Kue Cinta dan Parang Toraja

Saya dapat kue cinta. Tulisannya happy birthday Bu Hani dan lilin bertuliskan i love you. 🎂 Kuenya pandan diselimuti gula pink…cantik sekali. Pas 14 februari…dan itu bukan hari ulang tahun saya..haha…valentine kali….tapi tak apa…

Beberapa hari sebelumnya saya dapat brownies terĺezat yang baru sekali saya rasakan selama di mamuju utara. Lembut, ada lapisan coklat di atasnya. Enak banget.
Sama keduanya, dari anak-anak.

“Siapa yang suruh?”
“Kita-kita ji bu. Kumpul uang.”
“Kumpul berapa?”
“Ada 5 ribu, 2 ribu..seikhlasnya..”
“Siapa yang bikin kuenya?”
“Pesan bu. Dibuatkan Mamanya …” yang browniesnya pesan di tetangga dekat rumah anak-anak itu..katanya.
Oh…

Kayaknya 2 kelas 6 ini saling bersaing kirim kue deh. Karena 6a bersikeras brownies tidak boleh dibagi ke anak 6b yang sore itu ada di rumah. Maka sore esoknya kue ultah pink itu pun akan dibalas, tidak boleh dibagi ke 6a. Syukurlah nggak beneran. Semua ikut makan meski icip dikit-dikit.

Kami tiup lilin kue cinta itu sama-sama. Lalu dipotong kecil dimakan rame-rame. Sungguh kelezatan kue ini mengalahkan kue-kue dari ibukota propinsi.

20170214_142933

Kue cinta pink

Sambil menggoda, suami bilang. “Gimana, apa bu guru kos di SP 1?” Supaya tidak jadi pindah. Hahaha..bisa aja..

Untunglah ada rumpun tebu di halaman. Tebu morowal. Ada markisa dan jambu biji. Dengan sigapnya anak-anak memetik buah-buahan itu dan menikmati hasil bumi.

Ada satu anak spesial saya yang membuat tercengang. Di kelas, si anak agak kesulitan menerima pelajaran dan sering dibully teman-teman.  Eh..  kali ini dia menjadi bintang dengan memotong, menguliti, dan membelah tebu. Finishingnya bahkan dia cucikan itu tebu. Sementara teman lain membersihkan sisa sampah yang terserak dan membuang ke tempat sampah.

Si anak tampak sangat cekatan bekerja dengan parang. 👦 Jangan salah. Di sini parang bukan untuk melukai orang. Parang adalah alat kerja yang lazim dikuasai sebagai alat membuka kelapa, membelah duren, memotong ranting dan semak, ikan besar, dan yang sekarang membelah tebu.

“Ini parang toraja ini bu.”
“Lho kamu kok tahu?” tanya saya.
“Iya ini parang, tebal di atasnya. Kalau yang hari-hari dipakai itu tidak begini.”
“Oya…lainkah ? Parang dari mana itu?”
“Lainlah…. Parang malaysia, ” katanya entah ngawur atau tidak.
“Kalau besar kamu ingin jadi apa?” tanya saya lagi.
“Pemain bola bu.”
Amin..semoga kau jadi pemain bola hebat, nak.

2017-03-15 06.00.52

Makan tebu bersama

Sore itu, anak spesial ini, blasteran Jawa Ntt, membuat saya menemukan bintangnya. Ada anak yang menyendiri, makan tebu sendiri. Ada yang berusaha memotong tapi tidak berhasil. Sementara dia memilih menyediakan dan menyiapkan tebu untuk teman-teman sekelas. Sungguh bertanggungjawab. Keahlian dan ketrampilan ini tidak tampak di sekolah. Kamu hebat nak.

“Trus kamu ngasih apa untuk anak-anak?” Tanya suami.
“Foto.” Jawab saya sambil nyengir.
Suami memandangku seolah foto itu tidak ada apa-apanya dibanding kado dari anak-anak. Iya memang. Tapi waktu terbatas dan hanya itu yang bisa saya lakukan.

So sekali lagi printer bekerja keras sebelum masuk kontener. Kali ini ia mencetak foto untuk 139 anak plus foto besar untuk sekolah. Alhamdulillah. Terima kasih anak-anakku..Terima kasih SD Inp Sarudu 1, semua guru dan kepala sekolah. Kau menjadikan saya ada.  ***