survivor

Infertility…apaan sih?
Different ability….ya gitu deh…
Widow..siapa ?

Nah teman, kadang secara tidak sadar kita membicarakan sesuatu yang kita anggap wajar tapi bisa menyakitkan orang lain. Kalau ada teman difabel, tuna daksa atau tuna netra, kita bilang dia cacat. Kalau ada yang kena cancer, kita bilang dia sakit. Kalau ada yang belum punya anak, kita bilang mandul. Kalau ada anak yang diajari gak paham-paham juga, dibilang bodoh. Kalau ada yang berpisah dengan suami, dibilang janda. Bicaranya dengan nada merendahkan pula, peyoratif.. Tahukah anda kalau label itu menyakitkan?

Bagi banyak orang, sehat, anak, kecerdasan, keluarga harmonis, itu muncul secara alamiah, lumrah, begitu saja. Namun ada orang-orang istimewa yang dihadiahi Allah dengan misteri kehidupan sehingga untuk dapat masuk ke kategori ‘normal’ atau mungkin lebih enaknya ‘standar’, perlu effort khusus untuk diraih, diusahakan, dan ditelateni.

Orang Indonesia suka sekali berbicara, mulai dari menceritakan masalah dan kemegahan dirinya, hingga kelakuan orang lain yang tidak sesuai. Dan orang-orang dalam paragraf di atas sering kali masuk list pembicaraan, dirasani.
Coba jawab dulu pertanyaan ini jika anda sedang membicarakan orang :
– Memang lu tahu apa masalahnya?
– Memang dia mau lu tahu masalah dia?
– Memang dari membicarakan dia bisa muncul solusi?
– Memang membicarakan orang bikin hati jadi tentram?
– Memang lu sendiri kuat kalau dapat cobaan seperti dia?
– Memang lu mau dibicarain kayak dia?
– Ehm…sape elu sih?

So, saya mau bagi sedikit tentang ini. Disease, cancer, difabel, infertility, divorce, bisa terjadi pada siapa pun. Jangan sakiti orang lain yang sedang dirundung sedih dengan mengata-ngatai mereka kalau tidak ada tujuan, ujung baiknya. Tahukah anda, kalau mereka adalah survivor, yang berjuang untuk sehat, untuk punya anak, untuk hidup.

Jangan lihat mereka sebagai pihak yang tidak punya ini itu seperti halnya anda yang komplet. Lihatlah mereka sebagai insan manusia yang utuh, yang berprestasi, yang bermanfaat bagi lingkungannya. Siapa tahu, keberadaan mereka lebih bermanfaat daripada orang-orang kebanyakan yang tidak mendapat cobaan Tuhan. Who knows?

sketch-1411460464261

Orang-orang pilihan ini tidak butuh untuk dikasihani. Beberapa advice mungkin boleh, tapi jangan yang menyudutkan, apalagi meremehkan. Anda tidak tahu apa yang dia rasakan, kan? Mereka pasti punya banyak pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Kalau anda berniat baik memberi saran, pastikan anda menguasai informasi tersebut. Atau anda bisa sampaikan pada pihak lain yang lebih dekat pada yang bersangkutan, apalagi jika gaya anda cenderung sok tahu dan sok benar, apalagi tidak punya hubungan dekat dengan sang survivor.

Kata Nabi SAW, sebaik-baik orang adalah yang orang lain tentram saat di dekatnya. Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi lingkungannya. Yuk, jadi orang yang begitu yuk…

🙂

Advertisements

Napak Tilas Nabi Ibrahim

Tahukah kamu, Nabi Ibrahim?
Well, you gotta know this.
Nabi Ibrahim adalah nabi yang cool sedunia akherat. Bayangpun, semasa hidupnya ada banyak cobaan dan tantangan dari umatnya yang ngeyel ndableg, ujian dari Allah yang misterius dan tak masuk akal, hingga mukjizat Allah yang luar biasa.

Ibrahim bin Azar bin Tahur bin Saruj.bon Rau’ bin Falij bin Aabir bin Shalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh lahir di A’ram, Babilonia (daerah Irak). Beliau sering mempertanyakan sesuatu, misalnya tentang Tuhan dan berhala. Perdebatannya dengan Raja Namrud, dimulai saat Ibrahim menghancurkan berhala-berhala Babilonia, dan menyisakam satu berhala besar sebagai kambing hitam pelaku pengrusakan. Walhasil, Ibrahim dibakar hidup-hidup namun atas izin Allah, api menjadi dingin dan Ibrahim selamat.

Namrud tidak serta merta mengakui Tuhan ibrahim. Sebagai raja, egonya terlalu besar dan merasa dirinya adalah penguasa dunia sekaligus Tuhan. Maka Ibrahim pun meninggalkan Babilonia dan melakukan perjalanan. Sampailah Ibrahim di Haran, tempat antara sungai dajlah dan furat, daerah Palestina. Penduduknya adalah penyembah bintang. Di sini Ibrahim bertanya tentang bintang yang timbul tenggelam kala malam, bulan yang berubah-ubah, dan matahari yang menggantikan bintang kala pagi menjelang. Tuhanku lebih dari itu. Sayang, penduduk Haran tidak mengakui Tuhan Ibrahim.

Paceklik, kemarau tiba. Ibrahim dan Sarah, istrinya bermigrasi ke Mesir, yang subur oleh sungai Nil. Di Mesir, Firaun jatuh hati pada Sarah, namun atas perkenan Allah, Firaun mengembalikan Sarah pada Ibrahim plus memberi hadiah dayang bernama Hajar.

Ibrahim bersama Luth, kemenakannya bertani, beternak, dan berniaga. Keberhasilan usaha mereka membuat rakyat mesir iri, hingga akhirnya Luth pindah ke Sadum di Yordania, sementara Ibrahim kembali ke Palestina. Dalam periode ini, Sarah memberi izin pada Ibrahim untuk menikahi Hajar.

Hajar mengandung, dan melahirkan Ismail. Ujian Allah selanjutnya adalah membawa Hajar dan Ismail yang masih bayi ke daerah padang pasir bernama Mekah. Ibrahim membuatkan tenda, dan kemudian meninggalkan istri dan bayinya di sana tanpa siapa-siapa yang menemani.

Hajar dengan naluri keibuannya, melindungi Ismail, mencari air di padang pasir dengan berlari-lari kecil antara bukit Sofa dan Marwah. Tujuh kali Hajar melakukannya hingga terpeciklah air di kaki Ismail. Zam zam, berkumpullah air-air, hingga menjadi mata air, sumber kehidupan.

Dalam pada itu, Ibrahim kedatangan malaikat yang mengabarkan kehamilan Sarah yang kelak melahirkan Ishak. ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Rabbi habbli minas sholihin.’ Kun fayakun, jika Allah berkehendak, jadilah, maka jadilah ia. Dari Ishak, lahirlah nabi-nabi Allah, Yakub, Yusuf, Ayub, Syuaib, Musa, Harun, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakaria, Yahya, dan Isa. Subhanallah, penantian berbuah kenikmatan yang luar biasa.

Ibrahim pula yang mendapat perintah untuk khitan, di usia 90 tahun, dan mengkhitan Ismail. Perintah Allah yang dilaksanakan anak keturunan Ismail – Muhammad, hingga umat Islam kini.
Ibrahim, bapak para nabi, kembali mendapat ujian Allah, kali ini dengan perintah kurban. Ibrahim yang tinggal di Palestina (ada juga yang menyebutkan Siria) pergi ke Mekah menemui Ismail . Bisa dibayangkan bagaimana peningnya Nabi Ibrahim atas perintah Allah kali ini. Ismail, anak yang tinggal jauh sejak bayi, musti dikorbankan. Namun Ismail menyetujuinya, legalah ayah-anak ini dan bersiaplah mereka.

Iblis datang, menggoda Ibrahim, juga Ismail. Ibrahim mengambil kerikil dan melempari iblis ke jumrah aqobah, jumrah wustha, dan jumrah ula, masing-masing 7 kali. Dan ternyata Allah mengganti ismail dengan domba sebagai hewan kurban. Subhanallah.. Satu lagi ujian, lulus.

Menurut salah satu sumber, Nabi Adam yang diturunkan dari surga, menginjakkan kaki di India. Beliau diperintahkan Allah pergi ke Mekah dan beribadah di ka’bah. Ka’bah inilah yang dibangun ulang Ibrahim dan Ismail sebagai rumah Allah, muara ibadah jamaah haji. Adapun padang arafah, tempat wukuf, berdiam diri jamaah haji nan putih putih sederhana, merupakan tempat pertemuan Nabi Adam dan hawa setelah diturunkan dari surga. Sementara Mina adalah tempat Nabi Adam memohon ampun atas dosa-dosanya di surga.

Kali ini, Ibrahim dan Ismail mendapat perintah untuk membangun kembali sang ka’bah. Berdua mereka bekerja sama. Ibrahim pun membutuhkan batu pijakan agar bangunan ka’bah cukup tinggi. Batu inilah yang disebut maqam ibrahim, pijakan kaki ibrahim yang berbekas pada batu.

Jadi, ibadah haji merupakan satu napak tilas cucu-cucu Ibrahim, menyambangi tempat-tempat bersejarah yang berperan dalam pertumbuhan agama Allah hingga saat ini. A land of far far away, terbayang masa lalu saat nabi mulia bersusah payah berusaha menjalankan perintah Allah, dalam kondisi yang sedemikian. Padang pasir, panas, dan keras.

images

Mengapa Nabi-nabi itu ditugaskan berdakwah di jazirah arabia, di mekah, di mesir, di palestina, di siria, di irak? Negeri yang kini terus bergolak, peninggalan-peninggalan yang hancur oleh perang, perebutan kekuasaan, atau bahkan negara islam dengan alat kekerasan?

Mengapa kini penduduknya tidak merasa aman atas negerinya, padahal nabi-nabi nan mulia telah meletakkan fondasi ketuhanan di sana? Mengapa dan mengapa? (Masih belum menemukan jawabnya..) Mari doakan semoga Liga Arab bisa kompak bersatu menghalau kekuatan-kekuatan yang ingin memecah belah umat islam. Yang rezekinya lega, kirim donasi untuk saudara-saudara di Palestina.

So, apakah kita, yang dengan kondisi modern saat ini, super galau saat musibah datang menjelang? Menyerah saat kenyataan tak sesuai harapan? Tengoklah pada Nabi Ibrahim, Nabi Allah yang mulia yang kritis, sabar, dan ikhlas. Lulus semua ujian Allah. Semoga kita dapat menteladani beliau, dengan konteks masa kini. InsyaAllah..Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar… Rindui kami pada panggilanMu ya Allah..Labbaik allahumma labbaik…

haji (1)

Mohon maaf jika ada kesalahan kisah atau tempat, referensi dari buku-buku tentang kisah Nabi dan Rasul.

Kapurung, Makanan Merakyat Kaya Gizi

Kapurung. Semua orang yang pernah tinggal di sulawesi atau yang berdarah sulawesi pasti pernah dengar masakan ini, kapurung. Saya menyebutnya makanan sehat sederhana yang merakyat. Kapurung, adalah sup sayuran yang dimakan dengan sagu dan cacahan ikan kuah asam. Setiap orang sulawesi yang saya tanya selalu tersenyum tentang kapurung, ’Ibu makan kapurung?’ tanya mereka.. ini karena sagu yang digulung dan dicampur dalam sayur tampak seperti es batu yang mengapung dalam lautan sayuran. Jika dimakan, seperti lem yang susah digigit. Itu sagu memang bukan untuk digigit, tapi ditelan J. Tapi percaya nggak,kalau  makanan itu soal kebiasaan dan budaya. Kita bilang suatu makanan enak atau aneh karena kita otak kita bilang kalau ini tidak sesuai dengan kebiasaan, atau tidak ada informasi budaya yang menyertainya. Misalnya saja, pizza, kalau tidak dibantu promosi di tv dan media, dan orang ramai-ramai menyantapnya sebagai gaya hidup, kita akan bilang kalau pizza itu aneh, eneg, atau tidak enak.. Nah, hal yang sama dengan kapurung ini. Pertama kali mencicip, kening ini sempat berkerut, namun setelahnya hidangan segar ini langsung menancap lidah saya… Enak bok!

Deskripsinya begini, kapurung merupakan sajian yang terdiri dari sayur-mayur yang direbus, utamanya adalah jantung pisang (dicacah), dan segala sayur mayur (bayam, kangkung, pakis, kacang panjang, terong bakar yang ditumbuk, daun kacang, dll). Jangan masukkan sawi, kol, kecambah atau timun, karena bukan itu campurannya. Pada belanga lain, rebus ikan segar (cakalang, ekor kuning, ikan batu, atau lainnya-pada prinsipnya adalah ikan segar yang tidak banyak durinya) dengan kunyit halus, rajangan bawang merah, sereh, asam mangga, dan garam. Setelah ikan matang, tambahkan daun kemangi yang banyak. Ini yang namanya ikan kuah asam. Lalu hancurkan daging ikan.

Anda pernah makan sagu? Sagu itu berasal dari batang pohon sagu, di pasar dijual dalam bentuk seperti tiwul yang padat. Nah, sagu ini susah-susah gampang olahnya. Sagu direndam, lalu masukkan air panas, dan aduk dengan dayung kayu. Seorang tetangga yang asli Palopo tampak cekatan mengaduk sagu panas hingga warnanya bening. Mirip mengaduk dodol.. Ibu-ibu lain akan siap membantu memulung sagu dengan kayu atau sumpit atau ujung sendok hingga menjadi gulungan-gulungan kecil, dan dicemplungkan pada kuah ikan asam.

Yang tak boleh ketinggalan dalam kapurung adalah kacang goreng tumbuk. Segala masakan matang tadi (ikan, sayur, kacang, sagu dicampur dalam tempat yang besar. Lalu, teng teng teng…. Itadakimasu! Untuk penyemangat makan, tambahkan sambal terasi (cabe, terasi, dan tomat segar)  dan jeruk nipis.. hu hah….nyam nyam…

Ada pula kapurung versi pisah. Orang Mori bilang, namanya ‘Dui’. Pada versi ini, ada satu piring berisi kuah ikan asam, tambahkan cabe rawit dan haluskan dengan sendok. Tes rasa, bisa tambahkan jeruk nipis atau garam pula. Setelah rasa cukup enak, saatnya mengambil sagu dengan memulungnya dari baskom besar. Di piring ini kita akan memotong-motong sagu dengan sumpit menjadi gulungan kecil. Katanya, orang  di kampung langsung ‘menguntal’ potongan sagu ini ke mulut, tanpa menggunakan sendok atau sumpit. Di piring lain, ada ikan kuah asam yang dicolek dengan tangan, ada pula piring berisi sayuran rebus. Hmm..enak lho….

Mengapa saya katakan kapurung atau dui itu makanan rakyat ? makanan ini sangat sederhana, minim bumbu, tanpa minyak (kecuali untuk goreng kacang), dan menggunakan bahan-bahan lokal yang melimpah. Ikan laut banyak didapat di Sulawesi, pohon sagu tumbuh sporadis di jalan-jalan trans sulawesi. Sayur mayur menambah keunggulannya sebagai makanan sehat. Dan yang menambah kekhusyukan makan adalah kapurung dimakan bersama-sama, beramai-ramai, dengan cuap-cuap kepedasan dan tambah lagi, dan tambah lagi.. Rasa kebersamaan muncul saat makan kapurung, hilang sudah gengsi kepedasan dan menambah.

Sejauh ini saya belum menemukan sejarah kapurung. Orang-orang hanya bilang, ‘Tidak tahu, begitu saja di kampung.’ Mungkin perlu studi historis kuliner nusantara ya… haha… namun seperti kata Anthony Bourdain, makanan itu soal budaya. Budaya itu muncul dari hidup sehari-hari, dari apa yang dicandra, dicipta, dirasa, dan dikarsa manusia.. Hidangan kapurung yang sangat lokal ini saya duga muncul sebagai upaya pengolahan sederhana hasil darat dan laut dengan biaya dan cara minimal. Hanya direbus, bumbu dasar garam, terasi, cabe,  dan seperti layaknya hidangan Sulawesi : jeruk nipis..

Konon makanan ini berasal dari daerah Luwuk dan menyebar, sejauh ‘orang selatan’ ada, di situ pula kapurung berada. Migrasi penduduk juga membuat makanan ini familiar. Jika orang Gorontalo biasa makan binte (semacam sup jagung), maka orang selatan (Luwuk, Toraja, Makasar, Mamuju) makan kapurung. Sejauh perjalanan melangkah keluar Sulawesi, toh lidah ini selalu kangen merasakan kapurung yang sederhana dan segar…

Sungguh mensyukuri karunia laut dan darat yang banyak gizinya. Dan kesyukuran ini tidak dilakukan sendiri, namun bersama-sama dalam makanan nan sederhana nan lengkap, karbohidrat, protein, vitamin dan serat. Untuk lebih lengkapnya, mari tengok kandungan gizi elemen pendukung kapurung:

Sayuran, pasti kaya akan serat, bagus untuk pencernaan dan kesehatan tubuh. Bayam, tinggi kalsium dan vitamin A. Daun pakis, kangkung, jantung pisang punya kandungan vitamin A tinggi. Cabe merah, cabe rawit, tomat, dan daun kemangi, kaya akan vitamin A, baik untuk mata. Kacang panjang kaya akan fosfor. Ikan ekor kuning (dan ikan laut lainnya), sumber kalsium dan fosfor. Ikan adalah sumber protein tinggi yang baik untuk tubuh, apalagi proses pematangannya yang direbus tanpa minyak, hm… mengurangi kolesterol.. Terasi (berasal dari udang) mengandung kalsium. Kunyit, mengandung fosfor.. As the conclusion : Kapurung cocok untuk yang ingin diet karena mengandung serat tinggi dan rendah lemak.. 🙂

Semangkok kapurung dinikmati bersama

Melihat kandungan gizinya yang cukup tinggi, saya tercenung membaca artikel tentang ‘Sembilan propinsi yang mengalami masalah dalam kesehatan,’ di mana Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah termasuk di antaranya. Sementara itu, Sulawesi Selatan juga mendapat raport  ‘separuh kurang’ kota/kabupatennya bermasalah dengan kesehatan. Hal ini disampaikan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dalam Festival Forum Kawasan Timur Indonesia VI di Palu Sulawesi Tengah (24 September 2012). Dalam artikel koran Kompas tersebut disebutkan, kategori ini muncul jika separuh lebih dari kota/kabupaten dalam propinsi tersebut memiliki masalah dalam kesehatan. Memang kesehatan cukup luas cakupannya, bukan hanya masalah gizi saja, dan tampaknya hal-hal di luar gizi mempengaruhi bagaimana masyarakat mempersepsi kesehatan.

Namun setidaknya, dari bumi Celebes yang indah ini, masih ada harapan makanan sehat. Meski  sederhana dan merakyat, masyarakat tetap dapat menyantap makanan bergizi yang mudah, murah, dan nikmat. Ayuk, coba ki !

 

 

Alice in Wonderland

Apa yang bisa menyatukan  keberbedaan ? Pertanyaan ini menjadi rumusan masalah saat pertama kali saya menjejakkan kaki di bumi baru, di lokasi bermukim beberapa waktu yang lalu.

Apa yang mampu mempersatukan orang-orang yang berbeda latar belakang suku, agama, jenis kelamin, juga keahlian? Apa yang membuat mereka enjoy hidup bersama dalam keterbatasan dan tekanan ?

Ternyata saya menemukan jawabannya. Alat penyatu keberbedaan adalah niat tulus untuk berbuat sesuatu. Niat tulus yang disertai tindakan untuk mengerjakan sesuatu, bukan karena perintah, bukan karena paksaan, bukan atas intimidasi. Bukan pula agar dekat dengan jabatan, apalagi mencari muka, namun atas kesadaran pentingnya mengerjakan sesuatu yang sama-sama menguntungkan. Ya, adanya simbiosis mutualisme, atau win-win solution memungkinkan semuanya berjalan meskipun ada goncangan dari luar.

Lalu bagaimana memunculkan niat tulus ini ? yang pertama adalah rangsangan. Rangsangan berupa sentuhan, keakraban, kebiasaan, dan kebersamaan. Yang saya maksudkan adalah adanya kemampuan dan kesempatan untuk berbaur dengan sesama tanpa memperhatikan latar belakang pangkat. Berbaur sebagai teman, berbaur atas dasar sesama manusia, berbaur bukan untuk tujuan loby-loby.

Jeda, keseganan, dan keengganan akan muncul saat kita masuk dengan asing, dengan berjarak atasan-bawanan (meskipun itu pangkat suami yang terlekat), karena orang akan mengikuti sesuatu atas dasar kewajiban. Hidup tidak akan tenang. Selalu ada ancaman. Ancaman ini efeknya bisa 2 hal ekstrem, yang pertama orang mengerjakan sesuatu atas dasar ketakutan, yang kedua munculnya penegasian yang besar atas segala hal, dan lainnya mengayun dalam pendulum di antara kutub A dan B.

Saya jadi teringat film Alice in wonderland.

Selalu ada yang berperan sebagai ratu

Selalu ada yang berperan sebagai penasehat

Selalu ada yang berperan sebagai pelayan setia

Selalu ada yang berperan sebagai guardian

Selalu ada yang berperan sebagai penjilat

Selalu ada yang berperan sebagai  pihak yang berbeda pendapat, ada yang mengerjakan perintah, ada yang berjuang dengan tindakan, ada yang menjadi  martir, ada yang menjadi pelindung.

Ada juga mata-mata yang memperbesarkan masalah yang tidak besar, yang menarik keuntungan atas kebutuhannya pribadi.

Ada hukum dan penegak hukum, yang kerap kali menghilang

Nah, apa yang membuat persatuan muncul? Kerja sama muncul ?

Kalau kau tahu hukum fisika, ada F aksi = F reaksi. Semakin besar  F aksi yang negatif muncul, maka F reaksinya akan semakin besar. Dan semakin menyakitkan bentakan yang diterima, maka F reaksi akan semakin kuat, dalam bentuk apapun. Namun untuk membentuk F reaksi, ada komponen penyusunnya (aku jadi ingat  Wintang, Pengajar Muda Bawean yang hobi banget menghubungkan fisika dengan fenomena sehari-hari). Komponen ini dibentuk oleh kerja keras, kerja sama, rasa cinta, kebersamaan, win win solution, dan niat tulus. Apabila satu komponen ini tidak ada, maka F akan rapuh dan tidak kuat. Dan sekali F aksi muncul, maka F reaksi akan muncul pula.

Yuk, kita nonton film Alice in Wonderland dan mengaca dari film tersebut, peran apa yang kita mainkan dan seberapa besar kontribusi kita dalam melakukan perubahan menuju perbaikan ?

Terima kasih untuk semuanya.

Mohon maaf untuk semuanya.

Mencari Kader Posyandu Teladan (I)

Apa itu Posyandu ?

Untuk yang tinggal di kota, mungkin ‘awang-awangen’ ya, ‘Posyandu ? Apaan tuh ?’ nah untuk jelasnya, saya jelaskan dulu tentang Posyandu ya.

Pos pelayanan terpadu, itulah kepanjangan dari posyandu. Posyandu dilaksanakan di tingkat dusun untuk memonitor perkembangan balita dan ibu hamil. Setiap bulan dilakukan penimbangan balita, imunisasi, dan penyuluhan. Dari posyandu rutin ini diketahui perkembangan balita tiap bulannya. Ibu-ibu datang bersama buah hatinya dengan membawa KMS.

Kartu Menuju Sehat/KMS merupakan kartu yang mencatat track record balita dari lahir hingga 5 tahun. Balita ideal memiliki berat badan yang berada di area hijau (lihat gambar KMS). Apabila balita berada di bawah garis merah (BGM), tandanya warning, ada sakit apa? Bagaimana pola makannya? Atau terlalu banyak makan snack kemasan sehingga nafsu makannya berkurang?  Ketidaktahuan orang tua dalam memberikan makanan dan minuman sehat untuk balitanya terkadang membuat anak-anak terbiasa makan snack ber MSG yang banyak di pasar. Demikian pula gula-gula atau minuman kemasan yang menarik hati (baca postingan sebelumnya di blog ini : Kue Tetu dan Panada).

Nah, kalau dua bulan berturut-turut berada di BGM, maka balita tersebut mendapat nutrisi tambahan susu dan biskuit. Harapannya dari bantuan nutrisi tambahan ini akan memacu pertumbuhan anak dan menambah perhatian orang tua atas perkembangan anak.

Tiap Februari dan Agustus, di Posyandu ada pemberian vitamin A. Ada 2 jenis kapsul vitamin A; Kapsul biru diberikan pada balita umur 6-11 bulan dan kapsul merah vitamin A diberikan pada balita umur 1 tahun ke atas. Pemberian imunisasi merupakan kegiatan rutin. Imunisasi BCG dan polio 1 untuk bayi 1 bulan, DPT/HB 1 dan polio 2 di usia 2 bulan, DPT/HB 2 dan polio 3 untuk balita usia 3 bulan, DPT/HB 3 dan polio 4 di usia 4 bulan, dan campak di usia 9 bulan. Terkadang orang tua menolak imunisasi karena anaknya menjadi rewel setelah imunisasi. Padahal imunisasi ini sangat penting untuk mencegah terjadinya penyakit pada anak. Memang, jika kondisi anak sedang sakit maka imunisasi tidak diberikan.

Selain untuk balita, Posyandu juga melayani ibu hamil. Untuk ibu hamil, ada vaksin TT 3 kali yang (seharusnya) diberikan mulai dari sebelum perkawinan. Ibu hamil juga mendapat multivitamin penambah darah dan kalk agar perkembangan janin dan ibu hamil sama-sama sehat.

Tangis bayi terdengar menyeruak saat jarum suntik petugas puskesmas menembus kulit halus sang bayi. Berbeda dengan imunisasi polio yang berbentuk tetes, imunisasi BCG, DPT, dan campak diberikan dalam bentuk suntikan. Saking takutnya pada suntikan, tak jarang balita menangis saat ditimbang di dacin/timbangan gantung ataupun di timbangan duduk. Beberapa menggondeli ibunya karena takut. Kalau sudah begini, kader posyandu melakukan dua kali penimbangan, yang pertama balita dengan ibunya, yang kedua ibunya saja. Selisih massa keduanya adalah massa bayi, namun demikian penimbangan dengan teknik ini kurang detil.

Di posyandu, balita yang datang mendapat nutrisi berupa susu dan makanan dengan menu bervariasi. Bubur kacang hijau, bubur ayam, lontong sup, merupakan contoh menu berat. Untuk menu ringan, ada telur rebus, kue, dan buah. Tak ketinggalan susu. Dana untuk pengadaan nutrisi ini digalang dengan swadaya, oleh karenanya  banyak posyandu yang 3 bulan sekali memberikan nutrisi, itu pun terbatas pada balita yang divaksin. Ke depan mungkin Dinas terkait perlu memperhatikan hal ini agar anak Indonesia semakin sehat dan kuat.

(bersambung di Mencari Kader Posyandu Teladan II)

Mencari Kader Posyandu Teladan (II)

Tiga hari di penghujung 2011 saya diajak terlibat dalam penjurian revitalisasi posyandu. Ada tiga kategori lomba dalam program ini, yakni lomba balita sehat, kader posyandu teladan, dan posyandu teladan. Lomba ini melibatkan 13 posyandu di dua desa, Kecamatan Dapurang, Mamuju Utara, Sulawesi Barat.

Balita Sehat

Penjurian balita sehat yang saya ikuti ini berlangsung selama 3 hari. Hari pertama kami melakukan seleksi administrasi dan bertemu kader posyandu untuk menyampaikan hasil seleksi pada orang tua balita yang lolos. Hari kedua penjurian lomba balita sehat dilangsungkan di kantor desa. Balita dari 6 posyandu di kawasan Dapurang mendatangi lokasi lomba. Macam-macam gaya anak-anak ini menghadapi penjurian.

Balita-balita ini diperiksa kondisi giginya. Apakah gigi telah tumbuh sesuai usianya? Adakah plak, gingivitis, dan karies gigi ? Adakah sisa akar gigi (mahkota gigi tidak ada lagi)? Balita diminta untuk membuka mulut dan menunjukkan gigi geliginya pada juri.

Aa....ini gigiku

Pos selanjutnya adalah pos fisio. Pos ini lumayan rumit. Juri melakukan tes pada balita sesuai usia, mulai dari 6 bulan hingga 5 tahun. Ada kriteria-kriteria tertentu yang digunakan untuk mengetes kondisi balita terkait. Misalnya, balita usia 12 bulan, idealnya balita dapat berdiri sendiri tanpa bantuan, berjalan kaku dengan berpegangan, menumpuk minimal 3 balok, kooperatif memakai baju, dan mengucap 4 kata yang dapat dimengerti. Untuk balita 24 bulan, kriteria penilaiannya adalah mengerti bahasa sederhana/sehari-hari, membuka bungkusan, lancar berjalan dan berlari, duduk di kursi tanpa bantuan, menggambar lingkaran, dan mengerti 2 perintah sekaligus.

Ada yang menangis mendekap erat mamanya, ada yang menjawab setelah pertanyaan diajukan dalam bahasa Bugis, ada pula yang tidak mau beranjak dari meja penjurian karena asyik bermain bola dan balok warna-warna. Salah satu peraga adalah sepeda roda tiga. Anak-anak usia 3,1-4 tahun dites mengendarai sepeda. Ini merupakan alat tes favorit anak-anak. Tak jarang, juri musti meminta anak-anak untuk bergantian naik sepeda.

Satu anak menangis karena menolak turun dari sepeda, satu lagi tidak berani naik sepeda.  Ada pula tes memakai pakaian dan mengancingkan baju untuk balita usia 4,1-5 tahun. Salah seorang balita yang cerdas dan aktif menolak memakai baju karena itu bukan bajunya. Seorang balita berusaha sungguh-sungguh mengaitkan kancing baju. Keringatnya bercucuran. Kader posyandu di lokasi memberi semangat agar sang balita berhasil melalui tes. Dan hasilnya, dia berhasil ! Di pos ini, baik juri, kader posyandu, maupun orang tua anak sama-sama ekstra energi (dan tertawa) untuk membujuk balita merespon pertanyaan dan ajakan juri.

Ayuk cuci tangan pake sabun

ayo pake baju

Naik Rakit Menuju Raka Tanjung

Medan berat kami  lalui di hari ke tiga penjurian. Pagi hari, tim melakukan penjurian di kantor Desa Benggaulu yang melibatkan 4 posyandu. Hujan sejak pagi membuat cuaca murung namun tidak mengurangi antusiasme peserta dan kader posyandu. Tengah hari, penjurian posyandu selesai. Setelah break, tim melakukan penjurian dengan mengunjungi posyandu on the spot karena kondisi medan yang sulit dilalui. Tujuan kami adalah Posyandu Raka Tanjung. Kendaraan roda empat yang kami tumpangi musti berhenti. Kami turun dan menyeberang sungai menggunakan rakit motor/ketinting. Berbekal ember berisi bola plastik, gelang-gelang, dan lego merek lokal, tim ditemani Pak dan Bu Desa Bengaulu menyeberang sungai menyongsong Posyandu di Dusun Pammanua, Desa Benggaulu.

menyeberang sungai

Here we come ! Kami ditemani kader posyandu Mekar Sari (posyandu pusat Desa Bengaulu) yang bersemangat 45 untuk bertemu kader posyandu Raka Tanjung. Menurut penuturan Ibu Rahma, kader senior Mekarsari, jembatan gantung yang menghubungkan dusun Pammanua dan dusun sebelah  sekaligus penghubung dengan dunia luar, hanya berusia 6 bulan. Entah apa yang salah dengan konstruksi jembatan tersebut sehingga jembatan putus. Selanjutnya, penyeberangan dilayani dengan rakit dengan ongkos dua ribu rupiah per orang.

Sampai di Posyandu Raka Tanjung, Dusun Pammanua, Desa Bengaulu, tim rehat sejenak dan sholat.  Tuan rumah menghidangkan kapurung (sayuran sehat yang pernah saya posting resepnya di blog ini) yang segar dan pedas. Posyandu Raka Tanjung menempati rumah panggung. Bu bidan tinggal di sana.

Seorang anak, Sahuria, 2,8 tahun asik masuk ke ruang tes fisio anak dan bermain bola-bola. Kami pun langsung mengajaknya berkomunikasi dan ternyata nyambung. Setelah dites gigi, Sahuria kembali ke ruang fisio tanpa banyak suara. Kini ia membaca majalah Kuark yang saya bawa. Lagaknya seperti anak-anak yang sudah jago membaca. Luar biasa! Sayang sekali data imunisasi yang pernah diterimanya hilang. Kartu menuju sehat (KMS)nya hilang sementara bidan yang memberinya imunisasi telah pindah. Hm.. padahal imunisasi dan bulannya termasuk salah satu komponen penilaian yang vital dalam lomba balita sehat ini.

Ke Anggrek Putih

Perjalanan selanjutnya menuju Posyandu Anggrek Putih, Dusun Kanan Tuo. Medan yang dilalui lebih menantang. Pak Desa dan Bu Desa dengan mobil double cabin yang bannya super besar mengantar kami sampai ke tujuan. Tahap pertama, mobil musti menyeberangi sungai. Karenanya, satu mobil terpaksa ditinggal karena tidak akan mampu digunakan untuk menyeberang sungai. Walhasil, rombongan di mobil tersebut pindah ke ranger double cabin Pak Desa. Saya memilih duduk di belakang, di bak terbuka bersama kader lain dan Pak Dusun. Selain karena goncangannya cukup besar juga ingin menikmati perjalanan di alam terbuka.

Pak desa (Kepala Desa) di belakang kemudi menaklukkan medan. Hamparan kebun coklat dan jeruk tampak indah berderet. Kami bahkan melalui jembatan yang baru diperbaiki dan belum pernah dilewati mobil. Sebagai penumpang, yang bisa kami lakukan adalah doa dan berpegangan erat pada tiang penyangga mobil. Bukit terjal, jembatan kayu yang kurang meyakinkan, dan turunan curam di bukit membuat goncangan makin terasa. Buah rambutan tampak merah bergerombol di halaman  rumah yang berdiri  jarang-jarang. Akhirnya, sampailah kami pada tempat penyeberangan selanjutnya.

Dua mobil ranger diparkir di dekat sungai sementara penumpangnya beranjak berjalan kaki menuju rakit penyeberangan/picara. Tidak seperti rakit sebelumnya, rakit ini tidak didorong oleh motor. Laju rakit ditentukan oleh tali yang tertambat pada katrol yang dipasang pada tali tambang yang dipasang melintang dari satu pohon di ujung timur pada satu pohon di ujung barat. Kalau saja ikatan tali ini lepas, maka nasib penumpang rakit mengikuti arus yang deras.

menyeberang sungai

Seorang kader muda Mekarsari mengatakan, jarak perjalanan dari seberang sungai menuju posyandu adalah sekitar 50 meter saja. Rekan saya yang mengenakan kets pun dengan pedenya berjalan cakar (nyeker), demikian pula Bu Bidan dari Puskesmas. Ternyata lima puluh meter ini berubah menjadi beberapa kilo meter.

Bersama Pak Dusun, kami berjalan menuju posyandu. Ternyata Pos pelayanan terpadu yang kami tuju dibangun di lokasi baru, di antara kebun sayuran pendek. Hamparan kebun jagung tampak indah berderet. Terong ungu ranum yang menawan hati, labu yang duduk manis di tanah menunggu kuning, menyapa kami. Pohon enau sesekali menjulang di antara rumpun sayuran. Pukul 17.15 WITA, kami sampai di lokasi dan memulai penjurian.

Dicari : Kader Posyandu Teladan

Daerah yang jauh dari mana-mana ternyata memiliki balita yang tidak kalah semangat ikut lomba. Bahkan gigi mereka masih bagus. Mungkin tidak banyak jajanan yang dikonsumsi ya. Sementara tim juri lain melakukan penjurian kader teladan dan posyandu teladan, kami memberikan tes pada balita yang sudah menunggu sejak siang tadi. Menjelang malam, kami beranjak dari lokasi untuk kembali pulang, menaiki rakit dan meniti jalan setapak. Kelelahan, kami duduk di bak terbuka double cabin sembari bercerita. Saya pun iseng mengajukan pertanyaan pada kader posyandu Mekarsari,

“Apa suka dukanya jadi kader posyandu?’

“Sukanya punya teman banyak, bisa berbagi pengetahuan, juga bisa bertemu dengan kader posyandu lain. Kalau dukanya, saat kejar timbang (menimbang semua balita untuk mengetahui populasi balita), kami harus pergi dari satu rumah ke rumah lain untuk mendapat data. Sementara, jarak antar rumah lumayan jauh.”

Pola pemukiman di sini menyebar, tidak terpusat pada satu kawasan seperti perumahan atau di kota. Banyak rumah didirikan di antara kebun jagung atau coklat. Mau tak mau, kader posyandu mendatangi rumah per rumah dengan berbekal motor dan timbangan dacin. Pagi berangkat, malam baru pulang.  Kadang, kedatangan kader posyandu disongsong oleh gonggongan anjing. Ada pula orang tua yang belum paham yang membawakan parang. Wah, takut deh.. masyarakat pun mengira bahwa kader ini mendapat gaji, padahal mereka tidak mendapat gaji untuk tugas mulia ini. Hari-hari diisi dengan bertani di ladang. “Toh tugas kader untuk posyandu tidak setiap hari, namun ada tanggal-tanggal tertentu di tiap bulannya, misalnya tiap tanggal 18, 22, atau 24.”

Begitulah, 140 balita dari 2 desa mengikuti lomba balita sehat ini. Kami mencari dan memberi apresiasi balita sehat di masing-masing posyandu untuk menyemangati kegiatan berposyandu, baik bagi kader maupun orang tua. Tiga belas posyandu bersaing untuk mendapat predikat posyandu teladan. Masing-masing 6 dan 7 posyandu mewakilkan 5 kadernya untuk dipilih menjadi kader teladan di tingkat desa.

posyandu on the spot, di bawah rumah panggung

Semoga tumbuh anak-anak Indonesia yang sehat, yang cerdas, dan mampu menjadi pemimpin masa depan. Semoga juga muncul kader-kader posyandu teladan yang membimbing masyarakat untuk menyadari pentingnya memperhatikan perkembangan kesehatan balita. Salam hormat untuk anda semua… (angkat topi). ***

dok : Silmi Nathar, Basri Remba

Konservasi [untuk] Peradaban Air

Aang, the last airbender mendapat bisikan dari Spirit, ‘Tunjukkan kekuatan air, Show the power of water’ untuk melindungi bumi dari ketamakan manusia Kerajaan Api.

Dan menggelegaklah air samudra yang mengelilingi Nothern Water Tribe, membawa aroma kekalahan pada pasukan kerajaan api. Kekuatan air yang dipelajari dan dikendalikan Aang bukan untuk memusnahkan, namun untuk menjaga keharmonisan bumi bersama elemen udara, tanah, dan api. Film ‘Avatar The Last Airbender’ ini menunjukkan betapa kekuatan berbekal ketamakan akan membahayakan semesta. Air, udara, tanah, dan api dikendalikan untuk kemaslahatan peradaban.

Peradaban Air

Apakah manusia mampu membawa keharmonisan kehidupan dengan alam? Apakah manusia dengan segala kedigdayaan dan keterbatasannya mampu membawa maslahat di muka bumi ? Satu pendapat antropologis menyatakan bahwa berburu hewan berfungsi sebagai alat penjaga kestabilan daya dukung sosial karena sumber makanan yang terbatas. Mungkin saja ke depan bukan hanya makanan yang terbatas dan diperebutkan, namun juga air. Perang air untuk berebut sumber air bersih.  Hal ini pernah terjadi di pegunungan Andes. Musim kering yang melanda Andes di Amerika Selatan sekitar tahun 1100 selama seabad lebih memicu perang suku Inca di seluruh dataran tinggi Peru demi memperebutkan air.

Air membuka peradaban besar dan sungai menjadi urat nadinya. Peradaban India, Cina, Mesir, dan Mesopotamia, misalnya bertumbuh dan berkembang di tepi sungai. Mesopotamia, artinya tanah di antara sungai-sungai, yakni antara sungai Eufrat dan Tigris. Bangsa Babilonia dengan Rajanya Nebukadnezer II, yang menguasai Mesopotamia sekitar 605-561 SM, digambarkan memiliki taman gantung yang indah yang masih misteri. Taman ini kemungkinan terletak di samping sungai Eufrat.

Penemuan di Lembah Indus india, tempat Mohenjodaro berada, sekitar 2600-1900 SM menunjukkan bahwa penduduknya ahli ledeng, rumah-rumah memiliki panggung bata untuk mandi bahkan ada kamar mandinya. Air yang digunakan dialirkan melalui talang ke jalanan lalu masuk ke selokan berpinggiran bata. Peradaban Mesir berada di sekitar Sungai Nil dan penduduknya sangat menghormati sungai  tersebut. Sementara itu, menelisik petilasan heritage di Jawa, kita bisa menjumpai kompleks Taman sari (Water castle) yang dibangun Sri Sultan Hamengkubuwono I pada akhir XVII M. Tamansari merupakan kompleks kolam pemandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus dengan sebuah kolam yang besar yang digunakan Raja Mataram.

Hingga kini, orang Hindu India menghargai dan mensucikan air dengan ritual di sungai Gangga. Di Bali, setelah upacara Tawur Agung, umat Hindu berebut air suci atau tirta untuk menyucikan rumah dengan memercikan tirta ke seluruh area rumah sebelum Nyepi. Umat Buddha melakukan penyemayaman air berkah di Candi Mendut Jawa Tengah, untuk mengawali perayaan Tri Suci Waisak 2555. Dalam agama Katolik, air suci  digunakan untuk pembaptisan atau untuk pemberkatan orang, tempat atau benda. Sendang Sono merupakan tempat yang disucikan umat Katolik karena penampakan Bunda Maria.  Kaum muslim melakukan wudhu dengan air yang suci dan mensucikan untuk mensucikan diri sebelum beribadat. Semua agama menghoramati dan menghargai air. Maka melakukan konservasi air sama dengan melakukan konservasi budaya. Melakukan konservasi air sama luhurnya dengan memuliakan agama.

Wanted : Air Bersih

Pentingnya air untuk kehidupan membuat Green map, jaringan  yang memetakan daerah ‘hijau’ di dunia, membuat ikonisasi tanah & air. Dalam kategori ikon ini, green map memetakan pesisir/taman sungai, Fitur Air, Lahan Basah, serta sumber Air Minum. Adapun sumber air minum yang dimaksudkan adalah sumber-sumber air minum, penampungan dan elemen utama dari sistem perairan, termasuk tempat pemurnian air dan informasi konservasi. Saat proses survey pemetaan misalnya, relawan menemukan tempat-tempat yang menjadi sumber air. Peta Hijau Jakarta bahkan secara khusus memetakan Situ-Situ, sebelum terjadinya tragedi Situgintung yang memakan korban. Ikon ini muncul sebagai hasil pemetaan green map untuk mengetahui potensi dan kerusakan lingkungan (Hasil pemetaan yang dilakukan green map berupa cetak atau online dapat dilihat di www.greenmap.or.id.)

Tujuh puluh persen luasnya permukaan bumi yang berupa lautan (air) apakah cukup menampung dan menyediakan sumber air bagi manusia yang hidup di daratan ? Ternyata tidak semudah itu untuk mendapatkan air bersih. Kondisi air bersih di perkotaan, daerah gambut, kapur atau daerah pinggir pantai menunjukkan betapa air bersih mahal harganya. Daerah yang berlimpah air (tidak bersih) atau daerah yang susah air, sama-sama membutuhkan pasokan air bersih.

Di daerah Karangnongko Klaten Jawa Tengah yang rimbun oleh pepohonan namun sulit air, tiap rumah tangga butuh membeli air untuk konsumsi penduduk dan ternak. Di daerah Rongkop Gunung Kidul DIY yang panas, tiap keluarga membangun penampungan air hujan (PAH) yang dialirkan ke bak kamar mandi. Untuk minum, air perlu diendapkan semalam pada tempayan atau tong atau ember untuk mendapatkan tampilan air yang jernih. Tak kurang, tangki-tangki air diundang saat telaga mengering dan air tak lagi didapat. Di Mamuju Utara, Sulawesi Barat, pasokan air untuk konsumsi didapatkan dengan membeli air galon. Merk lokal seharga Rp 6.000,- sementara merk nasional sehaga Rp 32.000,-  Dalam seminggu bisa 1-2 galon habis untuk minum dan memasak. Bayangkan berapa rupiah yang dikeluarkan untuk kebutuhan air.

Mengolah air yang melimpah di lautan dan sungai-sungai di Indonesia bukan pekerjaan yang mudah. Kita membutuhkan teknologi untuk mengolah air menjadi air yang bersih. Guru SD kita telah menjelaskan betapa  air termasuk kategori sumber daya alam yang terbaharui, air cepat habis dan bisa terus diproduksi. Namun bagaimana kiranya, apabila sang sumber sudah kehabisan airnya karena tersedot kebutuhan manusia sementara sumber-sumber air baru telah sulit ditemukan.  Bagaimana bila manusia gagal menjaga siklus air dan justru memutus mata rantai siklus air ?

Krisis air bersih seperti di film Rango, menjadi cerminan betapa air sangat kritis. Film kartun ini mengangkat keterlibatan aparat/ pemilik kuasa sekaligus pemilik modal yang merugikan masyarakat tempatan. Air menjadi langka karena disedot untuk membangun kota masa depan dengan investasi dan keuntungan yang besar sementara masyarakat sekitar hampir mati kehausan. Karenanya menjadi pertanyaan apakah privatisasi air mampu membawa maslahat untuk masyarakat sekitar ? Sejujurnya, agak sulit menengarai masalah ini karena mendefinisikan keuntungan, kerugian, dan masyarakat adalah berbeda satu dengan lainnya, dari sudut pandang bisnis, pemberdayaan masyarakat, ataupun pemerintah. Meneropong berbagai sudut pandang untuk menyelesaikan masalah ini pun tidak selesai sekali dua kali. Hampir sama dalam menengarai kegiatan eksplorasi dan pariwisata, pihak-pihak di sekitar site sumber daya mendapat keuntungan dengan bekerja, namun apakah tetesan tricle down tersebut sepadan dengan biaya masa depan anak-cucu ?

Konservasi Air

Konservasi air adalah jawaban untuk kelangkaan air bersih. Putusnya mata rantai siklus air akan membuat air menjadi barang langka yang berlanjut pada perang air, seperti yang telah terjadi pada bangsa Inca. Untuk itulah, konservasi air merupakan kebutuhan bagi keberlanjutan makhluk hidup.  Konservasi, dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam (hayati) dengan pemanfaatannya secara bijaksana dan menjamin kesinambungan persediaan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keragamannya. Menjaga tetap berjalannya siklus air merupakan tindakan yang harus kita lakukan. Terganggunya siklus air akibat ulah manusia akan membuat kita kehilangan sumber air bersih.

– Siklus Air

Memulai kesadaran akan pentingnya konservasi air diawali dari keluarga, berlanjut ke sekolah, komunitas, atau kelompok yang lebih luas. Pengetahuan tentang siklus air ini dapat diajarkan orang tua, pendidik, atau guru di sekolah agar anak memiliki pandangan dan pengetahuan tentang perjalanan air menjadi air bersih kembali.

Siklus Air

zoom in ekosistem

Dari siklus air ini, tampak beberapa ekosistem yang terkait dengan keberlanjutan siklus air. Saat satu mata rantai diputuskan, maka akan mengganggu ekosistem lainnya. Untuk aktivitas edukasi, anak-anak bisa diajak untuk membuat projek siklus air dan ekosistem yang terkait dengannya. Projek ini bisa dilakukan di sekolah atau tempat belajar tak terikat, misalnya sanggar atau Taman Pendidikan Al Quran, atau sekolah minggu. Sekali kita menangkap maksud dari edukasi ini, maka media dan metode apapun dapat dilakukan.

– Biopori

Langkah konkret yang bisa dilakukan di level keluarga adalah dengan membuat resapan air yang banyak di halaman rumah. Langkah ini disebut dengan biopori. Tanah dibor sehingga menghasilkan lubang berdiameter 20-30 cm dengan kedalaman 1 meter, yang berfungsi sebagai resapan air sekaligus bisa diisi sampah organik. Lubang biopori ini bisa dibuat dalam jumlah banyak di halaman rumah kita. Semakin banyak lubang, maka tempat resapan air makin banyak. Lubang-lubang ini berfungsi sebagai tempat sampah sisa makanan basah sekaligus menampung dan menyerap air hujan. Salah satu SD swasta di Jakarta bahkan membuat biopori di halaman sekolah. Upaya sederhana ini bermanfaat untuk menanamkan gaya hidup bersih dan sehat.

biopori di sekolah

lubang biopori

– Mencintai Alam dengan Menanam

Hal lain yang mudah dilakukan adalah memanfaatkan halaman rumah untuk ditanami pohon dan tanaman. Pohon buah-buahan, macam mangga, rambutan, atau nangka sangat bermanfaat sebagai perindang, penahan air, juga buahnya yang disukai siapa saja. Penting pula dimiliki pohon sirsak, delima, kepel, atau pohon kelapa yang berguna untuk kesehatan. Melestarikan pohon juga sekaligus melakukan konservasi budaya, misalnya pada pohon yang memiliki makna/perlambang khusus, seperti beringin, gayam, atau sawo kecik. Tidak ada salahnya menanami halaman dengan pepohonan yang bermanfaat karena baik untuk konservasi lingkungan. Tak kalah penting untuk ditanam adalah membuat apotek hidup yang berisi tanaman obat, macam rimpang temu (temulawak, kunyit, jahe, dll), kumis kucing, mahkota dewa, daun sirih, dan lainnya.

Dari halaman rumah sendiri, konservasi berada, dipertahankan, dijaga, atau musnah. Mengapa? Karena pola hidup kitalah yang membuat konservasi hilang atau tumbuh subur.  Apabila halaman rumah kita tidak cukup untuk menanam, kita bisa upayakan bersama dalam apotek hidup komunitas yang dirawat, dijaga, dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan komunitas. Untuk mempercantik rumah dalam lahan terbatas pun, kita bisa melakukan cara tanam vertikultur. Vertikultur atau menanam dengan pola vertikal menjadi jalan tengah untuk menghasilkan hiasan dan supply sayuran sehat keluarga.

Anak-anak sejak dini diajak untuk mendekat dengan alam melalui aktivitas menanam sayuran, melatih dan membiasakan menyiram tanaman, ataupun menghitung jumlah daun yang ada di satu pohon. Alam member banyak sumber pendidikan. Tinggal kita manusia yang menggunakannya untuk edukasi sejak dini.

ayo bertanam untuk dekat dengan alam

berapa jumlah daun yang tumbuh ?

Gaya Kaya dan Miskin Air

Tahu, kenal, dekat, dan cinta merupakan tahap untuk bergaul dengan alam. Penggunaan air, pada akhirnya menjadi kunci bagaimana gaya hidup manusia mempengaruhi keberlanjutan ekosistem. Di tempat yang airnya melimpah, manusia terbiasa menggunakan air sesukanya. Keran air wastafel tetap menyala meski kita sedang menyikat gigi. Bak mandi dibiarkan melubar meski sudah penuh. Sementara itum orang yang tinggal di lokasi sulit air akan sangat menghargai air. Padasan, dengan lubang air kecil untuk berwudhu membuat aktivitas berwudhu menjadi sederhana dan ringkas. Gunakan seefektif dan efisien mungkin. Mencuci gelas dan piring dilakukan dengan cermat dan sederhana dalam baskom-baskom kecil dengan cara bergantian. Belum tahu mengenai perpindahan virus atau bakteri yang memungkinkan terjadi karena dalam pencucian ini air tidak mengalir. Ini seperti cara kerja penjual bakso keliling yang membawa ember kecil untuk mencuci mangkok dan sendok.

Jadi, ini kesempatan yang tepat untuk mengatur diri dan menghargai alam semesta. Air adalah urat nadi kehidupan. Gaya kita dalam mempersepsi dan menggunakan air akan menentukan apakah air  akan mengaliri kehidupan atau berhenti karena terengah mengikuti pola hidup manusia. Kini saatnya menghargai air, saatnya mengubah gaya hidup menjadi lebih dekat dengan alam.***

Pustaka

National Geographic Indonesia, April 2011

Selidik National Geographic, Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau India Kuno

Selidik National Geographic, Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau Irak Kuno

Selidik National Geographic, Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau Mesir Kuno

www.greenmap.or.id

www.biopori.com

foto : dok pribadi