Lebaran Sekeping Biskuit

Lebaran ini ada banyak stok makanan kemasan. Ada yang beli, ada yang dikasih. Mulai dari biskuit, kukis, coklat, permen, kripik kentang, hingga soda, air jeruk, kopi, dan susu. Tempat baru, budaya baru. Ternyata di sini untuk yang piket dapat sekerdus makanan minuman kemasan, sesuai berapa hari ybs piket. Waw… Saya jadi mengurungkan niat bikin camilan telur gabus.. hehe..

20180622_075752-1

Panganan lebaraan 😆

Ya, kan ceritanya lagi latihan food combining, jadi saya kurangin makanan terkemas dan diganti buah, kacang ijo, atau granola (haha..akhirnya saya pesan granola juga dengan ongkir lumayan). Kata suami, si granola ini macam makanan burung, biji-bijian. duh. si bapak.

Lidah Si Gurih Manis
Kebiasaan saya adalah membaca ingredients di kemasan. Saya bukan ahli farmasi dan kimia, tapi ada beberapa bahan yang saya ingat : aspartam dan sakarin si pemanis buatan, mononatrium dan monosodium gulatamat, benzoat pengawet, pewarna, serta feniletilanin. Syukurlah tidak semua makanan di meja mengandung bahan-bahan itu. Amaan…

Dimakan nggak ya..mmm…camilan yang kebanyakan jarang saya makan. Tapi rasa ingin tahu membuat saya iseng nyoba. Iklannya berseliweran di tv. Anak-anak balita, TK, dan SD pun biasa bawa bekal makanan ini.

Beberapa suap… enak loh. Lalu..stop stop. Berhenti. Lidah lu, kali Han, yang aneh. Buktinya, orang lain makan, baik-baik aja kok. Namanya juga lidah itu urusan kebiasaan. Apa yang biasa disantap, itu yang disukai..

Balada Camilan Sehat
Nah loh.. Kalau camilan sehat pian itu  kayakapa? Setahu saya, buah dan biji-bijian, makanan yang less pengolahan adalah makanan paling sehat. Jagung, kacang, ubi rebus, yang murah meriah itu lebih sehat dibanding kripik jagung, kripik singkong, kacang atom pedaz. Masalahnya, makanan sehat segar ini gak tahan lama dan kurang kreativitas atau agak membosankan.

Lalu bagaimana petani dan pedagang bisa untung jika tidak ada pengolahan pangan pasca panen? Penjualan makanan olahan dengan teknologi akan lebih tinggi nilainya dibanding menjual bahan segar. Contoh gampangnya : tempe sekotak lebih murah daripada tempe mendoan sepotong. Kripik pisang dan cake pisang lebih awet dan lebih berdaya jual dibanding  pisang rebus. Apalagi kalau jadi pisang bolen bandung dan strudel. Nah pertanyaannya, bisakah pengolahan makanan tersebut menggunakan bahan sehat alami dan rasa manis yang proper ?

Sebetulnya bisa. Saat membeli granola di kemasannya, tertulis : gula tebu, palm sugar, sirup singkong, madu -> ini contoh pemanis alami dibanding sakarin, aspartam dan konco-konconya. Sea salt dan himalayan salt sebagai perasa asin. Enak juga kok, tanpa bantuan msg si monosodium glutamat dan kaldu bubuk. Karena bahan bakunya udah enak, pengolahan tepat, mau digimanain juga enak.

Cuma masalahnya bahan alami ini untuk itung biaya produksi jadi lebih mahal dan perlu proses yang lebih lama. Makanya snack sehat yang saya impor dari jawa harganya jauh lebih mahal plus kemasannya kecil pula. Nyoba bikin kripik talas n kripuk singkong sendiri, belum berhasil formulanya (ngaku)..

Mungkin inilah industri. Industri makanan  menghasilkan barang konsumsi yang cepat, enak, massal, awet, bisa dipasarkan ke mana-mana. Jika perlu dikemas kecil-kecil agar cepat penjualannya. Penetrasi pasar pun bagus karena kemasan praktis dan harga terjangkau, rasanya juga maniss dan gurihh, cocok dengan lidah orang Indonesia kebanyakan. Praktis. Hanya 2 ribu dapat 3 keping biskuit yang dikemas. Kalau baking kue? Wah pake repot, tenaga dan waktu, cucian, alat, dll.

Urusan perasa makanan ? Ah, kan sudah ada BPPom, PIRT, MUI. Kalau sudah melalui lembaga tersebut, insyaallah aman. Selain itu, produsen menuliskan ingredients di kemasan sehingga telah memberikan informasi nilai gizi dari makanan tersebut. Kalau tetap kaubeli dan kaumakan, berarti kamu sudah memilih dan sudah tahu konsekuensinya. Hehe.. itu yang mencantumkan lho.

2018-06-21 17.04.49

Membaca label kemasan makanan

Meski dilematis dengan pengawet makanan, saya turut memanfaatkan bahan instan juga. Misalnya santan, kaldu sehat, teh kemasan, dan tentu saja susu. Soalnya saya gak seperkasa ibu-ibu yang jago belah kelapa sendiri. Kalau marut kelapa, masih bisa lah, tapi kalau belah dan congkel mencongkel, ampun saya..hehe..Ini skill ibu-ibu sulawesi yang punya banyak kelapa di halaman rumah. Bikin bobor bayam semangkok bisa butuh waktu 2 jam..wkwkwk….

Saya juga pake kaldu sehat, ada produk bikinan lembaga yang saya kenal, menyokong petani dan kegiatan sosial, serta rasanya oke. Jadi sang kaldu bubuk nangkring di dapur deh, meski belum nemu di supermarket besar di kota propinsi. Mungkin inilah kendala home made : distribusi. Ya, distribusi Indonesia raya butuh biaya dan sistem agar terserap pasar.

20180622_062455-1

Teh kemasan ? Ini membantu banget saat banyak tamu. Saat open house lebaran, tenaganya udah cape bikin coto makassar n rica-rica, plus nongkrongin ketupat 2 jam ampe tengah malam. Kebayang kalau hari H musti bikin teh satu satu untuk tiap tamu yang datang. Weh, ibu mertua ini yang hebat tangkas nyiapin begini di jawa sana. Saya mah angkat tangan. Gantinya, teh kemasan, air minum kemasan, yang ringkas dan cepat..hehe..dan menyisakan sampah..

Dua Dosa Industri
Ada 2, kalau menurut saya, dosa industri, yang belum termaafkan. Dosa itu yang pertama adalah merubah pola konsumsi rumahan (masak dan produksi sendiri) dengan konsumsi membeli atau budaya jajan.

Di sepanjang jalan Negara HSS, daerah seputar kami tinggal, ada banyak pedagang makanan dan laris manis. Suatu saat perjalanan ke pasar, saya iseng menghitung jumlah penjual makanan di sepanjang jalan : sore hari : penjual makanan ada 44 gerobak, sementara siang hari saat sedang panas-panasnya, ada 30 gerobak. Gerobak ini jual es warna warni, pentol (paling banyak), aneka gorengan, mencok (rujak), wadai kue, jagung bakar, dll. Sayangnya laptop saya yg penuh dokumentasi foto lagi error diserang semut..duh…foto seadanya deh.

Anak kecil, bapak ibu, tua muda jajan pentol (bakso) dengan cocolan saos merahh. Saya pernah coba pentol yang dibilang enak itu, rasa kaldu bubuknya terasa bangett.  Uhuy.. Liat warna saosnya bikin nyengir..rhodamin rhodamin…

Di jalan itu juga, jumlah warung dan toko yang jual makanan dan minuman di sepanjang jalan : 160 warung. Warung dengan display rentengan minuman dan snack kemasan ini  selalu ada pembelinya… jajan asik dah. Padahal kalau mau dipikir, bikin sendiri di rumah juga bisa. Tapi ya itu, pakai waktu dan tenaga.

Dosa industri selanjutnya adalah penghasil sampah kemasan terbesar tanpa mengajarkan bagaimana penanganan sampah pasca konsumsi. Lihatlah bagaimana biskuit dikemas 3 biji, snack snack angin dikemas kecil seharga seribuan.

Shampo, sabun cuci, pewangi pakaian, kecap, saos, merica dan bumbu instan dikemas sachet untuk sekali penggunaan. Alasannya sih lebih murah dan lebih irit. Tak jarang ini jadi kembalian kala pedagang nggak ada uang receh. Tapi murah dan irit ini sesungguhnya ada biaya sosialnya yakni sampah kemasan yang terus bertambah.

Saat kemarau, air menyusut dan tampaklah onggokan sampah di bawah rumah-rumah kayu. Isinya bungkus sabun, kemasan snack dan minuman gelas, yang nggak rontok dan terurai selama sekian waktu. Hari demi hari, bungkus snack tambah banyak, yang jajan tambah banyak, namun budaya nggak dirubah. Saat penghujan, sampah-sampah akan meluap di halaman yang penuh air, berkumpul dengan air sungai yang sehari-hari digunakan untuk Mck. Sedih ya, industri kita tidak mengajarkan konsumen bagaimana pengelolaan sampah hasil produk industri.

Prediksi saya, Negeri seribu sungai ini lama-lama akan dipenuhi sampah plastik. Dan selama pola konsumsi, pola jajan, pola buang sampah di halaman (which is sungai) dilakukan, maka rantai itu akan terus bersambung. Diare dan ginjal yang merupakan penyakit yang bersumber dari makanan, minuman, dan kebersihan, akan terus menjangkiti masyarakat seputar sungai. #Tears.

Kalau Kamu Gimana?
Perubahan dimulai dari lingkungan terdekat. Kebetulan bukan air di kanan kiri rumah, tapi tanah. Kami pakai teknologi pilah sampah dan bakar sampah di tong. Ya resikonya pencemaran udara dan teman-teman. Kemasan teh, air minum, dan kertas nasi terbakar dengan bahan bakar minyak jelantah dapur. Jadi aroma pembakarannya gimana gitu. Haha… Belum ada teknologi daur ulang sampah plastiknya. Padahal ini penting banget untuk masa depan. Ayo berkreasi !

Ada pula ayam tetangga yang berkeliaran minta jatah, sekaligus menyelamatkan kami dari sisa-sisa makanan yang terbuang. Ayam ini juga membantu ngeker-eker tong sampah plastik dan organik. Lumayan, bantu ngaduk-aduk sampah dan nggak buang hajat di teras depan lagi.hihi..

Kisah Sekeping Biskuit
Ahh… ternyata sekeping biskuit ini punya cerita panjang, bagaimana dia hadir dan tersaji di meja tamu. Kalau bisa cerita, dia sudah melalui proses produksi dan distribusi yang berliku. Menunggu saatnya dikonsumsi alias dimakan rame-rame.
Makanan ini menandakan berjalannya pola kerja industrial yang mendukung mata rantai tersajinya makanan ini di sini.

Ya. Kalau makanan terjual sampai di sini, berarti pabrikannya punya sistem distribusi yang keren. Camilan ini terserap pasar  karena rasa, harga, dan terjangkau. Pabrik di Jawa, produknya sampai Hulu Sungai Selatan Borneo. Laris manis di warung Pak Kaum di tengah in the middle of nowhere, yang transportnya sambung menyambung, penuh perjuangan.

Itulah industri. Penyokong perekonomian dengan penyerapan tenaga kerja. Banyak tangan dan mesin yang membuatnya. Banyak cerita di baliknya.
Yuk ah.. makan granola dan susu uht dulu yuk..😋
***

Advertisements

The Art of Friendship

‘Siap-siap.. kita mutasi.’
‘Kapan?’
‘Bulan depan.’

Hah? Otakku langsung membayang beberapa rencana ke depan yang sudah disusun. Beberapa amanah, rencana acara besar, follow up hasil diskusi, dll.. Lalu rencana pribadi yang disusun dan dipersiapkan sebaik mungkin.

Manusia hanya berencana namun Allah punya rencana yang terbaik. Baiklah. Awalnya soal pindah tugas ini bagi saya jadi biasa. Ini ke empat kalinya bergeser tempat baru. Hanya ini terhitung tersingkat dan terdekat. Namun meski tersingkat, ini yang terpadat jalinan persahabatannya.

Mungkin karena kami sama-sama berusaha menikmati semua tantangan dan keterbatasan yang ada. Kami satu frame dan satu visi. Saling back up kalau ada yg opname, cuti, pulkam, sakit, dll. Banjir, jalan rusak, keliling naik ambulance tiap bulan, belajar SKDN dan mendengarkan curhatan kader, kunjungan sakit, kedukaan, empet-empetan dan operan mobil, ternyata jadi sarana membangun kebersamaan sambil gandengan tangan.

Karena team building diawali dari hal-hal sepele. Pemberdayaan dimulai dari hal-hal ringan. Biar dihajar isu sustainable development, namun orang-orang ini, ujung tombak di lapangan ini, perlu pembinaan dan penataan bersosial juga. Saya tidak katakan bahwa kami berhasil, belum. Baru seujung kuku. Karena ini butuh gandengan banyak pihak. Dan itu sudah kami mulai, dengan rapat bersama manajemen.

Keberhasilan organisasi adalah melakukan regenerasi. Maka saat teman-teman bertanya, ‘Bagaimana kelanjutan rencana ini itu? Kayakapa nanti kalau ibu tidak ada?’… Saya jawab aja, ‘Lanjut.. Ibu ibu pasti bisa..’ Ya lanjut saja karena sudah direncanakan sebelumnya, body system, dan dari sana akan muncul ibu-ibu tangguh. Sok sok an ya saya..hahaha..

Puncaknya saat persiapan menuju hari H hajatan, sementara saya bergeser ke tempat baru. Syukurlah kali ini tak terlalu jauh, setengah jam saja membelah lahan dan berjumpa kera-kera dan burung-burung. Kalau naik bis sekolah sekitar 1 jam perjalanan. Jadi saya masih bisa datang. Ada kejutan pula dari ibu-ibu yang memberi puisi dan hadiah di atas panggung saat acara Kartinian berlangsung.. Ohh.. so emotional…

Saya baru tercenung saat melihat foto teman-teman dengan seragam baru yang kami usahakan dan aturkan bersama, mulai konsep, sosialisasi, menghitung ini itu, rekapan, pesan, terakhir ekspedisi. Ahh… usaha itu. kerja sama itu. Akhirnya membuahkan hasil juga. Meskipun hanya dengan melihat dari jauh, saya bahagia.

Mungkin ini yang terberat dari perpisahan. Di tengah ribut omelan mbok-mbok, anak-anak yang berkubang lumpur saat maknya latihan atau rapat, terbangun jalinan persahabatan yang tidak bisa dijelaskan.  Potluck party berujud rujak, kapurung, nasi alas daun pisang di halaman rumah, di sekolah, rica rica, mie ayam, empek empek, dan kejutan-kejutan spontan lainnya. Itulah indahnya persahabatan ini.

Saya sangat menghargai proses, meski proses itu kadang tidak menunjukkan hasil yang segera. Kalah lomba takapa, tapi proses bikin tumpeng sambil menyusui batita, ngapalin lagu yang ruwet sampai anaknya yang hafal duluan, nonton helikopter yang parkir di lapangan, support yang mau latihan menari meski gakada kostum dan hadiahnya, ngatur lomba cerdas cermat dan penyuluhan kader, itu sesuatu bangettt..

Karena kedewasaan itu tidak ditentukan oleh jenjang pendidikan, jabatan, dan nama besar keluarga. Namun kemauan untuk belajar, bersosialisasi, kerendahan hati, justru itulah yang menentukan bagaimana seseorang berperan. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, pasti ada yang tidak suka dengan kita, terusik dengan keberadaan kita. Itu wajar. Yang penting apa yang kita lakukan untuk kebaikan bersama dengan cara yang baik pula.

However, terimakasih untuk teman-teman terbaik di Hulu Sungai Selatan. Ibu Tuti, Bu Ririn, Bu Alip, Bu Niken, Bu Juliana, Bu Reni, Bu Mariana, juga Bu Fauziah yang udah duluan pindah. Tak ketinggalan Bu Annisa n crew yang keren abis, Bu Esty and friends, n Bu Ajeng. I am nobody, but it’s an honour to be part of you all..

 

Pindahan ya ?

Packing itu ternyata bisa bikin pusing. Antara yang ditinggal, dibuang, diberikan pada orang, atau dibawa.. Tempat kerja suami memungkinkan adanya rotasi pegawai. Terbilang ini kali ke-tiga kami pindahan. Ternyata barang-barang itu bertambah signifikan di periode ini.. 😅..

Yeah.. Menurut ekspedisi, paket pindahan akan mengambil waktu 2 minggu menyesuaikan jadwal keberangkatan kapal. Mmm… tampaknya kami salah perhitungan. Mustinya barang-barang itu lebih banyak dikirim ke jawa.

Baru kami sadari kalau banyak barang kami yang diberi. Kalau statusnya pemberian maka kemungkinan besar barang itu akan dilindungi atau dibawa, misalnya jilbab dari bu anu, tupp dari itu, mukena dari ono, dll…

Kalau ada ikatan emosional, misalnya ini kotak didapat di tempat sono, yang kemungkinan kami gak akan ke sana lagi, maka benda itu dilindungi. Kalau barang itu dibeli dan kemungkinan besar masih digunakan atawa fungsional, maka si barang akan dibawa. Misalnya itu munthu batu dibawa-bawa selama 3 kali pindahan. 😉

Lalu bagaimana kalau barangnya berfungsi sebagai asesoris, pernak pernik kecil untuk dekorasi? Since we didn’t have our own home, pernak pernik itu akan menumpang di rumah dinas atau rumah nenek. Nah loh.. Tampaknya kami harus bijaksana memilih pernak pernik selanjutnya ya.

So, barang yang seperti apakah yang diberikan pada orang? Umumnya orang melakukan lelang saat pindahan begini namun suami kurang setuju dengan konsep itu. ‘Kalau kau mau kasih orang, ya kasih aja, jangan dijual.’ okay then. That’s why we just gave some stuff that we could not bring, especially overseas.. eh apaan, pindah pulau maksudnya. Ada juga barang yang kelihatannya lebih bermanfaat jika digunakan orang lain. Atau bisa juga barang yang memang sudah tidak dipakai karena oversize (hati-hati berat badan).

So, dengan bismillahirrahmanirrahim kami lungsuri beberapa barang untuk anda. Semoga barang itu bisa digunakan sebagaimana mestinya, lebih bermanfaat dan membawa kebahagiaan bagi yang menerimanya.   Amiin..jangan dijual ya…

2017-03-14 18.22.02-1

Konser yang indah

Malam tadi bertiga kami menikmati konser 50th Djaduk. Seniman musik Indonesia rasa jogja.. Konsernya di Taman Budaya Yogya, suatu ruang berkesenian nan publik nan hidup. Begitu masuk gerbang TBY, aroma yang lama tak terjamah itu demikian terasa.

Aroma jogja, aroma menonton acara seni malam-malam, aroma rakyat, yang khas dengan budayanya sendiri. Aroma rasa Jogja! Lain dengan aroma kampus utara yang sibuk dengan laptop, cafe, dan mobil. Atau aroma Sardjito yang gloomy. Apalagi aroma kebun nun jauh di sana yang tertinggal beberapa abad. Ini aroma seni yang Jogja banget, yang merakyat banget, yang dulu sering jadi tempat nongkrong. Aroma dimana kolektivitas kelompok bertemu dengan gilasan kebutuhan ekonomi yang menghasilkan respon kebuntuan, kreativitas, kultur kelompok, dan ruh cinta pada kesederhanaan. Namun yang pasti, ada kesungguhan, konsistensi, dan skill kala mood dan tenggat waktu berpadu.

Dalam konser musik Gending Djaduk ini, Djaduk yang tampil dengan baju merah dan kain tenun ini menampilkan sekian aransemen. Dibuka dengan Piknik ke Cibulan yang bersambung dengan Jawa Dwipa,Bethari,Pesisir,lalu Angop-mereka menggunakan alat apa gitu yang memunculkan suara orang menguap. Dilanjutkan dengan Swarnadwipa, Barong -yang bali banget,Molukken (kole-kole) rasa Maluku dengan suara emas vokalis Jasmine yang mengingatkan pada suara Glen fredly,dan ditutup dengan Ritma
Khatulistiwa. Di tengah-tengah, Djaduk mengundang mantan keyboardist Kua Etnika yang lagi ulang tahun untuk join tampil di atas pentas. Karya-karya 50tahun Djaduk ini so so Indonesia, rasa Indonesia banget,dengan alat-alat musik ajaib yang menghasilkan suara yang ajaib pula. So genuine and so wonderful.

DSC_0078

Djaduk bilang kalau dia tidak bisa menggambar. Dia bilang kalau caranya berekspresi menyampaikan gagasan adalah melalui musik, karena itu jalan yang dia kuasai. Biar dia diejek Yuswantoro adi karena tidak bisa menggambar, ya biarlah.. Tapi fokus, tekun, panjang akal. Karena ketekunan dan kegilaan itu akan berbuah. Menunggu berbuah tentu tidak sebentar.

Pohon cabe beberapa bulan sudah panen, pohon tomat apalagi, saking cepatnya kita tertinggal memindah ke tanah. Kalau pohon manggis, atau pohon cengkeh, euu lamo nian babuah. Tapi buahnya luar biasa bermanfaat besar, lebih mahal pula.. Nah, bagaimana perjuangan untuk konsisten, setia pada proses, berusaha agar one step ahead itu terus melaju.

Proses itu berjalan, nggak langsung dapat harta karun, tapi harta karun itu adalah perubahan dalam diri kita untuk menghargai diri sendiri, mengenal Tuhan, dan menyukai keikhlasan. Dan eksistensinya dihargai dengan apresiasi masyarakat, penonton, penikmat karya yang nonton konser. Yah kalau di jogja, tiketnya paling mahal seharga 200 ribu sementara di jakarta 500 ribu, atau melalui penjualan CD terbatas yang bertarung dengan YouTube. Namun yang lebih utama, potitioning mereka dalam berkesenian diakui khalayak.

DSC_0011

So, marilah kita review kembali, apa yang kita anggap penting dan prioritas dalam hidup kita. Pilihan karir apa yang kita jatuhkan dan bagaimana kita rajin mengutak-atik, merawat, melatih, memproduksi karya dengan telaten. Terlebih bagi pekerja independen yang ditantang diri sendiri untuk menaklukkan waktu, mood, dan kemalasan. Bukan oleh tatanan dan target yang diberikan perusahaan, tapi oleh diri sendiri yang punys itikad baik untuk berkembang.

Apresiasi untuk Djaduk dan Kua etnika, serta seniman-seniman yang nakal dan konsisten setia dalam proses. Terima kasih untuk mengingatkan pada proses itu. Proses yang kadang dilupakan untuk mencapai kepuasan sesaat, yang cepat, dianggap benar dan wajar oleh khalayak..Dan berhasil menjadi salah satu jawara yang hebat.

Sttt…Gaya orang-orang yang datang ke konser TBY ini masih sama dengan sepuluh tahun lalu. Rasa jogja banget. (Ya ada tambahan dikit lah dengan gadget mereka yang makin canggih).

jangan putus asa

Wa laa taiaasu mirrauhillah….
Ud u ni astajib lakum
Fa bi ayyi ala i rabbi kuma tukadzziban?
Fa inna ma al usri yusra, inna ma al usri yusra

Pertanyaan dan pernyataan untuk meneguhkan dan mengingatkan kita, manusia agar tak lekas putus asa dalam hidup..secara pernyataan, mudah saja,tapi saat menjalani, masih banyak tahapan yang ditempuh.

Rasa galau muncul saat pengharapan kita tak kunjung terkabul..apakah sudah cukup doamu? Apakah sudah banyak sedekahmu? Apakah sudah maksimal usahamu? Apakah keberadaanmu membawa manfaat? Apakah kesedihan dan kemuraman muncul dari auramu?

Manusia berharap, berencana, namun Tuhan yang menentukan. Kata Tuhan, kenikmatan itu diwujudkan dalam bentuk yang menurutNya lebih tepat untukmu saat ini..nikmat sehat, bahagia, kecukupan, dan lainnya, yang kau bahkan tidak tahu kapan itu diangkat…

Tapi, apakah apologi itu merupakan perlindungan bagimu sendiri, untuk menentramkan diri? sebagai alibi bahwa kau tidak cukup berusaha dan berupaya mewujudkan harapan dan impianmu?

Subhanallah..kesabaran dan keikhlasan itu terus diuji, dan diuji..karena Tuhan menguji manusia dengan ujian yang dia mampu menghadapinya…bagaikan ada rel-rel imajiner yang berseliweran tempat manusia berjalan menuju satu tempat, yang tak kan tahu kapan rudal terlontar, atau batu lempar, atau kerusakan rel, atau mesin yang rusak..jalur itu akan dilalui manusia, menuju Tuhan kembali..bukankah dunia ini sejatinya perjalanan manusia menuju Tuhannya?

Berusahalah melakukan dan membagi kebaikan pada orang-orang di sekitarmu..berbaik sangkalah pada Tuhan…perbanyaklah ibadah, doa dengan takut dan penuh harap, agar Tuhan tahu bagaimana kau mengharap..Dan berusahalah semaksimal mungkin secara teknis agar kereta itu terus meluncur di atas rel dengan laju..ikhlas dan bersabarlah agar semuanya dilalui dengan bahagia….sebagai proses yang meneguhkan ikatan antar hamba, sebagai kekuatan yang mengikat manusia dengan Tuhannya..

Subhanallah…

3 ramadhan ini

Tak terasa 3 ramadhan ini terlalui di morowali..cuaca yang berubah ubah, puanas, hujan, petir, datang tak kenal musim..awal datang disambut hujan deras hingga tukang sayur tak ada masuk dan hanya ada menu sarden beberapa hari di meja makan. di sini pula bertemu tetangga baru dan saudara baru…

Kenal sebelah rumah, bu naryo, yang bisa diskusi tentang ide-ide yang berlanjut dengan aktivitas mengaji anak-anak…lalu berkenalan dengan bu amir yang jadi agen pemesanan daging sapi haji fatah di beteleme.belanja dengan bu amir, dijamin harga jadi murah :). Lalu ada bu nur yang nyetok galon air, sehingga tak perlu repot baangkut galon jauh-jauh..ketemu juga bu kun, yang pertama ketemu langsung kasih tebengan beli gado-gado di mama eko (menu nggenah setelah sekian hari di morowali).ada juga bu idris yang suaranya membahana, yang ternyata agen tupperware 30%…ada lagi bu nasir dengan cipo yang masih diayun. Bu hamzah dan bu trian yang riuh berbahasa sunda, plus plus bu ido. Ada juga tawa renyah tiwi dan umbel meler ebi nya bu bin. Sedangkan bu aan, ketemu 6 bulan sekali, yang membuatku terpaksa ber-bbm demi lancar komunikasi 🙂 … Ada juga bu suwig, yang sibuk bolak balik palu-morowali.. ada juga bu dwi, bu rusdin, dan bu umar.tak berapa lama, datang bu mul dan bu agung. Lalu bu toto, bu indra, bu ahmad, bu didik, dan ibu-ibu lainnya…Ah…siapa lagi ya?..mgkn tdk banyak memori yang tersimpan, maafkan…

Banyak cerita, banyak dinamika. Ada canda,beda pendapat,mungkin ngrasani,mungkin tersakiti.Ada kegiatan dan kongkow2 yang mengeratkan satu sama lain. Dinamika kelompok, yang pasti terjadi di manapun kita hidup. Baik di sini, juga di sana. Semua itu adalah proses adaptasi dalam lingkungan..berhasil atau tidak, tergantung kita sendiri menyikapi perbedaan.

Sekian waktu, satu demi satu tetangga berpindah dari sini. Satu keluar, satu masuk.Ada yang mutasi, ada juga yang memutasikan diri. Namun tahun ini, ada begitu banyak perubahan..banyak dari penghuni lama yang berpindah.bu dwi, bu bin, nu naryo, bu nur, bu kun, bu amir, bu aan..juga bapak-bapak yang jadi single selama di morowali.

Dan beberapa waktu ini, sungguh terasa betapa tetangga bagaikan saudara..siapa yang siap membantu kala ada musibah? Siapa yang menawarkan cabe rawit, sawi, kacang panjang, atau daun ubi sebagai alat survivor kala jalan becek dan tak ada tukang sayur lewat? Siapa yang heboh berebut durian kala bintang terang meski badan letih dari beteleme? Siapa yang merasakan kesedihan kala ada saudara yang kehilangan? Siapa yang ada di dekatmu?

Ahh…tetangga itu, saudara terdekat..yang rela membantu, menemani, dan berbagi. Terlebih bagi kita di sini, yang butuh +-12 jam ke palu, +- 14 jam makassar, masih plus sekian ratus km dengan pesawat terbang…

Selamat melanjutkan hidup, tetangga-tetanggaku. Yang lama, yang baru, yang sudah dan akan berpindah dari sini. We’ll gonna miss you, in agree or disagree, you were here as our family…

Lho, ternyata Pak Wardi juga pindah, pagi ini…

Si givi


Si givi adalah teman baru kami yang menyertai kebo megapro. Mengingat kami lebih sering motoran daripada mobil (memang gak punya mobil :), suami ngincer box untuk dipasang di kebo megapronya. Tujuannya saat kami bepergian dan beli sesuatu, tak perlu repot ngetheng-ngetheng hingga tangan terjerat kresek. Secara, tempat baru kami tinggal ini lumayan jauh ke mana-mana dan sekalinya keluar, belanjanya sekalian. Setelah browsing perihal box yang bisa dipasang di motor, berdiskusi tentang mana baiknya dan tepat untuk medan jelajah yang panjang, kami setuju : cari box yang bisa dipasang di samping kanan-kiri motor.
Cari di mana ? di Palu ? di Makassar? Wah, ke mana ya? Ternyata Tuhan berkehendak, suami musti melawat belajar ke PangkalanBun, Kalteng. Artinya.. dheng dheng dheng…. ada kesempatan menginjak Jawa lagi karena pesawat musti transit di Surabaya. Jadilah, kesempatan transit Surabaya digunakan untuk cari box motor. Dan voila ! terpasanglah si givi di kebo megapro, tampak kokoh mengangkut barang 6 kg.
Tinggal jauh membuat kami memilih barang yang kuat dan bandel, tahan banting, tahan lama, meski konsekuensinya ada pada harga. Si givi ini terbukti tangguh dan berjasa besar mengangkut buku, tinta printer, mantol, susu dancow, sampai cobek batu. Barang-barang tetap aman (insya Allah) meski kami parkir motor dan masuk pasar. Di tempat domisili sekarang, si givi jadi tempat belanja, mulai dari ikan, tahu, sayur, anggrek dan potnya (ya iyalah), wajan kecil, sampai keset rumah. Si empunya givi yang jago repacking, anak pramuka dan pecinta alam sih (hehe).
Trus, gimana caranya supaya itu ikan aman tersimpan di givi? Setiap kali belanja, saya selalu bawa tempat, mulai dari kresek, toples hadiah, sampai tupperware. Masukkan ikan, tahu, atau sayuran dalam kotak tupperware, s etelahnya, alasi dengan kresek yang besar. insya Allah aman sampai tujuan (masih ada lomba foto tupperware gak ya :D).
Ada juga pengalaman nahas si givi. Saat perjalanan dari Morowali-Palu, tepatnya di Parigi, suami ditubruk sapi.. (apa? Ditubruk sapi ? gimana ceritanya?). Saat itu jam 17.30, ada sapi menyeberang. Suami pelan kasih jalan si sapi. Selang 10 meter setelahnya, tiba-tiba ada sapi lain yang keluar dari semak dan berlari menyusul teman-temannya, nyundul bagian belakang kebo megapro, yang tak lain tempat si givi nangkring. Kerasnya tubrukan membuat tutup si givi terbuka, dan tas di dalamnya terlempar. Si sapi puyeng, suami pun berusaha mempertahankan keseimbangan di atas kebo megapro. It’s fine ! nah akibatnya si givi kehilangan ornamen hiasan di badannya deh(strip line).. Orang-orang pun menanyakan kondisi suami yang tertubruk sapi..hihi…dont’ worry, be happy…
Di perjalanan lainnya, karena kecepatan agak tinggi, dan kelupaan mengunci box, tutup si givi kiri terbuka dan terbanglah raincoat merah Rei yang belum berumur sebulan. Pernah juga, saat membawa karung arang, ternyata arang-arang itu menggores si givi. Walhasil, coretan hitam arang permanen menghias mulusnya si givi. Si empunya cuma menghela nafas, yah sudahlah, sebagai ingatan bahwa si givi pernah ngangkut sekarung arang, katanya.
Kebo megapro yang dipasangi si givi membuat kami sering diliat orang kalau lagi di jalan. Mungkin di sini tidak familiar ada box seperti itu ya. Kadang dikira motor polisi, kadang dikira penjual ikan (di sini penjual ikan menaruh ikannya di box gabus yang diikat di dudukan motor bagian belakang), kadang juga si givi dibilang sebagai keranjang belanjaan. Yang pasti, si givi jadi teman perjalanan kami yang baik. Terima kasih givi…..

Pelabuhan khusus CPO, Cinoki - Mamuju Utara

Pelabuhan khusus CPO, Cinoki – Mamuju Utara

di Palu

di Palu


Simpang jalan

Simpang jalan

Danau Poso, Jalur Tentena-Pendolo

Danau Poso, Jalur Tentena-Pendolo

di Morowali

di Morowali

over-baggage...?

over-baggage…?