Nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Subhanallah..

Ada banyak cara Allah membelai makhluknya. Yang namanya penyakit, ada saja macamnya, dari yang umum didengar sampai yang baru-baru saja diketahui, dari anak muda sampai usia senja, ada. Teknik pengobatan pun berkembang, dokter-dokter makin canggih mendiagnosa penyakit dan melakukan riset. Kontrol atas perawatan pun melalui prosedur yang ketat. Tiap masalah kesehatan akan berusaha diobati dengan berbagai macam cara, mulai dari herbal, akupuntur, bekam, obat, surgery, dan lain-lain.

 

Pertanyaan yang sering muncul di benak kita selaku penderita atau kerabat penderita adalah, why me? Mengapa saya? Mengapa keluarga saya? Kesalahan apa yang pernah saya/kami lakukan sehingga harus menanggung kesakitan ini, dikala orang lain, yang (tampaknya) lebih berperilaku buruk dari kita, justru tidak dirundung duka?

 

Apa jawabnya?

Mulailah kita menggugat. Kita bertanya-tanya, kita mengeluhkan kesakitan ini. Agak klise memang, dikala jawabnya adalah Tuhan sedang menguji makhluknya, atau Tuhan ingin tahu sekuat apa makhluknya berusaha. Padahal biaya hidup makin tinggi, pekerjaan makin banyak, tetangga omong tanpa otak dan nurani, anak buah dan bos bertindak yang semaunya, dan tagihan muncul makin panjang. Oh…

 

Dan nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Di tengah segala kegalauan sakit, financial, keluarga, cicilan, dan macam-macam, muncul satu pola Tuhan (maaf kalau lancang mereka-reka). Jawabnya adalah : C’est la vie! Inilah hidup! Hidup selalu penuh ujian. Hidup selalu menawarkan tantangan dan harapan, juga tangisan dan ratapan. Tinggal bagaimana saja kita menata diri, membangun konsepsi keluarga bersama suami, menentukan jalan ke depan yang akan diambil. Mempersepsi tindakan dan omongan orang dengan negatif, atau membuat pembuktian dengan bertindak positif.

 

Qui transtulit, sustinet..Siapa yang menanam, akan memanen. Perbuatan, perkataan, yang buruk, akan mendapat balasan dari Allah, lewat jalan yang tidak kita duga. Balasan langsung, sekarang, atau tahun ke depan. Melalui diri sendiri, kesehatan, finansial, atau hambatan. Selalu ada jalannya. Maka hati-hati berkata dan bertindak yang menyakitkan orang. Balasan itu bisa kembali pada kita dengan jalan yang tidak kita ketahui, dalam waktu tak terbatas.

 

Yah, kita sebagai manusia hendaknya terus memiliki harapan dan usaha, tidak pasrah dan menjagake bantuan orang lain. Paling tidak, suami – istri adalah satu tim yang saling mendukung, melindungi, mengingatkan, menjaga, dan menjadi pakaian bagi pasangannya.

 

Yang pasti, ihtiar usaha yang dilakukan tetap melandaskan pada kemurahan Allah semata, menerima dengan ikhlas proses yang harus dijalani dan berdoa penuh harap. Jangan lupa, banyak berbagi, karena dengan berbagi, hati menjadi bahagia.

 

Problem suami-istri, kesehatan, finansial, dan semua yang terjadi di dunia ini muaranya pada keikhlasan, ihtiar, doa, dan bermanfaat bagi sesama.  Nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

 

Marilah kita menjadi manusia yang keberadaannya membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar kita. Tetap berusaha, ihtiar, dan berdoa. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati merestui usaha kita.. Ingat, jangan terlena terfokus pada yang tidak kita miliki dan kemilau rumput tetangga, tapi fokuslah pada niat baik untuk memperbaiki diri menjadi manusia yang bermanfaat. Amiin…

(sedang sok bijak) Irhamna ya Allah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s