3 ramadhan ini

Tak terasa 3 ramadhan ini terlalui di morowali..cuaca yang berubah ubah, puanas, hujan, petir, datang tak kenal musim..awal datang disambut hujan deras hingga tukang sayur tak ada masuk dan hanya ada menu sarden beberapa hari di meja makan. di sini pula bertemu tetangga baru dan saudara baru…

Kenal sebelah rumah, bu naryo, yang bisa diskusi tentang ide-ide yang berlanjut dengan aktivitas mengaji anak-anak…lalu berkenalan dengan bu amir yang jadi agen pemesanan daging sapi haji fatah di beteleme.belanja dengan bu amir, dijamin harga jadi murah🙂. Lalu ada bu nur yang nyetok galon air, sehingga tak perlu repot baangkut galon jauh-jauh..ketemu juga bu kun, yang pertama ketemu langsung kasih tebengan beli gado-gado di mama eko (menu nggenah setelah sekian hari di morowali).ada juga bu idris yang suaranya membahana, yang ternyata agen tupperware 30%…ada lagi bu nasir dengan cipo yang masih diayun. Bu hamzah dan bu trian yang riuh berbahasa sunda, plus plus bu ido. Ada juga tawa renyah tiwi dan umbel meler ebi nya bu bin. Sedangkan bu aan, ketemu 6 bulan sekali, yang membuatku terpaksa ber-bbm demi lancar komunikasi🙂 … Ada juga bu suwig, yang sibuk bolak balik palu-morowali.. ada juga bu dwi, bu rusdin, dan bu umar.tak berapa lama, datang bu mul dan bu agung. Lalu bu toto, bu indra, bu ahmad, bu didik, dan ibu-ibu lainnya…Ah…siapa lagi ya?..mgkn tdk banyak memori yang tersimpan, maafkan…

Banyak cerita, banyak dinamika. Ada canda,beda pendapat,mungkin ngrasani,mungkin tersakiti.Ada kegiatan dan kongkow2 yang mengeratkan satu sama lain. Dinamika kelompok, yang pasti terjadi di manapun kita hidup. Baik di sini, juga di sana. Semua itu adalah proses adaptasi dalam lingkungan..berhasil atau tidak, tergantung kita sendiri menyikapi perbedaan.

Sekian waktu, satu demi satu tetangga berpindah dari sini. Satu keluar, satu masuk.Ada yang mutasi, ada juga yang memutasikan diri. Namun tahun ini, ada begitu banyak perubahan..banyak dari penghuni lama yang berpindah.bu dwi, bu bin, nu naryo, bu nur, bu kun, bu amir, bu aan..juga bapak-bapak yang jadi single selama di morowali.

Dan beberapa waktu ini, sungguh terasa betapa tetangga bagaikan saudara..siapa yang siap membantu kala ada musibah? Siapa yang menawarkan cabe rawit, sawi, kacang panjang, atau daun ubi sebagai alat survivor kala jalan becek dan tak ada tukang sayur lewat? Siapa yang heboh berebut durian kala bintang terang meski badan letih dari beteleme? Siapa yang merasakan kesedihan kala ada saudara yang kehilangan? Siapa yang ada di dekatmu?

Ahh…tetangga itu, saudara terdekat..yang rela membantu, menemani, dan berbagi. Terlebih bagi kita di sini, yang butuh +-12 jam ke palu, +- 14 jam makassar, masih plus sekian ratus km dengan pesawat terbang…

Selamat melanjutkan hidup, tetangga-tetanggaku. Yang lama, yang baru, yang sudah dan akan berpindah dari sini. We’ll gonna miss you, in agree or disagree, you were here as our family…

Lho, ternyata Pak Wardi juga pindah, pagi ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s