Pindahan ya ?

Packing itu ternyata bisa bikin pusing. Antara yang ditinggal, dibuang, diberikan pada orang, atau dibawa.. Tempat kerja suami memungkinkan adanya rotasi pegawai. Terbilang ini kali ke-tiga kami pindahan. Ternyata barang-barang itu bertambah signifikan di periode ini.. 😅..

Yeah.. Menurut ekspedisi, paket pindahan akan mengambil waktu 2 minggu menyesuaikan jadwal keberangkatan kapal. Mmm… tampaknya kami salah perhitungan. Mustinya barang-barang itu lebih banyak dikirim ke jawa.

Baru kami sadari kalau banyak barang kami yang diberi. Kalau statusnya pemberian maka kemungkinan besar barang itu akan dilindungi atau dibawa, misalnya jilbab dari bu anu, tupp dari itu, mukena dari ono, dll…

Kalau ada ikatan emosional, misalnya ini kotak didapat di tempat sono, yang kemungkinan kami gak akan ke sana lagi, maka benda itu dilindungi. Kalau barang itu dibeli dan kemungkinan besar masih digunakan atawa fungsional, maka si barang akan dibawa. Misalnya itu munthu batu dibawa-bawa selama 3 kali pindahan. 😉

Lalu bagaimana kalau barangnya berfungsi sebagai asesoris, pernak pernik kecil untuk dekorasi? Since we didn’t have our own home, pernak pernik itu akan menumpang di rumah dinas atau rumah nenek. Nah loh.. Tampaknya kami harus bijaksana memilih pernak pernik selanjutnya ya.

So, barang yang seperti apakah yang diberikan pada orang? Umumnya orang melakukan lelang saat pindahan begini namun suami kurang setuju dengan konsep itu. ‘Kalau kau mau kasih orang, ya kasih aja, jangan dijual.’ okay then. That’s why we just gave some stuff that we could not bring, especially overseas.. eh apaan, pindah pulau maksudnya. Ada juga barang yang kelihatannya lebih bermanfaat jika digunakan orang lain. Atau bisa juga barang yang memang sudah tidak dipakai karena oversize (hati-hati berat badan).

So, dengan bismillahirrahmanirrahim kami lungsuri beberapa barang untuk anda. Semoga barang itu bisa digunakan sebagaimana mestinya, lebih bermanfaat dan membawa kebahagiaan bagi yang menerimanya.   Amiin..jangan dijual ya…

2017-03-14 18.22.02-1

Konser yang indah

Malam tadi bertiga kami menikmati konser 50th Djaduk. Seniman musik Indonesia rasa jogja.. Konsernya di Taman Budaya Yogya, suatu ruang berkesenian nan publik nan hidup. Begitu masuk gerbang TBY, aroma yang lama tak terjamah itu demikian terasa.

Aroma jogja, aroma menonton acara seni malam-malam, aroma rakyat, yang khas dengan budayanya sendiri. Aroma rasa Jogja! Lain dengan aroma kampus utara yang sibuk dengan laptop, cafe, dan mobil. Atau aroma Sardjito yang gloomy. Apalagi aroma kebun nun jauh di sana yang tertinggal beberapa abad. Ini aroma seni yang Jogja banget, yang merakyat banget, yang dulu sering jadi tempat nongkrong. Aroma dimana kolektivitas kelompok bertemu dengan gilasan kebutuhan ekonomi yang menghasilkan respon kebuntuan, kreativitas, kultur kelompok, dan ruh cinta pada kesederhanaan. Namun yang pasti, ada kesungguhan, konsistensi, dan skill kala mood dan tenggat waktu berpadu.

Dalam konser musik Gending Djaduk ini, Djaduk yang tampil dengan baju merah dan kain tenun ini menampilkan sekian aransemen. Dibuka dengan Piknik ke Cibulan yang bersambung dengan Jawa Dwipa,Bethari,Pesisir,lalu Angop-mereka menggunakan alat apa gitu yang memunculkan suara orang menguap. Dilanjutkan dengan Swarnadwipa, Barong -yang bali banget,Molukken (kole-kole) rasa Maluku dengan suara emas vokalis Jasmine yang mengingatkan pada suara Glen fredly,dan ditutup dengan Ritma
Khatulistiwa. Di tengah-tengah, Djaduk mengundang mantan keyboardist Kua Etnika yang lagi ulang tahun untuk join tampil di atas pentas. Karya-karya 50tahun Djaduk ini so so Indonesia, rasa Indonesia banget,dengan alat-alat musik ajaib yang menghasilkan suara yang ajaib pula. So genuine and so wonderful.

DSC_0078

Djaduk bilang kalau dia tidak bisa menggambar. Dia bilang kalau caranya berekspresi menyampaikan gagasan adalah melalui musik, karena itu jalan yang dia kuasai. Biar dia diejek Yuswantoro adi karena tidak bisa menggambar, ya biarlah.. Tapi fokus, tekun, panjang akal. Karena ketekunan dan kegilaan itu akan berbuah. Menunggu berbuah tentu tidak sebentar.

Pohon cabe beberapa bulan sudah panen, pohon tomat apalagi, saking cepatnya kita tertinggal memindah ke tanah. Kalau pohon manggis, atau pohon cengkeh, euu lamo nian babuah. Tapi buahnya luar biasa bermanfaat besar, lebih mahal pula.. Nah, bagaimana perjuangan untuk konsisten, setia pada proses, berusaha agar one step ahead itu terus melaju.

Proses itu berjalan, nggak langsung dapat harta karun, tapi harta karun itu adalah perubahan dalam diri kita untuk menghargai diri sendiri, mengenal Tuhan, dan menyukai keikhlasan. Dan eksistensinya dihargai dengan apresiasi masyarakat, penonton, penikmat karya yang nonton konser. Yah kalau di jogja, tiketnya paling mahal seharga 200 ribu sementara di jakarta 500 ribu, atau melalui penjualan CD terbatas yang bertarung dengan YouTube. Namun yang lebih utama, potitioning mereka dalam berkesenian diakui khalayak.

DSC_0011

So, marilah kita review kembali, apa yang kita anggap penting dan prioritas dalam hidup kita. Pilihan karir apa yang kita jatuhkan dan bagaimana kita rajin mengutak-atik, merawat, melatih, memproduksi karya dengan telaten. Terlebih bagi pekerja independen yang ditantang diri sendiri untuk menaklukkan waktu, mood, dan kemalasan. Bukan oleh tatanan dan target yang diberikan perusahaan, tapi oleh diri sendiri yang punys itikad baik untuk berkembang.

Apresiasi untuk Djaduk dan Kua etnika, serta seniman-seniman yang nakal dan konsisten setia dalam proses. Terima kasih untuk mengingatkan pada proses itu. Proses yang kadang dilupakan untuk mencapai kepuasan sesaat, yang cepat, dianggap benar dan wajar oleh khalayak..Dan berhasil menjadi salah satu jawara yang hebat.

Sttt…Gaya orang-orang yang datang ke konser TBY ini masih sama dengan sepuluh tahun lalu. Rasa jogja banget. (Ya ada tambahan dikit lah dengan gadget mereka yang makin canggih).

jangan putus asa

Wa laa taiaasu mirrauhillah….
Ud u ni astajib lakum
Fa bi ayyi ala i rabbi kuma tukadzziban?
Fa inna ma al usri yusra, inna ma al usri yusra

Pertanyaan dan pernyataan untuk meneguhkan dan mengingatkan kita, manusia agar tak lekas putus asa dalam hidup..secara pernyataan, mudah saja,tapi saat menjalani, masih banyak tahapan yang ditempuh.

Rasa galau muncul saat pengharapan kita tak kunjung terkabul..apakah sudah cukup doamu? Apakah sudah banyak sedekahmu? Apakah sudah maksimal usahamu? Apakah keberadaanmu membawa manfaat? Apakah kesedihan dan kemuraman muncul dari auramu?

Manusia berharap, berencana, namun Tuhan yang menentukan. Kata Tuhan, kenikmatan itu diwujudkan dalam bentuk yang menurutNya lebih tepat untukmu saat ini..nikmat sehat, bahagia, kecukupan, dan lainnya, yang kau bahkan tidak tahu kapan itu diangkat…

Tapi, apakah apologi itu merupakan perlindungan bagimu sendiri, untuk menentramkan diri? sebagai alibi bahwa kau tidak cukup berusaha dan berupaya mewujudkan harapan dan impianmu?

Subhanallah..kesabaran dan keikhlasan itu terus diuji, dan diuji..karena Tuhan menguji manusia dengan ujian yang dia mampu menghadapinya…bagaikan ada rel-rel imajiner yang berseliweran tempat manusia berjalan menuju satu tempat, yang tak kan tahu kapan rudal terlontar, atau batu lempar, atau kerusakan rel, atau mesin yang rusak..jalur itu akan dilalui manusia, menuju Tuhan kembali..bukankah dunia ini sejatinya perjalanan manusia menuju Tuhannya?

Berusahalah melakukan dan membagi kebaikan pada orang-orang di sekitarmu..berbaik sangkalah pada Tuhan…perbanyaklah ibadah, doa dengan takut dan penuh harap, agar Tuhan tahu bagaimana kau mengharap..Dan berusahalah semaksimal mungkin secara teknis agar kereta itu terus meluncur di atas rel dengan laju..ikhlas dan bersabarlah agar semuanya dilalui dengan bahagia….sebagai proses yang meneguhkan ikatan antar hamba, sebagai kekuatan yang mengikat manusia dengan Tuhannya..

Subhanallah…

3 ramadhan ini

Tak terasa 3 ramadhan ini terlalui di morowali..cuaca yang berubah ubah, puanas, hujan, petir, datang tak kenal musim..awal datang disambut hujan deras hingga tukang sayur tak ada masuk dan hanya ada menu sarden beberapa hari di meja makan. di sini pula bertemu tetangga baru dan saudara baru…

Kenal sebelah rumah, bu naryo, yang bisa diskusi tentang ide-ide yang berlanjut dengan aktivitas mengaji anak-anak…lalu berkenalan dengan bu amir yang jadi agen pemesanan daging sapi haji fatah di beteleme.belanja dengan bu amir, dijamin harga jadi murah :). Lalu ada bu nur yang nyetok galon air, sehingga tak perlu repot baangkut galon jauh-jauh..ketemu juga bu kun, yang pertama ketemu langsung kasih tebengan beli gado-gado di mama eko (menu nggenah setelah sekian hari di morowali).ada juga bu idris yang suaranya membahana, yang ternyata agen tupperware 30%…ada lagi bu nasir dengan cipo yang masih diayun. Bu hamzah dan bu trian yang riuh berbahasa sunda, plus plus bu ido. Ada juga tawa renyah tiwi dan umbel meler ebi nya bu bin. Sedangkan bu aan, ketemu 6 bulan sekali, yang membuatku terpaksa ber-bbm demi lancar komunikasi 🙂 … Ada juga bu suwig, yang sibuk bolak balik palu-morowali.. ada juga bu dwi, bu rusdin, dan bu umar.tak berapa lama, datang bu mul dan bu agung. Lalu bu toto, bu indra, bu ahmad, bu didik, dan ibu-ibu lainnya…Ah…siapa lagi ya?..mgkn tdk banyak memori yang tersimpan, maafkan…

Banyak cerita, banyak dinamika. Ada canda,beda pendapat,mungkin ngrasani,mungkin tersakiti.Ada kegiatan dan kongkow2 yang mengeratkan satu sama lain. Dinamika kelompok, yang pasti terjadi di manapun kita hidup. Baik di sini, juga di sana. Semua itu adalah proses adaptasi dalam lingkungan..berhasil atau tidak, tergantung kita sendiri menyikapi perbedaan.

Sekian waktu, satu demi satu tetangga berpindah dari sini. Satu keluar, satu masuk.Ada yang mutasi, ada juga yang memutasikan diri. Namun tahun ini, ada begitu banyak perubahan..banyak dari penghuni lama yang berpindah.bu dwi, bu bin, nu naryo, bu nur, bu kun, bu amir, bu aan..juga bapak-bapak yang jadi single selama di morowali.

Dan beberapa waktu ini, sungguh terasa betapa tetangga bagaikan saudara..siapa yang siap membantu kala ada musibah? Siapa yang menawarkan cabe rawit, sawi, kacang panjang, atau daun ubi sebagai alat survivor kala jalan becek dan tak ada tukang sayur lewat? Siapa yang heboh berebut durian kala bintang terang meski badan letih dari beteleme? Siapa yang merasakan kesedihan kala ada saudara yang kehilangan? Siapa yang ada di dekatmu?

Ahh…tetangga itu, saudara terdekat..yang rela membantu, menemani, dan berbagi. Terlebih bagi kita di sini, yang butuh +-12 jam ke palu, +- 14 jam makassar, masih plus sekian ratus km dengan pesawat terbang…

Selamat melanjutkan hidup, tetangga-tetanggaku. Yang lama, yang baru, yang sudah dan akan berpindah dari sini. We’ll gonna miss you, in agree or disagree, you were here as our family…

Lho, ternyata Pak Wardi juga pindah, pagi ini…

Si givi


Si givi adalah teman baru kami yang menyertai kebo megapro. Mengingat kami lebih sering motoran daripada mobil (memang gak punya mobil :), suami ngincer box untuk dipasang di kebo megapronya. Tujuannya saat kami bepergian dan beli sesuatu, tak perlu repot ngetheng-ngetheng hingga tangan terjerat kresek. Secara, tempat baru kami tinggal ini lumayan jauh ke mana-mana dan sekalinya keluar, belanjanya sekalian. Setelah browsing perihal box yang bisa dipasang di motor, berdiskusi tentang mana baiknya dan tepat untuk medan jelajah yang panjang, kami setuju : cari box yang bisa dipasang di samping kanan-kiri motor.
Cari di mana ? di Palu ? di Makassar? Wah, ke mana ya? Ternyata Tuhan berkehendak, suami musti melawat belajar ke PangkalanBun, Kalteng. Artinya.. dheng dheng dheng…. ada kesempatan menginjak Jawa lagi karena pesawat musti transit di Surabaya. Jadilah, kesempatan transit Surabaya digunakan untuk cari box motor. Dan voila ! terpasanglah si givi di kebo megapro, tampak kokoh mengangkut barang 6 kg.
Tinggal jauh membuat kami memilih barang yang kuat dan bandel, tahan banting, tahan lama, meski konsekuensinya ada pada harga. Si givi ini terbukti tangguh dan berjasa besar mengangkut buku, tinta printer, mantol, susu dancow, sampai cobek batu. Barang-barang tetap aman (insya Allah) meski kami parkir motor dan masuk pasar. Di tempat domisili sekarang, si givi jadi tempat belanja, mulai dari ikan, tahu, sayur, anggrek dan potnya (ya iyalah), wajan kecil, sampai keset rumah. Si empunya givi yang jago repacking, anak pramuka dan pecinta alam sih (hehe).
Trus, gimana caranya supaya itu ikan aman tersimpan di givi? Setiap kali belanja, saya selalu bawa tempat, mulai dari kresek, toples hadiah, sampai tupperware. Masukkan ikan, tahu, atau sayuran dalam kotak tupperware, s etelahnya, alasi dengan kresek yang besar. insya Allah aman sampai tujuan (masih ada lomba foto tupperware gak ya :D).
Ada juga pengalaman nahas si givi. Saat perjalanan dari Morowali-Palu, tepatnya di Parigi, suami ditubruk sapi.. (apa? Ditubruk sapi ? gimana ceritanya?). Saat itu jam 17.30, ada sapi menyeberang. Suami pelan kasih jalan si sapi. Selang 10 meter setelahnya, tiba-tiba ada sapi lain yang keluar dari semak dan berlari menyusul teman-temannya, nyundul bagian belakang kebo megapro, yang tak lain tempat si givi nangkring. Kerasnya tubrukan membuat tutup si givi terbuka, dan tas di dalamnya terlempar. Si sapi puyeng, suami pun berusaha mempertahankan keseimbangan di atas kebo megapro. It’s fine ! nah akibatnya si givi kehilangan ornamen hiasan di badannya deh(strip line).. Orang-orang pun menanyakan kondisi suami yang tertubruk sapi..hihi…dont’ worry, be happy…
Di perjalanan lainnya, karena kecepatan agak tinggi, dan kelupaan mengunci box, tutup si givi kiri terbuka dan terbanglah raincoat merah Rei yang belum berumur sebulan. Pernah juga, saat membawa karung arang, ternyata arang-arang itu menggores si givi. Walhasil, coretan hitam arang permanen menghias mulusnya si givi. Si empunya cuma menghela nafas, yah sudahlah, sebagai ingatan bahwa si givi pernah ngangkut sekarung arang, katanya.
Kebo megapro yang dipasangi si givi membuat kami sering diliat orang kalau lagi di jalan. Mungkin di sini tidak familiar ada box seperti itu ya. Kadang dikira motor polisi, kadang dikira penjual ikan (di sini penjual ikan menaruh ikannya di box gabus yang diikat di dudukan motor bagian belakang), kadang juga si givi dibilang sebagai keranjang belanjaan. Yang pasti, si givi jadi teman perjalanan kami yang baik. Terima kasih givi…..

Pelabuhan khusus CPO, Cinoki - Mamuju Utara

Pelabuhan khusus CPO, Cinoki – Mamuju Utara

di Palu

di Palu


Simpang jalan

Simpang jalan

Danau Poso, Jalur Tentena-Pendolo

Danau Poso, Jalur Tentena-Pendolo

di Morowali

di Morowali

over-baggage...?

over-baggage…?

Elegi lebaran (part 3)

Apa menu lebaran kali ini? lazimnya di Sulawesi, lebaran selalu ada burasa. Burasa adalah  beras yang diaron dengan santan, lalu dibungkus daun pisang muda dan dilipat segi empat pipih. Ada 3-4 burasa yang ditata rapat dan diikat rafia, kemudian direbus selama 5-6an jam… waw… lama amir? Whe… belum tau ko…rasanya gurih, seperti arem-arem tanpa isi… dengan adanya buras, tamu cukup membuka lipatan buras sesuai kebutuhannya dan menambahkan kuah santan dari opor, sambal goreng, ayam bumbu lengkuas, atau boru (bandeng) masak pedas… cess…

Lha di rumah bagaimana ?

Kami membuat sate sapi bumbu kecap, kaledo, dan ayam goreng.. (wah sayang sekali, kemarin kelupaan nggak motret hidangannya )

Gurihnya sate sapi yang dimasak suami dengan bumbu ketumbar, bawang merah dan bawang putih ini mengundang selera. Ehmm…. sajian ini butuh perjuangan panjang dan korban segala. 17 Agustus, suami ikut upacara di kecamatan, sementara saya nebeng ke pasar Poranda (kebetulan jumat adalah hari pasar di pasar poranda). Untung di toko Pink ada dijual tusuk sate… untung pula, saat berjalan menuju penjual arang (di dekat tower, kata penjual beras), saya bertemu suami yang pulang upacara sehingga sekarung arang dapat diikat langsung di kebo megapro, dengan meninggalkan bekas gesekan hitam di Givi box kesayangan  .

Esoknya, hari sabtu, 18 Agustus, kami ke Pasar beteleme (1 jam perjalanan), inilah pasar terbesar yang kami temui so far.. kami mencari panggangan sate, namun ternyata tidak ada juga… tak hilang akal, suamiku merangkai sendiri tungku pembakaran dari lempeng aluminium dan batu bata yang ditumpuk… agak nahas, di malam takbiran, hujan tak henti mengguyur.. hujan rahmat dari Allah ini membuat kami berfokus menyiapkan ragam-ragam dalam rumah…  aku memotong-motong daging dan hati, menggerus bumbunya, sementara suami yang menumis daging hingga matang, lalu menusukkannya dalam tusukan sate untuk dibakar esok hari… tungku sementara ini menjadi nafas kami saat lebaran, apalagi indikator gas di tabung gas menunjuk angka 2 dan bergerak pelan ke garis merah… Ditemani sambal kecap dan nasi hangat, merica dan potongan cabe rawit membuat sate sapi ini menjadi hidangan yang tidak umum saat lebaran..

Untuk kaledo ? Kaledo itu singkatan dari kaki lembu donggala. Ceritanya, saat di Palu lalu, kami tak sempat makan kaledo karena warung-warung kaledo keburu tutup sementara jalanan macet. So, dibuatlah kaledo untuk seger-seger di lebaran ini. Di resep aslinya, kaledo hanya menggunakan cabe rawit dan asam jawa segar sebagai bumbu. Masalahnya, di sini tidak ada asam jawa segar. Walhasil, rasa asam didapatkan dari daun kedondong hutan yang dibeli di pasar beteleme…

Karena malam hujan, maka subuh hari suamiku menyalakan tungku buatannya dengan bantuan semprotan yang diisi fuel dan kipas angin… belanga diisi air galon untuk masak (di sini tidak bisa masak dengan air dari kran), tunggu mendidih air sembari mengerjakan aktivitas lain, lalu masukkan tulang belulang (iga, bukan kaki… jadi judulnya bukan kaledo tapi galedo –iga lembu).. masih diiringi rintik hujan, kami tinggalkan belanga berisi tulang di atas tungku untuk melaksanakan sholat ied…Alhamdulillah, segalanya aman…. daging berhasil lunak, rica ditumbuk dan dimasukkan, tambahkan daun kedondong hutan seribu perak…. dengan tambahan merica, dan jeruk nipis, kaledo disantap bersama….. stt….rasanya hampir menyerupai Kaledo Megaria di Donggala atau warung-warung kaledo di Palu lho… hehe…

Sekali lagi sayang sekali kami tidak sempat memotret masakan dan bumbu-bumbu, serta perjuangan mendapatkan alat-alat untuk membuat masakan-masakan tersebut.

Kalau di jawa mah, buruan ke pasar tradisional atau pasar swalayan yang besar, langsung deh, dapat bumbu dan alat yang lengkap… hehe… selamat berlebaran yah….

 

Ehm, sedikit bocoran, perjalanan pulang dari pasar beteleme lumayan memberi kejutan. Dengan tongkat pramuka di tangan kiri, wajan yang diikat di belakang, dan box givi yang diisi daun kedondong hutan, si kebo megapro mogok di tengah jalan. Kebetulan suami udah ngincer si kembang jepun yang mangkrak di tepi jalan, dekat pos dinas perhubungan. Eh, pas menurunkan kecepatan, si kebo megapro berhenti deh.. nggak mau nyala meski dislah…. tidak ada pengapian… walhasil, aku menunggu di pos dinas perhubungan dengan bapak-bapak petugas yang bermain catur, hanya 10 menit, permainan catur berhenti dan berganti! Mereka bahkan hafal di luar kepala permainan catur itu… sementara suami pinjam motor di pos perhubungan menuju bengkel terdekat. Tak lama, kebo megapro ditarik motor bersama teknisi bengkel, dan aku dijemput ke bengkel tsb… Walah-walah, mas teknisinya orang jawa! Lahir di lampung dan trans ke Morowali, dia bahkan tidak tahu keluarganya berasal dari Jawa bagian mana. Hanya bicara jawa ngokonya yang menunjukkan kejawaannya J

Selamat lebaran!

Elegi lebaran (part 2)

Mengikuti liputan mudik lebaran membuat saya makin yakin bahwa jawa menjadi pusat segalanya. Mayoritas info itu di seputaran jawa tengah, jawa barat, jawa timur, diselipi jakarta sebagai sumbu arus mudik. Sedikit disinggung arus di merak untuk arus mudik sumatra, namun bagaimana kondisi lalu lintas mudik di sumatra, kalimantan, sulawesi, atau perputaran orang di maluku, papua, bali dan nusa tenggara sangat minimal dibahas, atau hampir bisa dikatakan tidak ada. Berapa sih, orang yang bekerja dan atau hidup di jawa ? mengapa sampai sebegitunya tv menyuguhkan informasi mudik di jawa saja? Bete juga saya mengikuti info lebaran ini.

Atau coba perhatikan waktu imsak yang dicantumkan di tv. Paling pol yang ada adalah Makassar sebagai wakil indonesia sisi timur. Padahal, Makassar hanya satu tempat, masih banyak kota-kota lain yang juga butuh informasi, yang lokasisinya berjarak sekian derajat dari makassar. Lain halnya dengan kota besar di jawa yang dicantumkan semua.

Belum lama ini saya belanja ke pasar Beteleme, ada penjual sayuran dari Jawa, salah satunya seorang ibu (saya lupa namanya), dari Solo, katanya “Sudah 30 tahun tinggal di sulawesi. Lebih mudah mencari uang di sulawesi daripada di Jawa.” Pernah beliau bersama suaminya pulang ke Jawa, sampai 4 bulan, suaminya tidak betah dan memilih kembali ke Sulawesi.

Lain waktu, kami ke pasar sore di Emea, mencari udang segar dan buah-buahan (kalau ada), setelahnya kami melaju ke ke sebuah Nursery di Sampeantaba. Takdinyana, penjualnya dari Jawa timur, tampaknya dia menguasai/menjadii satu-satunya penjual bunga di sini. Bunga pun dikirim dari Jawa ke Palu, lalu beliau ke Palu menjemput bunga-bunga itu untuk dibawa ke tempat ini (jalan darat 12-14 jam), sungguh perjalanan panjang yang lelah…

Atau Mas bambang, penjual sayur yang menerjang jalan berlumpur dan lengket ke sekitar rumah. Dia datang diluar hari pasar dengan sayur-mayur, tahu dan tempe, menyelamatkan ibu-ibu yang tak bisa keluar berbelanja. Di saat puasa ini, dia membawa mobil pick up dengan bawaan yang lebih banyak, ada cendol, pisang, ubi, kelapa muda dan kelapa tua, bawang merah, bawang putih, serta sayur-mayur..

Saat lebaran ini, saya dan suami berkunjung ke tempat tetangga yang berlebaran di seputaran sini. Di sebuah rumah, Pak Maryono namanya, dari Lamongan, dulu hidup di Gorontalo bersama ibunya, lalu bekerja di seputar Pasangkayu, Sulawesi Barat. Kini ia dan keluarga memilih untuk mutasi ke Morowali Sulawesi Tengah, karena ada famili di Unit 3, sekitar Sampeantaba. Di sini ada bapaknya, yang sudah 30 tahun tak jumpa. Dan terkejut aku, saat Pak Maryono berbicara dengan bahasa jawa halus mlipis, sementara transmigran yang kujumpai selama ini selalu bicara jawa ngoko. Beliau masih bisa bicara jawa kromo karena lahir dan dilatih di jawa sebelum melalui masa hidupnya di Sulawesi. Dalam catatanku, hanya ada 2 orang jawa yang bisa berbicara jawa kromo (yang pernah kujumpai), satu lagi adalah Wasis, di Mamuju Utara sana.

Para transmigran ini, yang bekerja lama di sulawesi, orang jawa juga, namun mereka tidak mudik ke jawa, karena satu dan lain hal.. mungkin keluarga besarnya sudah trans di sulawesi juga, atau biaya dan waktu perjalanan yang tidak murah dan lama.

Mungkin bisa dilacak perjalanan hidup para pejuang trans yang beranak pinak sekian generasi.. Mas Bambang  hanya bicara bahwa jawa ngoko, putra Pak Maryono, logatnya bukan lagi jawa (apalagi bicara dengan bahasa jawa, nggak bisa dia), meski istrinya juga orang jawa. Mereka juga berlebaran dan mudik di rantau yang sudah menjadi kampung halaman.

Jadi bagaimana kondisi jalan di Bungku, Kolonodale, atau Poso sana?

Emm… jangan andalkan tv deh, tanya saja pada orang-orang yang sudah melewati jalur tersebut… tampaknya ada jaringan seluler kok (asal hp anda cukup bandel)…