The Art of Friendship

‘Siap-siap.. kita mutasi.’
‘Kapan?’
‘Bulan depan.’

Hah? Otakku langsung membayang beberapa rencana ke depan yang sudah disusun. Beberapa amanah, rencana acara besar, follow up hasil diskusi, dll.. Lalu rencana pribadi yang disusun dan dipersiapkan sebaik mungkin.

Manusia hanya berencana namun Allah punya rencana yang terbaik. Baiklah. Awalnya soal pindah tugas ini bagi saya jadi biasa. Ini ke empat kalinya bergeser tempat baru. Hanya ini terhitung tersingkat dan terdekat. Namun meski tersingkat, ini yang terpadat jalinan persahabatannya.

Mungkin karena kami sama-sama berusaha menikmati semua tantangan dan keterbatasan yang ada. Kami satu frame dan satu visi. Saling back up kalau ada yg opname, cuti, pulkam, sakit, dll. Banjir, jalan rusak, keliling naik ambulance tiap bulan, belajar SKDN dan mendengarkan curhatan kader, kunjungan sakit, kedukaan, empet-empetan dan operan mobil, ternyata jadi sarana membangun kebersamaan sambil gandengan tangan.

Karena team building diawali dari hal-hal sepele. Pemberdayaan dimulai dari hal-hal ringan. Biar dihajar isu sustainable development, namun orang-orang ini, ujung tombak di lapangan ini, perlu pembinaan dan penataan bersosial juga. Saya tidak katakan bahwa kami berhasil, belum. Baru seujung kuku. Karena ini butuh gandengan banyak pihak. Dan itu sudah kami mulai, dengan rapat bersama manajemen.

Keberhasilan organisasi adalah melakukan regenerasi. Maka saat teman-teman bertanya, ‘Bagaimana kelanjutan rencana ini itu? Kayakapa nanti kalau ibu tidak ada?’… Saya jawab aja, ‘Lanjut.. Ibu ibu pasti bisa..’ Ya lanjut saja karena sudah direncanakan sebelumnya, body system, dan dari sana akan muncul ibu-ibu tangguh. Sok sok an ya saya..hahaha..

Puncaknya saat persiapan menuju hari H hajatan, sementara saya bergeser ke tempat baru. Syukurlah kali ini tak terlalu jauh, setengah jam saja membelah lahan dan berjumpa kera-kera dan burung-burung. Kalau naik bis sekolah sekitar 1 jam perjalanan. Jadi saya masih bisa datang. Ada kejutan pula dari ibu-ibu yang memberi puisi dan hadiah di atas panggung saat acara Kartinian berlangsung.. Ohh.. so emotional…

Saya baru tercenung saat melihat foto teman-teman dengan seragam baru yang kami usahakan dan aturkan bersama, mulai konsep, sosialisasi, menghitung ini itu, rekapan, pesan, terakhir ekspedisi. Ahh… usaha itu. kerja sama itu. Akhirnya membuahkan hasil juga. Meskipun hanya dengan melihat dari jauh, saya bahagia.

Mungkin ini yang terberat dari perpisahan. Di tengah ribut omelan mbok-mbok, anak-anak yang berkubang lumpur saat maknya latihan atau rapat, terbangun jalinan persahabatan yang tidak bisa dijelaskan.  Potluck party berujud rujak, kapurung, nasi alas daun pisang di halaman rumah, di sekolah, rica rica, mie ayam, empek empek, dan kejutan-kejutan spontan lainnya. Itulah indahnya persahabatan ini.

Saya sangat menghargai proses, meski proses itu kadang tidak menunjukkan hasil yang segera. Kalah lomba takapa, tapi proses bikin tumpeng sambil menyusui batita, ngapalin lagu yang ruwet sampai anaknya yang hafal duluan, nonton helikopter yang parkir di lapangan, support yang mau latihan menari meski gakada kostum dan hadiahnya, ngatur lomba cerdas cermat dan penyuluhan kader, itu sesuatu bangettt..

Karena kedewasaan itu tidak ditentukan oleh jenjang pendidikan, jabatan, dan nama besar keluarga. Namun kemauan untuk belajar, bersosialisasi, kerendahan hati, justru itulah yang menentukan bagaimana seseorang berperan. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, pasti ada yang tidak suka dengan kita, terusik dengan keberadaan kita. Itu wajar. Yang penting apa yang kita lakukan untuk kebaikan bersama dengan cara yang baik pula.

However, terimakasih untuk teman-teman terbaik di Hulu Sungai Selatan. Ibu Tuti, Bu Ririn, Bu Alip, Bu Niken, Bu Juliana, Bu Reni, Bu Mariana, juga Bu Fauziah yang udah duluan pindah. Tak ketinggalan Bu Annisa n crew yang keren abis, Bu Esty and friends, n Bu Ajeng. I am nobody, but it’s an honour to be part of you all..

 

Advertisements

Kue Cinta dan Parang Toraja

Saya dapat kue cinta. Tulisannya happy birthday Bu Hani dan lilin bertuliskan i love you. 🎂 Kuenya pandan diselimuti gula pink…cantik sekali. Pas 14 februari…dan itu bukan hari ulang tahun saya..haha…valentine kali….tapi tak apa…

Beberapa hari sebelumnya saya dapat brownies terĺezat yang baru sekali saya rasakan selama di mamuju utara. Lembut, ada lapisan coklat di atasnya. Enak banget.
Sama keduanya, dari anak-anak.

“Siapa yang suruh?”
“Kita-kita ji bu. Kumpul uang.”
“Kumpul berapa?”
“Ada 5 ribu, 2 ribu..seikhlasnya..”
“Siapa yang bikin kuenya?”
“Pesan bu. Dibuatkan Mamanya …” yang browniesnya pesan di tetangga dekat rumah anak-anak itu..katanya.
Oh…

Kayaknya 2 kelas 6 ini saling bersaing kirim kue deh. Karena 6a bersikeras brownies tidak boleh dibagi ke anak 6b yang sore itu ada di rumah. Maka sore esoknya kue ultah pink itu pun akan dibalas, tidak boleh dibagi ke 6a. Syukurlah nggak beneran. Semua ikut makan meski icip dikit-dikit.

Kami tiup lilin kue cinta itu sama-sama. Lalu dipotong kecil dimakan rame-rame. Sungguh kelezatan kue ini mengalahkan kue-kue dari ibukota propinsi.

20170214_142933

Kue cinta pink

Sambil menggoda, suami bilang. “Gimana, apa bu guru kos di SP 1?” Supaya tidak jadi pindah. Hahaha..bisa aja..

Untunglah ada rumpun tebu di halaman. Tebu morowal. Ada markisa dan jambu biji. Dengan sigapnya anak-anak memetik buah-buahan itu dan menikmati hasil bumi.

Ada satu anak spesial saya yang membuat tercengang. Di kelas, si anak agak kesulitan menerima pelajaran dan sering dibully teman-teman.  Eh..  kali ini dia menjadi bintang dengan memotong, menguliti, dan membelah tebu. Finishingnya bahkan dia cucikan itu tebu. Sementara teman lain membersihkan sisa sampah yang terserak dan membuang ke tempat sampah.

Si anak tampak sangat cekatan bekerja dengan parang. 👦 Jangan salah. Di sini parang bukan untuk melukai orang. Parang adalah alat kerja yang lazim dikuasai sebagai alat membuka kelapa, membelah duren, memotong ranting dan semak, ikan besar, dan yang sekarang membelah tebu.

“Ini parang toraja ini bu.”
“Lho kamu kok tahu?” tanya saya.
“Iya ini parang, tebal di atasnya. Kalau yang hari-hari dipakai itu tidak begini.”
“Oya…lainkah ? Parang dari mana itu?”
“Lainlah…. Parang malaysia, ” katanya entah ngawur atau tidak.
“Kalau besar kamu ingin jadi apa?” tanya saya lagi.
“Pemain bola bu.”
Amin..semoga kau jadi pemain bola hebat, nak.

2017-03-15 06.00.52

Makan tebu bersama

Sore itu, anak spesial ini, blasteran Jawa Ntt, membuat saya menemukan bintangnya. Ada anak yang menyendiri, makan tebu sendiri. Ada yang berusaha memotong tapi tidak berhasil. Sementara dia memilih menyediakan dan menyiapkan tebu untuk teman-teman sekelas. Sungguh bertanggungjawab. Keahlian dan ketrampilan ini tidak tampak di sekolah. Kamu hebat nak.

“Trus kamu ngasih apa untuk anak-anak?” Tanya suami.
“Foto.” Jawab saya sambil nyengir.
Suami memandangku seolah foto itu tidak ada apa-apanya dibanding kado dari anak-anak. Iya memang. Tapi waktu terbatas dan hanya itu yang bisa saya lakukan.

So sekali lagi printer bekerja keras sebelum masuk kontener. Kali ini ia mencetak foto untuk 139 anak plus foto besar untuk sekolah. Alhamdulillah. Terima kasih anak-anakku..Terima kasih SD Inp Sarudu 1, semua guru dan kepala sekolah. Kau menjadikan saya ada.  ***