Lebaran Sekeping Biskuit

Lebaran ini ada banyak stok makanan kemasan. Ada yang beli, ada yang dikasih. Mulai dari biskuit, kukis, coklat, permen, kripik kentang, hingga soda, air jeruk, kopi, dan susu. Tempat baru, budaya baru. Ternyata di sini untuk yang piket dapat sekerdus makanan minuman kemasan, sesuai berapa hari ybs piket. Waw… Saya jadi mengurungkan niat bikin camilan telur gabus.. hehe..

20180622_075752-1

Panganan lebaraan 😆

Ya, kan ceritanya lagi latihan food combining, jadi saya kurangin makanan terkemas dan diganti buah, kacang ijo, atau granola (haha..akhirnya saya pesan granola juga dengan ongkir lumayan). Kata suami, si granola ini macam makanan burung, biji-bijian. duh. si bapak.

Lidah Si Gurih Manis
Kebiasaan saya adalah membaca ingredients di kemasan. Saya bukan ahli farmasi dan kimia, tapi ada beberapa bahan yang saya ingat : aspartam dan sakarin si pemanis buatan, mononatrium dan monosodium gulatamat, benzoat pengawet, pewarna, serta feniletilanin. Syukurlah tidak semua makanan di meja mengandung bahan-bahan itu. Amaan…

Dimakan nggak ya..mmm…camilan yang kebanyakan jarang saya makan. Tapi rasa ingin tahu membuat saya iseng nyoba. Iklannya berseliweran di tv. Anak-anak balita, TK, dan SD pun biasa bawa bekal makanan ini.

Beberapa suap… enak loh. Lalu..stop stop. Berhenti. Lidah lu, kali Han, yang aneh. Buktinya, orang lain makan, baik-baik aja kok. Namanya juga lidah itu urusan kebiasaan. Apa yang biasa disantap, itu yang disukai..

Balada Camilan Sehat
Nah loh.. Kalau camilan sehat pian itu  kayakapa? Setahu saya, buah dan biji-bijian, makanan yang less pengolahan adalah makanan paling sehat. Jagung, kacang, ubi rebus, yang murah meriah itu lebih sehat dibanding kripik jagung, kripik singkong, kacang atom pedaz. Masalahnya, makanan sehat segar ini gak tahan lama dan kurang kreativitas atau agak membosankan.

Lalu bagaimana petani dan pedagang bisa untung jika tidak ada pengolahan pangan pasca panen? Penjualan makanan olahan dengan teknologi akan lebih tinggi nilainya dibanding menjual bahan segar. Contoh gampangnya : tempe sekotak lebih murah daripada tempe mendoan sepotong. Kripik pisang dan cake pisang lebih awet dan lebih berdaya jual dibanding  pisang rebus. Apalagi kalau jadi pisang bolen bandung dan strudel. Nah pertanyaannya, bisakah pengolahan makanan tersebut menggunakan bahan sehat alami dan rasa manis yang proper ?

Sebetulnya bisa. Saat membeli granola di kemasannya, tertulis : gula tebu, palm sugar, sirup singkong, madu -> ini contoh pemanis alami dibanding sakarin, aspartam dan konco-konconya. Sea salt dan himalayan salt sebagai perasa asin. Enak juga kok, tanpa bantuan msg si monosodium glutamat dan kaldu bubuk. Karena bahan bakunya udah enak, pengolahan tepat, mau digimanain juga enak.

Cuma masalahnya bahan alami ini untuk itung biaya produksi jadi lebih mahal dan perlu proses yang lebih lama. Makanya snack sehat yang saya impor dari jawa harganya jauh lebih mahal plus kemasannya kecil pula. Nyoba bikin kripik talas n kripuk singkong sendiri, belum berhasil formulanya (ngaku)..

Mungkin inilah industri. Industri makanan  menghasilkan barang konsumsi yang cepat, enak, massal, awet, bisa dipasarkan ke mana-mana. Jika perlu dikemas kecil-kecil agar cepat penjualannya. Penetrasi pasar pun bagus karena kemasan praktis dan harga terjangkau, rasanya juga maniss dan gurihh, cocok dengan lidah orang Indonesia kebanyakan. Praktis. Hanya 2 ribu dapat 3 keping biskuit yang dikemas. Kalau baking kue? Wah pake repot, tenaga dan waktu, cucian, alat, dll.

Urusan perasa makanan ? Ah, kan sudah ada BPPom, PIRT, MUI. Kalau sudah melalui lembaga tersebut, insyaallah aman. Selain itu, produsen menuliskan ingredients di kemasan sehingga telah memberikan informasi nilai gizi dari makanan tersebut. Kalau tetap kaubeli dan kaumakan, berarti kamu sudah memilih dan sudah tahu konsekuensinya. Hehe.. itu yang mencantumkan lho.

2018-06-21 17.04.49

Membaca label kemasan makanan

Meski dilematis dengan pengawet makanan, saya turut memanfaatkan bahan instan juga. Misalnya santan, kaldu sehat, teh kemasan, dan tentu saja susu. Soalnya saya gak seperkasa ibu-ibu yang jago belah kelapa sendiri. Kalau marut kelapa, masih bisa lah, tapi kalau belah dan congkel mencongkel, ampun saya..hehe..Ini skill ibu-ibu sulawesi yang punya banyak kelapa di halaman rumah. Bikin bobor bayam semangkok bisa butuh waktu 2 jam..wkwkwk….

Saya juga pake kaldu sehat, ada produk bikinan lembaga yang saya kenal, menyokong petani dan kegiatan sosial, serta rasanya oke. Jadi sang kaldu bubuk nangkring di dapur deh, meski belum nemu di supermarket besar di kota propinsi. Mungkin inilah kendala home made : distribusi. Ya, distribusi Indonesia raya butuh biaya dan sistem agar terserap pasar.

20180622_062455-1

Teh kemasan ? Ini membantu banget saat banyak tamu. Saat open house lebaran, tenaganya udah cape bikin coto makassar n rica-rica, plus nongkrongin ketupat 2 jam ampe tengah malam. Kebayang kalau hari H musti bikin teh satu satu untuk tiap tamu yang datang. Weh, ibu mertua ini yang hebat tangkas nyiapin begini di jawa sana. Saya mah angkat tangan. Gantinya, teh kemasan, air minum kemasan, yang ringkas dan cepat..hehe..dan menyisakan sampah..

Dua Dosa Industri
Ada 2, kalau menurut saya, dosa industri, yang belum termaafkan. Dosa itu yang pertama adalah merubah pola konsumsi rumahan (masak dan produksi sendiri) dengan konsumsi membeli atau budaya jajan.

Di sepanjang jalan Negara HSS, daerah seputar kami tinggal, ada banyak pedagang makanan dan laris manis. Suatu saat perjalanan ke pasar, saya iseng menghitung jumlah penjual makanan di sepanjang jalan : sore hari : penjual makanan ada 44 gerobak, sementara siang hari saat sedang panas-panasnya, ada 30 gerobak. Gerobak ini jual es warna warni, pentol (paling banyak), aneka gorengan, mencok (rujak), wadai kue, jagung bakar, dll. Sayangnya laptop saya yg penuh dokumentasi foto lagi error diserang semut..duh…foto seadanya deh.

Anak kecil, bapak ibu, tua muda jajan pentol (bakso) dengan cocolan saos merahh. Saya pernah coba pentol yang dibilang enak itu, rasa kaldu bubuknya terasa bangett.  Uhuy.. Liat warna saosnya bikin nyengir..rhodamin rhodamin…

Di jalan itu juga, jumlah warung dan toko yang jual makanan dan minuman di sepanjang jalan : 160 warung. Warung dengan display rentengan minuman dan snack kemasan ini  selalu ada pembelinya… jajan asik dah. Padahal kalau mau dipikir, bikin sendiri di rumah juga bisa. Tapi ya itu, pakai waktu dan tenaga.

Dosa industri selanjutnya adalah penghasil sampah kemasan terbesar tanpa mengajarkan bagaimana penanganan sampah pasca konsumsi. Lihatlah bagaimana biskuit dikemas 3 biji, snack snack angin dikemas kecil seharga seribuan.

Shampo, sabun cuci, pewangi pakaian, kecap, saos, merica dan bumbu instan dikemas sachet untuk sekali penggunaan. Alasannya sih lebih murah dan lebih irit. Tak jarang ini jadi kembalian kala pedagang nggak ada uang receh. Tapi murah dan irit ini sesungguhnya ada biaya sosialnya yakni sampah kemasan yang terus bertambah.

Saat kemarau, air menyusut dan tampaklah onggokan sampah di bawah rumah-rumah kayu. Isinya bungkus sabun, kemasan snack dan minuman gelas, yang nggak rontok dan terurai selama sekian waktu. Hari demi hari, bungkus snack tambah banyak, yang jajan tambah banyak, namun budaya nggak dirubah. Saat penghujan, sampah-sampah akan meluap di halaman yang penuh air, berkumpul dengan air sungai yang sehari-hari digunakan untuk Mck. Sedih ya, industri kita tidak mengajarkan konsumen bagaimana pengelolaan sampah hasil produk industri.

Prediksi saya, Negeri seribu sungai ini lama-lama akan dipenuhi sampah plastik. Dan selama pola konsumsi, pola jajan, pola buang sampah di halaman (which is sungai) dilakukan, maka rantai itu akan terus bersambung. Diare dan ginjal yang merupakan penyakit yang bersumber dari makanan, minuman, dan kebersihan, akan terus menjangkiti masyarakat seputar sungai. #Tears.

Kalau Kamu Gimana?
Perubahan dimulai dari lingkungan terdekat. Kebetulan bukan air di kanan kiri rumah, tapi tanah. Kami pakai teknologi pilah sampah dan bakar sampah di tong. Ya resikonya pencemaran udara dan teman-teman. Kemasan teh, air minum, dan kertas nasi terbakar dengan bahan bakar minyak jelantah dapur. Jadi aroma pembakarannya gimana gitu. Haha… Belum ada teknologi daur ulang sampah plastiknya. Padahal ini penting banget untuk masa depan. Ayo berkreasi !

Ada pula ayam tetangga yang berkeliaran minta jatah, sekaligus menyelamatkan kami dari sisa-sisa makanan yang terbuang. Ayam ini juga membantu ngeker-eker tong sampah plastik dan organik. Lumayan, bantu ngaduk-aduk sampah dan nggak buang hajat di teras depan lagi.hihi..

Kisah Sekeping Biskuit
Ahh… ternyata sekeping biskuit ini punya cerita panjang, bagaimana dia hadir dan tersaji di meja tamu. Kalau bisa cerita, dia sudah melalui proses produksi dan distribusi yang berliku. Menunggu saatnya dikonsumsi alias dimakan rame-rame.
Makanan ini menandakan berjalannya pola kerja industrial yang mendukung mata rantai tersajinya makanan ini di sini.

Ya. Kalau makanan terjual sampai di sini, berarti pabrikannya punya sistem distribusi yang keren. Camilan ini terserap pasar  karena rasa, harga, dan terjangkau. Pabrik di Jawa, produknya sampai Hulu Sungai Selatan Borneo. Laris manis di warung Pak Kaum di tengah in the middle of nowhere, yang transportnya sambung menyambung, penuh perjuangan.

Itulah industri. Penyokong perekonomian dengan penyerapan tenaga kerja. Banyak tangan dan mesin yang membuatnya. Banyak cerita di baliknya.
Yuk ah.. makan granola dan susu uht dulu yuk..😋
***

Advertisements

Food Combining, ceritanya….

Beberapa waktu ini saya gagal ber food combining. Mengapa ? Karena kekurangan bahan baku. Alasan yang bodoh ya. Sebetulnya food combining itu simpel. Hanya saja kendala saya adalah stok buah dan sayur yg terbatas. Kadang itu-itu aja. Plus penyimpanan yang buruk karena kondisi kulkas yg aduhai #kulkas inventaris memble#. Paman sayur jarang datang. Maklum medan tempur lumayan menantang. Kalau hujan, jalan bonyok kebanjiran atau sebaliknya, panas keras cadas. Lha padahal food combining itu isinya sayur, buah..njuk piye ?

Mengapa Food Combining/fc
Sebetulnya bukan untuk menurunkan berat badannya, tapi untuk sehat. Selain itu ada bakat diabet yang bikin saya ngurangin gula. Tujuh bulan ini saya berusaha fc. Masih ala ala sih. Belum sampe ngejus sayur. Buah cenderung dimakan pelan-pelan dan penuh syukur, dapet serat dan vitaminnya tanpa gula tambahan. Sepemahaman saya, intinya FC itu menata pola makan. Protein hewani tidak disandingkan dengan karbo, namun dengan sayuran. Protein nabati disandingkan karbo dan sayuran.

Karena dasarnya pemakan sayur, ya nggak masalah buat saya. Daun-daunan itu menyenangkan, tambah wortel tomat dll. Makan ikan 1 ekor aja kenyang lho, ditemani lalapan or plencing kangkung. Yang penting sayuran itu ada dressingnya. Apakah itu? Sambel. Haha. Untuk nyoba salad-salad an masih belum. Padahal udah mantengin ‘Jammie 30 minutes meal’. Lidah belum terbiasa kali ya.

Nah..itulah yang saya bilang tadi : KEBIASAAN. Paling sulit adalah saat mengawali karena mengubah kebiasaan. Biasanya nasi, roti, untuk sarapan, kini buah saja. Plus pertanyaan teman teman mengapa tidak makan nasi.

Bangun pagi, perut dialasin dulu jeniper hangat. Makanan paginya pepaya, pisang, nanas, jeruk, tomat, semangka. Kalau ke pasar nemu jambu merah, sawo, dll. Ke kota ketemu buah naga, apel, anggur. Kadang rebusan kacang ijo jadi minuman dan snack. Kunyah pelan-pelan supaya mudah dicerna dan terserap tubuh dengan baik.

Aneka varian warna buah dan sayuran itu didesain Tuhan untuk mengandung zat gizi yang berlainan. So semakin bervariasi tentunya semakin baik untuk tubuh.

Saya cenderung pilih buah lokal. Mengapa ? Karena rendah rantai distribusi dan jejak karbon, suport petani lokal, gak pake lapisan lilin, dan murah. Resikonya ya perputarannya kurang banyak. Ada sih buah-buah ajaib kalimantan semisal cempedak, buah saraf, mantuala, kasturi, dan buah asam yang saya lupa namanya. Namun buah-buah itu kurang cocok untuk sarapan fc karena asam, gas, dll. Jadi kemungkinan mereka jadi cemilan sore. (Maap foto buahnya keselip entah ke mana).

Aneka Godaan
Godaannya banyak.. Sering ada acara makan-makan aneka rupa, 1 set lengkap.  Otak dan perut saya udah bisa bilang : Ini protein, karbo, sayur. Kadang saya ambil protein dan sayur aja. Secukupnya dan sepantasnya. Atau snack after olahraga yg isinya karbo+protein hewani dan gula. Risoles isi ayam kentang ; duh pusing saya. Cake muanis, tambah lagi. Es buah pake susu, sirop, es, n buah. Aaw.. Atau kejutan pizza black pepper dari kota yang bikin pusing : kapan dan gimana makannya? Lain halnya dengan mencok alias rujakan : pesta buah dengan dressing bumbu rujak, oh surga!

Pertanyaan selanjutnya adalah : protein nabati selain tahu dan tempe itu apa ? Hm. sempat kebingungan. La makan nasi kan temannya sayur dan protein nabati.. Nah, ternyata kacang-kacangan itu sumber protein nabati loh. Kacang tanah, kacang merah, kacang ijo, kacang tolo, biji labu/waluh. Kalau mau onlen ya kacang almond, chia, edamame, granola, dll..ketemu jalan keluarnya kan…

Ayuk yang Tertib
So..Saya jadi lebih aware tentang bahan asal makanan. Yang saya rasakan sih, saya jadi nggak pusing urusan makanan. Wong makannya simpel aja, bisa jadi malah irit dengan pegangan sayur dan buah lokal. Stok beras gak habis-habis karena seringnya mberatin protein hewani plus sayuran daripada nasi plus protein nabati.

Urusan minum, saya tetep minum susu. Cenderungnya susu uht, karena susu bubuk itu kata suami dibuat dari susu yg dikeringkan ditambah zat-zat yg tertera di kemasan. Sementara itu, susu kental manis banyak banget gulanya. Kalau air putih, gak perlu tanya, jelas banget jadi kebutuhan. Lebih seringnya botol air minum yang menemani dari pada gelas. Wkwkwk..

Selama puasa gimana?
Idealnya, sahur dan buka dengan buah-buahan. Tapi kalau sahur murni buah, saya belum coba. Untuk buka, masih bisa lah, buah buahan plus gorengan..haha..#ini salah#. Mestinya buah ekslusif dan air putih. Tapi gorengan home made kok, mendoan, tahu isi, kentang goreng home made, pake minyak baru, sekali proses. Makan malam setelah tarawih dengan menu biasanya.

Survive
Trus gimana cara bertahan dengan kondisi terbatas gini? Mau nyetok sayuran juga gak bisa karena masa segar sayur terbatas.

Nah, kami lagi ngusahain bisa nanem-nanem. Ya, pertanian subsisten mustinya jadi jalan keluar. Kendalanya tanah Ph 3 bikin tanaman gak tahan hidup, apalagi kalau mulai banjir. Duh pada terendam. Banyak sudah tanaman yang mati gara-gara  salah perhitungan. Maka solusinya adalah pake polibag, pot, drum, atau lainnya, dan cari media tanam. Dan ini lagi proses. Panennya masih lama, sukur sukur bisa bertahan hidup..amiin…

Jalan keluar lain : Kebetulan paman sayur langganan yang bisa by request masih keliling di kawasan sebelah. Jadi kalau ada kesempatan ke sana, atau suami tugas ke sana, saya pesan belanjaan dan dibayarin teman dulu. #ngrepotin orang#. Lumayan juga, seminggu lalu nemenin anak-anak TK latihan di PT sebelah, jadi saya bisa beli sayur di paman sayur.

Kalau di sini, seminggu sekali, tiap selasa sore, ada pasar dadakan di pal 13. Meski penjual sayur cuma satu, namun bisa membantu ketersediaan bahan baku. Atau kalau niat banget, ya pergi ke kapal, yang jual sayur-sayur meski terbatas saja kolesinya. Tempe beli yang masih berujud kedelai, yang berproses fermentasi, supaya lebih lama dan pasti nggak kematangan karena kepanasan di rantai distribusi.

Untuk buah, saya menemukan cara baru : diblender dan dibuat es loli. Inget, es lolinya tanpa tambahan gula atau susu kental manis. Cara ini efektif menjaga kita tetap makan buah meski stok buah-buahan terbatas. Lumayan loh, es loli nanas jeruk jadi klamutan saya selama lebaran. Ada juga es rujak buah segar yang saya bekukan..hmm… #beli freezer#

Kesimpulannya apa?
Kesimpulan saya dalam program mandiri  Food combining adalah pentingnya menetapkan niat dan tujuan. Karena ternyata kita bisa kalau memang niat. Gakperlu minum produk pelangsing yang harganya mihil. Imbangi dengan olahraga tentunya. Lari, senam, yoga, bismillah sebisanya. Usaha mengisi stok fruit and vegie pun masih bisa diusahakan. Es loli buah murni yang semoga bisa jadi metode pengawetan makanan.

Yes.. Kenali kondisi tempatan, kenalan sama orang-orang, and we’ll find the way out !

The Art of Friendship

‘Siap-siap.. kita mutasi.’
‘Kapan?’
‘Bulan depan.’

Hah? Otakku langsung membayang beberapa rencana ke depan yang sudah disusun. Beberapa amanah, rencana acara besar, follow up hasil diskusi, dll.. Lalu rencana pribadi yang disusun dan dipersiapkan sebaik mungkin.

Manusia hanya berencana namun Allah punya rencana yang terbaik. Baiklah. Awalnya soal pindah tugas ini bagi saya jadi biasa. Ini ke empat kalinya bergeser tempat baru. Hanya ini terhitung tersingkat dan terdekat. Namun meski tersingkat, ini yang terpadat jalinan persahabatannya.

Mungkin karena kami sama-sama berusaha menikmati semua tantangan dan keterbatasan yang ada. Kami satu frame dan satu visi. Saling back up kalau ada yg opname, cuti, pulkam, sakit, dll. Banjir, jalan rusak, keliling naik ambulance tiap bulan, belajar SKDN dan mendengarkan curhatan kader, kunjungan sakit, kedukaan, empet-empetan dan operan mobil, ternyata jadi sarana membangun kebersamaan sambil gandengan tangan.

Karena team building diawali dari hal-hal sepele. Pemberdayaan dimulai dari hal-hal ringan. Biar dihajar isu sustainable development, namun orang-orang ini, ujung tombak di lapangan ini, perlu pembinaan dan penataan bersosial juga. Saya tidak katakan bahwa kami berhasil, belum. Baru seujung kuku. Karena ini butuh gandengan banyak pihak. Dan itu sudah kami mulai, dengan rapat bersama manajemen.

Keberhasilan organisasi adalah melakukan regenerasi. Maka saat teman-teman bertanya, ‘Bagaimana kelanjutan rencana ini itu? Kayakapa nanti kalau ibu tidak ada?’… Saya jawab aja, ‘Lanjut.. Ibu ibu pasti bisa..’ Ya lanjut saja karena sudah direncanakan sebelumnya, body system, dan dari sana akan muncul ibu-ibu tangguh. Sok sok an ya saya..hahaha..

Puncaknya saat persiapan menuju hari H hajatan, sementara saya bergeser ke tempat baru. Syukurlah kali ini tak terlalu jauh, setengah jam saja membelah lahan dan berjumpa kera-kera dan burung-burung. Kalau naik bis sekolah sekitar 1 jam perjalanan. Jadi saya masih bisa datang. Ada kejutan pula dari ibu-ibu yang memberi puisi dan hadiah di atas panggung saat acara Kartinian berlangsung.. Ohh.. so emotional…

Saya baru tercenung saat melihat foto teman-teman dengan seragam baru yang kami usahakan dan aturkan bersama, mulai konsep, sosialisasi, menghitung ini itu, rekapan, pesan, terakhir ekspedisi. Ahh… usaha itu. kerja sama itu. Akhirnya membuahkan hasil juga. Meskipun hanya dengan melihat dari jauh, saya bahagia.

Mungkin ini yang terberat dari perpisahan. Di tengah ribut omelan mbok-mbok, anak-anak yang berkubang lumpur saat maknya latihan atau rapat, terbangun jalinan persahabatan yang tidak bisa dijelaskan.  Potluck party berujud rujak, kapurung, nasi alas daun pisang di halaman rumah, di sekolah, rica rica, mie ayam, empek empek, dan kejutan-kejutan spontan lainnya. Itulah indahnya persahabatan ini.

Saya sangat menghargai proses, meski proses itu kadang tidak menunjukkan hasil yang segera. Kalah lomba takapa, tapi proses bikin tumpeng sambil menyusui batita, ngapalin lagu yang ruwet sampai anaknya yang hafal duluan, nonton helikopter yang parkir di lapangan, support yang mau latihan menari meski gakada kostum dan hadiahnya, ngatur lomba cerdas cermat dan penyuluhan kader, itu sesuatu bangettt..

Karena kedewasaan itu tidak ditentukan oleh jenjang pendidikan, jabatan, dan nama besar keluarga. Namun kemauan untuk belajar, bersosialisasi, kerendahan hati, justru itulah yang menentukan bagaimana seseorang berperan. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, pasti ada yang tidak suka dengan kita, terusik dengan keberadaan kita. Itu wajar. Yang penting apa yang kita lakukan untuk kebaikan bersama dengan cara yang baik pula.

However, terimakasih untuk teman-teman terbaik di Hulu Sungai Selatan. Ibu Tuti, Bu Ririn, Bu Alip, Bu Niken, Bu Juliana, Bu Reni, Bu Mariana, juga Bu Fauziah yang udah duluan pindah. Tak ketinggalan Bu Annisa n crew yang keren abis, Bu Esty and friends, n Bu Ajeng. I am nobody, but it’s an honour to be part of you all..

 

Masakan Komunal Nan Lezat (part 2)

Olahan Unggas Bahari
Bisa dikata, di pelosok Sulawesi tempat saya tinggal dulu, penjual ikan lebih banyak daripada penjual ayam. Ayam pun seringnya dijual dalam kondisi hidup dan dijual per ekor. Untuk saya jelas tidak praktis. Jadi kalau ingin makan ayam kampung, saya musti minta tolong pada Bapak-bapak yang kebetulan berada di sekitar rumah untuk menyembelihnya. Lalu masih ada prosesi mencabuti bulu dan memotong-motong. Wuih…

Lain halnya dengan ayam broiler. Pembeli datang ke pasar atau ke rumah yang memelihara ayam, lalu memberikan order. Jadi kita menunggu proses penyembelihan dan pencabutan bulu ayam (dengan mesin pencabut bulu). Ini menjamin kesegaran ayam. Cara ini dipilih karena orang lebih banyak memilih ikan laut dan sea food sebagai sumber protein daripada ayam. Sehat ya. Tidak sedikit teman yang saya temui tidak makan daging. Dan beberapa teman lebih memilih tahu tempe jika tidak ada ikan laut daripada makan ayam broiler.

Lalu adakah olahan unggas celebes ? Ada. Olahan kondangnya adalah rica-rica ayam dan palekko bebek. Tanpa santan, segar, pedas, berbumbu, jadi ciri rasanya. Bebek dan ayam kampung dipotong kecil-kecil. Hal yang mungkin dibilang ‘kurang wangun’ untuk orang jawa.

Rica-rica mensyaratkan ayam kampung dan bumbu lengkap jahe, lengkuas, kunyit, sereh, kemiri, asam, dan so pasti si rica lombok rawit, dengan finishing kemangi. Herba kemangi termasuk tanaman wajib di halaman karena kekuatan aromanya. Kalau di resep masakan yang beredar ada rica-rica pakai ayam broiler dan cabenya merah, nah itu perlu dipertanyakan, karena yang asli penampakannya cenderung kuning.

2018-05-01 13.46.08

Ayam rica rica

Lain lagi dengan palekko, biasanya berbahan bebek/itik/entog yang dibumbu pedas, tapi less spices, khasnya di seputaran Mamuju. Bumbunya cuma bawang merah, kunyit, kemiri, dan rawit hijau. Makanya jika harga cabe melambung, pasti ibu-ibu itu kebingungan karena cabe atau rica termasuk bumbu krusial dalam hidangan sulawesi. Sebetulnya sih harga naik karena cabe dikirim ke luar daerah bukan karena gagal panen.

Memasak dan Makan Bersama
Mari kita tengok beberapa hidangan sulawesi :  ikan bakar, palekko, rica-rica,  coto, kapurung. Makanan ini membutuhkan kerjasama banyak pihak dan sering dilakukan bersama-sama.

Meski skala rumahan juga bisa, namun menyalakan arang/saput kelapa membutuhkan waktu. Kalau hanya 1 ekor atau 1 potong ikan yang dibakar, rasanya rugi (pengalaman pribadi). Ikan bakar yang bagi saya (di jawa) merupakan kemewahan, di Sulawesi jadi makanan harian. Namun ini tidak juga mengurangi kelezatannya. Dan yang pasti, makin nikmat jika disantap bersama-sama.

Rica-rica dan palekko menggunakan ayam kampung/bebek/entog yang dipotong kecil-kecil dan dibumbu pedas. Oleh masyarakat, seringnya unggas ini dipotong sendiri di rumah. Anda bisa lihat betapa cekatannya ibu-ibu mencabut bulu, menguliti, dan memotong-motong ayam dan bebek.

Maka rugi jika rica-rica hanya dimasak untuk 1 porsi. Palekko dan rica-rica dimasak besar dan dimakan bersama. Potongannya yang kecil juga berfaedah agar bumbu meresap dan tentu saja semua kebagian. Rasanya yang pedas asam pun membuat makanan ini nglawuhi, aka hemat. Cukup lauk sedikit untuk nasi sebakul dan semua bahagia (baca : kenyang).

Nah, ada lagi coto. Semacam soto tanpa santan yang mengandalkan kuah kacang dan rempah. Banyak yang menyukai jerohan sapi sebagai isiannya. Proses persiapan masaknya lumayan lama, terlebih mengurus jerohan sapi. Prinsipnya aneka bumbu ditumis kemudian direbus saja dengan daging sampai matang. Teman maka  coto adalah ketupat/lontong. As we know, ketupat ini juga butuh waktu sekitar 2 jam untuk menyiapkannya. Asiik kan..

See, rugi lah jika masak dan makan coto hanya untuk 5 porsi. Sekalian saja masak bersama-sama 1 belanga dan dimakan sama-sama pula.

IMG-20141026-WA0000

Semangkuk kecil coto makassar

Ada lagi kapurung. Hmm..banyak ya makanan enaknya…. Kapurung ringkasnya adalah sayur oplosan antara ikan kuah kuning yang ditumbuk, aneka sayuran yang direbus, sambal terasi, sagu gulung, dan kacang giling. Persiapan masak yang banyak dan pengolahan beberapa makanan terpisah membuat kapurung biasanya dimasak beramai-ramai. Jangan pikirkan penampilan dan penyajiannya, rasakan saja hidangan dan kebersamaan saat memakannya. Bahkan hanya perlu belanga atau baskom (saking banyaknya porsinya) yang diletakkan di tengah hadirin yang memungkinkan akses menambah makan tanpa malu-malu. Sebetulnya masih ada barobo dan binte. Namun bahasan akan tambah panjang jika saya membahasnya juga.

DSC00818

Kapurung

 

Beberapa local dish di atas diolah, dimasak, dan dimakan secara komunal, porsi besar, massal, dan dimakan bersama, ada atau tidak ada event. Hal yang jarang saya temui di Jawa. Bumbu dan cara memasaknya sederhana, dan jeruk nipis serta sambal ada di semua hidangan.

Pertanyaannya : Mengapa ibu-ibu mau manyiapkan masak bersama meski tidak ada event khusus ? Apakah ini wujud part of group aka bagian dari kelompok atau kehendak sekedar menikmati makanan bersama-sama ? Apakah makan bersama ini menunjukkan budaya orang Sulawesi yang suka kumpul-kumpul dan makan-makan ? Why ?

Memasak : Organisasi Sosial
Sejauh pengamatan saya, memasak di daerah (baca : pelosok sulawesi yang saya tinggali ) dan makan bersama merupakan alat organisasi sosial, membangun kebersamaan, kohesi sosial dan keterlibatan manusia pada kelompok.

Bandingkan dengan masakan tingkat tinggi ala chef yang dibuat personal dengan kerumitan dan ketelitian. Dari wujud makanan, teknik memasak, penyajian, dan cara makannya pun berlainan. Sistem sosial kebudayaan masing-masing pun berbeda. Takada teknik vacuum, timer dan ukuran derajat panasnya, timbangan bumbunya, atau garnish yang membuat makanan makin cantik.

Saya kira hulu hilirnya hidangan Sulawesi ini menandakan sistem pengetahuan, kuatnya  paguyuban, dan penghargaan atas makanan dalam wujud yang sederhana. Cmiiw.  Kesederhanaan metode memasak itu (mungkin) merupakan buah dari sistem kebudayaan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya yang ada, baik bahari maupun darat.

Ikan cukup direbus atau dibakar sudah nikmat. Daging cukup direbus dengan bumbu. Ayam dan bebek ditumis saja jadi lezat. Bumbu dasar dan rempah-rempah adalah andalannya, bumbu yang tidak harus beli, tapi bisa didapatkan di halaman. Penampilan makanan pun biasa, bahkan kadang tampak kurang menarik. Namun jika anda sudah merasakannya, maka penampilan makanan ini jadi bisa dikesampingkan.

Kita bisa membandingkan misalnya, ikan dan seafood di Jawa yang dimasak dengan saus asam manis atau saus tiram. Sausnya musti beli botolan atau sachet. Kalau berlebihan, bisa makan tuan membunuh asalnya. Makanya suami bisa komentar kalau seafood di Jawa sudah mati berkali-kali sehingga butuh banyak saos untuk menutupi kesegaran rasa.

Dari Mana Rasa Berasal
Pertanyaannya kemudian, mengapa ada daerah yang dominan dengan rasa asin, asam, pedas atau manis ? Apakah rasa ini muncul dari sejarah suatu daerah hingga diwariskan turun temurun dari nenek moyang ? Apakah rasa ini muncul dari penghargaan atas bahan baku lokal yang melimpah ? Apakah rasa ini juga muncul dari kecenderungan gunung dan laut ?

Mungkin iya. Rasa adalah wujud kebudayaan yang tersaji dalam hidangan. Dan dari proses menjadi hidangan inilah,  kenikmatan, kebersamaan, dan penghargaan itu muncul..
I love Celebes dishes !

Thank you guru kuliner Sulawesi saya : Nyah Silmi, Nyah Eny Suhardana, Nyah Wiwin Permono, bibi, dan ibu-ibu pabrik SRL 1 yang mengenalkan saya apa itu hidangan Sulawesi dan proses pembuatannya. Saya belajar dari anda semua.

 

 

 

 

Menguak Hidangan dan Kebudayaan (Sebuah Apresiasi untuk Boga Bumi Celebes)

‘Dis -moi qu’est ce que tu manges, je te dirai qu’est ce que tu es.’
Katakan apa yang kamu makan, saya akan katakan siapa kamu.

Ungkapan itu ternyata tidak berlebihan untuk menggambarkan makanan, karena makanan menunjukkan kebudayaan. Dari bahan, bumbu, cara memasak, alat, penyajian, cara makan, dan filosofinya. Wiih berat.

Saya jadi penasaran, apakah ada relasi antara kecenderungan rasa dengan sejarah tempatan, ketersediaan sumber daya alam atau sistem sosial budaya masyarakatnya ?

Makanan: Wujud Kebudayaan
EB Taylor menyatakan wujud kebudayaan adalah : bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial,  sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem religi, sistem mata pencaharian hidup, dan kesenian. Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia.

Dari teori kedua tokoh ini kita akan coba elaborasi makanan sebagai wujud kebudayaan yang dikreasikan oleh rasa dan karsa manusia, yang terbentuk melalui sistem pengetahuan, mata pencaharian hidup, peralatan hidup, yang disokong oleh organisasi sosial. Ini dilihat dari sudut pandang saya lho selama tinggal di Sulawesi Barat-Tengah.

Sulawesi. Bentang alam nan elok yang kaya. Gunung, laut, hutan, pantai. Pantai sepanjang jalan menghasilkan ikan dan boga bahari sebagai sumber protein andalan. Meski demikian, ada kemiripan pengolahan hidangan pesisir di sini dengan pesisir nusantara. Ikan kuah kuning, palumara, kuah asam, pindang serani, woku, menjadi beberapa nama lokal, namun punya prinsip yang sama.

DSC_7946

Ikan laut segar yang dahsyat rasanya

Ikan diolah dengan direbus bersama kunyit, asam, sereh, jeruk nipis, bawang-bawangan (kadang malah enggak pake). Metode ini bisa ditemui di daerah pesisir pantai di bumi Celebes, Maluku, Papua, dan pesisir Jawa.
Ikan woku yang agak ekstrem diramu dengan aneka daun : kemangi, pandan, mint, daun kunyit, dll. Untuk bumi andalas versinya jadi asam padeh yang merah, lempah kuning, atau pindang, cmiiw.  Kurang lebih pada prinsipnya hidangan ini menghargai kesegaran ikan dengan kuah dan bumbu sederhana dan diolah dengan cara sederhana.

Boga bahari juga biasa diolah dengan digoreng dan dibakar. Minyak kampung atau minyak kelapa dan saput / tempurung kelapa adalah si pengikat rasa, dibantu sambal dabu-dabu nan segar dan irisan kemangi. Kerapu, kakap merah, katombo, cepak, ikan batu atau bandeng pun jadi. Kata teman-teman, ‘Lupa mertua.’ Kadang ikan yang sudah disiangi cukup dicuci dengan air laut sebelum dibakar dengan saput kelapa. Hanya modal garam dan jeruk nipis. Sederhana bukan?

Pesisir dan Pengawetan Makanan
Teknik pengawetan ikan umumnya sama di beberapa daerah : diasinkan, diasap, atau diolah dengan beberapa metode agar dapat dimasak lagi. Ibu bercerita jika jaman dulu, demi mengamankan dapur, nenek mengolah ikan dengan dipepes, dibothok kelapa, digoreng (yang bisa diolah lagi dengan dibumbu esok hari).

Ini persis dilakukan teman-teman saya kala kelistrikan masih mengandalkan genset. Tiada kulkas untuk menyimpan. Paling poll, stereofoam berisi es batu. Sulawesi bagian utara dan timur kondang dengan ikan fufu, cakalang yang diasap. Rasanya ? Waw..otentik. Gereh branjangan ala jawa tidak ada, tidak laku mungkin ya. Pun udang biasanya untuk umpan memancing di laut.

Seorang teman mengatakan sambel dan ikan asin itu nglawuhi. Nasi sepiring bisa nambah sebakul. Ini jadi jalan survivor alias pengiritan. Pengiritan dan kesederhanaan suatu ikan awetan yang asin dengan teman sambal terasi. Sederhana dan simpel.

Heran juga kalau garis pantai negri ini yang panjang belum setimbang dengan kebiasaan makan ikan. Lalu pada makan apa orang-orang itu ? Tahu tempe saja ?

Dimulai dari Kebiasaan
Orang gunung mana doyan ikan laut? Ini apologinya. Ternyata urusan makan ikan itu masalah kebiasaan saja. Kebiasaan ini bisa berubah manakala adaptasi lidah bisa mengikuti kondisi tempatan. Mungkin juga adanya penerimaan acceptance dan gairah untuk menyesuaikan keadaan. Atau memang ada kemauan untuk mencoba dan menerima hal baru. Atau telah mencapai satu titik balik perubahan yang declare kalau local dish itu enak, misalnya sesorang yang suatu ketika makan ikan segar maknyus lalu berubah jadi cinta ikan laut. Ini sudah kami buktikan sendiri.

(bersambung)..

Jejak 3G dan Etnografi (part 5)

Masih ingat misi 3G = Gold, Glory, Gospel, Belanda ? Pelajaran SMP ini. Nah 3G ini ada kaitannya dengan bahasan kita. Gold = emas, misinya untuk menemukan kekayaan rempah-rempah, perkebunan teh, kopi, dll. Glory = kejayaan, misinya untuk mendapatkan daerah jajahan. Gospel = gereja, misinya untuk menyebarkan agama kristiani.

Stigma Asia (timur jauh) yang eksotis, kaya hasil bumi, dan lokasi yang menantang, membuat bangsa Eropa berebut kuasa mencari jalur dan mengeksplorasi nusantara. Gold dan glory sudah terbukti lewat penjajahan dan perdagangan rempah-rempah, 350 tahun. Kalau Gospel ? Nah ini yang menarik.

Tahukah anda, catatan tentang Poso dimulai oleh Albertus Christiaan Kruyt dan Nicolaus Adriani, 1896. Kruyt adalah misionaris Zending yang mempelajari masyarakat dengan metode etnografi. Adriani, utusan dari Nederlands Bijbelgenootschap atau Lembaga Alkitab Belanda, adalah ahli bahasa yang mempelajari bahasa lokal Toraja-Poso.

Kolaborasi Kruyt dan Adriani menghasilkan buku ‘De Bare’e sprekende Toradja van Midden Celebes” (The Bare’e Speaking Toraja from Central Sulawesi), 3 jilid. Waw banget ya! Pilihan untuk menginjil di dataran tinggi penganut animisme dinamisme ini menurut Adriani beralasan untuk menghindari konflik dengan Kerajaan islam Luwu, Sigi dan Tojo yang saat itu ‘mengusai’ Poso.

Adapula Antonie Aris Van de Loosdrecht, misionaris Zending yang membuka sekolah pertama di Toraja, 1913. (Nggak kebetulan banyak orang Toraja yang bernama Aris 😀). Nah bersama Adriani, Van de Loosdrecht membuat buku “Late Soera’ Dinii Melada’ Mbasa Soera’”, sebuah buku bacaan sekolah berbahasa Toraja. Keren ya.

Selain itu ada HC Raven, etnograf Amerika yang melakukan ekspedisi Sulawesi melacak megalitik Behoa, Bada dan Napu pada 1917. Dia memotret artefak megalitik dan menuliskannya dalam buku “The Stone Images and Vats of Central Celebes”. Raven mencatat bahwa temuan kalamba di Pokekea ini mirip “plaine des Jarres/plain of jars” di lembah Tran Ninh, Laos, Indo-China. Dia juga mencatat bahwa ciri fisik dan kebiasaan orang Laos mirip dengan Toraja dan Dayak. (Ingat kan, Toraja dan Dayak adalah penerus Proto Melayu/Melayu Tua). So it is connected…nyambung ! 👏

images (2)

Plain of jars, Laos. Sumber : Nomadasaurus.com

 

Adalagi Walter Kaudern, etnograf Swedia yang menulis penelitiannya berjudul “Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes, 1917-1920 – Megalithic Finds in Central Celebes,” vol 5. Buku yang terbit 1938 ini memuat 15 peta dan 77 sketsa megalitik Napu dan memadukan penelitian Kruyt dan Raven sebelumnya. Komplet.

Lalu ada James Woodward 1918 yang diutus Bala Keselamatan/BK(Salvation Army). Fyi BK saat ini memiliki rumah sakit yang cukup besar di Palu, namanya RS Woodward (BK).

So, dari para penyebar misi 3G sekaligus penelitian etnografi di awal 1900, kristiani menyebar di Sulawesi. Mereka turut berperan meletakkan dasar pendidikan dan tatanan sosial masyarakat hingga kini. Dan dari budaya meneliti dan menulis yang mereka lakukan, kita jadi tahu catatan mula sejarah kita, termasuk peninggalan megalitik lembah Napu.

2017-03-31 07.35.57

Kiri : sketsa Kaudern tentang aneka rupa kalamba 1918. Kanan : kalamba 2017

Tiba-tiba saya melihat benang merah sejarah kita. Ya, ternyata budaya meneliti, eksplorasi, budaya menulis itu sudah diawali oleh etnograf bule di nusantara lewat penetrasi misi 3G jauh di masa kita masih berperang suku dan perang melawan Belanda. Terjawablah penasaran saya mengapa beberapa kali ketemu bule backpacker di tanjakan Tentena, 3 tahun yll. Mereka sudah melakukannya sejak tahun 1900. Jadi kita (saya) ngapain aja… foto-foto doang ? Ah, kenapa saya tidak banyak belajar arkeologi sih.. 😓

2017-03-31 07.32.15

Atas dan kiri bawah : catatan Kaudern di Pokekea 1918. Kanan bawah : Pokekea kini plus pelancong 2017.

The adventure is the journey itself

Matahari makin ke barat. Tanda kami harus pulang. Belum puas memang untuk menelusuri lembah megalitik ini, tapi medan menantang tak lucu jika dilalui saat hari gelap. Jadi malu sama Adriani, Kruyt, Raven, dan Kaudern. Mereka menjelajah dari Eropa dan Amerika naik kapal melintasi Atlantik dan samudra Hindia, dengan apapun misi kedatangannya, lalu mencatat tata kehidupan di Sulawesi Tengah termasuk penemuan megalitik, dan jadi referensi hingga kini, sementara saya cuma mampir semenit. Ngakunya touring pula.. uh..

Bayangpun kondisi sulawesi seabad lalu saat para etnograf itu masuk ke Poso dan Toraja. Sampai kini pun masih banyak hutan rimba. Kepercayaan Animisme dan dinamisme kuat, dan ada ancaman perang suku. Suvival dan in the middle of nowhere deh mereka. Lalu bagaimana 3000 tahun yll, saat para Austronesia yang perkasa menaklukkan Suĺawesi dan membuat karya megalitiknya sebelum melanjutkan migrasi. Waw. It  happen right here, in front of us…

Saya menoleh pada Putra, anak blasteran Napu-Jawa Timur yang lincah berlarian di antara kalamba. Di generasinya mendatang, apakah dia mengetahui sejarah leluhurnya ? Akankah dia dan generasinya nanti tetap mencintai peninggalan bersejarah di tanah kelahirannya ?

Saya berharap semoga sedikit catatan tentang Lore ini membuat kita menghargai sejarah negri ini ya. Semoga juga muncul arkeolog dan etnografer Lore, para pecinta dan ‘pelestari’ kebudayaan…amiin..

Ya, keasyikan perjalanan itu bukan hanya pada apa yang kita temui di tempat tujuan, tapi pada perjalanan dan pada misteri yang ada di baliknya. “The adventure is the journey itself.”

IMG-20170310-WA0028

Next adventure ?

(Bersambung)

Referensi :
– Kaudern, Walter. 1938. Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes 1917–20,
vol. 5: Megalithic finds in Central Celebes. Göteborg: Elanders Boktryckeri Aktiebolag.
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbgorontalo/
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tradisi_megalitik
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Eksplorasi_Sulawesi_Tengah
– ahmadsamantho.wordpress.com/2013/01/04/budaya-megalitikum-di-indonesia
http://dhoni-ds.blogspot.co.id/2011/12/hasil-kebudayaan-megalitikum-dan-budaya.
http://lokaltuban.blogspot.co.id/p/pengertian-megalitikum-dan-persebaran
http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/03/asal-usul-nenek-moyang-bangsa-indonesia.
http://catatanposo.blogspot.co.id/2007/12/seratus-arca-megalith-poso-dicuri
http://rizkyattyullah.blogdetik.com/2013/12/07/situs-megalitikum-terluas-
– kompas Maret 2016. Situs megalitik lembah lore rentan pencurian

* Sketsa gambar dan foto-foto lama diambil dari  Walter Kaudern, Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes, 1917-1920 – Megalithic Finds in Central Celebes,” vol 5.

Arkeolog Pembuka Rahasia (part 4)

Arkeolog Pembuka Rahasia
Biasanya rupa arca terkait rupa sekitarnya. Arca Budha di Borobudur berbeda dengan arca Budha di Thailand, Kamboja atau Korea. Nah, apakah rupa pahatan di Napu ini menjadi tanda rupa leluhur pada masanya, atau ini personifikasi leluhur pada roh animisme dinamisme ?

Mari kita sedikit belajar arkeologi dan etnografi. ☺

Indonesia punya peninggalan megalitik yang tersebar di nusantara, di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan dan tentu saja Sulawesi. Megalitik artinya batu besar. Hasil dari budaya megalitik adalah batu-batu besar, misalnya menhir, arca batu, sarkofagus, dolmen. Jadi bukan manusianya yang besar, tapi peninggalannya yang besar. Oke ? 👌

Kebudayaan megalitik ini bukan terjadi pada satu masa. Menurut Von Heine Geldern, kebudayaan megalith Indonesia terbagi dalam dua masa, yakni Megalitikum tua/ Neolithikum dan Megalitikum Muda. Masa Megalitikum tua berlangsung sekitar 2500-1500 SM oleh bangsa Proto Melayu/Melayu Tua. Hasil budaya neolitikum adalah kapak persegi (di arah barat) dan kapak lonjong di arah timur.

Megalitikum Muda berlangsung pada 1000-100 SM oleh bangsa Deutro Melayu/Melayu Muda. Mereka membawa kebudayaan Dongson atau zaman perunggu. Nah, para pelaku sejarah nusantara ini berasal dari ras Melanosoid dan Malayan Mongoloid. Cmiiw

IMG_20170128_170832

Size does matter. Contoh malayan mongoloid masa kini.

Beberapa referensi menyebutkan umur megalith Lembah Napu ini di angka 2000, 3000 atau 4000 tahun. Angka ini tentunya perlu kita lacak dengan temuan lain. Penelitian terkini menemukan tulang belulang manusia di sekitar/di dalam kalamba, teridentifikasi sebagai ras mongoloid, usia 1500-3000 tahun (rentang waktunya masih belum jelas ya).

Jadi, siapakah leluhur kita ?
Yuk kita hubungkan temuan bersejarah ini dengan teori ☺.
Von Heine Geldern menyebutkan teori bahwa leluhur nusantara berasal dari Yunan, Cina Selatan atau Austronesia. Rumpun bangsa Austronesia ini bermigrasi dalam 2 gelombang. Diperkirakan penyebabnya adalah wabah atau perang suku. Mereka berkelana di laut menggunakan perahu bercadik. Masih ingat : kalamba artinya perahu arwah !

Penelitian menunjukkan bahwa megalitik Napu pun dipengaruhi 2 gelombang migrasi Austronesia. Gelombang pertama atau pada masa Proto Melayu tersebut melalui jalur timur, dari Filipina, Sulawesi, ke Pasifik hingga Madagaskar. Mereka membawa kebudayaan kapak lonjong.

Gelombang migrasi pertama ini kemudian disusul migrasi kedua Austronesia (Deutero Melayu) pada masa megalitik muda yang ditandai dengan adanya pahatan (hasil budaya Dongson). Albertus Christiaan Kruyt dan Nicolaus Adriani, misionaris dan etnograf yang tiba di Poso pada 1895 mencatat sebelum masuknya Belanda ke Poso (1908),  masyarakat Poso melakukan penguburan mayat menggunakan batu. Artinya budaya megalitik itu masih berlangsung seabad lalu. Apakah ini indikasi usia megalitik Napu tidak seumur megalitik tua?😕

Simpul Austronesia
Penerus budaya Proto Melayu/Melayu Tua  adalah Dayak dan Toraja, sementara penerus budaya Deutero Melayu/Melayu  Muda adalah Jawa, Melayu, dan Bugis. Toraja dan Bugis sama-sama di Sulawesi kan.. Nah fyi, di Sulawesi ini  ada banyak sekali suku dan kerajaan namun tidak disatukan oleh satu identitas = Sulawesi. Mereka memiliki identitas suku sendiri-sendiri, yakni Toraja, Bugis, Mandar, Manado, Makassar, Kaili, Mori, Napu, Luwu, Palopo dll.

Tampaknya Sulawesi Tengah merupakan pusat kebudayaan Austronesia nusantara di masa itu mengingat ada 400 an (ada yg menyebut 300an) artefak. Mungkin para leluhur itu melabuhkan kapalnya lewat pesisir lalu bergerak ke Napu dan membuat mahakarya megalitik sebagai sarana penyembahan dan komunikasi pada roh animisme dinamisme. Peninggalan megalitik lainnya juga ditemukan di daerah Kulawi, Sigi.

2017-03-22 16.55.05

Arca yang tersebar di Lembah Napu, Lore, Poso, Sulteng

 
Tidak menafikan daerah lain, namun Napu (Poso), Toraja, Nias, Dayak, dan Sumba, memiliki peninggalan megalitik. Nias masih menjalankan upacara lompat batu. Toraja, sang penerus Proto Melayu di sulawesi memberi bukti hadirnya megalitik melalui menhir, sarkopagus, dolmen, hingga penguburan gua dan batu.

Mereka yang bergerak ke selatan meninggalkan jejak Gua Leang-Leang. Adapun para penjelajah yang bergerak ke barat meninggalkan lukisan tangan di bukit-gua karst Sangkulirang Mangkalihat Kalimantan Timur. Apakah ini terkait? Bisa jadi.

So teman-teman, mari kita lihat bentang alam lembah Napu ini (lihat postingan sebelumnya) : subur, dataran tinggi, bukit, hulu sungai, tak jauh dari laut. Ini ciri tempat hidup yang sempurna pilihan nenek moyang kita, bangsa Austronesia ras mongoloid. Inilah tempat persinggahan sebelum mereka menjelajah hingga Pasifik.  😃.

2017-03-22 18.04.39

Peninggalan megalitik toraja, penerus megalitik tua

(Bersambung)

* Foto patung diambil dari beberapa situs di internet
* foto kalamba dan megalitik Toraja adalah dokumen pribadi

KBBI – Kamus Besar Bahasa Indonesia

ar·ke·o·lo·gi : ilmu tt kehidupan dan kebudayaan zaman kuno berdasarkan benda peninggalannya, spt patung dan perkakas rumah tangga; ilmu purbakala

ar·ke·o·log : n ahli arkeologi

et·no·gra·fi : deskripsi tt kebudayaan suku-suku bangsa yg hidup; 2 ilmu tt pelukisan kebudayaan suku-suku bangsa yg hidup tersebar di muka bumi

et·no·graf /étnograf/ n ahli etnografi

Ma·se·hi : perhitungan waktu yg dimulai sejak lahirnya Yesus Kristus
SM : sebelum masehi. 1000 SM : 1000 tahun sebelum masehi/lahirnya Yesus

mig·ra·si : 1 perpindahan penduduk dr satu tempat (negara dsb) ke tempat (negara dsb) lain untuk menetap; 2 perpin-dahan dr satu tempat ke tempat lain bagi burung dsb krn pergantian musim