Food Combining, ceritanya….

Beberapa waktu ini saya gagal ber food combining. Mengapa ? Karena kekurangan bahan baku. Alasan yang bodoh ya. Sebetulnya food combining itu simpel. Hanya saja kendala saya adalah stok buah dan sayur yg terbatas. Kadang itu-itu aja. Plus penyimpanan yang buruk karena kondisi kulkas yg aduhai #kulkas inventaris memble#. Paman sayur jarang datang. Maklum medan tempur lumayan menantang. Kalau hujan, jalan bonyok kebanjiran atau sebaliknya, panas keras cadas. Lha padahal food combining itu isinya sayur, buah..njuk piye ?

Mengapa Food Combining/fc
Sebetulnya bukan untuk menurunkan berat badannya, tapi untuk sehat. Selain itu ada bakat diabet yang bikin saya ngurangin gula. Tujuh bulan ini saya berusaha fc. Masih ala ala sih. Belum sampe ngejus sayur. Buah cenderung dimakan pelan-pelan dan penuh syukur, dapet serat dan vitaminnya tanpa gula tambahan. Sepemahaman saya, intinya FC itu menata pola makan. Protein hewani tidak disandingkan dengan karbo, namun dengan sayuran. Protein nabati disandingkan karbo dan sayuran.

Karena dasarnya pemakan sayur, ya nggak masalah buat saya. Daun-daunan itu menyenangkan, tambah wortel tomat dll. Makan ikan 1 ekor aja kenyang lho, ditemani lalapan or plencing kangkung. Yang penting sayuran itu ada dressingnya. Apakah itu? Sambel. Haha. Untuk nyoba salad-salad an masih belum. Padahal udah mantengin ‘Jammie 30 minutes meal’. Lidah belum terbiasa kali ya.

Nah..itulah yang saya bilang tadi : KEBIASAAN. Paling sulit adalah saat mengawali karena mengubah kebiasaan. Biasanya nasi, roti, untuk sarapan, kini buah saja. Plus pertanyaan teman teman mengapa tidak makan nasi.

Bangun pagi, perut dialasin dulu jeniper hangat. Makanan paginya pepaya, pisang, nanas, jeruk, tomat, semangka. Kalau ke pasar nemu jambu merah, sawo, dll. Ke kota ketemu buah naga, apel, anggur. Kadang rebusan kacang ijo jadi minuman dan snack. Kunyah pelan-pelan supaya mudah dicerna dan terserap tubuh dengan baik.

Aneka varian warna buah dan sayuran itu didesain Tuhan untuk mengandung zat gizi yang berlainan. So semakin bervariasi tentunya semakin baik untuk tubuh.

Saya cenderung pilih buah lokal. Mengapa ? Karena rendah rantai distribusi dan jejak karbon, suport petani lokal, gak pake lapisan lilin, dan murah. Resikonya ya perputarannya kurang banyak. Ada sih buah-buah ajaib kalimantan semisal cempedak, buah saraf, mantuala, kasturi, dan buah asam yang saya lupa namanya. Namun buah-buah itu kurang cocok untuk sarapan fc karena asam, gas, dll. Jadi kemungkinan mereka jadi cemilan sore. (Maap foto buahnya keselip entah ke mana).

Aneka Godaan
Godaannya banyak.. Sering ada acara makan-makan aneka rupa, 1 set lengkap.  Otak dan perut saya udah bisa bilang : Ini protein, karbo, sayur. Kadang saya ambil protein dan sayur aja. Secukupnya dan sepantasnya. Atau snack after olahraga yg isinya karbo+protein hewani dan gula. Risoles isi ayam kentang ; duh pusing saya. Cake muanis, tambah lagi. Es buah pake susu, sirop, es, n buah. Aaw.. Atau kejutan pizza black pepper dari kota yang bikin pusing : kapan dan gimana makannya? Lain halnya dengan mencok alias rujakan : pesta buah dengan dressing bumbu rujak, oh surga!

Pertanyaan selanjutnya adalah : protein nabati selain tahu dan tempe itu apa ? Hm. sempat kebingungan. La makan nasi kan temannya sayur dan protein nabati.. Nah, ternyata kacang-kacangan itu sumber protein nabati loh. Kacang tanah, kacang merah, kacang ijo, kacang tolo, biji labu/waluh. Kalau mau onlen ya kacang almond, chia, edamame, granola, dll..ketemu jalan keluarnya kan…

Ayuk yang Tertib
So..Saya jadi lebih aware tentang bahan asal makanan. Yang saya rasakan sih, saya jadi nggak pusing urusan makanan. Wong makannya simpel aja, bisa jadi malah irit dengan pegangan sayur dan buah lokal. Stok beras gak habis-habis karena seringnya mberatin protein hewani plus sayuran daripada nasi plus protein nabati.

Urusan minum, saya tetep minum susu. Cenderungnya susu uht, karena susu bubuk itu kata suami dibuat dari susu yg dikeringkan ditambah zat-zat yg tertera di kemasan. Sementara itu, susu kental manis banyak banget gulanya. Kalau air putih, gak perlu tanya, jelas banget jadi kebutuhan. Lebih seringnya botol air minum yang menemani dari pada gelas. Wkwkwk..

Selama puasa gimana?
Idealnya, sahur dan buka dengan buah-buahan. Tapi kalau sahur murni buah, saya belum coba. Untuk buka, masih bisa lah, buah buahan plus gorengan..haha..#ini salah#. Mestinya buah ekslusif dan air putih. Tapi gorengan home made kok, mendoan, tahu isi, kentang goreng home made, pake minyak baru, sekali proses. Makan malam setelah tarawih dengan menu biasanya.

Survive
Trus gimana cara bertahan dengan kondisi terbatas gini? Mau nyetok sayuran juga gak bisa karena masa segar sayur terbatas.

Nah, kami lagi ngusahain bisa nanem-nanem. Ya, pertanian subsisten mustinya jadi jalan keluar. Kendalanya tanah Ph 3 bikin tanaman gak tahan hidup, apalagi kalau mulai banjir. Duh pada terendam. Banyak sudah tanaman yang mati gara-gara  salah perhitungan. Maka solusinya adalah pake polibag, pot, drum, atau lainnya, dan cari media tanam. Dan ini lagi proses. Panennya masih lama, sukur sukur bisa bertahan hidup..amiin…

Jalan keluar lain : Kebetulan paman sayur langganan yang bisa by request masih keliling di kawasan sebelah. Jadi kalau ada kesempatan ke sana, atau suami tugas ke sana, saya pesan belanjaan dan dibayarin teman dulu. #ngrepotin orang#. Lumayan juga, seminggu lalu nemenin anak-anak TK latihan di PT sebelah, jadi saya bisa beli sayur di paman sayur.

Kalau di sini, seminggu sekali, tiap selasa sore, ada pasar dadakan di pal 13. Meski penjual sayur cuma satu, namun bisa membantu ketersediaan bahan baku. Atau kalau niat banget, ya pergi ke kapal, yang jual sayur-sayur meski terbatas saja kolesinya. Tempe beli yang masih berujud kedelai, yang berproses fermentasi, supaya lebih lama dan pasti nggak kematangan karena kepanasan di rantai distribusi.

Untuk buah, saya menemukan cara baru : diblender dan dibuat es loli. Inget, es lolinya tanpa tambahan gula atau susu kental manis. Cara ini efektif menjaga kita tetap makan buah meski stok buah-buahan terbatas. Lumayan loh, es loli nanas jeruk jadi klamutan saya selama lebaran. Ada juga es rujak buah segar yang saya bekukan..hmm… #beli freezer#

Kesimpulannya apa?
Kesimpulan saya dalam program mandiri  Food combining adalah pentingnya menetapkan niat dan tujuan. Karena ternyata kita bisa kalau memang niat. Gakperlu minum produk pelangsing yang harganya mihil. Imbangi dengan olahraga tentunya. Lari, senam, yoga, bismillah sebisanya. Usaha mengisi stok fruit and vegie pun masih bisa diusahakan. Es loli buah murni yang semoga bisa jadi metode pengawetan makanan.

Yes.. Kenali kondisi tempatan, kenalan sama orang-orang, and we’ll find the way out !

Advertisements

Freezer raksasa dan misteri Tadulako (Part 2)

Hijaunya bukit, kuningnya prairie, silih berganti mengisi pupil mata.  Bibir pun mendesah, Subhanallah. Celebes ini begitu indah. Apa saja bentang alam ada, dari bukit sampai pantai, banyak dan cantik-cantik. Pokoknya, ayo ke Sulawesi Tengah ! Pemandangan ini mengingatkan pada gunung-gunung Taripa Tomata yang dilalui jalur Parigi Moutong- Poso – Tentena. Atau mungkin sebenarnya ini berangkaian ya? Haha..baru sadar saya, kan termasuk kabupaten Poso juga. 😅

Lembah Napu tampaknya sejak lama menjadi lahan gembala misionaris. Di kanan kiri mudah kami jumpai gereja. Penduduknya pun rajin ibadah. Pusat daerah ditandai dengan hadirnya kantor dan  fasilitas umum di tepi jalan. Kalau di Jawa, yang begini tidak tampak karena terlanjur padat. Cobalah ke sini, dan anda akan jumpai kantor desa, tempat ibadah, sekolah, lapangan olahraga, puskesmas, dan pasar berjejeran di pinggir jalan.

Akhirnya kami mendekati pemukiman. Deretan pagar bambu bercat merah putih  tampak berjajar rapi di pinggir jalan. Bunga bawang warna putih tumbuh di depan pagar, menambah kesan keteraturan. Jam 12 kami sampai di rumah keluarga local guide kami  di Lore Tengah.

Gemah Ripah Loh Jinawi
Kesan pertama, Waw…. ini daerah pertanian yang subur ! Ada pohon kakao berjejer,  sawah menghijau, sayur mayur, kunyit, pandan, labu, lombok, dkk. Di seberang rumah bahkan ada pohon kemiri berdiri besar. Di kampung ini tanaman pangan dan sayuran  tidak diberi pupuk kimia. Sehat ya !

Yang perlu diimpor adalah bawang putih. Itu pun karena kurang berhasil di tanam. Tete’ (kakek/nenek) juga pelihara unggas di belakang rumah. Ini adalah wujud ketahanan pangan dan pertanian subsisten. Rumah tangga dan desa mampu mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Satu yang tidak dipelihara namun ikut nimbrung : nyamuk. Ya, nyamuknya dahsyat. Pasang kelambu di sini. Gimana para teroris di hutan itu ya? Lho kok malah nanya…😅

Anjing menjadi penjaga kebun. Jika ada orang tak dikenal, si anjing akan menyalak. Ini penting sekali karena di belakang sana adalah bukit tempat Santoso cs bersembunyi. Kalau ada pakaian yang hilang dari jemuran, atau ayam yang hilang, ya kira-kiralah. Para gerilyawan di hutan itu juga butuh makan. Saat gencar operasi Tinombala, aparat banyak berjaga di sekitar sini.

Brrr…langsung terasa dinginnya air saat kami membasuh muka. Air yang segar, dingin, dan melimpah. Kami langsung tebak-tebakan, siapa yang berani mandi dengan udara sedingin ini nanti sore 😁. Di balik bukit sana adalah hulu sungai Lariang, sungai yang mengalir melalui Pasangkayu Sulawesi Barat (5 jam dari sini). Sungai Lariang di Pasangkayu terkenal karena dalam, lebar dan panjang serta ada buayanya.wedew.. Ternyata hulunya ada di sini. Hulu Lariang juga manjadi tempat hidup sogili, belut jumbo khas Poso. Ternyata sungai ini jadi habitat aneka makhluk hidup. Konservasi di hulunya penting sekali untuk menjaga kelestariannya.

Authentic Recipe
Segera saja, segelas kopi dan camilan kacang sangrai menghangatkan siang kami. Menurut tuan rumah, kopi ini disangrai dan ditumbuk sendiri. Sruputt. Saya bukan penikmat kopi, tapi bisa menghargai segarnya kopi di sini. Kehangatan menyebar ke tubuh sementara di luar, titik-titik air masih menetes dari langit.

Tete’ memanggil kami untuk makan siang. Menunya woku ikan mas. Ikannya sebesar lengan orang dewasa, katanya itu ukuran  lazim ikan mas di sini. Cukup tinggalkan kail di sungai Lariang dan tengok esok hari. Tidak ada yang akan ambil pancing yang ditaruh jika bukan miliknya. Sebuah kejujuran dan kearifan lokal, bukan ? Kalau beruntung, Tete’ akan membawa pulang ikan mas jumbo. Umpannya adalah ulat aren, cacing, atau usus ayam. Terbayang ikan mas piyik-piyik yang terjejer kuyu di pasar SP 1. Ini pasti beda !

Wah… kelembutan daging ikan mas berpadu dengan kesegaran kuah ikan yang tidak amis dan tidak asam sama sekali. 😋 Kali ini suami tidak berani makan kepala ikan, saking besarnya si kepala ikan mas. Tete’ juga menghidangkan sogili, si belut besar yang disambal. Sogili ini juga kaya protein.  Pantas orang-orang sehat dan kuat ya..

Woku artinya (ikan) dimasak kuah dengan aneka daun rempah. Authentic dish of celebes. Ada jahe, kunyit, daun jeruk, sereh, daun pandan, kemiri, selain bawang merah dan putih. Untuk menambah rasa, ada lombok dan kemangi juga. Kalau versi gorontalo ditambah daun mint, kata tetangga gorontalo saya. Bumbu-bumbu ini jadi semacam bumbu wajib bagi masakan di sini.

Sepertinya, rahasia memasak woku adalah kesegaran ikan dan tentu saja ‘tangan dingin’ sang koki. Ikan yang masuk freezer tak bisa selezat ini jika diwoku. Toh tidak butuh freezer ya,  karena air dan udaranya menyerupai freezer raksasa. Selain itu juga penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar menambah kelezatan masakan. Terima kasih hidangannya Tete.’ 😋

2017-03-16 14.03.24

Gemah ripah loh jinawi. Lemon lokal dan kemiri berkulit yang baru sekali saya lihat

Namanya aja touring
Lepas dhuhur dan makan siang, kami lanjutkan misi : menuju lembah megalitik. Mr. Ophiq sempat membantu tuan rumah menyembelih entog, calon menu selanjutnya! 😀

Oke let’s go! Cuaca mulai cerah. Jalanan berubah menjadi rusak, berkubang, dan becek sehabis hujan. Saya kebat kebit karena kiri jalan adalah jurang yang tertutup pepohonan, dan di kanan, jalan rusak atau berkubang. Adrenalin meningkat ! Untung Mr Ikwan di sebelah cukup tangkas mengemudi. Bermotor, suami dan partner touringnya sempat tersendat di jalan rusak. Untunglah tidak perlu ditarik pakai tali.

Terkadang jalan mengecil dan tak tampak kendaraan dari arah berlawanan. Sempit sekali. Lampu dan klakson jangan dilupa. Sekali dua kami berpapasan dengan mobil. Itu pun diisi bule. Hm..apa yang dilakukan bule itu di ujung dunia ini? Mungkinkah mereka peneliti, arkeolog, kolektor, misionaris, atau turis? Ah, kok pikirannya begini.

Sepupu Nel berkata kalau akan menyiapkan Porseni di desa sebelah. Lapangan tempat olah raga di desa Bariri itu baru saja kami lalui. Apa? anak sekolah, naik mobil terbuka, jalanan rusak, licin, becek hujan?.. waw…all risk.. tapi  mungkin saja warga lokal sudah terbiasa sehingga jalan rusak bukan lagi hambatan.

Misteri Megalitik Tadulako
4×4 wd memang tangguh melewati medan ini. Akhirnya kami sampai di mulut jalan situs. Agak kurang meyakinkan jalannya. Setelah memarkir kendaraan, kami berjalan kaki ke lokasi, melewati sawah dan ilalang. Cagar budaya Tadulako. Kami bersemangat, penasaran karena tadulako menjadi nama universitas negri di Palu. Di depan, rumah adat Lore menyambut kami. Singup. Sepi. Rumah panggung dari kayu ini atapnya runcing  segitiga yang diisi semacam daun kering di bawah atap dan ijuk sebagai atapnya.

2017-03-15 14.34.26

Kami berjalan lagi, agak naik, lumayan setengah km saja. Tada…… clingak clinguk. Kosong. Gone!  Disappear! Tadulako tidak ada !  Ziing… Pengunjung bingung…
Konon dulu di sini ada patung batu Tadulako, salah satu legenda menyebutkan kalau beliau adalah panglima perang yang dikutuk jadi batu. Mustinya ada 2 arca, kalamba, meja altar dan peninggalan megalitik lain di sana. Tapi kini yang tersisa hanya batu yang tampaknya berfungsi sebagai alas artefak. Oh….Ke manakah benda bersejarah itu, kami bertanya-tanya. Tanya pada siapa ?

Ternyata sejarah kelam mencatat pencurian arca-arca megalitik di Napu. Berdasar penelitian, ada 404 peninggalan megalitik namun jumlahnya bisa dipastikan berkurang. Mereka diselundupkan ke luar negeri lewat Bali. Beberapa yang tertangkap dikembalikan dan diletakkan ke Museum Palu.

Entah ada berapa yang tak tertangkap dan mungkin berada di ruang kolektor barang antik. Sebagai contoh saja, sang Tadulako, arca megalitik setinggi 2 meter dengan lebar 75cm ini tidak di tempatnya. Sementara arca satunya yang berposisi rebah, berdiameter 125cm. Terbayang beratnya kan. Bagaimana caranya ? Kami terus berdiskusi. Benak saya mengingat bahasan NatGeo tentang mata rantai penyelundupan gading afrika. Pilu. Kalau sudah begini, pasti ada banyak pihak terlibat, dari dalam, penadah, penjual, mungkin rumah lelang, kolektor, atau museum luar negeri, atau mungkin juga oknum aparat?

Nel cerita kalau dulu jaman dia kecil, orang sering temukan piring-piring batu di sekitar situs. Karena tidak tahu, ya diberikan saja sama bule-bule yang datang.😰 Wah, andai kita tahu, itu sumber untuk mencari tahu sejarah leluhur kita.

Kabarnya hilangnya megalitik Napu ini makin meningkat saat terjadi kerusuhan Poso..hmm…suspicious. Jangan-jangan kerusuhan yang mengerikan itu turut dikompori pencurian arca megalitik ?😕 wah ini analisis baru, selain masalah ekonomi, politis, dan agama. Selain itu, lembah ini menjadi arena perburuan teroris. Banyaknya orang datang ternyata juga membawa ancaman…..

(bersambung)