Pindahan ya ?

Packing itu ternyata bisa bikin pusing. Antara yang ditinggal, dibuang, diberikan pada orang, atau dibawa.. Tempat kerja suami memungkinkan adanya rotasi pegawai. Terbilang ini kali ke-tiga kami pindahan. Ternyata barang-barang itu bertambah signifikan di periode ini.. 😅..

Yeah.. Menurut ekspedisi, paket pindahan akan mengambil waktu 2 minggu menyesuaikan jadwal keberangkatan kapal. Mmm… tampaknya kami salah perhitungan. Mustinya barang-barang itu lebih banyak dikirim ke jawa.

Baru kami sadari kalau banyak barang kami yang diberi. Kalau statusnya pemberian maka kemungkinan besar barang itu akan dilindungi atau dibawa, misalnya jilbab dari bu anu, tupp dari itu, mukena dari ono, dll…

Kalau ada ikatan emosional, misalnya ini kotak didapat di tempat sono, yang kemungkinan kami gak akan ke sana lagi, maka benda itu dilindungi. Kalau barang itu dibeli dan kemungkinan besar masih digunakan atawa fungsional, maka si barang akan dibawa. Misalnya itu munthu batu dibawa-bawa selama 3 kali pindahan. 😉

Lalu bagaimana kalau barangnya berfungsi sebagai asesoris, pernak pernik kecil untuk dekorasi? Since we didn’t have our own home, pernak pernik itu akan menumpang di rumah dinas atau rumah nenek. Nah loh.. Tampaknya kami harus bijaksana memilih pernak pernik selanjutnya ya.

So, barang yang seperti apakah yang diberikan pada orang? Umumnya orang melakukan lelang saat pindahan begini namun suami kurang setuju dengan konsep itu. ‘Kalau kau mau kasih orang, ya kasih aja, jangan dijual.’ okay then. That’s why we just gave some stuff that we could not bring, especially overseas.. eh apaan, pindah pulau maksudnya. Ada juga barang yang kelihatannya lebih bermanfaat jika digunakan orang lain. Atau bisa juga barang yang memang sudah tidak dipakai karena oversize (hati-hati berat badan).

So, dengan bismillahirrahmanirrahim kami lungsuri beberapa barang untuk anda. Semoga barang itu bisa digunakan sebagaimana mestinya, lebih bermanfaat dan membawa kebahagiaan bagi yang menerimanya.   Amiin..jangan dijual ya…

2017-03-14 18.22.02-1

Advertisements

Bau

Bau apa yang ada di tanganmu saat ini? coba sisipkan waktu semenit untuk membaui tanganmu.

Bawang putih….. baunya khas. Kupas bawang, potong-potong atau geprek, meletuslah baunya, apalagi uap atau asap ya, yang masuk ke baju yang kaukenakan untuk memasak… beuh…..

Bau ikan… ieuu…. kerja ikan, bersihkan sisik, ambil insang dan isi perut, lalu cuci…. singkat? Oow.. belum tentu.. it could takes time.. and the result is you gonna be smelly fish.

Lalu ada bau cumi-cumi……. ambil tulang plastiknya, bersihkan kantong tinta, tarik kulit tipis di luar, dan kruwek mulutnya yang bergigi… awas, kepalanya bisa nyeprot… dan tadaa…. tanganmu akan berwarna hitam dan baunya…. aduhai….

Ada lagi, kita bersihkan daging, buang lemak-lemaknya, cuci bersih, potong dan simpan dalam kantong-kantong sekali masak.. wah, tak kalah  khas, bau daging melekat di tangan…mmmmm…..

Atau bau ayam, buang isi perutnya, hilangkan saluran pembuangan, lemak-lemak, kepala, bersihkan pula hati dan ampelanya… hm.. bau ayam akan melekat sampai puas di tangan…..

Atau bau kolang-kaling yang direbus dengan daun pandan ? hmmm… kalau ini wangi….

Atau bau super pel jeruk jahe, rinso cair plus molto, sabun mandi dettol lemon, dan sunlite ? atau lengketnya margarine di mangkok tempat oles sate…

Bau-bauan itu melekat dan menguasai tangan, yang butuh waktu untuk menetralkannya kembali…sabun mandi, baik batangan maupun cair, hand and body lotion aroma coklat, hand sanitizer, atau bahkan roll on safe care, tidak serta merta membuat baunya hilang… it takes time….. maka kita harus sayang dengan tangan dan jari-jari kita. Kali waktu dia bekerja memencet tuts keyboard notebook, lain waktu dia terkena isi tinta spidol snowman, kali waktu dia berteman dengan dapur dan alat-alat kebersihan…kali waktu dia mengusap wajah kita dengan tissu basah atau pembersih dan menyegar wajah…

Ingat… meski sudah dicuci dan dibilas dengan sabun, tapi bau ikan, cumi, bawang putih, daging, atau ayam, tak mudah hilang dari tangan..

bau ini seolah ingin melekat dan menempelkan tanda bahwa, ‘Hey, aku baru saja menguasai tangannya!’

Ah, aku jadi teringat bapak. Beliau hobi cici tangan sembari cuci piring setelah beraktivitas di kebun. Supaya bau sunlite menggantikan bau dan kotoran yang melekat di tangannya… aku juga teringat ibu mertua, yang dengan tenangnya mencuci piring dengan air yang terbatas, karena air harus dibeli saat kemarau.. teringat pula pada tempat cuci di halaman belakang rumah yang dulu, dimana aku musti jongkok atau duduk dengan dingklik dan mengakibatkan kaki lembab dan perih.

kini, di tempat ini, tempat cuci piringnya berdiri. Aku tidak perlu khawatir kakiku akan terkena kelembaban dan berkuman lagi… hanya tanganku yang pasti mengikuti perubahan bau dan aroma, sesuai apa yang dikerjakan dan disentuhnya hari ini..