Jejak 3G dan Etnografi (part 5)

Masih ingat misi 3G = Gold, Glory, Gospel, Belanda ? Pelajaran SMP ini. Nah 3G ini ada kaitannya dengan bahasan kita. Gold = emas, misinya untuk menemukan kekayaan rempah-rempah, perkebunan teh, kopi, dll. Glory = kejayaan, misinya untuk mendapatkan daerah jajahan. Gospel = gereja, misinya untuk menyebarkan agama kristiani.

Stigma Asia (timur jauh) yang eksotis, kaya hasil bumi, dan lokasi yang menantang, membuat bangsa Eropa berebut kuasa mencari jalur dan mengeksplorasi nusantara. Gold dan glory sudah terbukti lewat penjajahan dan perdagangan rempah-rempah, 350 tahun. Kalau Gospel ? Nah ini yang menarik.

Tahukah anda, catatan tentang Poso dimulai oleh Albertus Christiaan Kruyt dan Nicolaus Adriani, 1896. Kruyt adalah misionaris Zending yang mempelajari masyarakat dengan metode etnografi. Adriani, utusan dari Nederlands Bijbelgenootschap atau Lembaga Alkitab Belanda, adalah ahli bahasa yang mempelajari bahasa lokal Toraja-Poso.

Kolaborasi Kruyt dan Adriani menghasilkan buku ‘De Bare’e sprekende Toradja van Midden Celebes” (The Bare’e Speaking Toraja from Central Sulawesi), 3 jilid. Waw banget ya! Pilihan untuk menginjil di dataran tinggi penganut animisme dinamisme ini menurut Adriani beralasan untuk menghindari konflik dengan Kerajaan islam Luwu, Sigi dan Tojo yang saat itu ‘mengusai’ Poso.

Adapula Antonie Aris Van de Loosdrecht, misionaris Zending yang membuka sekolah pertama di Toraja, 1913. (Nggak kebetulan banyak orang Toraja yang bernama Aris 😀). Nah bersama Adriani, Van de Loosdrecht membuat buku “Late Soera’ Dinii Melada’ Mbasa Soera’”, sebuah buku bacaan sekolah berbahasa Toraja. Keren ya.

Selain itu ada HC Raven, etnograf Amerika yang melakukan ekspedisi Sulawesi melacak megalitik Behoa, Bada dan Napu pada 1917. Dia memotret artefak megalitik dan menuliskannya dalam buku “The Stone Images and Vats of Central Celebes”. Raven mencatat bahwa temuan kalamba di Pokekea ini mirip “plaine des Jarres/plain of jars” di lembah Tran Ninh, Laos, Indo-China. Dia juga mencatat bahwa ciri fisik dan kebiasaan orang Laos mirip dengan Toraja dan Dayak. (Ingat kan, Toraja dan Dayak adalah penerus Proto Melayu/Melayu Tua). So it is connected…nyambung ! 👏

images (2)

Plain of jars, Laos. Sumber : Nomadasaurus.com

 

Adalagi Walter Kaudern, etnograf Swedia yang menulis penelitiannya berjudul “Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes, 1917-1920 – Megalithic Finds in Central Celebes,” vol 5. Buku yang terbit 1938 ini memuat 15 peta dan 77 sketsa megalitik Napu dan memadukan penelitian Kruyt dan Raven sebelumnya. Komplet.

Lalu ada James Woodward 1918 yang diutus Bala Keselamatan/BK(Salvation Army). Fyi BK saat ini memiliki rumah sakit yang cukup besar di Palu, namanya RS Woodward (BK).

So, dari para penyebar misi 3G sekaligus penelitian etnografi di awal 1900, kristiani menyebar di Sulawesi. Mereka turut berperan meletakkan dasar pendidikan dan tatanan sosial masyarakat hingga kini. Dan dari budaya meneliti dan menulis yang mereka lakukan, kita jadi tahu catatan mula sejarah kita, termasuk peninggalan megalitik lembah Napu.

2017-03-31 07.35.57

Kiri : sketsa Kaudern tentang aneka rupa kalamba 1918. Kanan : kalamba 2017

Tiba-tiba saya melihat benang merah sejarah kita. Ya, ternyata budaya meneliti, eksplorasi, budaya menulis itu sudah diawali oleh etnograf bule di nusantara lewat penetrasi misi 3G jauh di masa kita masih berperang suku dan perang melawan Belanda. Terjawablah penasaran saya mengapa beberapa kali ketemu bule backpacker di tanjakan Tentena, 3 tahun yll. Mereka sudah melakukannya sejak tahun 1900. Jadi kita (saya) ngapain aja… foto-foto doang ? Ah, kenapa saya tidak banyak belajar arkeologi sih.. 😓

2017-03-31 07.32.15

Atas dan kiri bawah : catatan Kaudern di Pokekea 1918. Kanan bawah : Pokekea kini plus pelancong 2017.

The adventure is the journey itself

Matahari makin ke barat. Tanda kami harus pulang. Belum puas memang untuk menelusuri lembah megalitik ini, tapi medan menantang tak lucu jika dilalui saat hari gelap. Jadi malu sama Adriani, Kruyt, Raven, dan Kaudern. Mereka menjelajah dari Eropa dan Amerika naik kapal melintasi Atlantik dan samudra Hindia, dengan apapun misi kedatangannya, lalu mencatat tata kehidupan di Sulawesi Tengah termasuk penemuan megalitik, dan jadi referensi hingga kini, sementara saya cuma mampir semenit. Ngakunya touring pula.. uh..

Bayangpun kondisi sulawesi seabad lalu saat para etnograf itu masuk ke Poso dan Toraja. Sampai kini pun masih banyak hutan rimba. Kepercayaan Animisme dan dinamisme kuat, dan ada ancaman perang suku. Suvival dan in the middle of nowhere deh mereka. Lalu bagaimana 3000 tahun yll, saat para Austronesia yang perkasa menaklukkan Suĺawesi dan membuat karya megalitiknya sebelum melanjutkan migrasi. Waw. It  happen right here, in front of us…

Saya menoleh pada Putra, anak blasteran Napu-Jawa Timur yang lincah berlarian di antara kalamba. Di generasinya mendatang, apakah dia mengetahui sejarah leluhurnya ? Akankah dia dan generasinya nanti tetap mencintai peninggalan bersejarah di tanah kelahirannya ?

Saya berharap semoga sedikit catatan tentang Lore ini membuat kita menghargai sejarah negri ini ya. Semoga juga muncul arkeolog dan etnografer Lore, para pecinta dan ‘pelestari’ kebudayaan…amiin..

Ya, keasyikan perjalanan itu bukan hanya pada apa yang kita temui di tempat tujuan, tapi pada perjalanan dan pada misteri yang ada di baliknya. “The adventure is the journey itself.”

IMG-20170310-WA0028

Next adventure ?

(Bersambung)

Referensi :
– Kaudern, Walter. 1938. Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes 1917–20,
vol. 5: Megalithic finds in Central Celebes. Göteborg: Elanders Boktryckeri Aktiebolag.
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbgorontalo/
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tradisi_megalitik
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Eksplorasi_Sulawesi_Tengah
– ahmadsamantho.wordpress.com/2013/01/04/budaya-megalitikum-di-indonesia
http://dhoni-ds.blogspot.co.id/2011/12/hasil-kebudayaan-megalitikum-dan-budaya.
http://lokaltuban.blogspot.co.id/p/pengertian-megalitikum-dan-persebaran
http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/03/asal-usul-nenek-moyang-bangsa-indonesia.
http://catatanposo.blogspot.co.id/2007/12/seratus-arca-megalith-poso-dicuri
http://rizkyattyullah.blogdetik.com/2013/12/07/situs-megalitikum-terluas-
– kompas Maret 2016. Situs megalitik lembah lore rentan pencurian

* Sketsa gambar dan foto-foto lama diambil dari  Walter Kaudern, Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes, 1917-1920 – Megalithic Finds in Central Celebes,” vol 5.

Arkeolog Pembuka Rahasia (part 4)

Arkeolog Pembuka Rahasia
Biasanya rupa arca terkait rupa sekitarnya. Arca Budha di Borobudur berbeda dengan arca Budha di Thailand, Kamboja atau Korea. Nah, apakah rupa pahatan di Napu ini menjadi tanda rupa leluhur pada masanya, atau ini personifikasi leluhur pada roh animisme dinamisme ?

Mari kita sedikit belajar arkeologi dan etnografi. ☺

Indonesia punya peninggalan megalitik yang tersebar di nusantara, di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan dan tentu saja Sulawesi. Megalitik artinya batu besar. Hasil dari budaya megalitik adalah batu-batu besar, misalnya menhir, arca batu, sarkofagus, dolmen. Jadi bukan manusianya yang besar, tapi peninggalannya yang besar. Oke ? 👌

Kebudayaan megalitik ini bukan terjadi pada satu masa. Menurut Von Heine Geldern, kebudayaan megalith Indonesia terbagi dalam dua masa, yakni Megalitikum tua/ Neolithikum dan Megalitikum Muda. Masa Megalitikum tua berlangsung sekitar 2500-1500 SM oleh bangsa Proto Melayu/Melayu Tua. Hasil budaya neolitikum adalah kapak persegi (di arah barat) dan kapak lonjong di arah timur.

Megalitikum Muda berlangsung pada 1000-100 SM oleh bangsa Deutro Melayu/Melayu Muda. Mereka membawa kebudayaan Dongson atau zaman perunggu. Nah, para pelaku sejarah nusantara ini berasal dari ras Melanosoid dan Malayan Mongoloid. Cmiiw

IMG_20170128_170832

Size does matter. Contoh malayan mongoloid masa kini.

Beberapa referensi menyebutkan umur megalith Lembah Napu ini di angka 2000, 3000 atau 4000 tahun. Angka ini tentunya perlu kita lacak dengan temuan lain. Penelitian terkini menemukan tulang belulang manusia di sekitar/di dalam kalamba, teridentifikasi sebagai ras mongoloid, usia 1500-3000 tahun (rentang waktunya masih belum jelas ya).

Jadi, siapakah leluhur kita ?
Yuk kita hubungkan temuan bersejarah ini dengan teori ☺.
Von Heine Geldern menyebutkan teori bahwa leluhur nusantara berasal dari Yunan, Cina Selatan atau Austronesia. Rumpun bangsa Austronesia ini bermigrasi dalam 2 gelombang. Diperkirakan penyebabnya adalah wabah atau perang suku. Mereka berkelana di laut menggunakan perahu bercadik. Masih ingat : kalamba artinya perahu arwah !

Penelitian menunjukkan bahwa megalitik Napu pun dipengaruhi 2 gelombang migrasi Austronesia. Gelombang pertama atau pada masa Proto Melayu tersebut melalui jalur timur, dari Filipina, Sulawesi, ke Pasifik hingga Madagaskar. Mereka membawa kebudayaan kapak lonjong.

Gelombang migrasi pertama ini kemudian disusul migrasi kedua Austronesia (Deutero Melayu) pada masa megalitik muda yang ditandai dengan adanya pahatan (hasil budaya Dongson). Albertus Christiaan Kruyt dan Nicolaus Adriani, misionaris dan etnograf yang tiba di Poso pada 1895 mencatat sebelum masuknya Belanda ke Poso (1908),  masyarakat Poso melakukan penguburan mayat menggunakan batu. Artinya budaya megalitik itu masih berlangsung seabad lalu. Apakah ini indikasi usia megalitik Napu tidak seumur megalitik tua?😕

Simpul Austronesia
Penerus budaya Proto Melayu/Melayu Tua  adalah Dayak dan Toraja, sementara penerus budaya Deutero Melayu/Melayu  Muda adalah Jawa, Melayu, dan Bugis. Toraja dan Bugis sama-sama di Sulawesi kan.. Nah fyi, di Sulawesi ini  ada banyak sekali suku dan kerajaan namun tidak disatukan oleh satu identitas = Sulawesi. Mereka memiliki identitas suku sendiri-sendiri, yakni Toraja, Bugis, Mandar, Manado, Makassar, Kaili, Mori, Napu, Luwu, Palopo dll.

Tampaknya Sulawesi Tengah merupakan pusat kebudayaan Austronesia nusantara di masa itu mengingat ada 400 an (ada yg menyebut 300an) artefak. Mungkin para leluhur itu melabuhkan kapalnya lewat pesisir lalu bergerak ke Napu dan membuat mahakarya megalitik sebagai sarana penyembahan dan komunikasi pada roh animisme dinamisme. Peninggalan megalitik lainnya juga ditemukan di daerah Kulawi, Sigi.

2017-03-22 16.55.05

Arca yang tersebar di Lembah Napu, Lore, Poso, Sulteng

 
Tidak menafikan daerah lain, namun Napu (Poso), Toraja, Nias, Dayak, dan Sumba, memiliki peninggalan megalitik. Nias masih menjalankan upacara lompat batu. Toraja, sang penerus Proto Melayu di sulawesi memberi bukti hadirnya megalitik melalui menhir, sarkopagus, dolmen, hingga penguburan gua dan batu.

Mereka yang bergerak ke selatan meninggalkan jejak Gua Leang-Leang. Adapun para penjelajah yang bergerak ke barat meninggalkan lukisan tangan di bukit-gua karst Sangkulirang Mangkalihat Kalimantan Timur. Apakah ini terkait? Bisa jadi.

So teman-teman, mari kita lihat bentang alam lembah Napu ini (lihat postingan sebelumnya) : subur, dataran tinggi, bukit, hulu sungai, tak jauh dari laut. Ini ciri tempat hidup yang sempurna pilihan nenek moyang kita, bangsa Austronesia ras mongoloid. Inilah tempat persinggahan sebelum mereka menjelajah hingga Pasifik.  😃.

2017-03-22 18.04.39

Peninggalan megalitik toraja, penerus megalitik tua

(Bersambung)

* Foto patung diambil dari beberapa situs di internet
* foto kalamba dan megalitik Toraja adalah dokumen pribadi

KBBI – Kamus Besar Bahasa Indonesia

ar·ke·o·lo·gi : ilmu tt kehidupan dan kebudayaan zaman kuno berdasarkan benda peninggalannya, spt patung dan perkakas rumah tangga; ilmu purbakala

ar·ke·o·log : n ahli arkeologi

et·no·gra·fi : deskripsi tt kebudayaan suku-suku bangsa yg hidup; 2 ilmu tt pelukisan kebudayaan suku-suku bangsa yg hidup tersebar di muka bumi

et·no·graf /étnograf/ n ahli etnografi

Ma·se·hi : perhitungan waktu yg dimulai sejak lahirnya Yesus Kristus
SM : sebelum masehi. 1000 SM : 1000 tahun sebelum masehi/lahirnya Yesus

mig·ra·si : 1 perpindahan penduduk dr satu tempat (negara dsb) ke tempat (negara dsb) lain untuk menetap; 2 perpin-dahan dr satu tempat ke tempat lain bagi burung dsb krn pergantian musim

Perjalanan Menuju Masa Megalitik

Ayo ke Napu
(Part 1)

Last chance merambah indahnya bumi Celebes, pilihan kami jatuhkan ke lembah napu. Mengapa? Konon ada peninggalan megalitik yang menakjubkan di sini. So mari ki berpetualang…

Suami memilih touring bermotor dengan partnernya, Mr Ophiq, tetangga sebelah. Saya bersama orang asli Napu (baca: local guide) Nel sekeluarga naik roda empat. Waktu tempuh kurang lebih 3 jam dari Palu. Transportasi lebih cocok dengan kendaraan pribadi atau rental karena kendaraan umum terbatas. Jalur hari ini adalah Palu- Sigi Biromaru – Palolo -Dongi-Dongi terus sampai Napu. Don’t worry, jalannya hanya satu. Jalur Napu ini merupakan jalur alternatif ke Morowali saat jembatan Parigi putus. Orang-orang pada ngeri kalau lewat sini..apa iya sih?

Lore Lindu
Pritt…. Pemberhentian pertama, Danau Tambing. Tiket masuk 5.000 rupiah untuk pengunjung umum (dan 2.500 untuk pelajar atau rombongan) sudah di tangan. Anggrek tanah berbunga indah menyambut kedatangan kami yang sumringah. Hawa sejuk mulai terasa !

Danau Tambing merupakan danau jernih seluas 6 ha di kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Sekelilingnya dimanfaatkan jadi  camping ground. Tenda-tenda mungil bertebaran menandakan adanya perkemahan. Ada yang lagi keakraban dan outbond juga.

Mata kami tertumbuk pada Orchidarium. Anggrek ! 😍 Ada 45 spesies anggrek lho di taman nasional ini. Ada yang tumbuh di batang, cabang pohon, maupun di tanah. Paku-pakuan menjadi tempat hidup anggrek yang ditangkarkan di pot. Ada yang kembangnya hijau, ada putih mungil bergerombol , juga anggrek mini yang susah dipotret (saking mininya).  Sayang sang primadona anggrek hitam sulawesi belum mekar.

Edelweis si bunga putih pegunungan juga tumbuh mengiringi jalan setapak. Ini kan bunga gunung. Pantasan, kita kan di ketinggian 1700 dpl! Ada juga, pohon tinggi yang kulitnya berwarna warni dan berubah warna pada saat tertentu.

2017-03-15 14.21.50

Anggrek-anggrek eksotis Sulawesi

Taman Nasional Lore Lindu merupakan zona yang tepat untuk bird watching alias nongkrongin burung. Konon ada 263 jenis burung yang ada di sini, 30%nya endemik sulawesi. Namun yang namanya bird watching, kita membutuhkan waktu untuk menanti Bondol Rawa, Alo, ataupun Elang Sulawesi menampakkan diri dan mengeluarkan siulannya. Nabil, ponakan di Jakarta exited banget saat tahu kami ke Lore Lindu. Aduh maaf nak, burungnya nggak kelihatan. Tante mustinya kemping bawa teropong ke sini ya biar ketemu Alo.

2017-03-16 18.04.44

Sticker Taman Nasional Lore Lindu punya Nabil

 

Lukisan Ilahi
Perjalanan berlanjut. Jalanan aspal  berkelok, kadang lurus, membuat pengendara harus konsentrasi. Di kanan kiri pohon-pohon besar membentengi. Ada satu ruas jalan dimana pernah terjadi kecelakaan mobil tentara. So better watchout !

Jalan depan dipalang. Oow.. Ada pos penjagaan. Kendaraan yang lewat diperiksa. Mungkin ini karena Santoso cs bersembunyi di bukit-bukit Napu. Saya pun membuka kaca jendela. Pak penjaga memperhatikan tampang penumpang dan menanyakan tujuan. Aman. Semoga saja nanti kami tidak ketemu Santoso cs..itu saja doanya.

Sekejap, pemandangan berubah menjadi taman-taman kol dan sayur teratur di lembah bukit. Jika mbak sayur di Mamuju Utara bilang, “Ini wortel dari Palu..” mungkin dari Napu ini asalnya ya.  Waw. Panjang sekali distribusi sayuran. Ongkos kirim beras sekarung dari rumah Nel ke Palu saja 50.000. Wah, berapa ya keuntungan sang petani ? Keningku ikut berkerut.

Lanjut, pemandangan beralih ke deretan prairie. Well, menurut suami Nel, Mr Ikwan, konon di daerah Napu dulu ada rencana perkebunan teh atau Napu Hai (cmiiw). Lalu berubah menjadi perkebunan singkong untuk dibuat tapioka. Namun tampaknya proyek ini kurang berhasil dan kini padang singkong ditumbuhi prairie yang…. indah banget…😍 dan kesannya misterius gitu… Ingat film ‘Little house on the prairie’ kah? Nah kayak gitu itu pemandangannya…

(bersambung)

2017-03-16 14.34.18

The trip to Napu