Motoran di Sepotong Trans Sulawesi

Seri perjalanan selanjutnya adalah naik motor. Saya bukan bikers, bukan juga pehobi touring dengan motor-motor besar. Saya pengendara motor biasa. Mendapat SIM saat SMA kelas 2, saat itu ada pengurusan SIM bersama yang diorganisir Menwa kampus besar di Jogja. Lucunya, saat mengerjakan tes tulis, lho kok sudah ada jawabannya ya..hehe..

Well, anyway, saya belajar naik motor saat kelas satu akhir SMA, dengan alasan harus. Bis umum yang lewat sekitar rumah ke sekolah sering datang terlambat, membuat acara masuk pagi di sekolah kerap berakhir dengan keterlambatan. Dan alasannya pula adalah tidak ada yang bisa antar jemput saya. Haha…maka berkendara motor waktu itu bukanlah untuk alasan gagah-gagahan atau gaya hidup yang kini mewabah di kota tercinta, melainkan harus! SMP, saya berangkat sekolah dibonceng kakak saya yang SMA, pulangnya naik bis juga.. Bayangpun, Jogja kini semrawut betul. Anak SD bahkan sudah naik motor.. Motor-motor sliwar sliwer di segala jalan, mulai dari jalan kampung yang penuh polisi tidur dan penanda ‘ngebut benjut’ hingga jalan utama yang kian sesak saja dengan motor yang meringsek hingga celah terkecil.

Nah, menginjakkan kaki di bumi Celebes, dunia berputar. Jalan trans Sulawesi yang kami lalui menghasilkan kesimpulan bahwa saya dan suami tidak cocok bermobil di sini. Kelok-kelok, seindah apapun wajah pantai di seberang jalan membawa para pemobil memacu kendaraan secepatnya. Sepinya jalan turut mendukung kelajuan, yang hanya direm mendadak kala sapi dan kambing bergerombol ‘chit chat’ mengisi jalan, membuat wajah ini pucat dan berharap agar segera sampai di tujuan. Walhasil, kami memutuskan perjalanan antar kota antar propinsi ini ditempuh dengan motor.

Sejak lepas lebaran 2011, tepatnya saat saya mengisi pelajaran di sebuah SD Inpres di sini, saya diwajibkan suami untuk bisa naik megapro. Alasannya sama seperti kala SMA dulu, saya tidak bisa menggantungkan diri pada orang lain untuk antar jemput. Sebetulnya di awal kedatangan di Celebes dulu saya sempat memacu motor kopling ini ke Budong-Budong, sekitar 2 jam perjalanan.  Namun saya belum fasih naik turun persneling dan memainkan kopling, apalagi jalanan naik turun gunung meski aspal halus, dengan beberapa lubang berkubang di sudut-sudut jalan.(Ehm, barusan lewat, ternyata sekarang jalan ke Budong-Budong halus mulusss).

Jadilah, lawatan lalu ke Palu, saya bergantian dengan suami memacu motor. Sebetulnya bukan memacu sih, wong kecepatan maksimal 80km/jam. Ndak berani lebih banter. Sapi, kambing, atau anjing ini lho, yang sering membuat kaget. Yang bisa dilakukan ya klakson mereka beberapa kali untuk minggir. Pergantian persneling masih juga belum mulus, navigator di belakang sering menyenggol memberi tanda bahwa gigi perlu dinaik-turunkan sesuai kondisi jalan.

“Usahakan kecepatan stabil, tidak perlu ganti persneling kalau tidak perlu betul.”

“Kalau lewat jembatan, kecepatan diturunkan dulu, karena pasti ada lonjakan di jembatan.”

“Tiiin…”

“Ayo, lewati truk di depan, jalan lupa sein kanan untuk mendahului.”

“Awas, ada bis dibelakang, jangan terlalu ke tengah.”

“Jangan diulang ya, berbelok sampai melebihi batas jalan itu berbahaya. Kalau ada kendaraan dari arah sebaliknya, bagaimana…”

“Wah, ini pasti kontraktor (jalan) lokal, masak jalan didempul pake batang kelapa dan tanah seperti ini.”

“Awas, jembatan kayu, ikuti mobil depan yang menyeberang.”

Begitulah navigator di belakang yang memberi peringatan dan aba-aba..mungkin juga disertai jengkel karena terantuk lubang di jalan plus khawatir dengan gaya bermotor pengemudinya yang punya reflek lambat.

touring, nice view

So, inilah rute perjalanan itu (kurang lebihnya), berpandu pada papan nama sekolah dan kantor, gapura, atau penanda yang tertera di tepi jalan (http://maps.google.co.id/maps?q=peta+:+sulawesi+barat&um=1&ie=UTF-8&hq=&hnear=0x2d92da2454bb4409:0xea5cbf202f3370f2,Sulawesi+Barat&gl=id&ei=QnAvT6f7FMurrAei58ToDA&sa=X&oi=geocode_result&ct=title&resnum=1&ved=0CCAQ8gEwAA) :

Sarudu SP 2 (jalan berlubang parah, berbahaya, juga jalan tanah berdebu, awas jarak pandang) –Sempo – Doda (ada tikungan berbahaya, banyak orang kongkow di tepi jalan) – Bambaloka (pasar dipindah tidak lagi di tepi jalan) – Baras – Lariang (jembatan bagus, sungai masih lebar dan berjalan) – Kebun sawit utara (jalan buruk,bergelombang karena tanahnya labil, hati-hati) – Tikke (pasar ramai, hati-hati) – Pasangkayu, ibu kota kabupaten (jalan sedang proses pengaspalan, waspada sapi dan kambing melintas. Ada pom bensin untuk jeda sejenak, sayang toiletnya buruk. Ada warung Coto yang enak, warung kecil, dekat perwakilan travel UD Nur) – Mertajaya (kampung Bali, buah-buah segar dijual di tepi jalan) – Bambalamutu – Letawa –Watatu – Banawa Selatan –  Banawa Tengah – Banawa – Donggala (jalan meliuk bukit, view pantai, hati-hati. Di daerah Loli, ada warung Kaledo-kaki lembu donggala, yang terkenal) – Palu Barat – Palu.


Perjalanan kami terjeda dengan makan siang di warung terminal indah di Donggala dengan menu ikan bakar, pepes udang, dan gulai nangka. Segarnya ikan bakar dan udang sungguh terasa hingga kami menikmati gigitan demi gigitan pelan-pelan. Itung-itung, mengikuti gerakan Slow food, makan pelan-pelan, bahan baku diperoleh di daerah sekitar, dan dikelola orang lokal. Sayang tidak ada menu minuman kelapa muda, padahal pohonnya berjejer banyak di tepi jalan. Lokasi warung di pinggir pantai menambah kenyamanan makan siang sepoy-sepoy. Sejajar di tepi pantai, beberapa kapal tertambat dan orang-orang memperbaiki kapal. Kalau naik mobil, tak mungkin saya minum es jeruk, kemungkinan besar adalah teh panas, itupun masakan yang terhidang hanya dicicip sedikit. Ndak kuat perut saya..



kapal tertambat


Lepas dari sana, jalan mulai memasuki daerah perumahan dan kota. Di Donggala, jalan trans Sulawesi melewati rumah-rumah yang berdiri rapat sehingga seperti di perumahan saja. Saya pun kemudian menyerahkan kendali motor pada suami. Kami berhenti di kecamatan Benawa untuk mencari penjual sarung tenun Donggala. Dari referensi yang saya dapat, ada di beberapa desa pengrajin sarung tenun Donggala di Benawa Tengah dan Benawa. Namun karena ini perjalanan panjang, kami langsung ke penjual yang berada di tepi jalan. Pada lawatan sebelumnya, kami sempat berhenti di pengrajin sarung tenun, namun tidak banyak koleksi sarung yang dimiliki karena telah disetor ke penjual di Palu. Maka kini langsung saja kami berhenti dan melihat koleksi sarung tenun Donggala yang warna warni indah di mata.

ATBM sarung tenun donggala

sarung tenun donggala diproduksi

Harga yang ditawarkan lumayan tinggi, hampir sama dengan harga sarung tenun Donggala yang dijual di kota Palu. Sempat tawar menawar, dan tak banyak turun pula harganya. Suami mengingatkan bahwa inilah saatnya memiliki barang khas daerah. Mumpung masing berada di Sulawesi. Belum tahu kapan lagi kami berada di tempat ini. Saya setuju, dan juga berpikir dengan harga tersebut. Tak apalah, asalkan harga sekian yang ditawarkan terdistribusikan pada para penenun sarung yang bersusah payah dengan alat tenun bukan mesinnya, memintal benang hingga menjadi sarung yang indah.

Kami lanjutkan perjalanan bermotor menuju kota Palu. Melihat kota utama propinsi Sulawesi Tengah. Kalau dilihat di peta, propinsi ini sangat eksotis bentuknya, diapit air di kanan kiri, ada Teluk Palu yang menyeruak menawarkan deburan ombak yang makin elok di malam hari. Untuk perjalanan dengan mobil, jarak ditemput dalam waktu 3,5-4 jam (ini badan rasanya terbang dan perut dikocok-kocok). Untuk perjalanan kecepatan 70km/jam, ditempuh dalam waktu 4,5-5 jam. Jadi jarak yang ditempuh berapa, anak-anak ? W=V x t. W=70km/jam x 4,5 jam. W=315 km/jam.

Tujuan kami : toko buku! Lapar mata rasanya ! Sempat juga mendapat koran nasional yang tidak selesai dibaca sehari.. Ah, indahnya… tinggal kaki dan bokong yang pegal-pegal, plus tangan yang stand by di atas stang motor.

Kesimpulan :

  1. Untuk perjalanan jarak jauh seperti ini dengan kendaraan roda dua, lebih enak kita berada di depan. Melihat dan menguasai perjalanan di atas kendaraan bermotor rasanya lebih enak daripada hanya duduk di belakang memasrahkan semuanya pada pengemudi.
  2. Motor berkopling jauh lebih nyaman dikendarai dibanding motor bebek, apalagi matic.
  3. Duduk di belakang biasanya cepat mengantuk, guncangan akibat jalan tidak rata pun lebih terasa. Kalau mengantuk, saya biasanya menyanyi, menghafal asmaul husna, bershalawat, dan lainnya (woh woh ckckck…).. Sementara kalau saya di depan kemudi, isinya lebih banyak menghafal asmaul husna dan bershalawat.. teriak-teriak deh….supaya hati tentram (hahaha).
  4. Gunakan helm yang pas di kepala.
  5. Gunakan kaca mata. Saat pagi dan magrib menjelang ada banyak burung-burung (istilah lokal untuk serangga macam nyamuk yang terbang mendekati cahaya). Burung-burung sering sekali menabrakkan diri di wajah..Berhubung saya memang berkacamata, maka idaman saya adalah kacamata yang bisa berubah warna lensanya mengikuti cuaca…hehe…
  6. Gunakan sun block di wajah dan tangan.
  7. Kenakan masker.
  8. Saya tidak suka pake sarung tangan touring, tapi akibatnya ya tangan makin kelam…hehe…

Selamat touring di daerah…. nikmati indahnya jejeran pohon kelapa, pohon kakao, rumah-rumah kayu yang berdiri di tepi jalan. Jembatan-jembatan yang tak terhitung banyaknya, serta hewan-hewan yang chit chat di tepi jalan. Kalau melewati kampung Bali dan saatnya tepat, lihatlah tempat sembahyang di depan rumah serta janur yang dipasang indah..

kayak orang iran, katanya……..hahaha……

6 thoughts on “Motoran di Sepotong Trans Sulawesi

  1. wah wah..iki aris kok mlh njaluk dibonceng nyonyah..halo bu.menarik critanya.sy jg sk.touring tp dibayar hehe.jalur e jkt bandung…via lembang.kebun teh nan sejuk..kira2 400km an…

  2. Huwaaaa………..Mbak Hani…Ternyata wes doyan “turingan” juga…:P
    hehehe, jelas lah, yang di depan emang yang paling enak. Capek si, tapi pastinya ga secapek yang mbonceng…keren2. Pengen kapan2 bisa trans Sulawesi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s