, kami beranjak dari lokasi untuk kembali pulang, menaiki rakit dan meniti jalan setapak. Kelelahan, kami duduk di bak terbuka double cabin sembari bercerita. Saya pun iseng mengajukan pertanyaan pada kader posyandu Mekarsari,

“Apa suka dukanya jadi kader posyandu?’

“Sukanya punya teman banyak, bisa berbagi pengetahuan, juga bisa bertemu dengan kader posyandu lain. Kalau dukanya, saat kejar timbang (menimbang semua balita untuk mengetahui populasi balita), kami harus pergi dari satu rumah ke rumah lain untuk mendapat data. Sementara, jarak antar rumah lumayan jauh.”

Pola pemukiman di sini menyebar, tidak terpusat pada satu kawasan seperti perumahan atau di kota. Banyak rumah didirikan di antara kebun jagung atau coklat. Mau tak mau, kader posyandu mendatangi rumah per rumah dengan berbekal motor dan timbangan dacin. Pagi berangkat, malam baru pulang.  Kadang, kedatangan kader posyandu disongsong oleh gonggongan anjing. Ada pula orang tua yang belum paham yang membawakan parang. Wah, takut deh.. masyarakat pun mengira bahwa kader ini mendapat gaji, padahal mereka tidak mendapat gaji untuk tugas mulia ini. Hari-hari diisi dengan bertani di ladang. “Toh tugas kader untuk posyandu tidak setiap hari, namun ada tanggal-tanggal tertentu di tiap bulannya, misalnya tiap tanggal 18, 22, atau 24.”

Begitulah, 140 balita dari 2 desa mengikuti lomba balita sehat ini. Kami mencari dan memberi apresiasi balita sehat di masing-masing posyandu untuk menyemangati kegiatan berposyandu, baik bagi kader maupun orang tua. Tiga belas posyandu bersaing untuk mendapat predikat posyandu teladan. Masing-masing 6 dan 7 posyandu mewakilkan 5 kadernya untuk dipilih menjadi kader teladan di tingkat desa.

posyandu on the spot, di bawah rumah panggung

Semoga tumbuh anak-anak Indonesia yang sehat, yang cerdas, dan mampu menjadi pemimpin masa depan. Semoga juga muncul kader-kader posyandu teladan yang membimbing masyarakat untuk menyadari pentingnya memperhatikan perkembangan kesehatan balita. Salam hormat untuk anda semua… (angkat topi). ***

dok : Silmi Nathar, Basri Remba

2 thoughts on “Mencari Kader Posyandu Teladan (II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s