Elegi lebaran (part 3)

Apa menu lebaran kali ini? lazimnya di Sulawesi, lebaran selalu ada burasa. Burasa adalah  beras yang diaron dengan santan, lalu dibungkus daun pisang muda dan dilipat segi empat pipih. Ada 3-4 burasa yang ditata rapat dan diikat rafia, kemudian direbus selama 5-6an jam… waw… lama amir? Whe… belum tau ko…rasanya gurih, seperti arem-arem tanpa isi… dengan adanya buras, tamu cukup membuka lipatan buras sesuai kebutuhannya dan menambahkan kuah santan dari opor, sambal goreng, ayam bumbu lengkuas, atau boru (bandeng) masak pedas… cess…

Lha di rumah bagaimana ?

Kami membuat sate sapi bumbu kecap, kaledo, dan ayam goreng.. (wah sayang sekali, kemarin kelupaan nggak motret hidangannya )

Gurihnya sate sapi yang dimasak suami dengan bumbu ketumbar, bawang merah dan bawang putih ini mengundang selera. Ehmm…. sajian ini butuh perjuangan panjang dan korban segala. 17 Agustus, suami ikut upacara di kecamatan, sementara saya nebeng ke pasar Poranda (kebetulan jumat adalah hari pasar di pasar poranda). Untung di toko Pink ada dijual tusuk sate… untung pula, saat berjalan menuju penjual arang (di dekat tower, kata penjual beras), saya bertemu suami yang pulang upacara sehingga sekarung arang dapat diikat langsung di kebo megapro, dengan meninggalkan bekas gesekan hitam di Givi box kesayangan  .

Esoknya, hari sabtu, 18 Agustus, kami ke Pasar beteleme (1 jam perjalanan), inilah pasar terbesar yang kami temui so far.. kami mencari panggangan sate, namun ternyata tidak ada juga… tak hilang akal, suamiku merangkai sendiri tungku pembakaran dari lempeng aluminium dan batu bata yang ditumpuk… agak nahas, di malam takbiran, hujan tak henti mengguyur.. hujan rahmat dari Allah ini membuat kami berfokus menyiapkan ragam-ragam dalam rumah…  aku memotong-motong daging dan hati, menggerus bumbunya, sementara suami yang menumis daging hingga matang, lalu menusukkannya dalam tusukan sate untuk dibakar esok hari… tungku sementara ini menjadi nafas kami saat lebaran, apalagi indikator gas di tabung gas menunjuk angka 2 dan bergerak pelan ke garis merah… Ditemani sambal kecap dan nasi hangat, merica dan potongan cabe rawit membuat sate sapi ini menjadi hidangan yang tidak umum saat lebaran..

Untuk kaledo ? Kaledo itu singkatan dari kaki lembu donggala. Ceritanya, saat di Palu lalu, kami tak sempat makan kaledo karena warung-warung kaledo keburu tutup sementara jalanan macet. So, dibuatlah kaledo untuk seger-seger di lebaran ini. Di resep aslinya, kaledo hanya menggunakan cabe rawit dan asam jawa segar sebagai bumbu. Masalahnya, di sini tidak ada asam jawa segar. Walhasil, rasa asam didapatkan dari daun kedondong hutan yang dibeli di pasar beteleme…

Karena malam hujan, maka subuh hari suamiku menyalakan tungku buatannya dengan bantuan semprotan yang diisi fuel dan kipas angin… belanga diisi air galon untuk masak (di sini tidak bisa masak dengan air dari kran), tunggu mendidih air sembari mengerjakan aktivitas lain, lalu masukkan tulang belulang (iga, bukan kaki… jadi judulnya bukan kaledo tapi galedo –iga lembu).. masih diiringi rintik hujan, kami tinggalkan belanga berisi tulang di atas tungku untuk melaksanakan sholat ied…Alhamdulillah, segalanya aman…. daging berhasil lunak, rica ditumbuk dan dimasukkan, tambahkan daun kedondong hutan seribu perak…. dengan tambahan merica, dan jeruk nipis, kaledo disantap bersama….. stt….rasanya hampir menyerupai Kaledo Megaria di Donggala atau warung-warung kaledo di Palu lho… hehe…

Sekali lagi sayang sekali kami tidak sempat memotret masakan dan bumbu-bumbu, serta perjuangan mendapatkan alat-alat untuk membuat masakan-masakan tersebut.

Kalau di jawa mah, buruan ke pasar tradisional atau pasar swalayan yang besar, langsung deh, dapat bumbu dan alat yang lengkap… hehe… selamat berlebaran yah….

 

Ehm, sedikit bocoran, perjalanan pulang dari pasar beteleme lumayan memberi kejutan. Dengan tongkat pramuka di tangan kiri, wajan yang diikat di belakang, dan box givi yang diisi daun kedondong hutan, si kebo megapro mogok di tengah jalan. Kebetulan suami udah ngincer si kembang jepun yang mangkrak di tepi jalan, dekat pos dinas perhubungan. Eh, pas menurunkan kecepatan, si kebo megapro berhenti deh.. nggak mau nyala meski dislah…. tidak ada pengapian… walhasil, aku menunggu di pos dinas perhubungan dengan bapak-bapak petugas yang bermain catur, hanya 10 menit, permainan catur berhenti dan berganti! Mereka bahkan hafal di luar kepala permainan catur itu… sementara suami pinjam motor di pos perhubungan menuju bengkel terdekat. Tak lama, kebo megapro ditarik motor bersama teknisi bengkel, dan aku dijemput ke bengkel tsb… Walah-walah, mas teknisinya orang jawa! Lahir di lampung dan trans ke Morowali, dia bahkan tidak tahu keluarganya berasal dari Jawa bagian mana. Hanya bicara jawa ngokonya yang menunjukkan kejawaannya J

Selamat lebaran!

Advertisements

Elegi lebaran (part 2)

Mengikuti liputan mudik lebaran membuat saya makin yakin bahwa jawa menjadi pusat segalanya. Mayoritas info itu di seputaran jawa tengah, jawa barat, jawa timur, diselipi jakarta sebagai sumbu arus mudik. Sedikit disinggung arus di merak untuk arus mudik sumatra, namun bagaimana kondisi lalu lintas mudik di sumatra, kalimantan, sulawesi, atau perputaran orang di maluku, papua, bali dan nusa tenggara sangat minimal dibahas, atau hampir bisa dikatakan tidak ada. Berapa sih, orang yang bekerja dan atau hidup di jawa ? mengapa sampai sebegitunya tv menyuguhkan informasi mudik di jawa saja? Bete juga saya mengikuti info lebaran ini.

Atau coba perhatikan waktu imsak yang dicantumkan di tv. Paling pol yang ada adalah Makassar sebagai wakil indonesia sisi timur. Padahal, Makassar hanya satu tempat, masih banyak kota-kota lain yang juga butuh informasi, yang lokasisinya berjarak sekian derajat dari makassar. Lain halnya dengan kota besar di jawa yang dicantumkan semua.

Belum lama ini saya belanja ke pasar Beteleme, ada penjual sayuran dari Jawa, salah satunya seorang ibu (saya lupa namanya), dari Solo, katanya “Sudah 30 tahun tinggal di sulawesi. Lebih mudah mencari uang di sulawesi daripada di Jawa.” Pernah beliau bersama suaminya pulang ke Jawa, sampai 4 bulan, suaminya tidak betah dan memilih kembali ke Sulawesi.

Lain waktu, kami ke pasar sore di Emea, mencari udang segar dan buah-buahan (kalau ada), setelahnya kami melaju ke ke sebuah Nursery di Sampeantaba. Takdinyana, penjualnya dari Jawa timur, tampaknya dia menguasai/menjadii satu-satunya penjual bunga di sini. Bunga pun dikirim dari Jawa ke Palu, lalu beliau ke Palu menjemput bunga-bunga itu untuk dibawa ke tempat ini (jalan darat 12-14 jam), sungguh perjalanan panjang yang lelah…

Atau Mas bambang, penjual sayur yang menerjang jalan berlumpur dan lengket ke sekitar rumah. Dia datang diluar hari pasar dengan sayur-mayur, tahu dan tempe, menyelamatkan ibu-ibu yang tak bisa keluar berbelanja. Di saat puasa ini, dia membawa mobil pick up dengan bawaan yang lebih banyak, ada cendol, pisang, ubi, kelapa muda dan kelapa tua, bawang merah, bawang putih, serta sayur-mayur..

Saat lebaran ini, saya dan suami berkunjung ke tempat tetangga yang berlebaran di seputaran sini. Di sebuah rumah, Pak Maryono namanya, dari Lamongan, dulu hidup di Gorontalo bersama ibunya, lalu bekerja di seputar Pasangkayu, Sulawesi Barat. Kini ia dan keluarga memilih untuk mutasi ke Morowali Sulawesi Tengah, karena ada famili di Unit 3, sekitar Sampeantaba. Di sini ada bapaknya, yang sudah 30 tahun tak jumpa. Dan terkejut aku, saat Pak Maryono berbicara dengan bahasa jawa halus mlipis, sementara transmigran yang kujumpai selama ini selalu bicara jawa ngoko. Beliau masih bisa bicara jawa kromo karena lahir dan dilatih di jawa sebelum melalui masa hidupnya di Sulawesi. Dalam catatanku, hanya ada 2 orang jawa yang bisa berbicara jawa kromo (yang pernah kujumpai), satu lagi adalah Wasis, di Mamuju Utara sana.

Para transmigran ini, yang bekerja lama di sulawesi, orang jawa juga, namun mereka tidak mudik ke jawa, karena satu dan lain hal.. mungkin keluarga besarnya sudah trans di sulawesi juga, atau biaya dan waktu perjalanan yang tidak murah dan lama.

Mungkin bisa dilacak perjalanan hidup para pejuang trans yang beranak pinak sekian generasi.. Mas Bambang  hanya bicara bahwa jawa ngoko, putra Pak Maryono, logatnya bukan lagi jawa (apalagi bicara dengan bahasa jawa, nggak bisa dia), meski istrinya juga orang jawa. Mereka juga berlebaran dan mudik di rantau yang sudah menjadi kampung halaman.

Jadi bagaimana kondisi jalan di Bungku, Kolonodale, atau Poso sana?

Emm… jangan andalkan tv deh, tanya saja pada orang-orang yang sudah melewati jalur tersebut… tampaknya ada jaringan seluler kok (asal hp anda cukup bandel)…