Lebaran Sekeping Biskuit

Lebaran ini ada banyak stok makanan kemasan. Ada yang beli, ada yang dikasih. Mulai dari biskuit, kukis, coklat, permen, kripik kentang, hingga soda, air jeruk, kopi, dan susu. Tempat baru, budaya baru. Ternyata di sini untuk yang piket dapat sekerdus makanan minuman kemasan, sesuai berapa hari ybs piket. Waw… Saya jadi mengurungkan niat bikin camilan telur gabus.. hehe..

20180622_075752-1

Panganan lebaraan ūüėÜ

Ya, kan ceritanya lagi latihan food combining, jadi saya kurangin makanan terkemas dan diganti buah, kacang ijo, atau granola (haha..akhirnya saya pesan granola juga dengan ongkir lumayan). Kata suami, si granola ini macam makanan burung, biji-bijian. duh. si bapak.

Lidah Si Gurih Manis
Kebiasaan saya adalah membaca ingredients di kemasan. Saya bukan ahli farmasi dan kimia, tapi ada beberapa bahan yang saya ingat : aspartam dan sakarin si pemanis buatan, mononatrium dan monosodium gulatamat, benzoat pengawet, pewarna, serta feniletilanin. Syukurlah tidak semua makanan di meja mengandung bahan-bahan itu. Amaan…

Dimakan nggak ya..mmm…camilan yang kebanyakan jarang saya makan. Tapi rasa ingin tahu membuat saya iseng nyoba. Iklannya berseliweran di tv. Anak-anak balita, TK, dan SD pun biasa bawa bekal makanan ini.

Beberapa suap… enak loh. Lalu..stop stop. Berhenti. Lidah lu, kali Han, yang aneh. Buktinya, orang lain makan, baik-baik aja kok. Namanya juga lidah itu urusan kebiasaan. Apa yang biasa disantap, itu yang disukai..

Balada Camilan Sehat
Nah loh.. Kalau camilan sehat pian itu  kayakapa? Setahu saya, buah dan biji-bijian, makanan yang less pengolahan adalah makanan paling sehat. Jagung, kacang, ubi rebus, yang murah meriah itu lebih sehat dibanding kripik jagung, kripik singkong, kacang atom pedaz. Masalahnya, makanan sehat segar ini gak tahan lama dan kurang kreativitas atau agak membosankan.

Lalu bagaimana petani dan pedagang bisa untung jika tidak ada pengolahan pangan pasca panen? Penjualan makanan olahan dengan teknologi akan lebih tinggi nilainya dibanding menjual bahan segar. Contoh gampangnya : tempe sekotak lebih murah daripada tempe mendoan sepotong. Kripik pisang dan cake pisang lebih awet dan lebih berdaya jual dibanding  pisang rebus. Apalagi kalau jadi pisang bolen bandung dan strudel. Nah pertanyaannya, bisakah pengolahan makanan tersebut menggunakan bahan sehat alami dan rasa manis yang proper ?

Sebetulnya bisa. Saat membeli granola di kemasannya, tertulis : gula tebu, palm sugar, sirup singkong, madu -> ini contoh pemanis alami dibanding sakarin, aspartam dan konco-konconya. Sea salt dan himalayan salt sebagai perasa asin. Enak juga kok, tanpa bantuan msg si monosodium glutamat dan kaldu bubuk. Karena bahan bakunya udah enak, pengolahan tepat, mau digimanain juga enak.

Cuma masalahnya bahan alami ini untuk itung biaya produksi jadi lebih mahal dan perlu proses yang lebih lama. Makanya snack sehat yang saya impor dari jawa harganya jauh lebih mahal plus kemasannya kecil pula. Nyoba bikin kripik talas n kripuk singkong sendiri, belum berhasil formulanya (ngaku)..

Mungkin inilah industri. Industri makanan  menghasilkan barang konsumsi yang cepat, enak, massal, awet, bisa dipasarkan ke mana-mana. Jika perlu dikemas kecil-kecil agar cepat penjualannya. Penetrasi pasar pun bagus karena kemasan praktis dan harga terjangkau, rasanya juga maniss dan gurihh, cocok dengan lidah orang Indonesia kebanyakan. Praktis. Hanya 2 ribu dapat 3 keping biskuit yang dikemas. Kalau baking kue? Wah pake repot, tenaga dan waktu, cucian, alat, dll.

Urusan perasa makanan ? Ah, kan sudah ada BPPom, PIRT, MUI. Kalau sudah melalui lembaga tersebut, insyaallah aman. Selain itu, produsen menuliskan ingredients di kemasan sehingga telah memberikan informasi nilai gizi dari makanan tersebut. Kalau tetap kaubeli dan kaumakan, berarti kamu sudah memilih dan sudah tahu konsekuensinya. Hehe.. itu yang mencantumkan lho.

2018-06-21 17.04.49

Membaca label kemasan makanan

Meski dilematis dengan pengawet makanan, saya turut memanfaatkan bahan instan juga. Misalnya santan, kaldu sehat, teh kemasan, dan tentu saja susu. Soalnya saya gak seperkasa ibu-ibu yang jago belah kelapa sendiri. Kalau marut kelapa, masih bisa lah, tapi kalau belah dan congkel mencongkel, ampun saya..hehe..Ini skill ibu-ibu sulawesi yang punya banyak kelapa di halaman rumah. Bikin bobor bayam semangkok bisa butuh waktu 2 jam..wkwkwk….

Saya juga pake kaldu sehat, ada produk bikinan lembaga yang saya kenal, menyokong petani dan kegiatan sosial, serta rasanya oke. Jadi sang kaldu bubuk nangkring di dapur deh, meski belum nemu di supermarket besar di kota propinsi. Mungkin inilah kendala home made : distribusi. Ya, distribusi Indonesia raya butuh biaya dan sistem agar terserap pasar.

20180622_062455-1

Teh kemasan ? Ini membantu banget saat banyak tamu. Saat open house lebaran, tenaganya udah cape bikin coto makassar n rica-rica, plus nongkrongin ketupat 2 jam ampe tengah malam. Kebayang kalau hari H musti bikin teh satu satu untuk tiap tamu yang datang. Weh, ibu mertua ini yang hebat tangkas nyiapin begini di jawa sana. Saya mah angkat tangan. Gantinya, teh kemasan, air minum kemasan, yang ringkas dan cepat..hehe..dan menyisakan sampah..

Dua Dosa Industri
Ada 2, kalau menurut saya, dosa industri, yang belum termaafkan. Dosa itu yang pertama adalah merubah pola konsumsi rumahan (masak dan produksi sendiri) dengan konsumsi membeli atau budaya jajan.

Di sepanjang jalan Negara HSS, daerah seputar kami tinggal, ada banyak pedagang makanan dan laris manis. Suatu saat perjalanan ke pasar, saya iseng menghitung jumlah penjual makanan di sepanjang jalan : sore hari : penjual makanan ada 44 gerobak, sementara siang hari saat sedang panas-panasnya, ada 30 gerobak. Gerobak ini jual es warna warni, pentol (paling banyak), aneka gorengan, mencok (rujak), wadai kue, jagung bakar, dll. Sayangnya laptop saya yg penuh dokumentasi foto lagi error diserang semut..duh…foto seadanya deh.

Anak kecil, bapak ibu, tua muda jajan pentol (bakso) dengan cocolan saos merahh. Saya pernah coba pentol yang dibilang enak itu, rasa kaldu bubuknya terasa bangett.¬† Uhuy.. Liat warna saosnya bikin nyengir..rhodamin rhodamin…

Di jalan itu juga, jumlah warung dan toko yang jual makanan dan minuman di sepanjang jalan : 160 warung. Warung dengan display rentengan minuman dan snack kemasan ini¬† selalu ada pembelinya… jajan asik dah. Padahal kalau mau dipikir, bikin sendiri di rumah juga bisa. Tapi ya itu, pakai waktu dan tenaga.

Dosa industri selanjutnya adalah penghasil sampah kemasan terbesar tanpa mengajarkan bagaimana penanganan sampah pasca konsumsi. Lihatlah bagaimana biskuit dikemas 3 biji, snack snack angin dikemas kecil seharga seribuan.

Shampo, sabun cuci, pewangi pakaian, kecap, saos, merica dan bumbu instan dikemas sachet untuk sekali penggunaan. Alasannya sih lebih murah dan lebih irit. Tak jarang ini jadi kembalian kala pedagang nggak ada uang receh. Tapi murah dan irit ini sesungguhnya ada biaya sosialnya yakni sampah kemasan yang terus bertambah.

Saat kemarau, air menyusut dan tampaklah onggokan sampah di bawah rumah-rumah kayu. Isinya bungkus sabun, kemasan snack dan minuman gelas, yang nggak rontok dan terurai selama sekian waktu. Hari demi hari, bungkus snack tambah banyak, yang jajan tambah banyak, namun budaya nggak dirubah. Saat penghujan, sampah-sampah akan meluap di halaman yang penuh air, berkumpul dengan air sungai yang sehari-hari digunakan untuk Mck. Sedih ya, industri kita tidak mengajarkan konsumen bagaimana pengelolaan sampah hasil produk industri.

Prediksi saya, Negeri seribu sungai ini lama-lama akan dipenuhi sampah plastik. Dan selama pola konsumsi, pola jajan, pola buang sampah di halaman (which is sungai) dilakukan, maka rantai itu akan terus bersambung. Diare dan ginjal yang merupakan penyakit yang bersumber dari makanan, minuman, dan kebersihan, akan terus menjangkiti masyarakat seputar sungai. #Tears.

Kalau Kamu Gimana?
Perubahan dimulai dari lingkungan terdekat. Kebetulan bukan air di kanan kiri rumah, tapi tanah. Kami pakai teknologi pilah sampah dan bakar sampah di tong. Ya resikonya pencemaran udara dan teman-teman. Kemasan teh, air minum, dan kertas nasi terbakar dengan bahan bakar minyak jelantah dapur. Jadi aroma pembakarannya gimana gitu. Haha… Belum ada teknologi daur ulang sampah plastiknya. Padahal ini penting banget untuk masa depan. Ayo berkreasi !

Ada pula ayam tetangga yang berkeliaran minta jatah, sekaligus menyelamatkan kami dari sisa-sisa makanan yang terbuang. Ayam ini juga membantu ngeker-eker tong sampah plastik dan organik. Lumayan, bantu ngaduk-aduk sampah dan nggak buang hajat di teras depan lagi.hihi..

Kisah Sekeping Biskuit
Ahh… ternyata sekeping biskuit ini punya cerita panjang, bagaimana dia hadir dan tersaji di meja tamu. Kalau bisa cerita, dia sudah melalui proses produksi dan distribusi yang berliku. Menunggu saatnya dikonsumsi alias dimakan rame-rame.
Makanan ini menandakan berjalannya pola kerja industrial yang mendukung mata rantai tersajinya makanan ini di sini.

Ya. Kalau makanan terjual sampai di sini, berarti pabrikannya punya sistem distribusi yang keren. Camilan ini terserap pasar  karena rasa, harga, dan terjangkau. Pabrik di Jawa, produknya sampai Hulu Sungai Selatan Borneo. Laris manis di warung Pak Kaum di tengah in the middle of nowhere, yang transportnya sambung menyambung, penuh perjuangan.

Itulah industri. Penyokong perekonomian dengan penyerapan tenaga kerja. Banyak tangan dan mesin yang membuatnya. Banyak cerita di baliknya.
Yuk ah.. makan granola dan susu uht dulu yuk..ūüėč
***

Advertisements

Hang it to the wall, Vi !

This is the tradition of each Eid Mubarak and Eid Adha. After sholat, the kids always silaturrahim, go to the neighbours and get some money, candy, cookies, etc. I a little bit disagree with this habbit. So I ask them to do something instead of just ask for money. The kids should create something before they eat cookies and get some money.

The idea is making book mark. I prepared papers and colouring pen. The kids could draw anything that they like. They could make a greeting too. Or they could open the book to find what kind of picture that beautiful and re-draw it.

And here it is !

drawing...drawing..and drawing......

Hang it, Vi !

Come! Hang it Vi, you can !

the 'lentera' is open in lebaran

Operator Seluler, Penghubung Daerah menggapai Kemajuan

Halo namaku maureen. Namamu siapa aku tinggal di bulumario sulawesi barat saya belajar bersama mis hani saya belajar bahasa inggris saya pinjam buku tarik mangga saya juga pinjam buku pasa jajan dan pasar sayur (Maureen, 8 tahun, kelas 3 SD).

Itulah surat Maureen untuk teman jarak jauhnya, Aysha (6 tahun) yang tinggal di Jogja. Secara fisik, mereka belum pernah bertemu. Hanya laptop dan jaringan internet yang mempertemukan mereka. Fasilitas webcam pun membuat satu sama lain saling melihat.

‚ÄėKok bisa ya, dari layar komputer, muncul ¬†wajah kita dan anak kecil.‚Äô Anak-anak pun tertawa-tawa geli, lalu berteriak, ‚ÄėHalo..‚Äô sambil saling melambaikan tangan ke Aysha yang tampak melalui web cam di layar komputer.

Operator Seluler Pembuka Jalan

Aysha yang tinggal di kota masih belajar membaca dan menulis dengan mengeja namun dia sudah sering menyentuh tuts keyboard komputer bapaknya. Sementara Maureen dan teman-teman sudah bisa menulis dan membaca namun masih kaku mencari huruf A hingga Z di keyboard komputer. Dari contoh tersebut, tampak betapa teknologi bisa dimanfaatkan untuk hal-hal sederhana hingga rumit untuk hal yang positif. Kesempatan melakukan chatting dan surfing internet muncul dengan masuknya operator seluler ke daerah pelosok.

Mengapa operator seluler?

Karena listrik dari negara belum merambah daerah ini. Telepon kabel pun setali tiga uang. Listrik diperoleh warga dengan iuran genset yang menyala di malam hari. Adapun perangkat komputer berupa laptop/notebook yang digunakan memungkinkan menyimpan daya hingga beberapa jam sehingga bermanfaat untuk aktivitas yang produktif. Keberadaan operator seluler yang memungkinkan komunikasi dengan bertelepon dan berinternet, anak-anak dan orang dewasa memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses informasi seperti halnya penduduk dunia di belahan benua lain. Berbekal modem atau dengan telepon seluler, kartu chip internet unlimited, koneksi internet lancar dan belajar bisa menyenangkan.

Chatting ternyata bisa menjadi latihan motorik anak dengan memencet tuts sekaligus berpikir apa yang akan disampaikan, juga berimajinasi, siapakah teman nun jauh di sana, apakah dia suka menggambar, suka makan panada, atau apakah dia ber sekolah naik bis sekolah ? Anak-anak terpacu untuk berpikir dan menyusun kalimat, apa saja yang akan ditanyakan pada teman di pulau seberang.

Teknik ini disebut belajar jarak jauh, belajar interaktif teman sebaya. Anak-anak belajar menggunakan imajinasi bersama teman sebaya, bukan melalui orang dewasa. Sumber belajar ada di mana saja. Belajar bersama teman sebaya pun bisa dilakukan dengan bantuan teknologi. Tentu saja, ada dampingan dari pengasuh/orang tua/guru untuk mengarahkan penggunaan teknologi sesuai fungsinya.

Lalu apakah kegiatan ini bisa meluas hingga ke sekolah ? Kalau mengingat pada keuntungan yang bisa diperoleh, maka sesungguhnya kendala apapun bisa diatasi. Komputer terbatas, bisa diatasi dengan penjadwalan aktivitas berkomputer. Demikian pula dengan guru yang siap mendampingi siswa berkomputer dan berinternet. Adapun masalah listrik, perlu dimusyawarahkan untuk membiayai solar demi menyalanya genset, apalagi jadwal genset menyala adalah jam 18.00-06.00 WITA. Selalu ada jalan asal ada kemauan, di manapun, kapanpun, dan untuk perkara apapun. Guru bisa memperkaya pengetahuan dan informasi untuk memaksimalkan materi ajar pada peserta didik sehingga tidak sebatas pada buku teks saja. Lewat surfing di internet, guru pun bisa membuka cakrawala pemikirannya.

Belajar di Dunia Maya : Pembelajaran Masa Depan

Salah satu pendidikan yang memanfaatkan internet adalah Universitas terbuka (UT). Universitas Terbuka menjadi harapan untuk mendapat pendidikan perguruan tinggi tanpa berbatas jarak dan waktu. Daerah pelosok, yang tanpa bangunan fisik (seperti di tempat ini), tidak membatasi akses pendidikan tinggi. Bapak Romy misalnya, akhir tahun ini mustinya sudah wisuda setelah 3,5 tahun kuliah jarak jauh UT. Wisuda di Jakarta urung dilakukan karena jarak, kesempatan dan waktu.  Ada lagi Kakak Kayun, mahasiswa baru UT. Tak mau kalah, seorang guru-penjaga perpustakaan di sekolah dasar (SD Inpres) yang berusaha menggapai masa depan lebih baik melalui kuliah di UT. Mereka belajar dengan modul di rumah dan mengirim tugas lewat internet. Kendalanya tentu jaringan telepon yang error menjelang deadline. Sementara saat ujian semester, para pembelajar ini musti ke kota untuk ujian. Bagaimanapun lika-liku perjuangan pendidikan di pelosok, jaringan internet lewat layanan operator seluler sangat mendukung keberhasilan pendidikan.

Seorang teman menyarankan saya untuk membuka beberapa situs internet yang menyediakan tutorial gratis berbahasa inggris. Situs-situs tersebut menyediakan berbagai bahan pembelajaran dari matematika, fisika, bahasa inggris dan puluhan bahasa lainnya di dunia. Pengunjung laman tinggal klik dan dapat mendownload materi pelajaran, gratis, dengan pra syarat bandwith cukup besar untuk membuka dan mengunggah situs bersangkutan (ini jadi kendala untuk jaringan yang kurang stabil). Perkembangan ini tentu perlu ditanggapi dengan positif. Ada kesempatan untuk belajar dan lebih maju dengan sumber informasi tersedia di depan. Tinggal pintar-pintarnya kita manfaatkan internet untuk untuk tujuan yang positif. Perhatikan kondisi sinyal telepon yang full untuk berinternet dan meluncurlah di dunia maya.

Dengan kondisi demikian, siapapun, di manapun, bagaimana pun status ekonomi dan sosialnya, bisa bersekolah sendiri, mandiri ! Mungkin ini wujud sekolah futuristik, sekolah yang tidak terbatas bangunan empat dinding, guru yang memperhatikan siswa dengan seksama, teman yang usil mengambil pensil, dan papan tulis yang berisi catatan pelajaran. Ada plus minusnya tentu, secara sosial dan kultural, namun keduanya bisa saling melengkapi sehingga pendidikan di mana pun tidak terbatas pada jarak dan waktu. Teknologi informasi dan layanan operator seluler membantu daerah melewati keterbatasan.

Teknologi Informasi Pembuka Tabir Pengetahuan

Salah  satu tolak ukur keberhasilan suatu daerah adalah tingkat pendidikan penduduknya. Makin banyak anak sekolah pada jenjang pendidikan yang semakin tinggi, dan rendah tingkat buta huruf, makin baik pula daerah tersebut. Hal ini terkait pula dengan ketersediaan sekolah sebagai sarana pendidikan. Di perkotaan, sekolah dari PAUD (pendidikan anak usia dini) hingga perguruan tinggi tersedia. Masyarakat tinggal memilih sekolah mana yang diinginkan. Bahkan kalau perlu di bulan November sudah menitip anak untuk masuk SD, sementara tahun ajaran baru dibuka Juni/Juli tahun berikutnya. Gairah bersekolah dan memilih sekolah berkualitas sesuai dengan konsep pendidikan orang tua, demikian tingginya. Kondisi ini tentu lain dengan daerah. Untuk mendapat SMP dan SMA yang berkualitas, orang tua yang mampu akan mengirim anaknya bersekolah ke kota, dengan dukungan sanak keluarga yang tinggal di sana.

Kualitas pendidikan bukan hanya diukur dengan numerik, yang tak kalah penting adalah kualitas. Dan pada saat kualitas berhubungan erat dengan sistem pendidikan di lokasi yang bersangkutan, maka perkembangan ini akan berhubungan dengan bagaimana teknik dan metode yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui perangkat teknologi sederhana yang mudah dan murah didapatkan.

Memanfaatkan keberadaan operator seluler di daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui penggunaan internet adalah jawabnya. Dalam skala kecil, penggunaan internet untuk edukasi dilakukan oleh stake holder yang sudah familiar dengan internet. Efek yang muncul pun pada kelompok/anak-anak dampingannya. Untuk mencapai skala yang lebih besar, operator seluler dapat merambahnya melalui program internet masuk daerah. Untuk mendampingi program ini, perlu pelatihan penggunaan internet yang bijak, yang dapat dilakukan melalui jalur sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Nantinya, guru, pamong, dan stake holder terkait dapat menjadi peserta dari program ini. Mengingat lebih lincahnya operator seluler dalam diversifikasi produk dan program CSRnya, maka ‚Äėinternet masuk daerah‚Äô tampaknya dapat dilakukan operator seluler sembari menjelaskan paket internet apa saja yang ditawarkan pada masyarakat. Pelan namun pasti, masuknya operator seluler ke daerah tidak sebatas membuka komunikasi antar manusia melalui bertelepon dan sms, namun dapat lebih berdaya guna melalui internet untuk pendidikan.

Konsistensi, kreativitas, dan semangat untuk terus maju merupakan modal untuk mengembangkan apa yang kita miliki dan tidak mengkambinghitamkan keterbatasan fasilitas sebagai penyebab keterbelakangan. Kultur untuk belajar inilah yang perlu terus disemai dan dipupuk untuk menjadikan anak-anak yang kreatif dan penuh imajinasi yang cerdas dan bahagia dalam menjalani usia bermain dan belajarnya. Maka kreativitas guru/pendamping/orang tua menjadi kunci keberhasilan. Internet yang didapat dengan memanfaatkan layanan operator seluler menjadi  jalan untuk membuka tabir pengetahuan yang terserak di muka bumi ini.

Pasar Buka Selasa dan Jumat

Masuknya telepon seluler beserta jaringan dari operator seluler dan layanannya yang beragam juga menyemarakkan perekonomian daerah. Penjual pulsa mulai marak, baik di pasar maupun di kios rumahan. Mereka bukan hanya menjual pulsa isi ulang, namun juga ponsel. Gencarnya iklan di tv yang dinikmati saat istirahat malam hari turut membuat telepon seluler masuk ke daerah dengan penggunaan yang cukup masif. Bagi para pedagang, hal ini tentu menguntungkan. Bagi pengguna, hubungan dengan keluarga, relasi, dan kolega makin lancar.

Di kawasan SP/satuan pemukiman (transmigran) 1, tempat kami berada, hari pasar adalah Selasa dan Jumat. Pada kedua hari itulah pedagang dan pembeli bertemu untuk melakukan jual beli. Sementara pasar di Sempo, sekitar 10 km jauhnya, pasar buka hari Rabu dan Sabtu. Maka jika akan belanja, ibu-ibu musti mencatat kebutuhan yang hanya bisa didapatkan di pasar pada kedua hari yang sudah terjadwal tersebut. Jika luput dari hari pasar ini, ibu-ibu pergi ke pasar yang lebih jauh jaraknya dengan kondisi jalan yang kadang becek kala hujan datang, bergelombang, dan bertemu sapi-sapi yang berjalan santai mencari makan di tepi jalan.

Mengelilingi pasar, banyak kios-kios penjual yang menawarkan barang kelontong. Mulai dari sabun mandi, saos sambal, hingga tusuk gigi tersedia. Ada juga kerupuk-kerupuk (snack kemasan), permen, dan balon-balon yang selalu ramai dijejali anak sekolah. Tak ketinggalan toko bangunan yang menjual baut hingga pralon. Kesibukan perdagangan akan tampak pada saat hari pasar.

Pesan Mie Instan 30 Kardus

Lalu apakah kita bisa mendapatkan mie instan sebanyak 30 kardus di pasar? bisa ! Ibu-ibu paguyuban yang mengurus nutrisi bapak-bapak pekerja pabrik, setiap malam setidaknya menyiapkan 45 bungkus nutrisi. Nutrisi ini berupa mie instan, telur rebus, dan susu kental manis sachet. Setelah melakukan survey, harga mie instan 1 kardus di penjual kelontong SP 1 selisih Rp 500,- dengan harga mie instan di kota yang ditempuh 2 jam perjalanan. Hitung menghitung ongkos perjalanan dengan selisih harga ternyata lebih menguntungkan jika membeli mie di SP 1.

Maka bergegaslah ibu-ibu memesan mie instan 30 kardus pada toko kelontong yang cukup besar di SP, tanpa uang muka. Haji (pemilik toko) hanya perlu mengangkat ponsel dan mengabarkan pada supplyer dari Makassar (sekitar sehari semalam perjalanan darat) untuk pesan mie instan sebanyak jumlah yang diinginkan. Tentu sang Haji juga memesan untuk stok penjualan di tokonya yang tak pernah sepi pembeli. Setelah pesanan datang, Haji menelepon ibu-ibu untuk mengambil mie instan 30 kardus karena gudang tokonya tidak sanggup menampungnya. Sekali lagi, operator seluler membantu kelancaran perdagangan.

Lalu bagaimana dengan telur rebus satu setengah rak (1 rak = 30 butir) yang musti disiapkan tiap hari? Apakah harus selalu belanja di pasar ? Awalnya ibu-ibu bertransaksi dengan penjual telur di pasar secara langsung. Di kemudian hari, Ibu Rusli hanya perlu angkat ponsel dan menelepon mas penjual telur untuk membawakan telur 10 rak langsung ke rumahnya untuk stok 1 minggu.

Lalu bagaimana jika kita butuh membeli ikan dan sayur di luar hari pasar dan tidak bisa pergi ke pasar yang berjarak jauh dengan rumah? Syukurlah ada mbak dan mas sayur yang rutin berjualan berkeliling. Mereka ini para penyelamat kebutuhan konsumsi penduduk yang tidak bisa keluar ke pusat perdagangan mengingat medan yang berbukit dan dikelilingi perkebunan. Sayangnya, kerap kali tahu atau tempe yang dibawa sudah habis dibeli ibu-ibu di tempat lain yang dilalui sebelumnya.

Kadang kala juga muncul kebutuhan untuk mendapatkan sawi 20 ikat atau tempe 40 bungkus untuk acara ulang tahun anak, pengajian, atau lainnya, sementara hari acara tidak berdekatan dengan hari pasar. Maka untuk menjaga kesegaran sayuran menjelang hari H, dipesanlah sayur pada mbak sayur. Kalau urung bertemu, ibu-ibu biasa menelepon pedagang yang bersangkutan sembari sms di waktu subuh untuk mengingatkan pesana. Ibu senang, pedagang juga senang, saling menguntungkan, bukan ?

Beberapa ilustrasi tersebut hanya contoh kecil kehidupan perekonomian sehari-hari yang terjadi di daerah pelosok, di tempat kami tinggal saat ini. Mulai dari skala rumah tangga hingga paguyuban, semua merasakan manfaat jaringan telepon seluler yang tak terjangkau listrik negara dan telepon rumah. Keberadaan jaringan telepon seluler menjadi solusi untuk mengatasi masalah dan menggiatkan perekonomian daerah yang melibatkan rumah tangga, pedagang kelontong, transportasi pengangkut, supplyer, dan industri yang lebih besar. Telepon satelit tentu mahal, dan telepon seluler beserta operator yang masuk ke daerah menjadi jawabannya.

Teruntuk Operator Seluler

Terima kasih jaringan operator telepon seluler. Masuk dan merambahlah negeri ini yang luas. Ajarkan edukasi menggunakan layanan telepon seluler agar manfaatmu terasa hingga hari nanti. Sedikit saran agar iklan-iklan layanan operator seluler bermuatan edukasi penggunaan telepon seluler yang bijak dan cerdas, bukan hanya sebagai gaya hidup. Itulah yang kami butuhkan dan manfaatkan di daerah ini. Kami yang tinggal di daerah tentu akan senang menjadi representasi penggunamu seperti halnya rekan-rekan di kota besar di Jawa.*