Jejak 3G dan Etnografi (part 5)

Masih ingat misi 3G = Gold, Glory, Gospel, Belanda ? Pelajaran SMP ini. Nah 3G ini ada kaitannya dengan bahasan kita. Gold = emas, misinya untuk menemukan kekayaan rempah-rempah, perkebunan teh, kopi, dll. Glory = kejayaan, misinya untuk mendapatkan daerah jajahan. Gospel = gereja, misinya untuk menyebarkan agama kristiani.

Stigma Asia (timur jauh) yang eksotis, kaya hasil bumi, dan lokasi yang menantang, membuat bangsa Eropa berebut kuasa mencari jalur dan mengeksplorasi nusantara. Gold dan glory sudah terbukti lewat penjajahan dan perdagangan rempah-rempah, 350 tahun. Kalau Gospel ? Nah ini yang menarik.

Tahukah anda, catatan tentang Poso dimulai oleh Albertus Christiaan Kruyt dan Nicolaus Adriani, 1896. Kruyt adalah misionaris Zending yang mempelajari masyarakat dengan metode etnografi. Adriani, utusan dari Nederlands Bijbelgenootschap atau Lembaga Alkitab Belanda, adalah ahli bahasa yang mempelajari bahasa lokal Toraja-Poso.

Kolaborasi Kruyt dan Adriani menghasilkan buku ‘De Bare’e sprekende Toradja van Midden Celebes” (The Bare’e Speaking Toraja from Central Sulawesi), 3 jilid. Waw banget ya! Pilihan untuk menginjil di dataran tinggi penganut animisme dinamisme ini menurut Adriani beralasan untuk menghindari konflik dengan Kerajaan islam Luwu, Sigi dan Tojo yang saat itu ‘mengusai’ Poso.

Adapula Antonie Aris Van de Loosdrecht, misionaris Zending yang membuka sekolah pertama di Toraja, 1913. (Nggak kebetulan banyak orang Toraja yang bernama Aris 😀). Nah bersama Adriani, Van de Loosdrecht membuat buku “Late Soera’ Dinii Melada’ Mbasa Soera’”, sebuah buku bacaan sekolah berbahasa Toraja. Keren ya.

Selain itu ada HC Raven, etnograf Amerika yang melakukan ekspedisi Sulawesi melacak megalitik Behoa, Bada dan Napu pada 1917. Dia memotret artefak megalitik dan menuliskannya dalam buku “The Stone Images and Vats of Central Celebes”. Raven mencatat bahwa temuan kalamba di Pokekea ini mirip “plaine des Jarres/plain of jars” di lembah Tran Ninh, Laos, Indo-China. Dia juga mencatat bahwa ciri fisik dan kebiasaan orang Laos mirip dengan Toraja dan Dayak. (Ingat kan, Toraja dan Dayak adalah penerus Proto Melayu/Melayu Tua). So it is connected…nyambung ! 👏

images (2)

Plain of jars, Laos. Sumber : Nomadasaurus.com

 

Adalagi Walter Kaudern, etnograf Swedia yang menulis penelitiannya berjudul “Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes, 1917-1920 – Megalithic Finds in Central Celebes,” vol 5. Buku yang terbit 1938 ini memuat 15 peta dan 77 sketsa megalitik Napu dan memadukan penelitian Kruyt dan Raven sebelumnya. Komplet.

Lalu ada James Woodward 1918 yang diutus Bala Keselamatan/BK(Salvation Army). Fyi BK saat ini memiliki rumah sakit yang cukup besar di Palu, namanya RS Woodward (BK).

So, dari para penyebar misi 3G sekaligus penelitian etnografi di awal 1900, kristiani menyebar di Sulawesi. Mereka turut berperan meletakkan dasar pendidikan dan tatanan sosial masyarakat hingga kini. Dan dari budaya meneliti dan menulis yang mereka lakukan, kita jadi tahu catatan mula sejarah kita, termasuk peninggalan megalitik lembah Napu.

2017-03-31 07.35.57

Kiri : sketsa Kaudern tentang aneka rupa kalamba 1918. Kanan : kalamba 2017

Tiba-tiba saya melihat benang merah sejarah kita. Ya, ternyata budaya meneliti, eksplorasi, budaya menulis itu sudah diawali oleh etnograf bule di nusantara lewat penetrasi misi 3G jauh di masa kita masih berperang suku dan perang melawan Belanda. Terjawablah penasaran saya mengapa beberapa kali ketemu bule backpacker di tanjakan Tentena, 3 tahun yll. Mereka sudah melakukannya sejak tahun 1900. Jadi kita (saya) ngapain aja… foto-foto doang ? Ah, kenapa saya tidak banyak belajar arkeologi sih.. 😓

2017-03-31 07.32.15

Atas dan kiri bawah : catatan Kaudern di Pokekea 1918. Kanan bawah : Pokekea kini plus pelancong 2017.

The adventure is the journey itself

Matahari makin ke barat. Tanda kami harus pulang. Belum puas memang untuk menelusuri lembah megalitik ini, tapi medan menantang tak lucu jika dilalui saat hari gelap. Jadi malu sama Adriani, Kruyt, Raven, dan Kaudern. Mereka menjelajah dari Eropa dan Amerika naik kapal melintasi Atlantik dan samudra Hindia, dengan apapun misi kedatangannya, lalu mencatat tata kehidupan di Sulawesi Tengah termasuk penemuan megalitik, dan jadi referensi hingga kini, sementara saya cuma mampir semenit. Ngakunya touring pula.. uh..

Bayangpun kondisi sulawesi seabad lalu saat para etnograf itu masuk ke Poso dan Toraja. Sampai kini pun masih banyak hutan rimba. Kepercayaan Animisme dan dinamisme kuat, dan ada ancaman perang suku. Suvival dan in the middle of nowhere deh mereka. Lalu bagaimana 3000 tahun yll, saat para Austronesia yang perkasa menaklukkan Suĺawesi dan membuat karya megalitiknya sebelum melanjutkan migrasi. Waw. It  happen right here, in front of us…

Saya menoleh pada Putra, anak blasteran Napu-Jawa Timur yang lincah berlarian di antara kalamba. Di generasinya mendatang, apakah dia mengetahui sejarah leluhurnya ? Akankah dia dan generasinya nanti tetap mencintai peninggalan bersejarah di tanah kelahirannya ?

Saya berharap semoga sedikit catatan tentang Lore ini membuat kita menghargai sejarah negri ini ya. Semoga juga muncul arkeolog dan etnografer Lore, para pecinta dan ‘pelestari’ kebudayaan…amiin..

Ya, keasyikan perjalanan itu bukan hanya pada apa yang kita temui di tempat tujuan, tapi pada perjalanan dan pada misteri yang ada di baliknya. “The adventure is the journey itself.”

IMG-20170310-WA0028

Next adventure ?

(Bersambung)

Referensi :
– Kaudern, Walter. 1938. Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes 1917–20,
vol. 5: Megalithic finds in Central Celebes. Göteborg: Elanders Boktryckeri Aktiebolag.
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbgorontalo/
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tradisi_megalitik
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Eksplorasi_Sulawesi_Tengah
– ahmadsamantho.wordpress.com/2013/01/04/budaya-megalitikum-di-indonesia
http://dhoni-ds.blogspot.co.id/2011/12/hasil-kebudayaan-megalitikum-dan-budaya.
http://lokaltuban.blogspot.co.id/p/pengertian-megalitikum-dan-persebaran
http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/03/asal-usul-nenek-moyang-bangsa-indonesia.
http://catatanposo.blogspot.co.id/2007/12/seratus-arca-megalith-poso-dicuri
http://rizkyattyullah.blogdetik.com/2013/12/07/situs-megalitikum-terluas-
– kompas Maret 2016. Situs megalitik lembah lore rentan pencurian

* Sketsa gambar dan foto-foto lama diambil dari  Walter Kaudern, Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes, 1917-1920 – Megalithic Finds in Central Celebes,” vol 5.

Artefak Tanpa Suara ( part 3)

Kami melanjutkan perjalanan. Jalan menuju cagar budaya yang kami tuju  melalui rumah penduduk, sawah, dan kebun. Tampak ayam-ayam berjalan santai di sawah. Seekor babi hutan hitam yang gemuk dirantai dan tengah menikmati makan sorenya, daun-daun nan lezat. 😋 Setelah parkir kendaraan, kami berjalan kaki sekitar 500 meter. Dan akhirnya tampak papan nama besar, Cagar budaya Pokekea. Kami melonjak girang.

Tiada pagar besi,  namun cagar budaya ini dipagari perbukitan anggun dan prairie. Tak ada tiket masuk. Sore itu pun kami tidak bertemu petugas/penjaga. Mungkin ini juga yang menyebabkan artefak di sini rentan pencurian. Siapa pun bisa bebas keluar masuk situs.

Lihatlah… batu-batu berbentuk tempayan raksasa atau disebut kalamba, berserak di tanah. Awesome! Gedhe banget. Kalamba-kalamba ini berdiri lepas dikelilingi prairie dan perbukitan. Cantik sekali….

IMG-20170310-WA0022

Hamparan kalamba di Pokekea

Penutup kalamba tergeletak di tanah, beberapa terbenam miring. Kalamba sendiri berdinding polos. Sementara tutupnya (tuatena) dihiasi ukiran menonjol, ada yang tampaknya berbentuk hewan, ada juga yang menyerupai bayi merangkak dengan posisi bervariasi.

2017-03-22 17.00.53

Relief di tutup kalamba

Kami mendekati kalamba yang masih utuh. Tempat ini menampung air hujan. Di bibir kalamba, ada ceruk seperti tempat sabun (atau tempat persembahan). Oiya, kalamba artinya perahu arwah, so kemungkinan artefak ini berhubungan dengan kematian, bukan tempat air ya. 😰

Beberapa kalamba terbelah. Lumut-lumut tinggal di dindingnya. Konon lumut ini harus dibersihkan dengan cairan khusus dan disikat pelan karena lumut yang dibiarkan akan merusak relief. Special treatment pokoknya.

2017-03-22 08.18.12

Mungkin dia lelah diterpa cuaca

Tak jauh dari Kalamba ada 2 patung batu duduk berdampingan. Cekungan tipis membentuk alis menyatu lurus ke bawah membentuk hidung di wajahnya. Dua noktah terbingkai alis dan hidung membentuk dua mata. Patung yang lebih besar, ditandai dengan garis tipis mulut di bawah hidung. Sang patung berasal dari batu yang lempeng kotak. Tangannya nyaris tak tampak. Di belakangnya ada patung serupa yang menyendiri namun batunya lebih hitam.

Tak jauh dari 3 patung ini ada kalamba yang menyerupai pot dengan ukiran wajah seirama rupa sepasang patung tadi. Somehow ukiran wajah ini mengingatkan saya pada rupa owl burung hantu.

2017-03-22 08.03.53

Patung-patung di Pokekea

Saya berharap menjumpai tengaran/papan petunjuk informasi atau selebaran, atau   pusat informasi sejarah yang menjelaskan tentang situs megalitik di sini, di Napu ini sehingga kami bisa memahami benda-benda apakah di hadapan kami ini. Sayang sekali belum ada. 😟 Mustinya memang saya browsing dulu supaya ada referensi sebelum ke sini. Akhirnya kami sibuk mengelilingi Pokekea dan takjub dengan apa yang ada di depan mata.

IMG-20170310-WA0038

The team

Hmm… Siapakah pemilik kisah historis megalitik ini? ……
(bersambung)

Pic : dokumen pribadi, menggunakan smartphone alakadarnya by Hani, Aris, Ophiq, Nel, and Ikwan

 

KBBI – Kamus Besar Bahasa Indonesia
ar·te·fak : 1 benda-benda, spt alat, perhiasan yg menunjukkan kecakapan kerja manusia (terutama pd zaman dahulu) yg ditemukan melalui penggalian arkeologi;
2 benda (barang-barang) hasil kecerdasan manusia, spt perkakas, senjata

ca·gar: daerah perlindungan untuk melestarikan tumbuh-tumbuhan, binatang, dsb; lindungan;
—  budaya : daerah yg kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya dilindungi oleh undang-undang dr bahaya kepunahan

re·li·ef : 1 pahatan yg menampilkan perbedaan bentuk dan gambar dr permukaan rata di sekitarnya; 2 gambar timbul (pd candi dsb)

Freezer raksasa dan misteri Tadulako (Part 2)

Hijaunya bukit, kuningnya prairie, silih berganti mengisi pupil mata.  Bibir pun mendesah, Subhanallah. Celebes ini begitu indah. Apa saja bentang alam ada, dari bukit sampai pantai, banyak dan cantik-cantik. Pokoknya, ayo ke Sulawesi Tengah ! Pemandangan ini mengingatkan pada gunung-gunung Taripa Tomata yang dilalui jalur Parigi Moutong- Poso – Tentena. Atau mungkin sebenarnya ini berangkaian ya? Haha..baru sadar saya, kan termasuk kabupaten Poso juga. 😅

Lembah Napu tampaknya sejak lama menjadi lahan gembala misionaris. Di kanan kiri mudah kami jumpai gereja. Penduduknya pun rajin ibadah. Pusat daerah ditandai dengan hadirnya kantor dan  fasilitas umum di tepi jalan. Kalau di Jawa, yang begini tidak tampak karena terlanjur padat. Cobalah ke sini, dan anda akan jumpai kantor desa, tempat ibadah, sekolah, lapangan olahraga, puskesmas, dan pasar berjejeran di pinggir jalan.

Akhirnya kami mendekati pemukiman. Deretan pagar bambu bercat merah putih  tampak berjajar rapi di pinggir jalan. Bunga bawang warna putih tumbuh di depan pagar, menambah kesan keteraturan. Jam 12 kami sampai di rumah keluarga local guide kami  di Lore Tengah.

Gemah Ripah Loh Jinawi
Kesan pertama, Waw…. ini daerah pertanian yang subur ! Ada pohon kakao berjejer,  sawah menghijau, sayur mayur, kunyit, pandan, labu, lombok, dkk. Di seberang rumah bahkan ada pohon kemiri berdiri besar. Di kampung ini tanaman pangan dan sayuran  tidak diberi pupuk kimia. Sehat ya !

Yang perlu diimpor adalah bawang putih. Itu pun karena kurang berhasil di tanam. Tete’ (kakek/nenek) juga pelihara unggas di belakang rumah. Ini adalah wujud ketahanan pangan dan pertanian subsisten. Rumah tangga dan desa mampu mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Satu yang tidak dipelihara namun ikut nimbrung : nyamuk. Ya, nyamuknya dahsyat. Pasang kelambu di sini. Gimana para teroris di hutan itu ya? Lho kok malah nanya…😅

Anjing menjadi penjaga kebun. Jika ada orang tak dikenal, si anjing akan menyalak. Ini penting sekali karena di belakang sana adalah bukit tempat Santoso cs bersembunyi. Kalau ada pakaian yang hilang dari jemuran, atau ayam yang hilang, ya kira-kiralah. Para gerilyawan di hutan itu juga butuh makan. Saat gencar operasi Tinombala, aparat banyak berjaga di sekitar sini.

Brrr…langsung terasa dinginnya air saat kami membasuh muka. Air yang segar, dingin, dan melimpah. Kami langsung tebak-tebakan, siapa yang berani mandi dengan udara sedingin ini nanti sore 😁. Di balik bukit sana adalah hulu sungai Lariang, sungai yang mengalir melalui Pasangkayu Sulawesi Barat (5 jam dari sini). Sungai Lariang di Pasangkayu terkenal karena dalam, lebar dan panjang serta ada buayanya.wedew.. Ternyata hulunya ada di sini. Hulu Lariang juga manjadi tempat hidup sogili, belut jumbo khas Poso. Ternyata sungai ini jadi habitat aneka makhluk hidup. Konservasi di hulunya penting sekali untuk menjaga kelestariannya.

Authentic Recipe
Segera saja, segelas kopi dan camilan kacang sangrai menghangatkan siang kami. Menurut tuan rumah, kopi ini disangrai dan ditumbuk sendiri. Sruputt. Saya bukan penikmat kopi, tapi bisa menghargai segarnya kopi di sini. Kehangatan menyebar ke tubuh sementara di luar, titik-titik air masih menetes dari langit.

Tete’ memanggil kami untuk makan siang. Menunya woku ikan mas. Ikannya sebesar lengan orang dewasa, katanya itu ukuran  lazim ikan mas di sini. Cukup tinggalkan kail di sungai Lariang dan tengok esok hari. Tidak ada yang akan ambil pancing yang ditaruh jika bukan miliknya. Sebuah kejujuran dan kearifan lokal, bukan ? Kalau beruntung, Tete’ akan membawa pulang ikan mas jumbo. Umpannya adalah ulat aren, cacing, atau usus ayam. Terbayang ikan mas piyik-piyik yang terjejer kuyu di pasar SP 1. Ini pasti beda !

Wah… kelembutan daging ikan mas berpadu dengan kesegaran kuah ikan yang tidak amis dan tidak asam sama sekali. 😋 Kali ini suami tidak berani makan kepala ikan, saking besarnya si kepala ikan mas. Tete’ juga menghidangkan sogili, si belut besar yang disambal. Sogili ini juga kaya protein.  Pantas orang-orang sehat dan kuat ya..

Woku artinya (ikan) dimasak kuah dengan aneka daun rempah. Authentic dish of celebes. Ada jahe, kunyit, daun jeruk, sereh, daun pandan, kemiri, selain bawang merah dan putih. Untuk menambah rasa, ada lombok dan kemangi juga. Kalau versi gorontalo ditambah daun mint, kata tetangga gorontalo saya. Bumbu-bumbu ini jadi semacam bumbu wajib bagi masakan di sini.

Sepertinya, rahasia memasak woku adalah kesegaran ikan dan tentu saja ‘tangan dingin’ sang koki. Ikan yang masuk freezer tak bisa selezat ini jika diwoku. Toh tidak butuh freezer ya,  karena air dan udaranya menyerupai freezer raksasa. Selain itu juga penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar menambah kelezatan masakan. Terima kasih hidangannya Tete.’ 😋

2017-03-16 14.03.24

Gemah ripah loh jinawi. Lemon lokal dan kemiri berkulit yang baru sekali saya lihat

Namanya aja touring
Lepas dhuhur dan makan siang, kami lanjutkan misi : menuju lembah megalitik. Mr. Ophiq sempat membantu tuan rumah menyembelih entog, calon menu selanjutnya! 😀

Oke let’s go! Cuaca mulai cerah. Jalanan berubah menjadi rusak, berkubang, dan becek sehabis hujan. Saya kebat kebit karena kiri jalan adalah jurang yang tertutup pepohonan, dan di kanan, jalan rusak atau berkubang. Adrenalin meningkat ! Untung Mr Ikwan di sebelah cukup tangkas mengemudi. Bermotor, suami dan partner touringnya sempat tersendat di jalan rusak. Untunglah tidak perlu ditarik pakai tali.

Terkadang jalan mengecil dan tak tampak kendaraan dari arah berlawanan. Sempit sekali. Lampu dan klakson jangan dilupa. Sekali dua kami berpapasan dengan mobil. Itu pun diisi bule. Hm..apa yang dilakukan bule itu di ujung dunia ini? Mungkinkah mereka peneliti, arkeolog, kolektor, misionaris, atau turis? Ah, kok pikirannya begini.

Sepupu Nel berkata kalau akan menyiapkan Porseni di desa sebelah. Lapangan tempat olah raga di desa Bariri itu baru saja kami lalui. Apa? anak sekolah, naik mobil terbuka, jalanan rusak, licin, becek hujan?.. waw…all risk.. tapi  mungkin saja warga lokal sudah terbiasa sehingga jalan rusak bukan lagi hambatan.

Misteri Megalitik Tadulako
4×4 wd memang tangguh melewati medan ini. Akhirnya kami sampai di mulut jalan situs. Agak kurang meyakinkan jalannya. Setelah memarkir kendaraan, kami berjalan kaki ke lokasi, melewati sawah dan ilalang. Cagar budaya Tadulako. Kami bersemangat, penasaran karena tadulako menjadi nama universitas negri di Palu. Di depan, rumah adat Lore menyambut kami. Singup. Sepi. Rumah panggung dari kayu ini atapnya runcing  segitiga yang diisi semacam daun kering di bawah atap dan ijuk sebagai atapnya.

2017-03-15 14.34.26

Kami berjalan lagi, agak naik, lumayan setengah km saja. Tada…… clingak clinguk. Kosong. Gone!  Disappear! Tadulako tidak ada !  Ziing… Pengunjung bingung…
Konon dulu di sini ada patung batu Tadulako, salah satu legenda menyebutkan kalau beliau adalah panglima perang yang dikutuk jadi batu. Mustinya ada 2 arca, kalamba, meja altar dan peninggalan megalitik lain di sana. Tapi kini yang tersisa hanya batu yang tampaknya berfungsi sebagai alas artefak. Oh….Ke manakah benda bersejarah itu, kami bertanya-tanya. Tanya pada siapa ?

Ternyata sejarah kelam mencatat pencurian arca-arca megalitik di Napu. Berdasar penelitian, ada 404 peninggalan megalitik namun jumlahnya bisa dipastikan berkurang. Mereka diselundupkan ke luar negeri lewat Bali. Beberapa yang tertangkap dikembalikan dan diletakkan ke Museum Palu.

Entah ada berapa yang tak tertangkap dan mungkin berada di ruang kolektor barang antik. Sebagai contoh saja, sang Tadulako, arca megalitik setinggi 2 meter dengan lebar 75cm ini tidak di tempatnya. Sementara arca satunya yang berposisi rebah, berdiameter 125cm. Terbayang beratnya kan. Bagaimana caranya ? Kami terus berdiskusi. Benak saya mengingat bahasan NatGeo tentang mata rantai penyelundupan gading afrika. Pilu. Kalau sudah begini, pasti ada banyak pihak terlibat, dari dalam, penadah, penjual, mungkin rumah lelang, kolektor, atau museum luar negeri, atau mungkin juga oknum aparat?

Nel cerita kalau dulu jaman dia kecil, orang sering temukan piring-piring batu di sekitar situs. Karena tidak tahu, ya diberikan saja sama bule-bule yang datang.😰 Wah, andai kita tahu, itu sumber untuk mencari tahu sejarah leluhur kita.

Kabarnya hilangnya megalitik Napu ini makin meningkat saat terjadi kerusuhan Poso..hmm…suspicious. Jangan-jangan kerusuhan yang mengerikan itu turut dikompori pencurian arca megalitik ?😕 wah ini analisis baru, selain masalah ekonomi, politis, dan agama. Selain itu, lembah ini menjadi arena perburuan teroris. Banyaknya orang datang ternyata juga membawa ancaman…..

(bersambung)

Konservasi [untuk] Peradaban Air

Aang, the last airbender mendapat bisikan dari Spirit, ‘Tunjukkan kekuatan air, Show the power of water’ untuk melindungi bumi dari ketamakan manusia Kerajaan Api.

Dan menggelegaklah air samudra yang mengelilingi Nothern Water Tribe, membawa aroma kekalahan pada pasukan kerajaan api. Kekuatan air yang dipelajari dan dikendalikan Aang bukan untuk memusnahkan, namun untuk menjaga keharmonisan bumi bersama elemen udara, tanah, dan api. Film ‘Avatar The Last Airbender’ ini menunjukkan betapa kekuatan berbekal ketamakan akan membahayakan semesta. Air, udara, tanah, dan api dikendalikan untuk kemaslahatan peradaban.

Peradaban Air

Apakah manusia mampu membawa keharmonisan kehidupan dengan alam? Apakah manusia dengan segala kedigdayaan dan keterbatasannya mampu membawa maslahat di muka bumi ? Satu pendapat antropologis menyatakan bahwa berburu hewan berfungsi sebagai alat penjaga kestabilan daya dukung sosial karena sumber makanan yang terbatas. Mungkin saja ke depan bukan hanya makanan yang terbatas dan diperebutkan, namun juga air. Perang air untuk berebut sumber air bersih.  Hal ini pernah terjadi di pegunungan Andes. Musim kering yang melanda Andes di Amerika Selatan sekitar tahun 1100 selama seabad lebih memicu perang suku Inca di seluruh dataran tinggi Peru demi memperebutkan air.

Air membuka peradaban besar dan sungai menjadi urat nadinya. Peradaban India, Cina, Mesir, dan Mesopotamia, misalnya bertumbuh dan berkembang di tepi sungai. Mesopotamia, artinya tanah di antara sungai-sungai, yakni antara sungai Eufrat dan Tigris. Bangsa Babilonia dengan Rajanya Nebukadnezer II, yang menguasai Mesopotamia sekitar 605-561 SM, digambarkan memiliki taman gantung yang indah yang masih misteri. Taman ini kemungkinan terletak di samping sungai Eufrat.

Penemuan di Lembah Indus india, tempat Mohenjodaro berada, sekitar 2600-1900 SM menunjukkan bahwa penduduknya ahli ledeng, rumah-rumah memiliki panggung bata untuk mandi bahkan ada kamar mandinya. Air yang digunakan dialirkan melalui talang ke jalanan lalu masuk ke selokan berpinggiran bata. Peradaban Mesir berada di sekitar Sungai Nil dan penduduknya sangat menghormati sungai  tersebut. Sementara itu, menelisik petilasan heritage di Jawa, kita bisa menjumpai kompleks Taman sari (Water castle) yang dibangun Sri Sultan Hamengkubuwono I pada akhir XVII M. Tamansari merupakan kompleks kolam pemandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus dengan sebuah kolam yang besar yang digunakan Raja Mataram.

Hingga kini, orang Hindu India menghargai dan mensucikan air dengan ritual di sungai Gangga. Di Bali, setelah upacara Tawur Agung, umat Hindu berebut air suci atau tirta untuk menyucikan rumah dengan memercikan tirta ke seluruh area rumah sebelum Nyepi. Umat Buddha melakukan penyemayaman air berkah di Candi Mendut Jawa Tengah, untuk mengawali perayaan Tri Suci Waisak 2555. Dalam agama Katolik, air suci  digunakan untuk pembaptisan atau untuk pemberkatan orang, tempat atau benda. Sendang Sono merupakan tempat yang disucikan umat Katolik karena penampakan Bunda Maria.  Kaum muslim melakukan wudhu dengan air yang suci dan mensucikan untuk mensucikan diri sebelum beribadat. Semua agama menghoramati dan menghargai air. Maka melakukan konservasi air sama dengan melakukan konservasi budaya. Melakukan konservasi air sama luhurnya dengan memuliakan agama.

Wanted : Air Bersih

Pentingnya air untuk kehidupan membuat Green map, jaringan  yang memetakan daerah ‘hijau’ di dunia, membuat ikonisasi tanah & air. Dalam kategori ikon ini, green map memetakan pesisir/taman sungai, Fitur Air, Lahan Basah, serta sumber Air Minum. Adapun sumber air minum yang dimaksudkan adalah sumber-sumber air minum, penampungan dan elemen utama dari sistem perairan, termasuk tempat pemurnian air dan informasi konservasi. Saat proses survey pemetaan misalnya, relawan menemukan tempat-tempat yang menjadi sumber air. Peta Hijau Jakarta bahkan secara khusus memetakan Situ-Situ, sebelum terjadinya tragedi Situgintung yang memakan korban. Ikon ini muncul sebagai hasil pemetaan green map untuk mengetahui potensi dan kerusakan lingkungan (Hasil pemetaan yang dilakukan green map berupa cetak atau online dapat dilihat di www.greenmap.or.id.)

Tujuh puluh persen luasnya permukaan bumi yang berupa lautan (air) apakah cukup menampung dan menyediakan sumber air bagi manusia yang hidup di daratan ? Ternyata tidak semudah itu untuk mendapatkan air bersih. Kondisi air bersih di perkotaan, daerah gambut, kapur atau daerah pinggir pantai menunjukkan betapa air bersih mahal harganya. Daerah yang berlimpah air (tidak bersih) atau daerah yang susah air, sama-sama membutuhkan pasokan air bersih.

Di daerah Karangnongko Klaten Jawa Tengah yang rimbun oleh pepohonan namun sulit air, tiap rumah tangga butuh membeli air untuk konsumsi penduduk dan ternak. Di daerah Rongkop Gunung Kidul DIY yang panas, tiap keluarga membangun penampungan air hujan (PAH) yang dialirkan ke bak kamar mandi. Untuk minum, air perlu diendapkan semalam pada tempayan atau tong atau ember untuk mendapatkan tampilan air yang jernih. Tak kurang, tangki-tangki air diundang saat telaga mengering dan air tak lagi didapat. Di Mamuju Utara, Sulawesi Barat, pasokan air untuk konsumsi didapatkan dengan membeli air galon. Merk lokal seharga Rp 6.000,- sementara merk nasional sehaga Rp 32.000,-  Dalam seminggu bisa 1-2 galon habis untuk minum dan memasak. Bayangkan berapa rupiah yang dikeluarkan untuk kebutuhan air.

Mengolah air yang melimpah di lautan dan sungai-sungai di Indonesia bukan pekerjaan yang mudah. Kita membutuhkan teknologi untuk mengolah air menjadi air yang bersih. Guru SD kita telah menjelaskan betapa  air termasuk kategori sumber daya alam yang terbaharui, air cepat habis dan bisa terus diproduksi. Namun bagaimana kiranya, apabila sang sumber sudah kehabisan airnya karena tersedot kebutuhan manusia sementara sumber-sumber air baru telah sulit ditemukan.  Bagaimana bila manusia gagal menjaga siklus air dan justru memutus mata rantai siklus air ?

Krisis air bersih seperti di film Rango, menjadi cerminan betapa air sangat kritis. Film kartun ini mengangkat keterlibatan aparat/ pemilik kuasa sekaligus pemilik modal yang merugikan masyarakat tempatan. Air menjadi langka karena disedot untuk membangun kota masa depan dengan investasi dan keuntungan yang besar sementara masyarakat sekitar hampir mati kehausan. Karenanya menjadi pertanyaan apakah privatisasi air mampu membawa maslahat untuk masyarakat sekitar ? Sejujurnya, agak sulit menengarai masalah ini karena mendefinisikan keuntungan, kerugian, dan masyarakat adalah berbeda satu dengan lainnya, dari sudut pandang bisnis, pemberdayaan masyarakat, ataupun pemerintah. Meneropong berbagai sudut pandang untuk menyelesaikan masalah ini pun tidak selesai sekali dua kali. Hampir sama dalam menengarai kegiatan eksplorasi dan pariwisata, pihak-pihak di sekitar site sumber daya mendapat keuntungan dengan bekerja, namun apakah tetesan tricle down tersebut sepadan dengan biaya masa depan anak-cucu ?

Konservasi Air

Konservasi air adalah jawaban untuk kelangkaan air bersih. Putusnya mata rantai siklus air akan membuat air menjadi barang langka yang berlanjut pada perang air, seperti yang telah terjadi pada bangsa Inca. Untuk itulah, konservasi air merupakan kebutuhan bagi keberlanjutan makhluk hidup.  Konservasi, dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam (hayati) dengan pemanfaatannya secara bijaksana dan menjamin kesinambungan persediaan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keragamannya. Menjaga tetap berjalannya siklus air merupakan tindakan yang harus kita lakukan. Terganggunya siklus air akibat ulah manusia akan membuat kita kehilangan sumber air bersih.

– Siklus Air

Memulai kesadaran akan pentingnya konservasi air diawali dari keluarga, berlanjut ke sekolah, komunitas, atau kelompok yang lebih luas. Pengetahuan tentang siklus air ini dapat diajarkan orang tua, pendidik, atau guru di sekolah agar anak memiliki pandangan dan pengetahuan tentang perjalanan air menjadi air bersih kembali.

Siklus Air

zoom in ekosistem

Dari siklus air ini, tampak beberapa ekosistem yang terkait dengan keberlanjutan siklus air. Saat satu mata rantai diputuskan, maka akan mengganggu ekosistem lainnya. Untuk aktivitas edukasi, anak-anak bisa diajak untuk membuat projek siklus air dan ekosistem yang terkait dengannya. Projek ini bisa dilakukan di sekolah atau tempat belajar tak terikat, misalnya sanggar atau Taman Pendidikan Al Quran, atau sekolah minggu. Sekali kita menangkap maksud dari edukasi ini, maka media dan metode apapun dapat dilakukan.

– Biopori

Langkah konkret yang bisa dilakukan di level keluarga adalah dengan membuat resapan air yang banyak di halaman rumah. Langkah ini disebut dengan biopori. Tanah dibor sehingga menghasilkan lubang berdiameter 20-30 cm dengan kedalaman 1 meter, yang berfungsi sebagai resapan air sekaligus bisa diisi sampah organik. Lubang biopori ini bisa dibuat dalam jumlah banyak di halaman rumah kita. Semakin banyak lubang, maka tempat resapan air makin banyak. Lubang-lubang ini berfungsi sebagai tempat sampah sisa makanan basah sekaligus menampung dan menyerap air hujan. Salah satu SD swasta di Jakarta bahkan membuat biopori di halaman sekolah. Upaya sederhana ini bermanfaat untuk menanamkan gaya hidup bersih dan sehat.

biopori di sekolah

lubang biopori

– Mencintai Alam dengan Menanam

Hal lain yang mudah dilakukan adalah memanfaatkan halaman rumah untuk ditanami pohon dan tanaman. Pohon buah-buahan, macam mangga, rambutan, atau nangka sangat bermanfaat sebagai perindang, penahan air, juga buahnya yang disukai siapa saja. Penting pula dimiliki pohon sirsak, delima, kepel, atau pohon kelapa yang berguna untuk kesehatan. Melestarikan pohon juga sekaligus melakukan konservasi budaya, misalnya pada pohon yang memiliki makna/perlambang khusus, seperti beringin, gayam, atau sawo kecik. Tidak ada salahnya menanami halaman dengan pepohonan yang bermanfaat karena baik untuk konservasi lingkungan. Tak kalah penting untuk ditanam adalah membuat apotek hidup yang berisi tanaman obat, macam rimpang temu (temulawak, kunyit, jahe, dll), kumis kucing, mahkota dewa, daun sirih, dan lainnya.

Dari halaman rumah sendiri, konservasi berada, dipertahankan, dijaga, atau musnah. Mengapa? Karena pola hidup kitalah yang membuat konservasi hilang atau tumbuh subur.  Apabila halaman rumah kita tidak cukup untuk menanam, kita bisa upayakan bersama dalam apotek hidup komunitas yang dirawat, dijaga, dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan komunitas. Untuk mempercantik rumah dalam lahan terbatas pun, kita bisa melakukan cara tanam vertikultur. Vertikultur atau menanam dengan pola vertikal menjadi jalan tengah untuk menghasilkan hiasan dan supply sayuran sehat keluarga.

Anak-anak sejak dini diajak untuk mendekat dengan alam melalui aktivitas menanam sayuran, melatih dan membiasakan menyiram tanaman, ataupun menghitung jumlah daun yang ada di satu pohon. Alam member banyak sumber pendidikan. Tinggal kita manusia yang menggunakannya untuk edukasi sejak dini.

ayo bertanam untuk dekat dengan alam

berapa jumlah daun yang tumbuh ?

Gaya Kaya dan Miskin Air

Tahu, kenal, dekat, dan cinta merupakan tahap untuk bergaul dengan alam. Penggunaan air, pada akhirnya menjadi kunci bagaimana gaya hidup manusia mempengaruhi keberlanjutan ekosistem. Di tempat yang airnya melimpah, manusia terbiasa menggunakan air sesukanya. Keran air wastafel tetap menyala meski kita sedang menyikat gigi. Bak mandi dibiarkan melubar meski sudah penuh. Sementara itum orang yang tinggal di lokasi sulit air akan sangat menghargai air. Padasan, dengan lubang air kecil untuk berwudhu membuat aktivitas berwudhu menjadi sederhana dan ringkas. Gunakan seefektif dan efisien mungkin. Mencuci gelas dan piring dilakukan dengan cermat dan sederhana dalam baskom-baskom kecil dengan cara bergantian. Belum tahu mengenai perpindahan virus atau bakteri yang memungkinkan terjadi karena dalam pencucian ini air tidak mengalir. Ini seperti cara kerja penjual bakso keliling yang membawa ember kecil untuk mencuci mangkok dan sendok.

Jadi, ini kesempatan yang tepat untuk mengatur diri dan menghargai alam semesta. Air adalah urat nadi kehidupan. Gaya kita dalam mempersepsi dan menggunakan air akan menentukan apakah air  akan mengaliri kehidupan atau berhenti karena terengah mengikuti pola hidup manusia. Kini saatnya menghargai air, saatnya mengubah gaya hidup menjadi lebih dekat dengan alam.***

Pustaka

National Geographic Indonesia, April 2011

Selidik National Geographic, Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau India Kuno

Selidik National Geographic, Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau Irak Kuno

Selidik National Geographic, Arkeologi Menguak Rahasia Masa Lampau Mesir Kuno

www.greenmap.or.id

www.biopori.com

foto : dok pribadi