survivor

Infertility…apaan sih?
Different ability….ya gitu deh…
Widow..siapa ?

Nah teman, kadang secara tidak sadar kita membicarakan sesuatu yang kita anggap wajar tapi bisa menyakitkan orang lain. Kalau ada teman difabel, tuna daksa atau tuna netra, kita bilang dia cacat. Kalau ada yang kena cancer, kita bilang dia sakit. Kalau ada yang belum punya anak, kita bilang mandul. Kalau ada anak yang diajari gak paham-paham juga, dibilang bodoh. Kalau ada yang berpisah dengan suami, dibilang janda. Bicaranya dengan nada merendahkan pula, peyoratif.. Tahukah anda kalau label itu menyakitkan?

Bagi banyak orang, sehat, anak, kecerdasan, keluarga harmonis, itu muncul secara alamiah, lumrah, begitu saja. Namun ada orang-orang istimewa yang dihadiahi Allah dengan misteri kehidupan sehingga untuk dapat masuk ke kategori ‘normal’ atau mungkin lebih enaknya ‘standar’, perlu effort khusus untuk diraih, diusahakan, dan ditelateni.

Orang Indonesia suka sekali berbicara, mulai dari menceritakan masalah dan kemegahan dirinya, hingga kelakuan orang lain yang tidak sesuai. Dan orang-orang dalam paragraf di atas sering kali masuk list pembicaraan, dirasani.
Coba jawab dulu pertanyaan ini jika anda sedang membicarakan orang :
– Memang lu tahu apa masalahnya?
– Memang dia mau lu tahu masalah dia?
– Memang dari membicarakan dia bisa muncul solusi?
– Memang membicarakan orang bikin hati jadi tentram?
– Memang lu sendiri kuat kalau dapat cobaan seperti dia?
– Memang lu mau dibicarain kayak dia?
– Ehm…sape elu sih?

So, saya mau bagi sedikit tentang ini. Disease, cancer, difabel, infertility, divorce, bisa terjadi pada siapa pun. Jangan sakiti orang lain yang sedang dirundung sedih dengan mengata-ngatai mereka kalau tidak ada tujuan, ujung baiknya. Tahukah anda, kalau mereka adalah survivor, yang berjuang untuk sehat, untuk punya anak, untuk hidup.

Jangan lihat mereka sebagai pihak yang tidak punya ini itu seperti halnya anda yang komplet. Lihatlah mereka sebagai insan manusia yang utuh, yang berprestasi, yang bermanfaat bagi lingkungannya. Siapa tahu, keberadaan mereka lebih bermanfaat daripada orang-orang kebanyakan yang tidak mendapat cobaan Tuhan. Who knows?

sketch-1411460464261

Orang-orang pilihan ini tidak butuh untuk dikasihani. Beberapa advice mungkin boleh, tapi jangan yang menyudutkan, apalagi meremehkan. Anda tidak tahu apa yang dia rasakan, kan? Mereka pasti punya banyak pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Kalau anda berniat baik memberi saran, pastikan anda menguasai informasi tersebut. Atau anda bisa sampaikan pada pihak lain yang lebih dekat pada yang bersangkutan, apalagi jika gaya anda cenderung sok tahu dan sok benar, apalagi tidak punya hubungan dekat dengan sang survivor.

Kata Nabi SAW, sebaik-baik orang adalah yang orang lain tentram saat di dekatnya. Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi lingkungannya. Yuk, jadi orang yang begitu yuk…

🙂

2 thoughts on “survivor

  1. 🙂

    I’m a survivor. Survivor yang mencoba berdamai dengan kelainan saraf yang suka-suka ia-lah kapan mau menyerang. Sayangnya, tidak terlihat ketika sedang terjadi serangan ringan.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s